
Billy yang sedang memperhatikan layar laptopnya segera mendapatkan informasi tentang keberadaan yang Pelix maksud. Dia pun segera menghubungi Pelix.
"Bagaimana sudah kau temukan alamat nya?" tanya Pelix dari seberang telepon.
"Sudah bos. Alamat itu berhenti di sebuah kabupaten di jawa barat yaitu daerah Sumedang. sudah tidak ada lagi pergerakan karena aku menunggu di depan laptop ku kurang lebih selama tiga jam" ucap Billy penuh keyakinan.
"Yasudah sekarang berikan alamat yang lebih valid karena sekarang juga ku akan kesana" ucap Pelix.
"Baiklah akan ku kirimkan data lengkapnya" jawabnya.
Pelix pun segera bangkit dari kursi usang rumah sang bunda sembari mengambil jaket dan kunci mobilnya. Malam itu juga dia berangkat ke alamat yang sudah billy kirimkan.
"Aku akan segera menemuimu bunda dan adik kecilku. Aku sangat merindukan kalian" gemuruh di dada Pelix.
Sepanjang perjalanan pelix selalu berhenti di warung kopi untuk sedikit mengurangi rasa lelahnya. Butuh sekitar delapan jam berkendara untuk sampai di alamat tujuan hingga hari malam berganti dengan pagi yang indah.
Sebuah Villa bergaya minimalis menjadi tempat pemberhentian karena sesuai dengan alamat yang Billy berikan. Disana juga terparkir truk puso warna hijau yang masih di penuhi barang-barang di dalam bak nya.
"Apakah ini benar alamat yang Billy berikan? Aku sudah mengemudi hingga sejauh ini tapi aku akan terus cari" ucap Pelix sembari membuka pintu mobil nya.
Disana ada seorang pria tua yang sedang memegang sapu. Pelix pun segera bertanya pada pria itu.
"Permisi pak boleh kah saya bertanya?" tanya Pelix.
Laki-laki itu hanya tersenyum tanpa menjawab pertanyaan nya.
"Kenapa dengan pria ini?"batin Pelix.
" Aden timana? ( Aden dari mana?)" laki-laki itu balik bertanya memakai bahasa sunda.
"Saya dari kota" jawab Pelix.
"Sepertinya dia tidak bisa berbahasa Indonesia" gumam Pelix.
Sesaat ada seorang wanita paruh baya menghampiri Pelix.
"Mau cari siapa A?" tanya wanita itu.
"Maaf apa benar ini kediaman ibu Kaisyah?" tanya Pelix.
"Benar! Nyonya tadi malam baru tiba di sini, sekarang beliau sedang istirahat. Aa ini siapa ya?" tanya wanita itu yang di ketahui bernama Asih.
"Saya anak nya"jawab nya singkat.
__ADS_1
"Oh ya sudah saya panggilkan dulu nyonya" ucap Asih sembari melangkah menuju dalam Villa.
Di kamar, Kaisyah sedang merebahkan badannya karena lelah. Asih kemudian mengetuk pintu dan langsung di izinkan masuk oleh nya.
"Nyonya di luar ada pria super tampan mencari nyonya!" ucap Asih.
"Siapa dia Asih?" tanya Kaisyah yang merasa keheranan.
"Dia bilang kalau dia anak anda nyonya!" tutur Asih.
Kaisyah pun seketika bangkit dari ranjang nya dan berlari menuju halaman Villa.
Di halaman Villa seorang pria tampan nan gagah berdiri membelakangi pintu. Kaisyah yang melihat itu segera menyentuh lembut pundak pria itu.
"Kamu cari saya?" tanya Kaisyah.
Pelix pun seketika menoleh melihat sumber suara itu. Pelix seketika tertegun melihat seorang wanita paruh baya dengan rambut sedikit beruban di gerai panjang, gurat kecantikan wanita itu tidak pudar sedikit pun.
"Bunda" lirih Pelix dengan air mata yang sudah menganak.
"Siapa kamu nak?" tanya Kaisyah.
"Aku anak mu!" suara Pelix tercekat.
"Pelix Djovanica Fernandez" balas Pelix.
"Anaku, anaku kau putra kecil bunda nak" ucap Kaisyah sembari merangkul Pelix dengan deraian tangisan meraung.
"Aku sangat merindukan bunda sangat. Aku selalu mencarimu" tangis Pelix.
Camilla dan Hendri yang mendengar keributan di luar segera menghampiri sumber suara itu.
Terlihat sang bunda tengah memeluk seorang pria tampan dengan penuh haru.
"Maafkan bunda nak, selama ini bunda selalu berpindah-pindah karena kakek mu selalu menebarkan teror dan ancaman" ucap Kaisyah.
"Sekarang kamu sudah menjadi seorang pria yang tampan dan gagah. Bunda sangat bangga padamu" tutur Kaisyah.
"Bunda, dia siapa?" tanya Camilla.
" Nak dia itu kakak mu"jawab Kaisyah.
"Kamu kakak ku?" tanya Camilla.
__ADS_1
"Ya aku kakak mu Pelix. Kau adik kecilku? Kau bayi itu? Bayi merah yang selalu ku gendong" ucap Pelix.
"Dan selalu kamu ganggu di setiap tidurnya" timpal Kaisyah dengan senyum haru.
Camilla pun kemudian memeluk Pelix dengan sangat haru.
"Kakak kemana saja? Bunda setiap saat selalu membicarakan mu!" ucap Camilla dalam dekapan sang kakak.
"Aku selalu mencari kalian tetapi kalian susah sekali ku temui" ucap Pelix.
"Dan ini siapa bunda?" tunjuk Pelix pada Hendry.
"Ini Hendry anak angkat bunda. Sudah bunda anggap anak sendiri" ucap Kaisyah.
"Hai kak! Senang bertemu dengan mu. Bunda selalu menceritakan mu. Anggap saja aku adikmu juga. Malam itu aku sempat bertemu orang yang mencari bunda. Pengawakan nya seram" ucap Hendri.
"Itu anak buah kakek ku" jawab Pelix.
Sesudah sesi kangen-kangenan, Kaisyah mengajak anak-anaknya sarapan. Nasi goreng ikan goreng sambal korek menjadi menu sarapan mereka. Pelix pun sangat menikmati makanan itu.
Siang pun tiba, Pelix sedang melihat lihat kebun milik keluarga bundanya. Hamparan kebun teh sepanjang mata memandang, Hutan Pinus, dan perkebunan cengkeh penjadi penghias indahnya alam.
"Ini kebun kakek?" tanya Pelix pada sang bunda.
"Ya sayang ini kebun kita. Di kota Bunda dan adikmu sengaja hidup sederhana tetapi di sini kita bisa menikmati semua hasil dari alam" ucap Kaisyah.
"Bunda mohon jangan sampai kakek mu tahu kita tinggal disini. Bunda ingin hidup damai nak" lirih Kaisyah.
"Tak akan ada yang tahu kita tinggal di sini! Aku akan merahasiakan segalanya" balas Pelix.
Di tengah perbincangan itu, tiba-tiba ponsel Pelix berdering. Tertulis uncle Ken.
"Hallo" ucap Pelix.
"Dimana kau sekarang? Kakek kondisinya menurun. Segera kau kemari" ucap Ken yang langsung memutus sambungan telepon.
Pelix pun segera bersiap-siap akan berangkat ke ibu kota hari ini juga.
"Kamu mau pergi lagi nak?" tanya Kaisyah yang melihat putranya memakai jaket.
"Iya bunda. Aku mendapat kabar bahwa kakek sakit keras aku di panggil oleh oaman Ken untuk berkumpul di mansion kita. Bunda jaga diri ya aku pamit dulu" ucap Pelix sembari memeluk dan mencium kening sang bunda.
Kaisyah pun dengan berat hati melepas kepergian sang putra.
__ADS_1