
Pesawat sudah lepas landas di bandara internasional Benito Juarez
Mobil jemputan sudah terparkir rapih menunggu kedatangan cucu seorang mafia ternama.
"Holla mister Pelix" ucap seorang lelaki tinggi tegap berjas hitam.
"Holla Giani. Apakah sudah kau siapakan tempat tinggal untuku?" tanya Pelix dengan angkuhnya.
"Anda akan saya antarkan ke mansion masa kecil anda. Disana sudah di renovasi. Bagaimana?" tanya Giani.
"Antarkan aku kesana" ucap Pelix.
Sesampainya di mansion masa kecilnya, hatinya begitu tersayat melihat poto ibunya sedang menggendong Pelix sewaktu bayi, sedang memandikan nya dengan penuh kebahagiaan, dan poto terakhir sewaktu liburan pada musim panas dia berpoto dengan sang ibu ketika ibunya sedang hamil adiknya, saat itu Pelix kecil mengelus perut sang ibu sambil menampakan giginya yang ompong bagian depan.
"Aku merindukan mu" ucap Pelix dengan seberkas air mata di ujung netranya.
Suara panggilan telepon memecah kesedihannya. Pelix segera mengangkat telepon itu yang bertuliskan kakek tua.
"Hallo pak tua!" ucap Pelix.
"Kau sudah sampai disana?" tanya Leon.
"Sudah" jawab Pelix.
"Atur strategi dari sekarang. Rebut jutaan dolar dari tangan tuan Fernando Torres. Jika kau berhasil ku anggap kau super hero" ucap Leon.
"Aku tak butuh pengakuan mu. Kembalikan ibu ku maka hidup ku akan ku abdikan pada mu" ucap Pelix.
"Aku tak tahu wanita itu dimana" ucap Leon sembari menutup panggilan teleponnya.
Pelix dengan kesal spontan membantingkan ponsel yang dia pegang.
Saatnya atur strategi dan taktik. Dia mengumpul kan semua anak buahnya di ruangan rahasia kedap suara.
"Berikan aku denah markas tuan Fernando Torres, dan berikan data semua anak buahnya" ucap Pelix pada Giani.
Giani pun segera memberikan denah markas rivalnya itu.
"Asistennya berjumlah 370 orang dan mereka terbagi di berbagai wilayah kekuasaannya" ucap Giani.
Seorang wanita yang merupakan kaki tangan Pelix menghampiri dan memberikan sisa obat bius padanya.
"Bos, aku sudah membawa semua pasukan wanita untuk menggoda anak buah gengster anggrek jingga yang di pimpin oleh Fernando Torres" ( itu nama gangster atau paguyuban silat ya🤣🤣 Susah sekali cari nama yang berkelas). ucap wanita dengan baju tertampil belahan dada dan memakai stoking jaring-jaring.
"Good" ucap Pelix.
"Apa kita langsung lakukan penyerangan?" tanya Albert si penembak jitu.
"No! Kita cari dulu jalan damai dan negosiasi jika mereka kekeh dengan pendirian maka kau Albert berhak atas nyawa mereka. Rebut jutaan dolar malam ini atau kita pulang hanya nama, bisa juga kita mati terus daging kita di berikan kepada anjing-anjing milik gangster disana" ucap Martin.
"Bos, ada info dari Lucio jika sayap kanan anggrek jingga sudah ada yang berbelot kepada kita, maka hal itu bisa semakin memuluskan aksi kita" ucap Giani.
"Baiklah ayo sekarang kita datangi markasnya" ucap Pelix.
Pelix dan semua anak buahnya sedang menuju markas gangster mafia anggrek jingga yang di pimpin oleh Fernando Torres.
Pelix butuh waktu satu jam dengan menembus pinggiran dermaga, hutan lebat, dan perkebunan marijuana lalu sampailah di kediaman ketua Mafia Fernando Torres.
Tampak rumah mafia itu seperti tak ubahnya kastil tua dengan di kelilingi pagar kawat berduri dan di jaga ratusan anjing pitbull.
"Kami sudah buat janji dengan bos kalian" ucap Pelix to the point.
"Keluarkan senjata masing-masing" ucap seorang lelaki penjaga gerbang kastil tua itu.
Pelix dan semua anak buahnya kemudian menyerahkan semua persenjataan.
Tak berhenti di situ, Anjing-Anjing yang tadi sedang anteng rebahan, tiba-tiba mendengus dengan arogannya ke arah Pelix dan anak buahnya.
"Apa kalian ada yang menyembunyikan ranjau?" tanya pria penjaga gerbang itu.
"Tak ada" ucap Giani.
Anjing itu maju dan merangsek ke kaki Pelix seakan mencari sesuatu.
"Cari apa kau jelek?" tanya Pelix yang sudah kesal dengan tingkah Anjing yang bertuliskan di lehernya bernama Rocco.
Rupanya Rocco mencium bau logam pada sabuk Pelix karena Binatang itu di latih untuk mendeteksi logam.
"Tolong buka sabuk pinggang anda mister" ucap penjaga itu.
Dengan kesal Pelix pun melepaskan sabuk pinggangnya.
"Silahkan masuk bos kami sudah menunggu kalian di lantai dua" ucap pria penjaga itu.
Pelix pun melangkahkan kaki menuju tempat Fernando Torres berada.
__ADS_1
Sesampainya di ruangan itu, terlihat sang tuan rumah sedang bersetu*uh dengan jal@ng wanitanya.
"Ackkkhhhhhhhhh mister so hot akhhhhhh" ucap wanita yang berada di bawah kungkungan pemimpin gengster anggrek jingga itu.
"Hentak semakin kuat uchhhhhhh yeshhh eummmmpppp" erangan wanita itu memekakan telinga Pelix dan giani.
"Bagaimana ini bos?" tanya Giani sedikit kesal.
"Kita tunggu saja sampai selesai anggap saja ini pertunjukan sirkus antara gorila jantan dan betina" ucap Pelix.
Giani hanya tersenyum mendengar ucapan dari bos nya itu.
Sementara Fernando Torres dan wanita itu akan menyudahi permainan nya dengan di tandai mereka barusaja mencapai pelepasannya dengan memekik bersama, melepaskan sesuatu yang meledak di bawah sana. Dengan bercucuran peluh dan keringat, Fernando langsung mengusir wanita itu dengan menendangnya.
"Pergi dari sini pel@cur. Punguti semua baju-bajumu sekarang" ucap Fernando kasar.
Wanita itu pun pergi dengan pakaian yang belum sempurna di kenakan.
Datanglah Pelix ke hadapan Fernando.
"Mister Fernando Torres La Guarino, senang bertemu dengan anda" sapa Pelix.
"Selamat malam mister Pelix Djovanica Fernandez" balas Fernando.
"Langsung ke inti utama saja. Dalam lima tahun terakhir kenapa anda tidak membagi rata hasil penjualan dan peredaran kokain kepada kami? Anda tahu wilayah yang menjadi target subur perdagangan, penjualan , penanaman kokain dan marijuana itu setengahnya sudah masuk kedalam zona kekuasaan daerah kami. Tak banyak waktu sekarang saya meminta uang itu" ucap Pelix.
Fernando seakan menganggap remeh ucapan dari pria yang usia nya jauh di bawahnya.
"Dua juta $, itu bagian mu" ucap Fernando dengan entengnya.
"Sepertinya anda sedang bermain-main mister?" tanya Pelix.
"Memang itu yang pantas untuk kalian. Ampas nya saja pun masih kalah berharga" ucap Fernando sembari menghisap cerutu nya.
Mendengar itu membuat pelix amatlah terhina dan seketika merangsek kerah baju Fernando.
"Jangan pernah membuat kakek ku murka" ucap Pelix dengan mata melotot seakan-akan ingin melompat dari tempatnya.
Fernando hanya tersenyum smirk nya dan seakan menghinakan Pelix.
"Apa yang bisa orang tua itu lakukan hah? Bahkan dengan satu Anjing pitbull ku saja dia tak kalah berharga. Jadi jangan mengancamku anak bau kencur" ucap Fernando dengan menodongkan senjata apinya.
Suasana semakin panas, manakala anak buah Fernando sudah berjejer siap untuk mencabik-cabik Pelix dan segenap anak buahnya.
Senjata api maupun senjata tajam sudah terpampang nyata siap menebas apapun, di tambah semua Anjing galak sudah menyeringai dengan ekor di gerakan kesana kemari tanda waspada dan siap menyerang. Tetapi bukan Pelix namanya yang tak punya sifat tenang, dia tak sedikitpun terintimidasi oleh semua yang ada di kastil Fernando.
"Jangan dulu terburu-buru. Bahkan aku belum mempersembahkan pasukan bidadariku" ucap Pelix.
"Lady's tunjukan pesona kalian" ucap Giani pada semua wanita yang berbaris dengan kostum ala timur tengah.
Para wanita itu pun berbaris dengan tarian yang sangat lincah mampu membangkitkan hasrat kelelakian Fernando.
"Liukan pinggulmu baby" ucap Fernando sembari memegang burung nya yang sudah menggeliat.
"Goyangkan belahan dadamu dengan lincah oh my hot girl's" ucap Fernando penuh damba.
Ketika Fernando sedang menikmati tarian perut dari wanita-wanita itu, Giani merangsek masuk ke kamar Fernando untuk menemukan dokumen dan mencari uang yang ada di balik ranjang Fernando.
Ketika Giani ingin membawa uang itu, sialnya anak buah Fernando melihatnya. Tanpa pikir panjang Giani langsung menembak pria itu tepat di dada nya hingga seketika menghembuskan nafas terakhirnya.
Anak Buah Fernando yang sudah berbelot ke Pelix akhirnya membawa beberapa karung uang dan langsung memasukan ke mobil anak buah pelix. Di dalam Fernando baru menyadari anak buahnya tidak ada.
"Uang nya hilang, uang nya hilang dan Marcelo mati tertembak" ucap anak buah Fernando sembari berlari.
Fernando pun langsung bangkit dan menyadari bahwa itu ulah Pelix dan rombongannya.
"Licik kau" ucap Fernando dengan mengarahkan senjata api kepada Pelix.
Pelix hanya menyeringai ketika pestol dengan peluru sebesar jari kelingking siap mengoyak kepala Pelix sampai hancur.
"Bawa pasukan Anjing kemari" ucap Fernando kepada ank buahnya.
Segerlah Pasukan Anjing pitbull itu sudah berbaris siap menerkam Pelix dan pasukannya.
Tetapi ada yang aneh dengan itu, semua Anjing tampak ramah dan enggan untuk menyerang dan yang lebih mencengangkan lagi anak buah Fernando tampak berdiri di belakang Pelix.
"Ayo serang Anjing gila! Rocco ayo serang mereka" ucap Fernando kepada para Anjing galaknya.
Tetapi bukannya menyerang, Anjing itu malah mengendus-endus seperti anak kucing kepada induknya hal itu membuat Fernando murka.
"Eliot kenapa kau berdiri di belakang dia?" tanya Fernando sembari menunjuk ke arah Pelix.
"Sorry bos sekarang dia bos kami yang baru" Ecap Eliot.
"Bedebah kau Eliot" geram Fernando.
"Ini soal uang dan harga diri. Aku sudah lama ingin keluar dari kartel ini. Kau menahan ku juga merudapaksa ibu dan adik ku hingga ibuku mati dan adik ku gila" ucap Eliot.
"Akan ku bunuh kau Eliot" ucap Fernando geram.
__ADS_1
"Oscar kenapa kau diam saja bodoh?" ucap Fernando.
"Sorry bos dia menjanjikan kehidupan yang lebih baik. Lima tahun ku mengabdi dengan mu aku tak mendapat apapun. Keluargaku kelaparan dan kau tak peduli. Kau lah Binatang yang sesungguhnya" ucap Oscar.
"Penghianat kau jahanam" ucap Fernando dengan posisi siap membidik siapapun dengam pestolnya.
"Tedy bantai mereka" titah Fernando.
Kemudian Pelix berbicara dengan Teddy.
"Jika kau menyerang kami maka kau lah yang akan mati. Menyerah dan ikutlah dengan kami. Jika kau mau maka hidup mu dan keluargamu akan sejahtera" ucap Pelix.
Teddy seketika merenung dan tak lama mengangguk.
"Aku akan ikut dengan mu" ucap Tedi yang membuat makin murka Fernando.
"Teddy kau beraninya berhianat padaku" ucap Fernando dengan posisi semakin terjepit.
"Sorry mister aku lebih memilih yang tepat. Ikut dengan mu hanya membuat ku tudak jelas" jawab Teddy.
Teddy kemudian berbaris di belakang anak buah Pelix.
Tinggalah dua lelaki berwajah kembar dengan membawa pedang samurai. mereka lah harapan Fernando satu-satunya.
"Tunggu apa lagi cepat tebas satu persatu mereka" ucap Fernando.
Dengan cerdik Pelix merayu dua lelaki itu agar mau bergabung dengan genx nya.
"Asli mana kau?" tanya Pelix pada kedua lelaki kembar itu yang sudah siap dengan samurai nya.
"Turunkan samurai mu" ucap Giani dengan nada mengintimidasi.
"Kami asal Jepang" ucap Dua lelaki itu.
"Kau tampak kurus! Apa kau makan dengan layak?" tanya Pelix.
Dua lelaki itu saling memandangi dan enggan untuk berbicara.
"Apa keluargamu tahu kau jadi anggota mafia?“ tanya Pelix.
" Tidak! Sudah tujuh tahun kami disini meninggalkan anak istri kami. Kami sungguh tersiksa disini tak boleh kembali ke negara kami" ucap lelaki itu.
"Jika kalian ikut dengan kami maka hidupmu akan terjamin dan kalian boleh pulang ke negara kalian. Pikirkan usul ku sebelum algojo ku memindahkan kepala mu dari tempatnya" ancam Pelix.
Kedua orang itu akhirnya mau bergabung dengan Pelix dan langsung berdiri di barisan anak buah Pelix.
Melihat satu persatu orang kepercayaannya berpindah haluan membuat Fernando semakin murka.
"Bedebah kau Jasuke dan Tansuke. Kalian ubahnya Binatang yang mudah menurut" geram Fernando.
Dia pun mengacungkan senjata kepada semua orang yang ada disana. Ketika dia menebak, apesnya bukannya keluar peluru malah air lah yang keluar hal ini menjadikan dia semakin geram bercampur ketakutan.
Fernando seketika mengiba kepada Pelix untuk di ampuni tetapi Albert seorang penembak jitu langsung melesatkan peluru tepat di kepala Fernando hingga seketika inalillahi dan tumbang.
Seorang anak buah Pelix berlari menghampiri nya.
"Bos, Banyak sekali yang di tawan disini. Apakah kita harus membebaskannya?" tanya Anak pria yang bernama Stevio.
"Bebaskan mereka semua cepat sebelum polisi datang kemari" ucap Pelix.
Semua tawanan yang ada di kastil itu akhirnya bisa benafas lega dan tak hentinya berterimakasih pada Pelix.
"Terimakasih tuan terimaksih. Anda sudah membebaskan kami" ucap salah satu yang menjadi tahanan.
"Ini semua tentunya tidak gratis, kalian harus tutup mulut jika polisi bertanya sesuatu dan kalian harus menjadi anak buahku dengan menjaga ladang tanaman ganja ku" ucap Pelix.
Semua tawanan itu mengiyakan ucapan Pelix.
"Cepat keluar sekarang dan bawa semua Anjing yang ada di sini" perintah Giani kepada semua orang.
Semua orang pun berlari keluar dari kastil itu.
"Ledakan sekarang" ucap Pelix.
Dorrrrr dorrrrr dorrr.
sebuah dinamite berhasil meledakan kastil tua itu hingga rata dengan tanah.
"Pergi cepat pergi sekarang" ucap Pelix sembari memasukan semua tawanan beserta semua Anjing pitbull yang ada disana kedalam mobil truk besar.
Pelix pun pergi dengan semua anak buahnya dengan senyuman yang mengembang.
Sesampainya di mansion, berita kematian Fernando dan hancurnya kastil tua itu sudah menyebar dan polisi sedang mencari tahu siapa dalang di balik itu semua, namun sayang tak ada seorang pun yang tahu atau mungkin pura-pura tidak tahu. Setelah dua hari kasus kematian Fernando pun di tutup karena tidak cukup bukti.
Semua orang yang ada disana sangat senang meningat mafia anggrek jingga sangat meresahkan tiga puluh tahun terakhir. Banyak gadis muda yang di culik untuk di jadikan alat pemuas nafsu Fernando, pemalakan dimana-mana, pembunuhan berbagai aktifis HAM karena menentang gerakan mafia itu lalu kasus terbaru adalah pembakaran kantor polisi. Banyak warga di sana yang mencari tahu siapa yang melenyakan ketua mafia itu tetapi hasilnya nihil.
"Besok aku pulang. Pastikan kau menjalankan perintahku untuk membangun fasilitas sekolah untuk anak-anak miskin disini dan semuanya" ucap Pelix.
"Baik mister" ucap Giani.
Pelix pun bersiap-siap untuk kembali lagi ke negaranya.
__ADS_1
Pegel ngetik bestie... Selalu dukung karyaku ya...😍😍😍