
Tak terasa novel ini sudah seratus episode. Puji syukur, Author panjatkan pada Tuhan sang pemberi kehidupan. Author bukan orang yang pandai merangkai berjuta kata bermakna. Tapi akan selalu menulis dan menulis apa yang ada di dalam otak Author ini. Jika ada selipan kata-kata dewasa, percayalah bahwa Author bukanlah orang yang berotak mesum tapi sedikit saja tingkat kemesuamnya😁😁. Author harap para pembaca yang budiman selalu merasa terhibur dengan novel yang alakadarnya ini. Asal kalian tahu saja, Author orangnya introvert, menulis menjadi sarana komunikasi yang efektif agar diri ini tidak terjebak dalam dinginnya sosial...........😻
"Apa yang kalian lakukan?" Kaisyah berteriak.
Camilla langsung melepaskan tautan itu dan berjalan menghampiri sang bunda yang sedang syok dengan apa yang di lihatnya.
"Bunda maafkan aku bunda" Camilla bersimpuh di kaki Kaisyah.
Henry berjalan dan membantu Camilla berdiri.
"Berdirilah sayang" ucap Henry.
"Kalian berhutang penjelasan padaku" Kaisyah langsung berlalu.
Skip
Camilla dan Henry terduduk pasrah di meja makan. Mereka seakan menjadi terdakwa. Kaisyah duduk dengan Jhonson di hadapan mereka dengan muka yang tegang.
"Katakan apa yang kalian perbuat tadi?" Kaisyah berkata dengan dinginnya.
Camilla hanya tertunduk dengan air mata yang sudah mengalir deras.
"Baiklah aku akan mengatakan yang sebenarnya di hadapan ayah dan bunda jika aku dan Camilla berpacaran" ucap Henry dengan tegas.
"Apa? Kalian itu saudara mana bisa seperti itu. Sudah berapa lama kalian merahasiakan ini semua dari bunda?" Kaisyah tampak kecewa.
"Kami sudah berpacaran selama sepuluh tahun. Aku tidak bisa membohongi perasaan aku pada Camilla. Camilla cinta pertama dan terakhirku bunda. Tolong restui hubungan kami karena kami tak punya pertalian darah sama sekali" Henry langsung bersujud di kaki Kaisyah.
Kaisyah tampak syok. Dia merasa di bohongi kedua anaknya. Camilla dan Henry sangat rapat merahasiakan hubungan itu sampai Kaisyah pun tak menyangka dengan fakta ini.
"Bunda kecewa dengan kalian berdua" Kaisyah segera berjalan menuju kamarnya.
Camilla kemudian memeluk sang ayah.
"Ayah maafkan aku sudah membuat bunda sakit hati. Ayah aku mohon restui kami ayah" Camilla mengiba pada Jhonson.
"Sayang, dengarkan ayah nak! Apapun pilihan kamu asal yang baik untukmu ayah akan merestuinya. Tapi ini berbeda karena ayah tidak menemani dimasa tumbuh kembangmu nak, ayah tidak tahu cerita hidup kalian dimasa lalu yang tahu itu bunda. Ayah disini sebagai orang baru dalam kehidupan kalian. Ayah tidak bisa memutuskan apapun jika bunda belum mau bicara. Mengertilah ini sedikit sulit untuk bunda. Ayah akan bicara pada bunda agar bunda bisa menerima ini semua" Jhonson pun berjalan menuju kamarnya.
"Bang apa kita akhiri saja hubungan ini?" Camilla berbicara dengan nada sedih.
"Hey jangan bicara seperti itu sayang! Kita sudah lalui selama ini. Apapun yang akan menjadi keputusan bunda, kita akan hadapi berdua. Kita harus kuat sayang. Aku ingin menikahimu" Henry semakin menenangkan Camilla yang sangat gusar.
Di dalam kamar, Kaisyah sedang memandangi poto kecil yang dia taruh dalam dompetnya. Seorang pria paruh baya dengan latar alat berat berjejer rapih di belakangnya. Jhonson langsung merebut poto itu. Hatinya langsung panas.
"Siapa pria ini Kai?" Jhonson bertanya dengan nafas yang menderu.
"Jhoni kamu main rebut saja. Ini itu poto Bang Armand, papa nya Henry" ucap Kaisyah.
"Kenapa potonya ada di kamu? Bahkan kau menyimpannya dalam dompetmu. Apa pria ini spesial?" Jhonson sudah tak bisa menutupi rasa cemburunya.
"Ya dia berharga di hidupku Jhoni" ucap Kaisyah datar.
Jhonson pun melempar poto itu lalu duduk membelakangi Kaisyah dengan amarah membuncah.
Kaisyah menghampiri sang suami dan memeluknya dari belakang.
__ADS_1
"Aki-aki kalau sedang cemburu lucu ya?" ucap Kaisyah sedikit tertawa.
"Apa sih kai" Jhonson masih dengan wajah di tekuknya.
"Ayah tau jika dia adalah penolong untuk aku dan Camilla? Dia yang selalu membantu tanpa pamrih padahal kami asalnya tidak saling mengenal. Bang Armand menitipkan Henry untuk di urus karena dia sibuk di perusahaanya. Aku pernah menawarkan untuk menikahiku tapi bang Armand menolaku karena hatinya sudah mati rasa akibat di hianati oleh istrinya. Aku waktu itu menawarkan menikah dengannnya bukan mencintai bang Armand tetapi sebagai balas budi untuk kebaikannya. Sampai dia meninggal pun kebaikannya takan pernah di lupakan olehku. Aku sudah menggap Henry anaku sendiri, dia pengobat hatiku kala sedang ingat dengan Pelix" Kaisyah bercerita dengan air mata yang mengalir.
"Lantas bagaimana sekarang apa kamu akan merestui Camilla dan Henry? Menurutku mereka bukan ingin berbohong, tetapi keadan lah yang memaksa mereka merahasiakan ini semua dari kamu" Jhonson mencoba memberi pengertian untuk sang istri.
"Entahlah aku bingung dengan ini semua. Aku harus menghubungi Pelix meminta pendapatnya" Kaisyah pun menghubungi Pelix.
"Selamat malam bunda ada apa?" sapa Pelix di seberang telepon.
"Kak, bunda sedang galau" ucap Kaisyah.
"Galau kenapa bunda? Apa si kakek tua KDRT atau dia marah-marah. Haishhh awas saja dia kalau berani padamu ku pecat jadi ayahku" Pix sudah menduga-duga.
Jhonson langsung merebut ponsel itu.
"Enak saja kau bodoh! Aku sangat mencintai Kai ku tersayang. Tak akan pernah seujung kukupun aku akan menyakiti wanitaku" Jhonson sedikit emosi.
"Ya lantas kenapa bunda bisa galau?" Pelix semakin penasaran.
"Ini soal Henry dan Camilla. Sebaiknya mau bicara saja dengan bundamu" Jhonson langsung menyerahkan ponselnya pada Kaisyah.
"Bunda ayo bicara" Pelix semakin penasaran.
"Camilla dan Henry pacaran kak!" ucap Kaisyah lirih.
"Apa, Pacaran? Bukannya mereka sudah hidup sedari kecil selalu bersama? Bagaimana bisa tumbuh perasaan?" Pelix pun bingung.
"Bunda yang tenang. Aku rasa mereka menyembunyikan itu karena keadaanlah yang memaksa untuk itu. Tetapi perasaan cinta siapapun tak ada yang mampu menolaknya. Menurutku yasudah restui saja mereka. Camillanya juga sama mencintai Henry. Apalagi mereka tidak mempunyai hubungan darah apapun" tutur Pelix.
"Kakak ingin bunda merestuinya?" tanya Kaisyah.
"Aku sih terserah bunda saja. Henry pemuda yang baik yasudah kita nikahkan saja mereka. Bagaimana ayah setuju?" Tanya Pelix pada Jhonson.
"Ayah sih setuju saja kalau itu pilihan hati Camilla. Apalagi mereka pacaran sudah sepuluh tahun. Rasanya kasihan juga untuk di pisahkan" jawab Jhonson.
"Baikalh jika ayah dan kakak sudah setuju, bunda pun akan merestui hubungan mereka. Kakak besok usahakan kemari" Kaisyah ingin Pelix ada jika Henry langsung melamar Camilla.
"Baiklah bunda. Besok aku dan Amora kesana" ucap Pelix.
Skip
Camilla masih tergugu menangis di meja makan. Henry dengan sayang mengelus-elus punggungnya.
"Sayang tenang lah" Henry memeluk Camilla supaya dia menjadi tenang.
"Bagaimana aku bisa tenang bang! Aku takut bunda akan marah" Camilla masih menangis.
"Bunda tidak marah nak, hanya kecewa sedikit pada kalian" Kaisyah berkata sembari berjalan menghampiri keduanya.
"Bunda maafkan kami" Henry dan Camilla langsung berhambur kepelukan sang bunda.
"Bunda sudah memaafkan kalian" Jawab Kaisyah.
__ADS_1
"Bunda, aku mohon berilah restu pada kami. Apa jadinya bila cinta yang sudah bersemi selama sepuluh tahun harus kandas malam ini juga" Henry memohon dengan sangat.
"Jika bunda tidak memberi restu padamu lantas kau mau apa nak?" Kaisyah bertanya ingin jawaban yang bermutu dari Henry.
"Jika bunda tak memberi restu, maka aku akan membujang selama hidupku. Biarlah duplikat papa Armand melekat padaku karena dia pun sudah menduda sedari muda" jawab Henry tegas.
Kaisyah lalu menjewer telinga pemuda itu karena gemas dengan jawabannya.
"Dasar nekat! Baiklah bunda merestui hubungan kalian asal dengan satu syarat" ucap Kaisyah.
"Apa itu bunda?" Henry semakin penasaran dengan ucapan sang bunda.
"Kamu harus serius dengan Camilla. Jaga dia dan ingat jangan sakiti dia" Kaisyah memberi pesan pada Henry.
"Apa selama ini bunda tidak bisa melihat bagaimana aku menjaga Camilla. Aku tidak membiarkan dia di sentuh oleh pria manapun itu adalah bentuk aku menjaga Camilla" Henry terus meyakinkan Kaisyah.
"Pantas saja kau selama ini sangat posesif pada Camilla, setiap pria yang datang ke rumah selalu kau usir. Jadi ini alasannya selama ini" Kaisyah semakin mengeratkan jewerannya pada telinga Henry.
"Karena Camilla hanya miliku" Jawabnya dengan tegas.
"Camilla masih jadi milik kami ayah dan bundanya" timpal Jhonson.
"Maka dari itu izinkan aku untuk memilikinya. Aku ingin menikah dengan Camilla. Ayah dan bunda berilah restu untukku aku mohon" Henry mengiba.
"Bagaimana Camilla apa kau mau dengan curut ini?" tanya Jhonson.
"Mau ayah! Aku pun mencintai bang Henry" Jawabnya.
"Baiklah kami merestui kalian" ucap Kaisyah.
Henry dan Camilla sangat bahagia. Selama ini yang mereka takutkan ternyata tidak seseram yang di bayangkan.
Henry dan Camilla langsung memeluk Jhonson dan Kaisyah.
"Terimakasih ayah dan bunda" ucap keduanya.
"Jadi kapan kau akan lebih serius dengan anaku?" Jhonson ingin melihat keseriusan dari Henry.
"Aku ingin menikahi Camilla secepatnya kalau boleh besok" jawabnya tegas.
"Lusa saja kau menikahi Camilla" ucap Jhonson.
"Ayah ini terlalu cepat" Kaisyah sedikit kesal.
"Bunda, mening mereka nikah saja lebih cepat lebih baik" Jhonson mendesak sang istri.
"Baiklah jika begitu. Lusa kalian menikah saja. Bagaiman Camilla apa kamu mau menikah dengan Henry lusa?" Kaisyah memastikan.
"Aku mau bunda!" jawab gadis itu.
"Baiklah lusa kalian menikah. Sekarang sudah malam ayo kita tidur" ucap Kaisyah.
"Ayo kita tidur sayang" Henry sudah tidak malu lagi menunjukan cintanya pada Camilla.
"Udah berani ngajak tidur ya? Kalian itu masih belum menikah enak aja. Sana kembali ke kamar masing-masing" Kaisyah berkacak pinggang.
__ADS_1
Mereka pun akhirnya menuju kamar masing-masing untuk istirahat.