
"Bagaimana keputusan kalian?" tanya sang ibu.
"Aku menerima mas Billy bu!" jawab Vivid dengan senyuman malu-malu.
"Yo pasti di terima wong ganteng begini" ucap sang ibu sembari terkekeh.
"Yasudah selanjutnya nak Billy bagaimana dengan anak saya ini?" tanya calon mertuanya.
"Jika ibu berkenan saya akan langsung menikahi Vivid kalau boleh besok" Billy berbicara begitu dengan penuh keyakinan.
"Apa menikah besok? Yang benar saja nak Billy, kami kan belum persiapan apapun. Apalagi keluarga besar nak Billy juga belum tahu kan dan ibu juga disini belum mengabari sanak saudara. Apa tidak terlalu terburu-buru?" tanya calon mertuanya dengan wajah terkejut.
"Semakin cepat semakin baik bu menurut saya. Dan saya tidak mengajak siapa-siapa karena jujur saja saya tidak punya keluarga. orang tua dan adik saya sudah meninggal. Satu-satunya keluarga saya jauh di Brasil jadi tidak memungkinkan untuk datang kemari" tutur Billy dengan wajah sendu.
"Jadi nak Billy sebatang kara?" tanya sang calon mertua.
"Benar bu saya yatim piatu" jawabnya.
"Bagaimana nduk kamu bersedia menikah dengan nak Billy?" tanya Sang ibu pada anak gadisnya.
"Iya bu" jawab Vivid dengan senyuman malu-malunya.
"Baiklah nak Billy, bagaimana kalau lusa saja acaranya karena ibu harus memberitahu dulu sanak saudara disini." tutur sang calon mertua.
"Baiklah bu kalau begitu" jawab Billy dengan senang hati.
"Yasudah ayo sekarang waktunya makan malam. Ibu sudah masak rendang T'rex dan tumis genjer" ucapnya sembari mengandeng tangan Billy dan Vivid.
Malam itu diruang makan di penuhi dengan senda gurau dan Billy merasakan dia mempunyai keluarga lagi.
"Enak tidak masakan ibu nak Billy?" tanya sang calon mertua.
"Enak sekali bu! Saya boleh nambah lagi nasinya?" tanya Billy.
"Silahkan nak Billy. Sing kenyang yo nak! Sekarang kamu sudah menjadi anak ibu" ucap sang calon mertua.
"Terimakasih bu sudah mau menerima saya" Billy terharu mendapat perlakuan hangat dari keluarga sang pujaan.
"Mas Billy tadi kan mas bilang kalau keluarga mas di Brasil? Emang siapa disana mas?" tanya Mirna yang tadi diam saja tetapi sekarang sudah berani bertanya.
"Disana ada kakek dan anak dari bibiku! Usianya seumuran denganku" jawab Billy.
"Apakah waktu di Brazil mas Bill bertemu pacar saya?" tanya Mirna dengan wajah kalemnya.
"Hah pacar?" tanya Vivid
"Nemangnya kamu punya pacar disana nduk?" tanya sang ibu pada Mirna.
"Punya bu" Ucapnya tersenyum malu-malu.
"Siapa memangnya pacar kamu?" tanya Billy penasaran dengan perkataan gadis remaja ini.
"Pacar saya Neymar **" ucapnya sembari nyengir kuda memperlihatkan lesung pipinya yang manis dengan gigi gingsulnya.
"Ukhh kirain siapa" ucap Vivid gemas pada sang adik.
"Oh Neymar itu! Dia teman bermain gundu dan lato-lato sewaktu aku masih tinggal disana" ucap Billy.
Mereka pun tertawa. Makam malam sudah selesai. Vivid kemudian mengantarkan Billy kekamar yang akan di tiduri oleh Billy.
"Mas Billy tidur disini ya! Kalau perlu apapun mas bisa chatku! Maaf ya kamarnya tidak pake AC" ucap Vivid sembari tersenyum manis.
"Ini sudah dingin honey! Udaranya emang udara pegunungan tak perlu pakai AC juga tak masalah. Tapi aku ingin yang hangat" Mulai lagi si modus.
"Mas pengen teh jahe atau wedang?" tanya Vivid polos.
"Pengen ngeloni kamu honey biar hangat" Billy tertawa mengerjai sang pujaan membuat Vivid sebal.
"Keloni-keloni gundulmu. Tidur sana masih saja mesum" Vivid pun berlalu dari kamar itu.
Pagi pun datang, Billy masih bergelung selimut di tubuhnya. Udara yang sangat dingin enggan untuk dia bangun. Calon mertuanya mengetuk pintu dan langsung masuk kekamar itu.
"Yaollo cah bagus masih selimutan toh, udah kaya kepompong saja" ucap wanita paruh baya itu yang kemudian keluar lagi dari kamar itu.
"Bagaimana bu apa dia sudah bangun?" tanya Vivid di luar kamarnya.
"Belum nduk, dia masih selimutan seperti kepompong. Gemas lihatnya" jawab sang ibu.
"Ini sudah jam sembilan. Duh mas Billy kok Kebo banget sih. Yasudah bu aku saja yang bagunin" Vivid segera berjalan dan masuk menuju kamar yang Billy tempati.
__ADS_1
"Mas ini sudah siang! Bangun yuk itu air hangat buat mandinya sudah di siapin! Bagun yuk bangun mas" Vivid mengguncangkan bahu kekar itu tapi Billy tak bangun juga.
"Mas air hangat sama sarapannya sudah siap aku tunggu di depan" Vivid beranjak namun tangan kekar itu menariknya hingga dia terjatuh tepat di atas tubuh Billy.
"Mas mau apa? Oh pura-pura ya ternyata pengennya aku yang bangunin mas" ucap Vivid berontak.
"Morning cinta! Nyenyak banget tidurku" ucapnya dengan santai.
"Mas lepaskan nanti ibu tahu tidak enak mas" ucap Vivid yang tubuhnya sudah ditindih oleh Billy.
Billy dengan jahilnya malah menggesekan tongkat sakti mandargunanya kepaha Vivid sampai gadis itu melotot.
"Mas itu apa?" tanya Vivid tersentak.
"Ini tongkat ku biasa suka bangun kalau pagi-pagi. Aku kan tidur seorang diri bangunnya berdua" jawabnya enteng.
"Gede banget!" ucap Vivid dan sialnya malah di raba membuat sang empu kelojotan.
"Eumpppphhhhh! Kamu~~" Billy tak melanjutkan ucapannya karena tak tahan dengan elusan manja tangan Vivid.
Dengan jahilnya Vivid memasukan tangannya kedalam celana bokser Billy dan mengelus tongkat sakti itu.
"Eumz besarnya" gumam gadis itu.
"Kau mulai jahil ya!" geram Billy.
"Ini sarapan pagi buat kamu mas" ucap Vivid sembari tersenyum manis.
"Honey aku sudah tak tahan. Sekarang ya kepalanya saja juga gak apa-apa deh" Billy sudah menggelepar seperti cacing kepanasan.
Tiba-tiba suara Mirna dari luar terdengar cempreng mengetuk pintu.
"Kak ibu menunggu di dapur! Cepat ya kak" ucapnya.
"Iya dek iya! Sekarang kakak keluar kok" jawab Vivid.
Vivid pun segera mencabut tangannya dari dalam celana Billy dan beranjak keluar.
"Mas cepat bangun aku tunggu di depan" Vivid segera keluar dari kamar itu meninggalkan Billy yang sudah seperti cacing kepanasan itu.
Billy sudah mandi dan kini sedang sarapan di temani sang pujaan karena ibu dan adiknya sedang kerumah saudara untuk memberikan kabar tentang rencana pernikahan Vivid.
"Enak mas?" tanya Vivid dengan tangan menopang dagunya.
"Enak sekali. Jadi gak sabar pengen cepat-cepat menikah" jawabnya.
Vivid memutar matanya jengah karena dia sudah menduga bahwa di otak pria itu hanya ada kemesuman saja.
"Honey duduk sini!" ucapnya sembari menepuk-nepuk pahanya.
"Gak ya mas kamu pasti iseng lagi" Vivid sebal dengan tingkah laku absurd Billy.
"Cepat honey!" ucapnya seakan memaksa.
Vivid pun terpaksa duduk di pangkuan Billy.
Billy dengan sayang langsung menyuapi sang pujaan. Terlihat so sweat bukan mereka! Author jadi iri..ðŸ˜
"Honey, I love you" Billy mencium pipi sang pujaan dengan begitu sayangnya.
"I love you more mas!" balas Vivid dengan mencium balik pipi Billy dengan lembut.
"Sayang sudah makan kita lanjut kekamar yuk!" ucapnya nakal.
Vivid langsung beranjak dari pangkuan Billy.
"Sabar mas besok kita menikah! Kamu boleh apakan aku sesuka hatimu aku takan menolak. Tapi sekarang kita dosa mas bagaimana sih! Sabar apa sabar!" Vivid marah .
"Iya honey iya! Begitu saja marah" ucapnya.
Sesudah makan, dia langsung menelepon asistennya.
"Nicholas tolong bawakan aku sertifikat rumah keduaku dan cairkan uang ku satu milyar" ucapnya pada Nicholas.
"Buat apa bos uang sebanyak itu dan sertifikat?" tanya Nicholas heran.
"Aku mau menikah! Kau kemari nanti kutunjukan alamatnya. Pakai heli punyaku saja agar kau cepat kemari" perintahnya pada Nicholas.
"Baik bos siap laksanakan" ucap Nicholas di balik telepon.
Sesudah menelepon Nicholas, Billy langsung menelepon Pelix.
__ADS_1
"Hallo bos! Aku mau menikah besok" Ucap Billy to the point.
"Apa, menikah? Dengan siapa kau menikah bodoh? Kenapa kau mengabariku sesingkat ini kau sudah gila" Balas Pelix di seberang telepon.
"Dengan siapa lagi kalau bukan dengan Vivid!" jawabnya.
"Kenapa mendadak? Jangan-jangan kau sudah menodainya ya?" Pelix masih tak yakin dengan kabar pernikahan yang mendadak itu.
"Sembarangan kau ya! Aku hanya ingin cepat-cepat menikahinya saja supaya halal . Dan kau tak apalah tak usah kesini, siapkan saja kado untukku" Ucap Billy.
"Kau mau apa dariku?" tanya Pelix.
"Ya minimal Lamborgini dan apartemen juga sudah cukup" jawabnya santai.
"Kau memerasku!" Bentak Pelix.
"Hahaha! Aku hanya bercanda. Aku tak butuh hadiah darimu kau kan fakir miskin" ucap Billy sembari tertawa terbahak-bahak.
"Sialan kau bedebah! Yasudah selamat ya atas pernikahanmu, aku akan segera memberitahu Amora" ucap Pelix.
"Oke!" jawabnya singkat.
Telepon pun di tutup.
Amora yang sedang membuat cupcake di hampiri oleh Pelix.
"Ada apa sayang?" tanya Amora.
"Billy mau menikah besok" ucapnya santai.
Amora terkejut dan tangannya replek akan menumpahkan gula cair yang sedang dia bawa.
"Haaaahh menikah? Dengan siapa kok mendadak?" tanya Amora.
"Ya dengan siapa lagi kalau bukan dengan honeynya. Kemungkinan waktu dia menanyakan alamat Vivid dia itu akan melamarnya. Tapi aku kasian dengan dia, nikah tanpa ada yang mendampingi" Pelix bercerita dengan wajah sedih.
"Apa kita datang saja Pel! Kita cari bandara terdekat saja untuk menuju rumah Vivid" Amora mengajak Pelix untuk mendampingi Billy menikah.
"Itu ide bagus! Ayo cepat kita bereskan barang-barangnya kita pergi sekarang" Pelix langsung kenarik tangan Amora menuju kamarnya untuk membereskan barang apa saja yang akan di bawa.
Mereka pun siap pergi menuju kampung halaman Vivid! Melihat Amora dan Pelix membawa koper membuat kedua orang tuanya bertanya-tanya.
"Mau kemana kalian sudah membawa koper?" tanya Jhonson.
"Kami akan mendampingi Billy, dia akan menikah besok" jawab Pelix.
"Billy si Lion king! Kenapa dia menikah mendadak begini? Siapa wanitanya?" tanya Jhonson lagi.
"Dia ingin cepat halal ayah! Dia menikah dengan ARTnya Amora" jawab Pelix.
"Yasudah nanti aku transfer uang buat anak itu. Kasian dia sudah tak punya siapa-siapa disini" tutur Jhonson.
"Dia tak butuh uang kita ayah! Kekayaannya tidak habis tujuh turunan. Yasudah aku pergi dulu" Pelix dan Amora mencium kedua tangan orang tuanya dan berlalu pergi menuju bandara terdekat.
Jhonson tampak terharu dengan perubahan sikap Pelix padanya yang tadinya acuh menjadi sedikit hormat.
"Ayah kenapa menangis?" tanya Kaisyah.
"Ayah terharu bun! Baru kali ini Pelix mencium tanganku" jawab Jhonson sembari memegang tangan bekas di takzim sang anak.
Mereka berdua pun terharu.
Â¥
Di rumah Vivid, semua sanak saudaranya sudah berkumpul dan sedang memasak untuk acara besok. Kemudian seorang pria paruh baya menghampiri Billy.
"Dengan nak Billy betul ya?" tanyanya.
"Betul pak" jawab Billy.
"Perkenalkan saya pakde Mulyono. Pakdenya calon istrimu yang akan jadi wali hakim nanti. Untuk kelengkapan administrasi di pernikahanmu, pakde akan menanyakan berapa mahar yang nak Billy akan berikan pada Vivid?" tanya Mulyono.
"Saya akan memberikan mahar sebesar satu milyar dan sertifikat rumah. Nanti asisten pribadi saya akan membawakannya kemari, kemungkinan dia masih di jalan" jawab Billy.
Semua orang yang ada disana tampak terbengong tanpa terkecuali termasuk Vivid , ibunya dan Mirna sang adik mendengar Billy akan memberikan mahar satu Milyar dan sertifikat rumah.
"Serius nak Billy?" tanya Mulyono.
"Serius pakde! Apa.itu kurang?" tanyanya.
"Tidak, tidak nak" ucapnya dan kemudian Mulyono pingsan saking terkejutnya.
__ADS_1