SUPIR KU SEORANG MAFIA

SUPIR KU SEORANG MAFIA
Hampir Terbongkar


__ADS_3

Tak terasa waktu berjalan hingga menunjukan pukul dua dini hari. Marini baru menyadarinya setelah punggung nya merasa pegal dan pantat nya merasa kebas akibat kelamaan duduk di depan layar.


"Ya ampun ini jam berapa? Aku sampai lupa waktu" gumam Marini yang masih bisa di dengar oleh Ricky.


"Ini sudah jam dua dini hari. Sudah Rin tidur saja di sini" ucap Ricky sembari melangkahkan kaki menuju ranjang.


"Kenapa kau tak mengingatkan ku bodoh? Ini sudah larut malam bagaimana jika mama ku tahu" Marini prustasi sembari mengacak rambutnya.


"Rin, ayo kita bobo"Ricky menepuk-nepuk kan sisi ranjangnya untuk di tiduri Marini.


" Baba Bobo, aku mau pulang!"geram Marini sembari mengeluarkan kunci mobil nya.


"Tapi Basri sudah tidur. Kasian kalau bangun lagi hanya agar membukakan gerbang untuk mu" ucap Ricky yang sudah mulai memejamkan matanya.


Marini pun hanya diam tak bergeming. Dia takut jika orang tuanya akan memarahi dirinya kalau lah tau malam ini dia menginap di rumah seorang pria. Dan apa kata orang tua Ricky kalau mereka tahu dia menginap di rumahnya tidur sekamar dengan putranya.


Tapi ini sebuah pilihan yang sulit, Marini pun melangkahkan kaki ke ranjang dan tidur di samping Ricky yang sudah tertidur terlebih dahulu.


Pagi pun tiba, Di rumah nan megah bak istana itu sudah ramai akan aktifitas semua ART nya. Dua insan manusia ini masih terlelap dalam satu pelukan. Rasa hangat dan nyaman enggan untuk membangunkan Marini dan Ricky. Keduanya masih betah bergelung dalam satu ranjang dan satu selimut. Hingga deringan panggilan ponsel membuyarkan lelap pagi itu.


Diangkatnya panggilan telepon itu. Suara di baliknya membuat sang pemilik ponsel belingsatan.


"Marini kau kenapa tak pulang? Dimana kau tidur semalaman?“ tanya Elizabeth.


" Hmmmmmm~Hmmmmmmm. Aku, aku tidur di rumah Sesil mama. Maaf ya!“jawab Marini merasa sangat berdosyah karena membohongi mamanya.


"Benar itu?" tanya Elizabeth sedikit tidak percaya.


"Really mah" Marini berusaha meyakinkan.


"Mama kira kau menginap di rumah Ricky. Mama lebih senang kau tidur saja di rumah Ricky" ucap Elizabeth.


"Ya tuhan aku sudah berbohong tapi mama malah setuju aku menginap di rumah Ricky" gumam Marini.


"Yasudah mah, sebentar lagi aku pulang kok" ucap Marini.


"Santai saja. Mama juga bakal pergi Arisan siang nanti. Yasudah kalau kamu baik-baik saja. By sayang"


"By mama"


Ricky yang mendengar Marini berbicara dengan seseorang di balik telepon, akhirnya bangun. Wajah khas bangun tidur terpampang nyata dan itu menambah aura ketampanan parifurna seorang Ricky pemuda dengan sejuta pesona.


"Siapa yang telepon Rin?" suara Ricky dengan berat.


"Mama" jawabnya.


"Beliau pasti khawatir dengan anak perawannya?"kekeh Ricky.


" Aku bukan perawan lagi Ric! Kesucian ku sudah ternggut oleh Pelix" gumam dalam hatinya.


Marini hanya tertawa kecil tak menjawab kata-kata Ricky.

__ADS_1


"OMG bagaimana dengan orang tuamu jika tahu aku tidur dengan mu semalam" gusar mulai menghantui Marini.


"Biarkan saja mungkin kita akan segera di nikahkan. Jika begitu aku sudah siap sekali karena aku orang pertama yang akan mengambil keperawanan mu" ucap Ricky terbahak.


"Jika aku sudah tidak perawan kau lantas menceraikan ku?" tanya Marini dengan canda dan tanya dalam hatinya.


"Dapat bekasan dong junior ku" jawab Ricky tergelak.


Seorang ART rumah itu mengetuk pintu, lalu masuk membawakan sarapan untuk mereka berdua.


"Terimakasih bi Isah" ucap Ricky.


"Sama-sama tuan! Oh ya tuan, sebelum nyonya dan tuan besar berangkat tadi subuh ke Madrid, beliau berpesan kepada saya jika nona Marini sebelum pulang harus di pijat dulu biar pikirannya relax dan di perintah untuk mengambil sesuatu di dalam kamar tamu" ucap bi Isah.


ART itu pun sesudah mengatakan itu langsung pamit dari kamar Ricky.


Melihat sarapan pagi yang di hidangkan membuat Marini takjub.


"Orang kaya mah bebas ya" sindir Marini.


"Apasih Rin sama saja. Kadang aku bosan di rumah ini hanya ada ART. Momy dan dady selalu pergi dan aku tak ada teman bicara" keluh Ricky.


¥


"Oekkkkk,,, oekkkkkkkk!!"


"Ya tuhan kenapa dengan ku? Dari kemarin perutku selalu mual, fafsu makan ku tak enak. Apa mungkin asam lambung ku naik" Keluh Susan yang pagi ini merasa berbeda.


Dia mengambil benda pipih dari atas nakas lalu mengirim pesan kepada Martin.


"Jika kamu kemari, tolong bawakan rujak buah untuku" pesan Susan.


Pesan itu pun terkirim kepada Martin. Dan sialnya Amora lah yang membaca pesan itu karena Martin sedang berganti pakaian di walk in closet kamarnya.


Tertera pesan dengan nama Pengacara Shania.


"Siapa pengacara Shania? Kok bisa dengan lancang menyuruh suamiku membawakan rujak buah" gerutu Amora.


Dia pun segera menghampiri sang suami di dalam kamar.


"Pengacara Shania siapa mas?" tanya Amora sembari menarik dasi sang suami hingga Martin merasa tercekik.


DegDegDeg!!!! Jantung dan segala jeroannya berpacu karena terkejut dengan pertanyaan Amora.


"Hmmmmm,, itu itu Pengacara bawahan ku. Ya pengacara yang bernaung di kantor ku" jawab nya dengan reflex mengambil ponsel yang ada di tangan Amora.


"Dia sedang hamil suaminya sedang ada di Sidney jadi dia meminta tolong padaku" kukuh Martin meyakinkan agar Amora percaya.


Amora hanya diam, Di dalam hatinya dia merasa bahwa Martin tidak berkata benar. Martin pun merasakan apa yabg Amora pikirkan.


"Amor ayolah percaya padaku. Dia bawahanku" gusar wajah Martin dengan segala ke salah tingkahannya mencoba menutupi apa yang sebenarnya.

__ADS_1


"Oke lah aku coba untuk percaya. Wanita hamil jangan sampai banyak pikiran kan mas?" ucap Amora kemudian dia meninggalkan Martin sendiri di kamar.


Martin yang merasa kacau hanya bisa menggusar rambutnya ke belakang.


"Aku yakin jika bangkai terus di sembunyikan maka suatu saat bau nya akan tercium juga! Tetapi sebisa mungkin akan ku tutupi. Aku tidak mau sampai Amora meninggalkan ku" gumam Martin.


Dengan stelan rapih, Martin berjalan dengan sejuta wibawa ke hadapan Amora.


"Amor aku berangkat kerja dulu ya" ucap Martin dengan mencium kening sang istri.


Lalu tak lupa dia mencium perut sang istri dengan beberapa untaian doa dan kata-kata manis.


"Jagoan dady, kamu jangan nakal di perut Momy ya sayang. Dady berangkat bekerja dulu ya" ucap Martin.


Martin pun berangkat dari rumah itu. Di jalan dia sempatkan dahulu membeli rujak pesanan dari Susan lalu segera mengantarkannya ke apartemen yang Susan tempati.


Sesampainya di pintu apartemen, tingkah Suaan menjadi aneh. Pagi ini dia terlihat manja pada Martin dengan memeluknya dan terus memeluknya sampai Martin sedikit sesak nafas.


"Kamu kenapa jadi agresif seperti ini Sus?" heran Martin kepada Susan.


"Aku tak tahu, aku pun bingung dengan diri ku sendiri" kelakar Susan.


"Tadi Amora hampir mengetahui fakta sebenarnya ketika kau mengirim pesan memintaku membelikan rujak buah. Hati-hati melakukan sesuatu" ucap Martin.


"Maafkan aku!" ucap Susan tertunduk.


"Hei jangan seperti ini. Maafkan aku ya maafkan aku bukan maksud ku menyalahkan mu"Martin memeluk lembut Susan sembari mengusap-usap rambut nya.


Susan pun tak bergeming, dia hanya diam dalam pelukan tubuh kokoh Martin.


¥


Hari ini dia akan memeriksakan kandungannya karena perkiraan sudah masuk minggu ke dua belas usia kehamilannya. Dia pun akan berangkat bersama Billy dan Vivid.


"Ayo nyonya saya sudah siap" ucap Vivid dengan memakai cenala jeans longgar dan kaos putih bersablon bibir merah merona di bagian depannya dan jangan lupakan bentuk dada montok Vivid yang agak sedikit tercetak. Melihat penampilan wanita idamannya yang mungil dan cantik natural membuat Billy tidak ingin sekejap pun berkedip.


"Kau cantik sekali"puji Billy.


" Biasa saja toh mas! Cantik apaan. saya cuma seorang pembantu wong kerjanya cuma di dapur saja mana ada cantik-cantiknya" kekeh Vivid yang seketika memperlihatkan lesung pipinya.


"Sudah lah pak Billy, mending halalin saja mbak Vivid" seloroh Amora yang sudah berjalan dahulu menuju mobil.


"Akan segera saya laksanakan komandan" timpal Billy.


"Ogah ya mas aku merit sama sampean. Wong ndelok brewok nya saja bikin aku geli dan takut. Brewok mu menakutkan" ucap Vivid bergidik ngeri.


"Itu baru brewok nya saja mbak. apalagi pusat terminal nya" timpal Amora dengan tertawa terbahak-bahak.


Vivid hanya bergidik membayangi bulu-bulu yang bada di tubuh Billy.


"Honey kamu akan suka kok" ucap Billy membuat Vivid seketika ingin menangis.

__ADS_1


Amora hanya tertawa mendengar gombalan dari supir pribadinya itu.


__ADS_2