SUPIR KU SEORANG MAFIA

SUPIR KU SEORANG MAFIA
Mawar Yang Terbuang


__ADS_3

Ricky yang sudah selesai rapat direksi dengan semua staf perusahaan nya langsung berlalu ke rumasakit untuk menjemput Marini pulang. Di perjalanan dia tak henti-hentinya menebar senyum tak lupa dia mampir ke florist untuk membeli satu bucket mawar putih karena dia tahu Marini sangat menyukainya.



Tibalah di parkiran rumasakit, Marini pun sedang menunggu seseorang.


"Hai" ucap Ricky.


"Hai Ric" jawab Marini.


"Buat wanita cantiku" Ricky memberikan bucket mawar putih itu ke Marini.


Marini pun menerimanya dengan senyuman terbaiknya.


"Ayo pulang bersamaku?" ucap Marini.


Belum sempat menjawab, Tiba-tiba Pelix datang menghampiri keduanya.


"Rin ayo" ucap Pelix tanpa melihat keberadaan Ricky.


"Sorry ya ric, Aku pulang duluan" ucap Marini seolah tanpa beban jika hati Ricky amatlah pedih.


"Ya silahkan" jawabnya kelu.


"Pulang sendiri saja ya manis"goda Pelix pada Ricky.


"Jangan so akrab padaku kau om tukang selingkuh. Bawa saja wanitaku dasar pencuri" ucap Ricky emosi.


Pelix tak menanggapi omongan Ricky, dia pun menggandeng pundak Marini pergi menjauh. Ricky yang tak rela jika Marini pergi begitu saja. Dia pun mengikuti Marini, tanpa di sangka dia melihat Marini membuang bunga pemberiannya di tong sampah sebelum menaiki mobil Pelix.


Degggg!! Hatinya terasa amat ngilu kala hal kecil pun tak di hargai oleh wanita terkasihnya. Sesudah melihat Marini pergi menjauh, Ricky menghampiri tong sampah itu lalu memotret nya. Poto itu dia jadikan status di Whatsap nya dengan caption. "Bunga yang malang" dengan emoji ☺ senyum.


Di dalam mobil, Pelix hanya diam tak menyapa sedikitpun pada seorang di sebelahnya, karena pikirannya masih berkecambuk tentang Amora.


Hening seakan tak bertuan hingga Marini yang bertanya terlebih dahulu.


"Pel kamu kenapa diam saja sedari tadi?" tanya Marini.


"Aku hanya sedang cape saja Rin! Maaf ya" ucap Pelix.


Marini pun hanya mengangguk dan dia pun mengambil ponselnya lalu melihat status dari kontak whatsap nya. Betapa terkejutnya ketika dia melihat status whatsap dari Ricky kala mengupload poto bunga di dalam tong sampah dengan caption nya yang menyayat hati.


"Ya ampun aku tak menyangka ternyata Ricky tahu jika bunga pemberiannya aku buang. Bagaimana ini?" gumam Marini dalam hatinya.


Marini pun seketika diam dengan wajah yang memucat. Menyadari hal itu Pelix menjadi khawatir.


"Rin kamu kenapa?" tanya Pelix.


"HemmmmzzAku rasanya tak enak badan Pel" jawab Marini.


"Yasudah kita langsung pulang saja" ucap Pelix.


Sesampainya di rumah, Marini langsung masuk setelah mencium bibir Pelix dengan singkat.


"Istirahat yang cukup ya sayang. Aku pulang dulu" ucap Pelix.


"Aku masuk dulu ya" Marini pun masuk ke dalam rumahnya.


Di dalam rumah Marini hanya tersenyum kecut pada sang mama. Elizabeth pun tahu jika ada sesuatu pada putrinya.


"Duduk di sini Rin, jangan dulu masuk ke dalam kamar" titah Elizabeth pada sang putri.

__ADS_1


"Ada apa mama menyuruhku duduk?" tanya Marini sembari mendudukan bokong nya pada sofa di samping Elizabeth.


"Muka mu kenapa di tekuk begitu?" tanya Elizabeth.


"Aku hanya sedikit merasa bersalah kepada Ricky mah" ucap Marini dengan wajah gusar.


"Kamu sudah lakukan apa kepada anak.itu?" tanya Elizabeth.


"Tadi dia berniat menjemputku di rumasakit dan memberikan ku bucket bunga. Tetapi aku sudah buat janji dengan Pelix untuk di jemput. Aku pun pulang dengan Pelix dan bunga pemberian dari Ricky aku sengaja ku buang di tong sampah parkiran itu. Sialnya itu di ketahui oleh Ricky. Ricky mungkin menghampiri tong sampah itu lalu memotretnya sampai dia jadikan itu poto sebagai status whatsap nya mah" ucap Marini.


"HmmmmmmBoleh mama jujur padamu?" tanya Elizabeth.


"Silahkan mah" jawab Marini.


"Hal yang kamu lakukan itu sangat jahat dan keterlaluan. Bagaimana bisa kamu tak menghargai pemberian dari orang lain. Kalau mama jadi Ricky mama pun sama akan merasa marah, kecewa bahkan mama tak sudi lagi kenal dengan mu Marini" tutur Elizabeh dengan suara yang tegas.


"Jadi aku salah ya mah?" tanya Marini lirih.


"Kamu sudah dewasa Rin. Kamu bisa menentukan dan membedakan mana yang salah mana yang benar" ucap Elizabeth sembari mendorong kursi rodanya ke dalam kamar.


"Aku bantu ya mah" ucap Marini.


"Jangan Rin, nanti mama kamu buang" jawab Elizabeth.


"Aku tak sekejam itu mah" ucap Marini sembari melangkahkan kaki ke dalam kamarnya.


Sesudah selesai mandi, Marini siap-siap untuk pergi ke rumah Ricky. Dia ingin meminta maaf soal bunga yang dia buang tadi. Sebelum pergi, dia meminta izin terlebih dahulu kepada sang mama.


"Ma, aku pergi dulu ya. Mungkin pulangnya akan malam sedikit. Mama jangan khawatir aku bawa kunci cadangan" ucap Marini.


Elizabeth hanya mengangguk saja.


Di sepanjang perjalanan menuju rumah Ricky, Marini tak henti-hentinya menghubungi ponsel Ricky tapi Ricky malah menolak panggilan itu.


Tak lama, mobilnya sampai di rumah Ricky, Penjaga rumahnya mempersilahkan Marini masuk ke dalam. Di ruang tamu Daisy dan Tomy sedang menonton TV.


"Selamat malam tanteu dan om! Maaf kedatangan saya kemari mengganggu anda. Apa Ricky nya ada?" tanya Marini.


"Dokter Marini silahkan duduk! Tidak mengganggu sama sekali kok. Ricky ada di rumah semenjak pulang dari kantor, dia seperti murung makan pun meminta di antarkan oleh ART ke kamarnya" ucap Tomy.


"Sebentar ya tanteu panggil kan dulu" Daisy berjalan ke kamar Ricky.


Sesampainya di depan kamar Ricky, Daisy segera mengetuk pintu.


Tok Tok Tok!!!


"Bolehkan momy masuk nak?" tanya Daisy dari balil pintu.


"Masuk saja Mom" ucap Ricky.


Daisy masuk ke dalam kamar Ricky lalu mendapati sang putra tengah bermain game playstation dengan tangan masih memegang dan memainkan stik nya dengan lincah.


"Ada apa sih mom ganggu saja?" tanya Ricky


"Itu di luar ada Marini ingin menemuimu!" jawab Daisy.


"No mom. Bilang saja aku surah tidur" ucap Ricky sedikit kesal.


"Kamu sedang ada masalah dengan dia?" tanya Daisy yang aneh dengan sikap Ricky yang tidak mau bertemu denga Ricky.


"Temui dulu dia sebentar. Kasian sudah jauh-jauh kemari dan ini malam" ucap Daisy.

__ADS_1


"Aku tak mau. Biarkan dia pulang saja aku kesal dengan nya" ucap Ricky yabg tak lepas dari stik PS nya.


"Yasudah lah terserah kau saja dasar keras kepala" Daisy kesal sembari berlalu dari kamar sang putra.


"Mau apa sih Rin. bukannya kamu sudah tidak menghargai ku sekecil apapun. Untuk apa lagi kau menemuiku" gumam Ricky kesal.


Daisy pun segera menemui Marini yang masih menunggu di ruang tamu.


"Bagaimana tanteu apakah Ricky bisa saya temui?" tanya Marini.


"Maaf nak Rini, Sepertinya Ricky saat ini kurang berkenan untuk bertemu. Tanteu sudah membujuknya tapi dia tetap kekeh menolakny. Maafkan Ricky ya nak" ucap Daisy dengan berat hati.


"Saya mohon tanteu, izinkan saya bertemu Ricky sebentar saja saya mohon" ucap Marini sembari memegang tangan Daisy.


"Baiklah temui saja dia di kamar nya ya" ucap Daisy.


"Baiklah tanteu terimakasih" ucap Marini sembari berlalu menuju kamar Ricky.


Marini mengetuk kamar Ricky lalu masuk tanpa meminta izin terlebih dahulu. Ricky yang tak melihat siapa yang masuk ke kamar nya sempat mengira itu momy nya.


"Yaampun mom apalagi sih? Bilang saja aku tak mau menemuinya. Aku kesal dengan dia" seloroh Ricky tanpa melihat siapa yang berdiri dekat pintu.


Hening sejenak, Ricky pun masih terus bermain PS nya.


"Mom apalagi kok masih diam disana? Keluar Mom aku ingin fokus bermain PS ini" ucap Ricky.


"Sudah marahnya?"ucap suara yang begitu Ricky kenal.


Ricky pun menoleh tetapi dengan tatapan datar.


"Ekh ada yang membuang bunga ku" ujar Ricky dengan masih anteng bermain PS.


"Ric maafkan aku ya please" Marini memohon dan berjalan menuju Ricky.


"Sudah lah Rin ngapain kamu repot-repot kemari? Ini sudah malam. Sebaiknya kamu pulang saja atau di luar sudah ada Pelix yang menunggumu?" tanya Ricky dengan ketusnya.


Marini pun berlari menghampiri Ricky langsung memeluknya dengan erat.


"Maafkan aku ya Ric. Seharusnya aku tak melakukan hal itu. Kamu mau kan memaafkan ku" Lirih Marini dalam pelukannya.


Ricky tak bergeming, dalam hatinya dia ingin sekali membalas pelukan Marini, tetapi dia masih kecewa dengan wanita itu jadi dia hanya mendiamkannya saja dalam bentuk memberikan sedikit pelajaran untuknya.


"Ric jawab jangan diam seperti itu? Apa kesalahakn ku terlalu besar" lirih nya lagi dalam pelukan Ricky.


"Rin lepaskan aku tak bisa napas" ucap Ricky merasa sesak karena pelukan Marini terlalu kencang.


Marini pun langsung melepaskan pelukannya.


"Ya aku memaafkan mu tapi ada syaratnya!" ucap Ricky.


"Apaan tuh?" jawab Marini


"Cium aku" ucapnya.


Dengan Berat hati, Marini pun mencium bibir Ricky. Namun Ricky malah menekan tengkuk Marini agar ciumannya semakin dalam. Marini pun tak menolak karena dari lubuk hatinya dia merasa candu dengan bibir Ricky.


Setelah puas berciuman, Ricky pun melepaskan pagutan itu dan mengelap bibir Marini yang basah oleh cairan saliva nya.


"Temani aku main PS ya malam ini" ucap Ricky.


"Baiklah siapa takut" balas Marini yang langsung mengambil stik PS itu.

__ADS_1


Malam itu mereka pun menghabiskan waktu dengan bermain PS sampai lupa waktu.


__ADS_2