
Martin yang sedang menunggu Amora di dalam kamar hanya merenung karena sejak tadi Amora tidak mau masuk kamar. Amora rupanya tidur di kamar Vivid.
Martin beranjak dan menemui Vivid yang sedang membuat juice kesukaan Amora.
"Mbak kemana istri saya?" tanya Martin.
"Nyonya ada di kamar saya tuan!“ ucap Vivid.
Martin pun langsung bergegas ke kamar Vivid dan membuka nya tanpa mengetuk terlebih dahulu. Di dalam kamar Martin mendapati Amora sedang berguling-guling tidak jelas sembari memainkan ponselnya.
" Ternyata kamu disini Amor" ucap Martin sembari berhambur menindih tubuh Amora.
"Mas apaan sih, berat mas" ucap Amora ketus.
"Masih marah? Kan aku sudah jelaskan aku hanya menolong dia saja dan urusan nya sudah selesai. Dia sudah mendapat keadilan nya. Amora sayang, mas minta maaf ya!" ucapnya mengiba.
"Hmmmmmm kenapa aku harus marah, sementara aku sudah melakukan hal yang lebih dengan Pelix. Maafkan aku mas" gumam Amora dalam hati.
"Iya mas, aku memaafkan mu" ucapnya singkat.
"Terimakasih sayang terimakasih" ucap Martin sembari mencium wajah Amora secara membabi buta.
"Mas kok brutal sekali menciumku?“ tanya Amora sembari merapihkan rambutnya yang acak-acakan.
" Maklum sayang, mas sudah lama tak menjam*h tubuhmu. Sekarang ya! Mas sudah tak tahan" ucap Martin sembari berdusel manja seperti kucing kepada majikannya.
"Mau disini?" tanya Amora.
"Ya gak di tempat ini juga dong akh, ini kan kamarnya mbak Vivid" ucap Martin sembari terkekeh.
Mereka keluar dari kamar Vivid dan langsung berlalu menuju mobilnya. Di sepanjang jalan Amora hanya diam tak bertanya apapun pada sang suami, dia hanya tahu jika suaminya akan membawa ke suatu tempat untuk menuntaskan hasr*t nya. Di tengah kesunyian dua insan itu, tiba-tiba tangan Martin menggenggam tangan Amora dan menuntunnya untuk menyentuh gundukan di selah paha Martin. Amora pun terperanjat dengan aksi random sang suami.
"Ikh mas mesum deh! Apasih mah iseng banget" ucap Amora.
"Hahahaha~~ Biasa aja dong neng kok kaget begitu! Biar kamu tahu kalau aku udah gak tahan. Sakit tahu menahan ini dari tadi" ucap Martin sembari terkekeh.
"Ya aku tahu mas sedari tadi tingkahmu kaya cacing kepanasan. Maaf ya mas waktu itu aku marah banget sama kamu" ucap Amora.
"Aku bisa memaklumi kok kemarahmu waktu itu. Lusa Susan akan menemuimu dan ingin bicara padamu. Kamu mau kan menenui dia?" tanya Martin.
"Iya mas aku mau. Atur saja waktunya" jawabnya.
Percakapan dua insan itu berhenti kala mobil Martin memasuki parkiran sebuah hotel mewah.
D'romantica Hotel menjadi pilihannya untuk melakukan perjalanan cinta malam ini.
__ADS_1
"Dapat rekomendasi dari siapa mas hotel ini? Indah banget dan mewah" tanya Amora.
"Aku tahu sendiri" jawabnya.
"Owh tahu sendiri ya! Berarti sering ya kemari ?" tanya Amora mendelik.
"Yaampun Amor, enggak sering juga. Cuma pernah waktu itu dua kali aku kemari itu juga waktu meeting dengan client" jawab Martin dengan kesungguhan.
"Owh kirain sering" ucap Amora dengan senyum mengejeknya.
"No ya Amor. Hanya kamu lah yang mengobrak-abrik masa perjakaku. Tolong ya memangnya aku cowok apaan" ucap Martin.
Amora hanya tertawa mendengar ucapan sang suami.
Kamar nomor 212 menjadi tempat mereka bermalam . Kamar hotel yang bernuansa oriental dengan sudut terdapat hiasan seperti lampion menambah kesan romantica ruangan itu.
"Kamu suka?" tanya Martin sembari memeluk dari belakang dan memebenamkan kepalanya di ceruk leher sang istri.
"Lebih dari suka mas" jawab Amora.
"Aku mandi dulu ya!" ucap Martin sembari melepaskan pelukannya dan berlalu ke dalam kamar mandi.
Setelah Martin selesai mandi dan keluar dengan hanya memakai bathrobes nya, kini giliran Amora yang masuk kedalam kamar mandi.
Setelah sepersekian menit akhirnya Amora keluar dari kamar mandi menggunakan gaun tipis warna merah.
"Terkam aku hubby" balas Amora dengan gaya centilnya sembari meliuk-liuk bak ular sendok.
Malam itu kamar dengan no 212 menjadi saksi bisu bagaimana dua insan manusia itu bersatu.
Martin melakukannya seperti orang kesurupan. Satu kali, dua kali sampai lima kali membuat Amora lemas bagai tak bertulang dan setelah para demonstran kecebong itu keluar barulah mereka menyudahi itu semua.
"Lagi?" ucap Martin.
"Big no. Kamu ingin melihatku mati lemas?" ucap Amora sembari menenggak air segelas air bening.
Martin yang mendengar penolakan itu hanya terkekeh dan mereka pun tidur dengan lelapnya.
Sementara di rumah, Pelix sedang merasa jengah karena terus di hubungi oleh sang kakek.
"Apalagi si kakek tua ini selalu menganggu ku" gumam Pelix.
kemudian notifikasi pesan masuk dan dia segera membacanya.
"Jawab panggilan aku bodoh. Ada tugas penting untukmu" tulis sang kakek.
__ADS_1
Pelix hanya melihat dan kemudian menyimpan ponselnya lagi di nakas.
"Perintah apalagi sih, harusnya dia saja yang mengerjakan. Dasar kakek tua tak tahu dia sudah mau mati sebentar lagi masih mau bermain-main dengan nominal yang haram" gerutu Pelix.
Kemudian ponsel Pelix bergetar lagi dan sudah dia duga yang menghubunginya adalah sang kakek.
"Holla" ucap Pelix.
"Kenapa kau tak angkat panggilanku bodoh? Dasar anak ayam selalu saja tak ada ketika di andalkan!" ucap Leon.
"Hei orang tua, kenapa kau selalu menyusahkanku? Ada apa secara marathon menghubungiku?"
"Ada tugas untuk mu. Sekarang juga kau ke markas aku tunggu" ucap Leon sembari menutup panggilannya.
Pelix pun segera bergegas menemui sang kakek di markasnya.
Sesampainya di markas itu, Pelix sudah di sambut oleh semua anak buah Leon.
"Tuan, anda segera di tunggu oleh Big Bos" ucap seorang pria berwajah hitam dengan gurat bekas luka di pipi sebelah kiri dan rambit plontosnya.
Pelix tak menjawab hanya melengos saja.
Tiba lah dia di sebuah ruangan yang tak terlalu terang, hanya ada lampu gantung sebagai satu-satunya pelita disana.
"Ada apa kau memanggilku?" tanya Pelix kepada sang kakek.
Pria tua yang menopangkan kakinya sebelah keatas dengan terselip cerutu di tanggannya itu, beserta para wanita muda yang mengenakan lingerings motif kelinci di tambah stoking jaringnya, melihat Pelix dengan tatapan tajam.
"Ladys kalian bisa pergi dari sini" ucap Leon sembari mengibaskan tangan.
"Ada apa kau panggil aku kemari?" tanya Pelix.
Sang kakek kemudian mengeluarkan selembar poto kepada Pelix. Terlihat gambar seorang wanita berwajah menenduhkan dengan memakai hijab warna maroon tengan menjinjing keranjang berisi kue, gorengan dan nasi bungkus.
"Ada apa dengan wanita ini?" tanya Pelix.
"Bunuh wanita itu!" ucap Leon dengan nada ringannya.
"Kenapa aku harus membunuh wanita ini? Ada masalah apa dengannya?"
"Wanita itu adalah saksi kunci sewaktu ayahmu sedang melakukan transaksi narkoba di gedung yang terbengkalai seminggu yang lalu. Aku takut dia akan bicara kepada polisi dan membahayakan kita semua. Ini perintah! Aku tak suka dengan penolakan" ucap Leon sembari melangkah dengan bertopang pada tongkat keramatnya.
"Argggghhhh selalu saja meremehkan nyawa orang lain. Entah sudah berapa ratus nyawa melayang di tangannya. Dia seakan tidak sadar bahwa dia pun akan mati" ucap Pelix dan segera berlalu meninggalkan markas laknat itu.
"Aku tak mungkin membunuh orang
__ADS_1
Apalagi wanita itu. Tuhan aku lelah hidup seperti ini aku ingin tenang" ucap Pelix sendu sembari mengusap rambutnya dengan kedua tangannya ke belakang.