
"Baiklah aku akan membantumu" ucap Marini.
"Terimakasih Rin. Terimakasih Tante" ucap Ricky.
"Yasudah, tanteu mau tidur dulu" ucap Elizabeth sembari mendorong kursi rodanya.
Kini tinggalah Marini dan Ricky berdua dalam kamar. Ricky berjalan menuju pintu dan langsung menguncinya membuat Marini terkejut.
"Mau apa kamu? Jangan kurang ajar ya" pekik Marini.
Ricky mendekat ke arah Marini membuat Marini seketika beringsut mundur. Dekat semakin dekat kemudian tangan Ricky menarik tubuh Marini kedalam dekapannya.
"Hei kamu mau apa? Awas kamu!"ucap Marini kesal bercampur takut.
Ricky kemudian membenamkan kepala Marini pada dada bidangnya lalu tangannya mengelus kepala Marini.
"Jangan memberontak biarkan aku menikmati pelukan ini. Aku sengaja ke rumahmu saat keadaanku seperti ini karena aku percaya kamu Rin. Jangan larang ku mendekatimu dan jangan larang aku untuk mencintaimu" ucap Ricky.
Sejurus kemudian, dia mengangkat wajah Marini untuk memandanginya.
"Lihat aku Rin, bukannya aku lebih tampan dari om perkasa mu itu?" tanya Ricky.
"Cari wanita yang seumuran dengan mu Ricky, Aku sudah dewasa sekali. perbedaan umur kita terpaut tujuh tahun, lagi pula ku sudah mempunyai kekasih dan aku sangat mencintainya" ucap Marini.
"Jangan larang aku untuk mencintaimu ya Rin. Dan untuk masalah umur aku tak peduli walau kau sudah menjadi grandma pun aku akan tetap menikahimu walau nanti hari-hariku hanya akan membuatkan mu segelas teh manis dan menggosok punggungmu dengan minyak angin. Jika om perkasa itu menghianati mu maka aku lah orang pertama yang akan menghajarnya" ucap Ricky.
Marini tiba-tiba tertawa mendengar ucapan dari Ricky. Dia tidak yakin dengan ucapan pemuda itu namun menggelikan.
"Jika kamu bertengkar dengan Pelix kamu bisa mati atau masuk UGD" ucap Marini terbahak.
Tawa Marini seketika terhenti kala Ricky dengan tiba-tiba mencium bibir Marini dengan sangat lembut. Marini pun seketika ingin mendorong pundak Ricky, tetapi sia-sia karena Ricky mengunci pergerakan Marini. Marini yang ikut terhanyut dalam ciuman itu langsung mengimbangi ciuman yang Ricky berikan hingga suara decapan bibir menghiasi kamar itu. Tak lama loloslah suara desa*an dari mulut manis Marini. Hal itu membuat gair*h Ricky menjadi bangkit lebih kuat tetapi dia tahu batasannya. Dia tidak mau Marini menjadi benci padanya. Di lepaskannya bibirnya dari bibir Marini hingga Marini seketika termenung.
"Maaf ku sudah lancang" ucap Ricky sembari menyeka sisa air liurnya di bibir Marini.
Marini hanya diam tak menjawab.
"Sudah malam tidurlah. Aku akan keluar dan tidur di sofa ruang tamu" ucap Ricky sembari keluar dari kamar Marini.
Pagi pun tiba. Marini sudah bersiap-siap berangkat ke rumasakit untuk bertugas, tak lupa dengan sarapan segelas susu almond hangat dan roti canai plus kuah kari kambing membuat dia merasa segar.
"Mau langsung berangkat sekarang?" tanya Ricky.
"Bukan urusan anda bung!" jawab Marini.
__ADS_1
Ketika dia hendak menaiki mobil, tangannya di jegal oleh Ricky agar dia menaiki mobilnya.
"Biar aku yang akan mengantarmu" ucap Ricky sembari menarik tangan Marini untuk memasuki mobilnya.
"Big no. Aku bisa berangkat sendiri" jawabnya.
"Aku tidak suka penolakan" ucap Ricky sembari mendorong tubuh Marini kedalam mobilnya.
"Ck.. Dasar bocah edan!" ucap Marini.
Di rumasakit, Pelix sudah menunggunya di parkiran rumasakit, berharap Marini agar segera datang.
Lama menunggu Marini sekitar setengah jam, akhirnya dia tiba di parkiran rumasakit.
Pelix menatap intens mobil yang di tumpangi Marini karena terdapat seorang pemuda tampan yang tidak lain dan tidak bukan itu sosok Ricky.
Marini turun dari mobil itu, dan langsung berhambur ke pelukan sang kekasih.
"Sayang sedang apa disini?" tanya Marini sembari menciumi inci demi inci wajah Pelix.
"Aku ingin menemuimu Rin" ucap Pelix dengan merangkul pinggang Marini dengan lembut.
"Ada apa menemuiku disini?" tanya Marini dengan posisi masih bergelayut manja di tubuh kekar sang kekasih.
"Aku mau" ucap Marini.
Pelix kemudian mencium bibir Marini, tanpa di sangka Ricky berjalan ke arah sepasang kekasih yang sedang matuk mematuk.
"Awas tuh CCTV di atas" ucap Ricky sembari melintas di hadapan Marini dan Pelix.
Pelix menghentikan aksinya dan memandangi Ricky dengan tatapan menusuk namun Ricky hanya cuek.
"Siapa dia Rin?" tanya Pelix.
"Dia pasien ku" jawab Marini.
Marini pun membalas pelukan Pelix dan dia pun sengaja berdiri di tempat yang tidak terjangkau kamera CCTV.
Kemudian sejurus kemudian Ricky melintas lagi di depan Pelix dan Marini dan mengumpat kepada Pelix.
"Tampan sih, tapi kalau tukang selingkuh buat apa" ucapnya.
Mendengar ocehan Ricky, membuat Pelix geram. Tangan kekar nya menggapai kerah kemeja Ricky, di cengkramnya lalu Pelix membawa tubuh pemuda itu ke pojokan.
__ADS_1
"Ada masalah apa kau mengangguku dengan kekasihku hah? Brughhhhhhhhh" tanya Pelix dengan memberikan satu bogeman manjalita ke perut Ricky.
"Auhhhhhhwwww!! Sakit banget gila. Om anda in Herkules ya?" tanya Ricky jenaka sembari menahan sakitnya pukulan dari Pelix.
"Dari tadi kau selalu menggangguku dengan kekasihku! Dan apa kau bilang selingkuh? Siapa yang selingkuh?" tanya Pelix.
"Asal kau tahu, malam itu sewaktu Marini memergokimu selingkuh dengan wanita yang bernama Amora, itu sedang bersamaku. Dan asal kau tahu, Aku lah yang mengantar Amora pulang karena saat itu keadaannya sangat kacau. Dia pulang berjalan kaki dan aku tak tega membiarkan nya pulang sendiri dengan keadaan seperti itu walau aku tak mengenal Amora waktu itu. Aku ini pria gentle yang tak mengkin bisa membagi cinta pada wanita manapun. Om kau tampan tapi bodoh. Brughhhhhhhhh" ucap Ricky sembari meninju wajah Pelix hingga darah segar mengalir dari ujung bibirnya.
Ricky yang sudah memukul Pelix segera kabur dari hadapan Pelix sebelum sang Godzila itu bisa membalas berpuluh-puluh pukulan.
"Maaf ya om" sembari berlari meninggalkan Ricky dan Marini.
"Kamu tak apa?" tanya Marini sembari membantu Pelix berdiri.
"Dasar bajingan kecil" umpat Pelix pada Eicky yang sudah tak terlihat.
"Besok ku jemput ya" ucap Pelix sembari memeluk Marini.
Sementara di rumah Amora, Martin pulang lebih awal karena ingin mengajak sang istri pergi ke acara pertemuan antar pengusaha dan orang-orang penting yang sukses di usia muda.
"Aku mau mas" ucap Amora.
"Jam delapan kita berangkat. Pastikan kamu dandan yang cantik malam ini" ucap Martin.
"Siap my bos" kekeh Amora.
Martin pun mengajak Amora pergi melihat peternakan kuda nya.
Kandang itu tampak lusuh tak terawat dengan Kuda-kuda yang kurus beda dengan sewaktu di rawat oleh Pelix.
"Kumuh sekali ya mas tak ada yang menjaga. Kita harus cari pekerja secepatnya" ucap Amora.
"Ya sepertinya begitu. Sepertinya sepeninggal Pelix, kamu menjadi tak ceria? Hmmmm ada apa ini?" tanya Martin.
Mendapat pertanyaan secara tiba-tiba membuat jantungnya kembang kempis tak karuan. Pertanyaan macam apa itu?.
"Gak mas, aku cuma kasian saja melihat Kuda-kuda kita. Sebelum ada pekerja, aku sendiri yang akan membersihkan dan merawat mereka! Bagaimana apa mas setuju?" tanya Amora.
"Silahkan saja tapi jangan sampai kamu kecapean ya" ucap Martin.
"Ya mas" jawab Amora.
Sementara di kantor, Ricky sedang bingung untuk mengajak siapa ke acara pertemuan pengusaha muda. Dia tak punya kekasih maupun teman dekat.
__ADS_1
"Siapa ya yang akan ku ajak nanti malam? Masa harus mengajak si james sialan. Idikhhhh najis semoga selalu di jauhkan dengan lelaki jadi jadian itu" ucap Ricky sembari bergidik..