Super Rich Bae

Super Rich Bae
Part 73 (S2)


__ADS_3

Pagi hari, ia bangun lebih awal dari suaminya. Harus menyiapkan beberapa koper untuk dibawa pulang. Banyak hadiah yang ia ingin persembahkan.


"Oh ya, ini buat Raka sama Asty." Nuri memisah hadiah pernikahan untuk mantan kekasihnya.


"Ini untuk keponakan gue sama Joa."


Arthur ikut membantu mengemasi barang-barang keperluan Nuri. Ia melihat jaket Jay masih selalu ia bawa.


"Anda selalu membawa ini?" Arthur ingat, Jay dulu membawa jaket mahal keluaran Gucci itu karena barang terbatas.


"Selalu. Dia adalah kenangan yang hidup, Arthur." Nuri memeluk jaket kesayangan Jay. Di masa lalu, jaket itu adalah bukti betapa baik hati Jay yang memakaian jaketnya.


"Cuaca lagi kurang baik, kamu harus pakai jaket." Jay mengatakannya dengan wajah serius, tidak seperti biasanya.


"Dia tidak suka melihat orang lain kedinginan. Anda belum tahu, dulu, tuan pernah menyumbangkan ratusan jaket untuk gelandangan dan orang panti sosial."


Selalu ada cerita hebat tentang Jay Jang yang masih tersisa. Nuri tidak lagi terlarut dalam kesedihan. Jay akan tetap menjadi seseorang yang indah di dalam hatinya.


"Arthur, bantu aku turunkan koper. Aku harus pamitan dengan Mark."


"Baiklah."


Nuri berlari menuju lantai ketiga, ia malas untuk menaiki tangga, ia memilih lift sebagai jalan pintas.


"Loh kemana dia?'' Nuri melihat tidak ada Mark di ranjang besar. "Mark, kamu lagi mandi ya?"


Nuri duduk sambil mengecek jadwal pesawat. Ia akan menunggu Mark keluar dari kamar mandi.


Sementara, di dalam kamar mandi. Mark sedang menikmati musik dan berendam dengan sabun lavender.


"Udah setengah jam nih," ia lalu mengakhiri rutinitas mandi tenangnya.


"Aku sudah 30 tahun, sudah menikah." Ia sedang bercermin dan memakai *skin care.


"Handsome me*!"


Sering takjub dengan ketampanan sendiri, ia akan bercermin lagi. "Aw, lihat betapa tampan diriku."


Nuri sudah mengetuk berulang kali, Mark akhirnya keluar dengan jubah mandinya.


"Maaf, lama. Aku pikir kamu sudah berangkat?'' Mark mendekat dan duduk di sebelah sang istri yang terlihat kesal. "Apa kamu kesal? Aku tidak mendengar, aku kan sudah memasang note."


Nuri melirik, benar, Mark sudah menulis catatan. "Aku menikmati mandi tenang 30 menit. Jangan diganggu."


"Aku akan mengantarmu ke bandara nanti.''


"Mark, bagaimana ya, aku minta maaf lagi karena nggak bisa menemani kamu dua bulan ini."


Mark memeluk istrinya, ia tidak merasa marah, memang sudah jadwal Nuri untuk pergi. "Kamu harus menebusnya ketika pulang, oke?''


Nuri mengangguk. Ia membantu Mark mengeringkan rambut. "Aku akan menuruti keinginanmu."


"Kalau sekarang lebih baik kamu jawab dulu pertanyaan semalam."


"Cih," keluh Nuri sebal.


"F atau G? Apa itu asli?" Mark masih meledek, ia juga seorang pria normal.


"Kamu masih menanyakan hal begitu. Apa dulu kamu kebanyakan nonton anime?"


"Sepertinya, ini salah Vin. Dia meracuniku masuk dalam dunia otaku." Mark masih tersenyum jahil. Ada pesona lain yang baru Nuri perhatikan, dimple saat Mark tersenyum. Terlihat manis.


"Jadi kalian masih menonton anime?"

__ADS_1


Mark memeluk istrinya dari belakang, erat dan erat. "Aku sudah berhenti. Apa lagi aku mendapatkan yang sesuai kriteriaku."


"Benarkah?" Nuri berbalik dan memencet dimple Mark.


"Jadi, kamu masih belum mau menjawabku?"


"F... " Nuri berbisik di telinga suaminya.


Telinga Mark memerah, ia justru tersenyum malu. Jantungnya berdetak kencang dan mulai merasakan panas.


"Aku harus berangkat sekarang, Jack dan yang lain sudah sampai bandara sejak tadi. Bye bye." Nuri gugup, ia juga tidak dapat menjangkau pipi suaminya jadi ia asal mencium. Mencium leher Mark.


"Take care, Honey."


"Kamu nggak usah mengantarku, kamu lebih baik nonton anime dulu. Hahaha!"


Mark memastikan istrinya sudah naik mobil dan pergi. Ia lalu berlari menuju kamar. Gawat, ia merasa berdebar sejak tadi.


"Tenang, hufft." Mark menenangkan diri dengan membaca makalah, materi akademik dan jurnal mahasiswa.


Ia membuka ponselnya, banyak sekali email dan pesan spam. Ia juga membaca pesan yang Lisa kirimkan.


"Mark, selamat atas pernikahanmu dengan wanita itu. Wanita yang di halte itu kan? Mark, aku yakin dia hanya pelarian bagimu. Aku masih percaya, selalu ada aku di dalam hatimu. Untuk terakhir kalinya, mari bertemu. Banyak yang harus kita bicarakan."


"Dimana?"




Lisa duduk di sudut kafe. Ia sengaja datang lebih awal dari jam kesepakatan mereka. Tiba-tiba, kenangan di masa lalu mereka muncul. Cerita tentang seorang pemuda biasa yang meluluhkan hatinya.




Lisa hanya tertawa, ia menganggap Mark hanya teman kelas. Tapi, di satu sisi, Mark sangat populer karena mendapatkan peringkat teratas. Prestasi akademiknya sangat menjanjikan, meski Lisa tahu lelaki itu seorang yatim piatu yang diasuh oleh orang asing.



"Aku memang tidak sekaya pemuda di sekolah ini, tapi aku tulus menyukaimu. Bahkan, semua sifat menyebalkanmu akupun suka."



"Benarkah?" Lisa memasang wajah polos, baru pertama kali mengetahui Mark sangat jujur.



"Aku hanya mengutarakan perasaanku."



"Ayo kita coba pacaran, Mark." Lisa memegang tangan Mark, ia memeluk Mark.



"Terima kasih, Lisa."



Kenangan indah mereka bercampur kenangan buruk untuk Mark. Ayah Lisa tidak menyukai Mark sejak dulu. Jika dipaksa, hanya akan melukai Mark semakin dalam.


__ADS_1


"Lisa, apa kamu dan Mark masih berkencan? Ayolah, kami dengar gosip, Mark selingkuh dengan wanita kaya."



"Kamu melepaskan pria setampan Mark di halte tengah malam. Lisa, cobalah dewasa. Mark itu sangat populer di kalangan wanita sejak dulu!"



"Aku yang bodoh dan jahat."



Mark datang tepat di depan Lisa. "Ada apa?"



Lisa langsung membungkuk dan meminta maaf atas kesalahan yang pernah ia lakukan, perlakuan yang tidak menyenangkan dan hinaan dari sang ayah.



"Maaf, Mark. Aku adalah wanita paling bodoh di dunia ini, karena melepaskanmu begitu saja. Aku yang masih mudah tergoda oleh kesenangan, aku egois... "



Mark membantu Lisa untuk berdiri.



"Tolong akhiri pernikahan pura-pura kalian, Mark. Ayo kita balikan lagi? Aku akan menjadi istri yang baik untukmu."



Mark tersenyum, ia memang sudah memaafkan dan mencoba melupakan kenangan buruk.



"Lisa, aku dan istriku menikah bukan pura-pura. Kami menikah secara legal, baik agama maupun hukum." Mark memperlihatkan cincin pernikahan mahal yang Athena hadiahkan.



"Bohong, aku bisa melihatnya. Tidak ada dia di matamu."



"Ya karena kamu yang ada di hadapanku, sedangkan istriku tidak ada disini."



"Apa kamu lupa Mark?" Lisa menanyakan sesuatu yang lebih serius. "Apa dia tahu tentang kamu?"



Mark menahan amarahnya, ia memilih untuk duduk diam.



"Saat hujan badai malam itu, kamu sangat membutuhkanku. Apa dia tahu tentang hal yang kamu takuti?"



\*Tidak. Dia belum tahu.


__ADS_1


Bersambung\*...


__ADS_2