
"Aku tak bisa membiarkanmu terus merasa terteror. Suka atau tidak besok aku akan menikahimu agar kau ada yang menjaga" ucap Martin.
Betapa terkejutnya Susan mendengar itu keluar dari mulut Martin. Apa jadinya dia harus menikah dengan seorang pria beristri. Dia tak ingin menyakiti hati istri Martin, Dia beranggapan jika Martin sudah gila dan akhirnya akan menyengsarakan hidup nya dan hidup orang lain.
"Aku menikah dengan mu? No. Jangan gila kau ya! Hidupku sudah sangat berantakan, aku tak ingin semakin berantakan dengan menjadi madu" ucap Susan.
"Ini hanya sementara sampai kamu aman Sus. Aku takan menyentuhmu aku janji" ucap Martin.
"Tidak mau! Aku bukan wanita serakah yang ingin melukai hati sesama perempuan. Aku bukan wanita penggoda. Aku bukan pelakor kau paham?" ucap Susan.
"Kamu tidak menggodaku dan kamu bukan pelakor. Itu murni karena ku ingin melindungimu dari tangan mantan ipar mu yang jahat. Aku janji setelah situasi nya aman kamu boleh menceraikan ku" ucap Martin.
Susan tak menjawab, dia hanya diam dengan kebimbangannya.
"tidak menjawab berarti mengiyakan" ucap Martin.
"Martin, aku~~" ucap Susan menggantung.
"Besok kita nikah di kantor catatan sipil. Sekarang kamu istirahat saja. Aku akan pulang besok kemari lagi untuk menjemputmu" ucap Martin sembari berlalu meninggalkan ruang rawat Susan.
Di rumah, Martin melihat sang istri sedang membuat kue.
"Wangi sekali kue itu Amor" ucap Martin sembari mengecup keningnya.
"Spesial untuk mu mas" jawabnya ringan.
"Bagaimana kerjanya lancar?" tanya Amora.
Martin tak kuasa menjawab nya karena dia hari ini tidak bekerja melainkan menemani Susan di rumasakit dan membuat perhitungan dengan mantan ipar Susan.
"Sangat melelahkan sayang" jawabnya berbohong.
"Kalau begitu ayo ke kamar, mas harus mandi dulu" ucapnya.
Martin pun menuruti sang istri dan Amora mengikutinya.
Di dalam kamar, Amora melucuti pakaian sang suami. Hal itu membuat Martin sedikit bingung.
"Mas pasti butuh pikiran yang relax kan? Berendam di bathub adalah solusinya" ucap Amora tersenyum lalu mengecup bibir sang suami sekilas.
"Oh Amora, kau memang segalanya. Apa aku sanggup menghianatimu?" gumam Martin dalam hatinya.
Martin hanya menurut saja. Amora dengan cekatan menuntun sang suami menuju kamar mandi dan menyuruhnya berendam di bathub yang sudah di isi air hangat dengan taburan bunga mawar lalu di selingi dengan wanginya lilin aroma terapi.
"Kamu yang menyiapkan ini semua Amor?" tanya Martin.
"Untukmu suamiku agar kau lebih menikmati waktu kita malam ini" jawabnya dengan nada sensual.
"Oh my good, kamu memang istri terbaik" ucap Martin.
"Berendamlah sayang, maka aku akan memijat mu" ucap Amora.
Amora menuntun sang suami untuk berendam di bathub, kemudian tangan mungilnya memijat pundak sang suami yang kekar dengan sedikit sentuhan manjalita.
"Enak mas?" tanya Amora.
"Enak! Ini membuat ku relax.
Kemudian tangan Amora beralih memijati kepala sang suami dengan sentuhan jambak-jambak nakalnya membuat Martin sampai terpejam syahdu.
" Belajar dari mana pijat reflexy sayang?" tanya Martin.
"Aku belajar di buku. Aku ingin memanjakan suamiku!" jawabnya.
"Kamu memang luar biasa" ucap Martin.
Sudah puas memijat kepala sang suami, kini tangan Amora berpindah ke perut lalu memijat benda pusakanya sampai Martin melenguh.
"Kamu sengaja memancingku sayang" ucap Martin dengan suara paraunya.
__ADS_1
"Aku ingin!" ucap Amora seraya berbisik di teling sang suami.
Martin pun bangkit dan meraih tubuh Amora lalu di balik nya dengan posisi Amora membelakangi nya. Martin pun melancarkan aksinya dan terjadilah war wer wor di dalam kamar mandi.
Vivid yang sedari tadi menunggu Amora sedikit Kesal.
"Nyonya kemana ya kok lama banget? Aku sudah ngantuk begini mana jam sudah menunjukan pukul sebelas malam dan nyonya belum ada tanda-tanda keluar kamar. Apa mungkin nyonya sedang ninu-ninu ya sampai melupakan aku" ucap Vivid sembari menghela nafas berat.
Vivid pun tak terasa sampai tertidur di meja makan.
Setelah lama bergulat, akhirnya Martin dan Amora keluar dari kamar dan mendapati Vivid sedang tidur di meja makan.
"Mas, aku sampai lupa dengan mbak Vivid. Kasian loh dia menunggu sampai ketiduran" ucap Amora.
"Ya gimana lagi" ucap Martin sembari terkekeh.
"Mas sih main nya kelamaan, aktif banget" ucap Amora.
"Siapa yang memulai?" tanya Martin.
"Aku sih" ucap Amora.
Mereka pun masuk kembali ke dalam kamar dan membiarkan Vivid tertidur di meja makan.
Pagi pun hadir dengan di iringi sinar mentari. Martin buru-buru terbangun dan langsung berjalan menuju kamar mandi.
Amora yang sudah keluar kamar pun langsung pergi ke dapur dan melihat Vivid sudah sibuk memasak.
"Mbak, maaf ya semalam buat kamu nunggu sampai tidur disini" ucap Amora sembari menangkupkan kedua tangannya.
"Tidak apa-apa nyonya. Saya senang kok tidur disini" ucap Vivid.
"Saya jadi gak enak. Maaf ya sekali lagi" ucap Amora sembari memeluk Vivid.
"Gak masalah nyonya tak usah meminta maaf. Bagaimana malam nya bersama tuan?" tanya Vivid sembari terkekeh.
"Pasti ganas ya tuan Martin?" tanya Vivid lagi.
"Ya begitulah sampai saya lemas" kekeh Amora.
"Perkasa sekali" ucap Vivid.
Amora dan Vivid kemudian tertawa bersama.
Martin yang sudah rapih langsung berlalu dan hanya mengucapkan tidak akan sarapan karena banyak sekali pekerjaan.
"Kok buru-buru sekali ya nyonya?" tanya Vivid.
"Sibuk katanya. Nanti saya akan bawakan makan ke kantornya saja deh mbak" ucap Amora.
¥
Sementara di Rumasakit, Susan sudah bersiap-siap untuk pulang. Martin saat itu baru tiba dan segera memasuki ruang rawat Susan.
"Kamu sudah siap untuk pulang?" tanya Martin.
"Tak enak di sini lama-lama. Aku mau pulang ke rumah ku" jawabnya.
"Loh ke kerumah sih, kita ke kantor catatan sipil dahulu baru ku antar pulang" ucap Martin.
"Tin, aku tak akan mau menikah dengan mu. Cukuplah dulu kita menjalin kasih aku tak mau itu terulang lagi sudah cukup. Biarkan aku hidup seperti ini" tutur Susan sedih.
"Hei aku tak suka penolakan. Aku sudah buat surat perjanjiandan kamu bisa membacanya" ucap Martin sembari menyodorkan secarik kertas kepada Susan.p
Susan langsung mengambil surat itu dari tangan Martin lalu segera membacanya.
SURAT PERJANJIAN PERNIKAHAN
1: Tidak terjadi hubungan suami istri.
__ADS_1
2: Pihak perempuan boleh mengajukan kuasa cerai kapan saja jika pihak suami menyetujuinya.
3: Nafkah senilai lima puluh juta perbulan.
4: Berpura-pura tidak mengenal satu sama lain di depan publik.
5: Tidak perlu melayani suami.
Itulah isi surat perjanjian pernikahan antara Susan dan Martin. Susan pun mengiyakan dan langsung menandatangani surat itu.
Sesampainya di kantor catatan sipil, mereka langsung mengadakan akad nikah.
"Saya terima nikah dan kawinnya Susan binti Azam dengan mas kawin tersebut di bayar tunai" ucap Martin dengan satu tarikan nafas dan lantang.
"Bagaimana para saksi apakah sah?" tanya penghulu.
"Sah" ucap para saksi serempak.
Sah lah sudah seorang Susan menjadi madu dari Amora dan Martin segera membawa pulang Amora ke apartemennya.
"Kamu bisa tinggal disini semaumu. Sekarang kamu sudah sah menjadi istriku walau itu hanya sebuah perjanjian saja. Istirahatlah aku akan pulang" ucap Martin.
"Terimakasih atas semua pengorbanan nya padaku. Tapi bagaimana dengan istrimu?" tanya Susan.
"Usahakan untuk sementara waktu Amora jangan sampai mengetahui nya. Sekarang tidak ada yang bisa mengganggumu" ucap Martin sembari berlalu meninggalkan apartemen miliknya.
Tak sangka sesaat Martin keluar, Pelix mengawasinya dan langsung berlalu menuju Apartemen milik Martin.
Sudah dua hari Pelix mengawasi gerak gerik Martin sampai aksi pemukulan kepada mantan ipar Susan pun dia mengetahuinya.
Sementara di dalam apartemen, Susan sedang melamun di balkon kamarnya. Tak lama suara bel berbunyi.dan dia seketika membukanya.
"Anda?" ucap Susan.
"Ya benar. Apa kabar nona? Bagaimana kasus anda?" tanya Martin di sebrang pintu.
"Sudah selesai. Oh ya silahkan masuk kita ngobrolnya di dalam saja" jawab Susan.
Pelix pun duduk di ruang tamu itu, tetapi pandangannya tak lepas dari cincin yang di kenakan Susan.
"Boleh saya bertanya?" ucap Pelix.
"Silahkan!" jawab nya.
"Saya hanya ingin menanyakan sejauh apa hubungan anda dengan Martin?" tanya Pelix.
Susan tampak ragu untuk menjawab, dia berusaha mencari-cari alasan tetapi Pelix segera mengetahuinya.
"Apakah anda sudah menikah?" tanya Pelix penuh selidik.
"Hmmmmhmmmmm bebe~~belum. Saya masih bersetatus janda" ucap nya gugup.
"Mulut anda bisa berbohong, tetapi mata anda tidak demikian. Jujurlah pada saya, sejauh mana hubungan kalian?"tanya Pelix.
Dengan mendapat pertanyaan intimidasi akhirnya susan jujur.
"Saya telah menikah dengan Martin, Tadi akad itu berlangsung tetapi hanya nikah agama saja" jawabnya spontan.
Mendengar itu, hati Pelix begitu sakit dan terasa teriris. Jikalau dia tahu nasib amora akan di poligami, maka dia waktu itu akan langsung membawa kabur Amora.
"Anda tahu bahwa dia pria beristri?" tanya Pelix.
"Ya saya tahu. Martin terus memaksa saya larena ingin melindungi saya" jawabnya.
"Anda bisa tunggu sebentar. Saya akan menunjukan sesuatu.
Susan berlalu dan mengambil surat perjanjian pernikahan lalu segera di berikan kepada Pelix. Pelix.pun membacanya dan dia segera pamit untuk pergi tak lupa dia memotret surat itu.
"Saya pamit" ucap Pelix.
__ADS_1