SUPIR KU SEORANG MAFIA

SUPIR KU SEORANG MAFIA
Amora Sembuh


__ADS_3

Dua tahun kemudian.


"Mbak, jangan ada barang satupun yang tertinggal" ucap Amora pada Vivid.


"Ya nyonya" jawabnya.


Tepat dua tahun sudah Amora di rawat di Penang, dan dia sudah di nyatakan normal kembali. Dia sudah bisa menerima dengan ikhlas kematian ibu dan kedua bayi kembarnya namun masih sulit untuk memaafkan Martin dan Susan.


Dua tahun itu juga merupakan fase terberat hidup Amora, lantaran pengobatan yang dia jalani serta obat-obatan yang harus tetap di konsumsi setiap harinya. Dia sudah tak sabar ingin pulang ke Indonesia.


"Nyonya, saya senang sekali anda sudah bisa menerima semua yang tuhan takdirkan" lirih Vivid.


"Ya mbak! Saya juga berfikir sudah saatnya saya berdamai dengan hidup dan takdir. Kesembuhan saya tidak lepas dari bantuan kamu, Billy dan Pelix. Apalagi kamu sudah sangat sabar merawat saya. Terimakasih ya mbak, kamu sudah saya anggap adik saya sendiri" ucap Amora sembari memeluk Vivid.


Di tengah keharuan mereka, datanglah dua sosok pria yang gagah menghampiri Amora dan Vivid. Tak lain dan tak bukan ialah Billy dan Pelix. Ada yang berbeda dari penampilan Billy hari itu, Wajahnya bersih karena bulu-bulunya sudah dia babat semua ketika akan berangkat ke Malaysia. Hal itu untuk memberi kejutan sang gadis pujaan, ya tak lain adalah Vivid.


"Mas Bill"


"Pak Billy"


Amora dan Vivid terkejut melihat perubahan di wajah brewok itu yang kini sudah polos dan menghadirkan wajah yang sangat tampan bak dewa Yunani. Hal itu membuat Pelix sedikit cemburu pada Amora.


"Aku datang kenapa tak kau tatap, hem?" tanya Pelix dengan tak suka.


"Ya ampun sayang, jadi kau cemburu pada Billy?" tanya Amora sembari terkekeh.


"Kau menatap Billy seolah sedang menatap selebritis saja. Aku tak suka" ucapnya.


"Maaf ya! Jangan cemberut" Amora memeluk Pelix dengan dengan sayang.


"Bagaimana apakah semua barang-barang sudah kau kemasi, honey?" tanya Billy pada Vivid.


"Sudah mas, kita tinggal berangkat saja" jawabnya.


Setelah pamitan pada dokter Nizam, akhirnya keempat orang itu pulang ke Indonesia.


Sesampainya di bandara, Amora ingin langsung pulang ke rumah nya. Rumah yang memberikan sejuta kenangan antara kepahitan dan kesedihan kala masih membina biduk rumahtangga bersama Martin.


"Bagaimana keadaan rumahku? Dan peternakan kuda ku bagaimana?" tanya Amora.


"Kamu tenang saja, rumah itu setiap hari ada yang membersihkan dan kuda-kuda milik mu ada yang merawat, dan mereka ada pula yang sudah melahirkan" jawab Pelix.


"Aku jadi tidak sabar ingin secepatnya tiba disana" Amora sangat bahagia.


"Nyonya, kalau boleh saya mau izin pulang ke kampung dulu. Sudah dua tahun sejak kepergian kita ke Malaysia, saya belum bertemu ibu saya" ucap Vivid.


"Baiklah mbak saya izinkan. Mumpung masih ada orang tua, bahagiakan lah mereka mbak" ada raut kesedihan di wajahnya kala membicarakan tentang orang tua.


"Sesudah itu antarkan aku ke makan ibu dan si kembar, ya sayang" ajak Amora pada Pelix.


"Kemanapun ku antar tuan putri" ucap Pelix sembari memegang tangan sang pujaan membuat Billy yang sedang mengemudikan mobil itu mencebik karena iri.


"Kenapa bibir mu monyong?" tanya Pelix.


"Tak apa hanya tak enak saja melihat romeo and juliet" jawabnya sarkas.

__ADS_1


"Iri bilang bos!" kelakar Pelix.


"No iri, iri yes! Sorry situ bukan level kita" jawab Billy.


Pelix pun pentoyor kepala pria tampan itu.


"Mbak bagaimana si bodoh ini apa sudah kau terima cintanya?" tanya Pelix pada Vivid.


"Saya tidak tahu" lirih Vivid.


"Loh kok tidak tahu? Mbak dia itu konglomerat asal kau tahu. Jika di bandingkan dengan kekayaan ku tidak akan sebanding. Jika kau menikah dengan dia, kau tidak akan di recoki oleh ipar dan mertua karena dia sebatang kara" ucap Pelix.


"Diam kau maniak" ucap Billy kesal.


"Biarkan aku maniak hanya dengan satu wanita. Dari pada kau senang memakai j@l@ng" seloroh Pelix.


Pertengkaran mereka berdua membuat Amora kesal. Pasalnya di dalam mobil itu sangat berisik dan membuat Billy tak konsen untuk membawa mobilnya.


"Bisa diam tidak kalian? Berisik! Kalian itu seperti kucing yang sedang birahi saja" geram Amora.


"Iya nih terus saja bertengkar. Hati-hati loh kalian jodoh" ucap Vivid.


Pelix dan Billy langsung bergidik ngeri.


¥


Di kantor, Martin sedang bekerja. Semenjak cerai dengan Amora dan di tinggal Susan pergi, Dia seakan lupa bagaimana carananya bahagia. Bahkan untuk tersenyum saja rasanya sangat mahal. Di satu sisi dia ingin kembali pada Amora karena cintanya masih sangat berkobar, di sisi yang lain dia sangat merindukan Susan karena dia menyakini sekarang anak yang di kandung Susan sudah lahir dan mungkin sudah merangkak. Tak bisa di pungkiri sebagai pria normal dia butuh pelepasan dan belaian seorang wanita. Kala rasa itu ada dia hanya bisa bersolo karir dengan tangannya sendiri. Sudah beberapa wanita yang di jodohkan dengannya tetapi tidak ada yang memenuhi kriterianya.


Dari laur, pintu ruangannya di ketuk oleh seseorang.


"Pak Martin, ini ada berkas client yang mesti anda tanda tangani. Ini soal kasus penggelapan uang dan dia ingin bebas tanpa jerat tuntutan apapun" ucap pria itu.


"Mau bebas bagaimana? Kita sebagai pengacara, jika client punya kasus besar dan merugikan negara kita tidak akan 100% bisa membebaskan jerat hukum, kita hanya bisa membantu mengurangi hukuman dia, itu juga jika semua uang hasil penggelapan di kembalikan pada negara" ucap Martin.


"Ini kasus lama pak! Jadi dia melakukan itu pada tahun 90-an dan kabur ke laur negri, dan sekarang baru tertangkap dan akan di adili" ucap pria yang bernama Riko.


"Apa?? Dan asal kau tahu itu hukumannya tidak main-main. Aku tak mau mengambil resiko. Konfirmasi ke pihak mereka kita mundur jadi pengacara mereka" tegas Martin.


"Tapi pak, ini cuannya sangat besar. Mereka berani membayar kita 100 juta per jam nya" Riko terus saja menggoda dengan tawaran uang.


"Dan kau mau reputasi kantor pengacaraku hancur gara-gara aku membela koruptor begitu? Dan bisa jadi uang yang mereka bayarkan itu uang haram. Uang itu akan mengalir ke perut anak dan istrimu" tegas Martin.


"Maaf pak saya duda" ucap Ricko sembari tertawa malu-malu.


"Kau duda? Tapi wajahmu selalu segar, kau suka main tangan ya?" tanya Martin.


Riko pun menjawab dengan malu-malu.


"Saya suka jajan pak!" jawabnya.


"Bandit kau Riko. Jajan di mana? Aplikasi atau pinggir jalan?" tanya Martin kepo.


"Di aplikasi pak. Aman dan terpercaya" ucapnya dengan nada pelan.


"Aku trauma, dulu pernah dapat lady boy" ucap Martin.

__ADS_1


"Itu kan ada dua menu pak! Yang ori di sebelah kanan dan yang palsu di sebelah kiri. Bapak tinggal pilih saja" ucapnya.


"Oke! Terimakasih infonya" ucap Martin.


¥


Di rumah sederhana, terdengar tangisan seorang bayi. Tubuh nya deman.


"Bertahan nak, mama akan bawa kamu sekarang ke rumasakit" ucap wanita itu yang tak lain adalah Susan.


Di perjalanan, karena dia sedang merasa panik dia tidak melihat jalan, tak di sangka sebuah mobil menyerempet nya.


Ckittttttt!! Suara rem yang di tarik keras dan susan pun tergeletak di jalan sembari masih menggendong anaknya.


Dari dalam mobil, keluarlah seorang wanita yang cantik dengan dandanan modis.


"Ya ampun maafkan saya kak! Sungguh saya tidak sengaja" ucap wanita itu.


Susan pun langsung mendongak ke arah suara itu.


"Lucinta? Kamu Lucinta kan?" tanya Susan.


"Ya aku Lucinta. Kamu Susan kan teman kuliah ku?" tanya Lucinta.


"Ya benar" jawab Susan.


"Ya ampun kamu mau kemana Sus malam-malam begini? Ayo ku antar" ucap Lucinta.


"Aku mau ke rumasakit. Bayiku deman!" ucapnya.


"Ayo ku antar" ucap nya.


Di perjalanana, Lucinta oenasaran dengan pekerjaan Susan. Dia tidak menyangka sosok yang cantik dan pintar ketika kuliah, sekarang menjadi sosok yang terlihat menyedihkan.


"Cinta, kamu ada pekerjaan gak? Aku sedang butuh pekerjaan" tanya Susan.


"Gak ada sih Sus!" ucapnya.


"Kamu sekarang jadi tajir ya. Apa kerjaan kamu?" tanya Susan lagi.


"Sejujurnya aku kerja menjadi wanita malam Sus! Aku bingung harus bagaimana lagi. Tapi khusus cuma menemani mengobrol saja tidak begituan kok" ucapnya.


"Hah memang ada cuma mengobrol saja?" tanya Susan.


"Ada! Ya jika ingin nambah maka client harus tambah uang. Tapi aku tidak mau jika sampai tidur" ucap ya.


"Aku mau Sus kerja begitu. Biarlah aku dosa yang penting anaku bisa makan" ucap Susan.


"Kamu yakin? Tidak ribet sih hanya menemani pria hidung belang minum dan mengobrol. Kita juga tidak lewat germo tapi lewat aplikasi jadi tidak terikat. Bagaiman?" tanya Lucinta.


"Ya sudah mau. Tapi aku harus bawa anaku dulu ke rumasakit" ucap Susan.


"Oke tak masalah. Jika anakmu harus di rawat, kau percayakan saja pada suster disana dan kau bisa mulai bekerja malam ini. Akan ku daftarkan di aplikasi hijau dan kau harus dandan yang cantik" ucap Lucinta.


"Oke" Jawab Susan.

__ADS_1


Mereka pun sampai di rumasakit


__ADS_2