
Kini Susan sudah merasa nyaman kala mendapat pertolongan dari Martin. Tak henti-hentinya dia berterimakasih pada sosok lelaki yang pernah mengisi relung jiwanya dahulu. Martin yang sedang menenangkan Susan dalam pelukan tiba-tiba mendengar dengkuran halus tanda Susan sudah terlelap. Melihat wajahnya yang penuh lebam dan luka membuat Martin seakan tak terima dengan ini semua. Di baringkanlah Susan di tempat tidur dan Martin memandangi wajahnya. Susan adalah sosok wanita penyabar yang kurang beruntung dalam rumahtangga. Di pandanginya lekat wajahnya seraya di elus lembut tak terasa air mata Martin menetes.
"Kenapa kamu bisa mengalami hal menyakitkan seperti ini Sus? Aku sungguh tak terima dengan perlakuan mantan mertuamu akan ku bawa kasus ini sampai mereka mendapatkan balasannya" ucap Martin seraya mengelus wajah dan rambut Susan yang sedang tertidur.
Martin yang sejatinya menyadari jika memang ini murni hanya sebuah empati kepada seseorang dan dia tidak berharap apapun pada Susan. Dia sadar bahwa sudah ada Amora disisinya walau sebenarnya dia tidak mencintai Amora. Menikahi Amora hanyalah sebuah bakti pada orang tuanya agar mereka tak kecewa.
Martin yang sudah sangat lelahpun kemudian beranjak ke sofa untuk tidur dan tak lupa menyelimuti Susan
¥
Sementara di rumah Amora merasa gelisah. Dia tak bisa memejamkan mata karena terus memikirkan suaminya.
Pelix yang mengintip nya dari balik celah tembok memahami apa yang Amora pikirkan dan tak berniat mengganggu Amora lalu segera berbaring di ranjangnya.
Ketika Mata nya sudah mulai terpejam tiba-tiba seorang mengetuk pintu kamarnya.
Tok Tok Tok!
Suara ketukan pintu membuat Pelix yang sudah ingin melayang ke alam mimpi terbangun lagi dan kerasa sedikit kesal.
"Akh kebiasaan Vivid kalau orang mau istirahat menggagu saja" kesal Pelix.
Pelix sudah menyangka kalau yang mengetuk pintu itu adalah Vivid. Pasalnya hampir setiap malam dia selalu mengetuk untuk mengajak bermain catur, mengisi TTS, bermain Monopoli, dan pernah suatu waktu Vivid mengajak Pelix bermain congklak. Alasananya karena dia tak bisa tidur dan jenuh. Di bukanya pintu itu dengan malas tanpa melihat siapa di baliknya.
"Mbak bisa gak sih jangan ganggu sebenatar saja" ucap Pelix dengan mata tertutup.
"Pel~ Hello ini aku Amor" ucap Amor.
Pelix pun langsung membuka matanya dan melihat Kalau Amor lah yang mengetuk pintu.
"Amor ada apa ke kamar ku?" tanya Pelix
"Aku jenuh sendiri Pel. Suamiku tak pulang dengan alasan banyak pekerjaan tetapi hati ini kok merasa tak percaya" jawab Amor.
Pelix pun merengkuh pinggang Amora lalu menariknya ke dalam kamar nya dan segera mengunci pintu.
"Kamu mendatangi singa yang lapar nona" kekeh Pelix.
"Aku suka di mangsa" jawab Amora seraya mengigit bibir bawahnya.
Hummmmpppp ciuman seketika mendarap di bibir ranumnya lalu mereka saling bertukar saliva hingga suara desa*an lolos dari mulut Amora. Pelix yang sudah tak kuasa menahannya membuat dia menyentuh apapun yang ada di tubuh mungil wanita itu. Ciumannya lalu berpindah ke leher jenjangnya tetapi dia tak membuat tanda kepemilikan disana. Tak sadar mereka pun sudah menanggalkan baju masing-masing tanpa sehelai benang pun menutupinya. Di baringkan lah tubuh Amora dan Pelix segera mendekatinya. Melihat sesuatu yang besar membuat Amora sedikit beringsut ke belakang.
"Amor kenapa? Apa kamu tidak mau kenalan dengan si dede gemez ini?" goda Pelix.
"Pel itu, itu..... Eummpph besar sekali" ucap Amora dengan badan gemetar.
Pelix yang sudah tak tahan tak mengindahkan ucapan Amora. Dia langsung saja menghampiri dan melancarkan aksinya. Amora hanya bisa menerima perlakuan Pelix. Pelix benar-benar kuat dan bisa memanjakan Amora. Di kamar itu hanya suara desa*an yang terdengar menghiasi seisi kamar itu.
"Pel accchhhhhh" suara Amora mendominasi
"Sebut nama aku Amor" ucap Pelix dengan suara paraunya.
__ADS_1
"Pel kamu kuat banget Achhhhh" ucap Amora tertatih.
sudah hampir dua jam barulah mereka menyudahi permainnanya. Pelix berbaring di sisi Amora yang masih terkulai dan mereka pun akhirnya tertidur seraya berpelukan dengan memakai selimut.
Pagi buta Amora pun terbangun dan segera berpakaian kembali seketika dia langsung kembali ke kamarnya agar tak ada satupun yang curiga kalau dia sudah melakukan itu dengan Pelix. Di dalam kamar dia menangis merutuki kebodohannya lalu pergilah ke kamar mandi untuk membersihkan badananya yang sudah kotor.
"Apa yang sudah aku lakukan? Aku sudah menghianati suamiku hikhikhik" lirih Amora.
Di bawah kucuran air, dia terus meratapi penuh sesal kebodohan yang di lakukan. "Bagaimana kalau mas Martin mengetahui ini? Arggghhhhhh brengsekkkkk" tangis Amora.
Hampir satu botol shampo dia habiskan untuk membilas kepalanya yang di nilainya sudah kotor dan najis. Dia sangat menyesali semua tindakannya. Walau sebelumnya Martin selalu mengasarinya tetapi tak ada niatan untuk melakukan hal itu dengan lelaki lain.
"Pelix tidak salah! Aku yang salah seakan memintanya dan aku lah yang mendatanginya walam itu" lirih Amora.
Selama dua jam Amora habiskan di kamar mandi sampai kulitnya keriput dan membiru.
Pagi pun hadir dengan cuaca mendung nya. Tak ada semangat untuk Amora dia hanya diam di kamar tak keluar sampai siang hari membuat Vivid merasa khawatir.
Vivid pun membawakan makan ke kamar Amora dan mengetuk pintu kamarnya. Tak ada jawaban dari dalam membuat Vivid merasa cemas sekali. Pelix pun yang sudah bangun tahu akan ke khawatiran ART itu.
"Nyonya kemana mbak?" tanya Pelix.
"Itu mas Pel, nyonya gak keluar kamar dari tadi aku khawatir" jawab Vivid.
"Berikan makanan itu biar aku yang mengantar ke dalam" ucap Pelix sembari mengambil baki tempat makanan itu.
Pelix mengetuk kamar Amora tetapi tak mendapat jawaban. Semakin lama tak ada pergerakan Pelix membuka Kamar Amora karena pintunya tidak di kunci. Pelix masuk dan mendapati Amora hanya memakai bathrobes dengan rambut basah acak-acakan dan posisi menunduk. Pelix yang mengetahui jika Amora sedang menangis lalu menghampiri dirinya.
"Maafkan aku Amor" ucap Pelix.
"Hei kenapa dengan mu Amor? Kita melakulan itu sama-sama suka bukan?" ucap Pelix.
"Keluar sekarang" bentak Amora lagi.
Pelix pun keluar dan meninggalkan piring yang penuh dengan makanan untuk Amora.
Setelah Pelix keluar dan menutup pintu terdengar suara pecahan piring dari dalam kamar Amora.
Pelix langsung membuka pintu kamar Amora kembali dan betapa terkejutnya melihat piring, nasi dan lauknya bercecer kemana-mana serta beling-beling dari piring dan gelas berserakan serta air minum yang muncrat kemana-mana membuat Pelix sangat syok.
Amora yang di lihatnya hanya diamP mematung setelah melemparkan makanan membuat Pelix merasa iba dan merasa bersalah tak seharusnya dia melakukan itu pada majikannya. Tetapi saat itu Amora lah yang menantangnya dan berakhir seperti ini.
Pelix pun mendekati Amora walau Amora mundur menjauh.
"Pergi kamu Pelix dari sini!" ucap Amora sembari menangis.
"Beriku penjelasan agar ku mantap untuk pergi? Aku akan keluar kerja dari sini jika kau mau" ucap Pelix.
"Aku sudah bersalah pada suamiku. Aku wanita kotor. Aku sudah berzi*a aku kotor" ucap Amora sembari mengadu-adukan kepalanya ke dinding.
Pelix yang melihat itu segera menarik tubuh Amora.
__ADS_1
"Tak ada gunanya kau seperti ini. Semuanya sudah terjadi lagi pula kau yang memulai menantangku. Amor aku ini seorang lelaki normal yang akan sangat berhas*at ketika melihat wanita memberikan peluang. Sekali lagi maafkan aku jika kamu ingin ku keluar bekerja dari sini maka sekarang juga aku akan menelpon suamimu untuk meminta izin keluar bekerja" ucap Pelix sembari merogoh ponselnya untuk menelpon Martin.
Amora pun segera merebut ponselnya dan di lempar ke sembarang arah.
"Kamu mau meninggalkan ku Pel? Mau pergi bersama wanita itu setelah kamu meniduriku hah?" ucap Amora berapi-api.
"Terus aku harus bagaimana? Sikap mu pun seperti ini. Ayo kita bicara jangan begini" ucap Pelix sembari berlalu mengunci pintu.
Ketika Amora hendak bicara, tiba-tiba ponselnya berdering menampilkan nama sang suami. Hal itu membuat Amora berkali-kali lipat merasa bersalah.
"Hallo mas!" ucap Amor dengan suara seanggun itu.
"Amor maafkan aku untuk satu minggu ini aku takan pulang ke rumah. Ada urusan yang sangat penting. Jaga diri kamu baik-baik ya" ucap Martin seraya menutup telp.
Amora hanya bisa tertegun.
Pelix mun mendekati Amora dan menuntunnya agar duduk di tepi ranjangnya.
"Sudah mulai bisa bicara" tanya Pelix.
Amora hanya diam saja.
"Aku melakukan itu tadi malam karena aku mencintaimu. Terlepas kau istri orang tapi perasaan ini tak bisa di bohongi" tutur Pelix sembari memegang tangan Amora.
"Aku Aku hummmppppt" ucap Amora kelu.
"Tak usah di jawab. Intinya aku minta maaf dan jika kamu meminta untuk melupakan kejadian tadi malam aku akan melupakannya dan menjaga jarak dengan mu" ucap Pelix.
"Kau mau menjauhiku Pel?" tanya Amora lirih sembari mengangkub kedua pipi Pelix dengan erat.
"Jika itu maumu. Lagian apa kamu siap jika suamimu tahu kalau kita sudah berselingkuh?" tanya Pelix.
"Aku~~Aku...Hikhikhik" Amora seketika menangis.
Pelix langsung merengkuh pinggang Amora dan memeluknya dengan penuh kasih sayang .
"Sudah terjadi ini kan kenapa masih di tangisi. Tadi malam saja kamu bilang Pel achhhhhh terus Pel achhhhhhh, Sekarang kok menangis seperti bayi. Ayo makan dan kita lari pagi" ajak Pelix.
Amora yang mendengar ucapan Pelix seketika tersenyum. Dia ingat malam itu dia meracau, mengerang dan mendes*h di bawah Pelix..
"Yasudah aku mau pakai baju dulu sekarang dan makan" ucap Amora.
Pelix pun keluar dari kamar dan menunggu Amora.
Tak lama Amora pun keluar dari kamarnya menggunakan pakaian olehraga. Vivid yang melihat Amora merasa pangling.
"Nyonya cantik banget pakai baju olahraga" ucap Vivid.
"Terimakasih mbak. Oh ya hari ini kamu gak perlu memasak aku akan beli di luar tapi kalau kamu lapar silahkan makan aja yang ada" ucap Amora.
"Baik nyonya" jawab Vivid.
__ADS_1
Amora pun menghampiri Pelix dan langsung mengajaknya berolahraga pagi.
Mohon dukungannya ya supaya cerita ini bisa lebih menarik...😚🍁🌹🍄