
Seorang penjaga rumah nya Ricky mendapati dua pria mengotong badan Ricky yang sudah lemas tak sadarkan diri.
"Cepat tolong buka gerbangnya" ucap penjaga bar di depan gerbang rumah Ricky.
Penjaga rumah itu segera membuka kan gerbang dan mempersilahkan orang itu masuk.
"Ada apa ini?'" tanya Tomy.
"Anda dengan ayah nya Ricky?" tanya Pria penjaga bar itu yang sedang membopong Ricky.
"Betul saya ayahnya! Dia kenapa ayo cepat bawa dia masuk" ucap Tomy dengan panik kala melihat sang putra kesayangannya terkapar tak sadarkan diri.
Mereka membawa Ricky ke ruang tengah dan langsung membaringkannya di sofa. Melihat sang putra tak sadarkan diri, Daisy sang momy langsung merasa panik dan was-was.
"Kenapa anak saya bisa seperti ini?" tanya Daisy.
"Maaf sebelumnya, anak anda mabuk berat di bar kami. Kami khawatir jika membiarkan dia pulang sendiri dalam keadaan seperti ini. Di sepanjang perjalanan dia terus saja meracau menyebutkan nama Marini! Apa dia kekasihnya anak anda?" tanya penjaga bar itu.
"Terimaksih anda sudah mengantar anak saya. Dia bukan kekasih Ricky, dia hanya orang dekat nya saja" ucap Daisy.
Kedua penjaga bar itu langsung pamit pulang.
Kini tinggalah Ricky yang lemah di tangisi oleh kedua orang tuanya.
"Dady mulut nya Ricky bau roko" ucap Daisy pada sang suami.
Mendengar ucapan sang istri, membuat kecemasan Tomy bertambah pasalnya Ricky tidak suka merokok karena dia punya penyakit asma ketika berkaitan dengan rokok.
"Mom dia kan asma. Bagaimana ini?' tanya Tomy.
" Ya tuhan dad bagaimana ini. Ayo sekarang kita bawa saja dia ke rumasakit" ucap Daisy dengan paniknya.
Segera penjaga rumahnya menggotong Ricky ke dalam mobil untuk di bawa ke rumasakit.
Di sepanjang perjalanan menuju rumasakit, Ricky sempat membuka matanya. Dia mengucapkan sepatah dua patah kata yaitu:
"Aku lelaki yang tak di harapkan" ucapnya kemudian pingsan kembali.
"Ricky bangun nak bangun“ ucap Daisy dengan tangisnya.
"Ayo sadar nak, jangan bikin dady khawatir" ucap Tomy sembari memangku kepala Ricky.
Nafasnya kian berat akibat asma yang di deritanya kembali kambuh.
Daisy dan Tomy terus menangisi keadaan putra semata wayangnya.
"Kenapa dia seperti ini mom? Apa dia ada masalah dalam pekerjaan atau masalah apa?" tanya Tomy.
"Entahlah ded, saya pun tidak tahu" jawab sang istri.
Mobil yang mengangkut Ricky akhirnya tiba di rumasakit. Dokter langsung membawa nya ke ruang gawat darurat.
Di luar ruangan Daisy dan Tomy saling menguatkan dan mencoba untuk tegar. Mereka sangat khawatir jika Ricky sampai tak tertolong. Ricky lah harapan mereka satu-satunya untuk meneruskan kerajaan bisnis milik Daisy dan Tomy karena walaupun mereka sepasang suami istri tetapi mereka mempunyai perusahaan masing-masing jika mereka sudah tak sanggup mengurus perusahaan nya masing-masing makan Ricky lah yang akan memegang tampuk kekuasaan perusahaan mereka.
Seorang dokter muda yang gagah keluar dari ruang perawatan Ricky. Tomy pun menghampiri dokter itu.
"Bagaimana keadaan anak kami dok?" tanya Tomy.
"Anak anda berhasil melewati masa kritisnya. Walaupun dia belum sadar karena mabuk nya terlalu banyak tetapi dia sudah baik-baik saja" ucap dokter yang di ketahui bernama Dimitri.
"Terimakasih dokter. Apakah kami sudah bisa melihat anak kami?" tanya Daisy.
"Sama-sama nyonya. Kami akan berusaha semaksimal mungkin dalam menangani pasien. Ya silahkan anda sudah bisa menjenguknya di dalam. Kalau begitu saya permisi dulu" ucap dokter Dimitri.
Mereka pun melangkah kan kaki memasuki ruang rawat sang anak. Disana di dapati Ricky tergolek lemah dengan infus dan bantuan oxigen. Betapa teriris nya hati orang tua melihat sang putra kebanggaan terbating lemah.
"Ricky bangun nak. Dady sangat mencemaskanmu! Jika kau punya masalah seharusnya bilang pada kami jangan di pendam sendiri ka" ucap Tomy dengan lirih.
"Ricky anak momy harus kuat ya nak. Bukannya kamu ingin jadi orang hebat seperti dady mu. Kamu tahu nak walau usia mu sudah dua puluh lima tahun tapi kami masih menganggap mu bayi kecil kami. Bayi yang momy kandung dan rawat dengan segenap cinta kan kasih sayang. Sadar lah nak" tangis Daisy.
__ADS_1
Tak lama, Ricky pun sadar dan mengaduh sesak.
"Mom, dad" ucap Ricky.
"Ricky ya ampun syukur lah kamu sudah sadar. Momy khawatir sekali dengan mu nak" ucap Daisy sembari mencium pucuk kepala Ricky.
"Mom nafas ku sesak mom" ucap Ricky.
Melihat Ricky sudah sadar dari pingsannya, Tomy bukannya memberikan selama malah langsung memarahi anaknya.
"Hei anak nakal sudah siuman kau rupanya hah? Kenapa kau merokok dan mabuk? Kau sudah tak sayang dengan kami iya?“omel Tomy pada sang putra.
" Dad, sudah jangan marah-marah. Ricky baru siuman"timpal Daisy pada sang suami.
"Dad jangan bentak aku. Kalau gitu aku mening pingsan lagi" ucap Ricky dengan suara lemahnya.
"Hei kau gila. Mau bikin aku mati cemas" jawab Tomy.
Tomy dan Daisy pun bersama memeluk sang putra dengan haru.
"Katakan oada dady kenapa kamu lari kan masalahmu ke bar bukan pada kami?" tanya Tomy.
"Dad, please ini masalah pribadi. Dady takan bisa mengatasinya!" ucap Ricky.
"Apa kau sedang jatuh cinta bayi kecil ku? Lihat mom, bayi kecil kita tengah jatuh cinta" ucap Tomy.
"Katakan nak kamu menyukai wanita yang mana biar kami bantu. Apa kamu mau wanita seperti apa nanti momy carikan?" tanya Daisy.
"No mom, dad. Aku menyukai wanita itu tetapi dia sudah mempunyai kekasih"jawab Ricky.
Pagi pun tiba, Tomy pamit untuk sekedar mandi dan berganti pakaian di rumahnya, saat itu juga kebetulan Marini sudah tiba di rumasakit untuk bekerja. Di lorong rumasakit dia bertemu Tomy.
"Selamat pagi om. Masih ingat dengan saya?"tanya Marini.
"Pagi dokter! Tentu saja masih. Anda bertugas di rumasakit ini?" tanya Tomy.
"Ya benar saya praktek disini. Oh ya siapa yang sakit om?" tanya Marini.
Mendengar Ricky yang sakit, Marini heran sekali pasalnya waktu malam dia bertandang ke rumahnya dia baik-baik saja tetapi sekarang dia sakit.
"Ya ampun sakit apa om?" tanya Marini.
"Dia mabuk dan merokok sampai pingsan dan asma nya kambuh. Malam itu dia hampir mati" ucap Tomy.
"Ya ampun om saya turut lerihatin atas apa yang menimpa Ricky"timpal Marini.
Marini pun menyempatkan waktu menjenguk Ricky. Di dalam ruang rawat nya di dapati Daisy sedang membujuk Ricky untuk makan tapi Ricky menolaknya.
" Ayolah makan. Kamu bukan lagi anak kecil yang harus di buju ketika di suruh makan" ucsp daisy kesal.
"Selamat pagi" ucap Marini.
Daisy dan Ricky pun menoleh ke arah suara itu membuat Ricky terperanjak antara senang dan kecewa.
"Pagi.. Eh ada nak Marini! Silahkan masuk" ucap Daisy.
"Kamu kenapa bisa seperti ini bocah nakal?" tanya Marini sembari mengusap rambut Ricky.
"Aku tak apa" ucap Ricky singkat.
Daisy yang menyadari jika Ricky perlu waktu berdua dengan Marini sengaja membuat alasan untuk ke kantin karena inhin membeli air mineral.
"Kenapa kamu mabuk hah?" tanya Marini.
"Apasih banyak tanya dasar tanteu" ketus Ricky.
"Hei aku bertanya baik padamu. Awas ya aku cabut nih alat infusanmu sekarang" ucap Marini kesal.
"Kau mau membuatku tambah sakit?" tanya Ricky.
__ADS_1
"Maksudnya?"ucap Marini bertanya balik.
"Aku, aku. Akcchhh lupakan tidak penting buatmu juga kan" jawab Ricky.
Marini kemudian mengambil sepiring hidangan sarapan untuk Ricky dan menyuapinya.
"Makan ya biar cepat sembuh" perintah Marini.
"Biarkan aku sakit. Toh wanita yang ku cintai juga sudah tidak perduli kepadaku. Dia tetap memilih lelaki yang sudah berselingkuh dari pada ku yang jelas-jelas tulus mengasihinya" gerutu Ricky.
"Kamu sedang membicarakan siapa sebenarnya? Apakah aku yang kamu maksud?" tanya Marini.
"Entahlah. Ayo lah suapi aku" pinta Ricky.
"Dasar bocah" ucap Marini sembari memasukan satu suapan nasi ke mulut Ricky.
"Hei aku walau pun masih umur dua puluh lima tahun, aku bisa membuat mu mendes@h dan lemas di bawah kungkungan ku paham" tegas Ricky sembari menarik tangan Marini sampai terduduk di ranjang pasien yang Ricky tiduri.
"Hei anda tidak punya akhlak sekali menarik tangan saya" ucap Marini kesal.
"Rin" ucap Ricky.
"Apa?" timpal Marini.
"Aku mencintaimu. Tapi tak apa mungkin sekarang kamu tak peduli tapi aku yakin kamu akan jadi wanitaku" ucap Ricky.
"Makan yang banyak saja jangan terus bicara" ucap Marini sembari menyuapi Ricky.
"Rin, coba dongakan wajah mu aku ingin menyingkirkan sesuatu di matamu" ucap Ricky.
Marini pun menuruti perkataan Ricky dengan mendongakan tubuhnya. Seketika Cup!! Sebuah ciuman singkat mendarat di bibir Marini.
"Hehehe Bibir mu buat ku candu" ucap Ricky.
"Hei kurang ajar ya kamu dasar bocah sialan" kesal Marini sembari menjejalkan satu butir telor rebus kedalam mulut Ricky.
Daisy yang melihat adegan drama dari balik pintu hanya senyum-senyum sendiri. Dia tahu penyebab mabuk nya sang anak karena patah hati oleh Marini.
"Hmmmmm, anak momy sudah jatuh cinta kepada dokter itu. Semoga saja kalian berjodoh" gumam Daisy.
Setelah selesai menyuapi Ricky, Marini izin padanya untuk praktek karrna waktunya.
"Sudah ya merajuknya. Aku pergi praktek dulu" bujuk Marini.
Ricky hari itu mendadak manja sekali pada Marini. Dari mulai makan ingin di suapi, sisa makanan yang menempel di bibir ingin di lap, tangannya terasa gatal ingin di garuki dan rambut yang berantakan ingin di sisiri. Hal itu membuat Marini kesal.
"Hei kamu bisa kan lakuin ini semua? Manja banget ya anda?" kesal Marini.
"Siapa suruh buat ku seperti ini?" timpal Ricky.
"Hei kenapa aku yang jadi kambing hitam" jawab Marini.
Di sela debat nya, Ricky memegangi bagian burungnya.
"Kenapa tuh burung di pegangi?" tanya Marini.
"Bantu ku ke toilet, ku ingin buang air kecil" ucap Ricky.
"Ya tuhan kenapa kamu semerepot kan ini sih? Aku bukan dokter rawat mu" kesal Marini.
"Bantu dulu ke toilet, habis itu kamu boleh praktek" ucsp Ricky.
Marini pun dengan terpaksa mengantar Ricky pergi ke toilet. Di depan toilet, Marini diam dan mempersilahkan Ricky masuk.
"Cepat masuk tunggu apa lagi?" tanya Marini.
"Kamu ikut dong pegangin" jawab Ricky.
"Pegangin apa?" kesal Marini.
__ADS_1
"Ya ya gak jadi ikut. Tapi tunggu disini"ucap Ricky.
Selesai mengurus Ricky, Marini pun segera berlalu pergi ke ruang prakteknya.