SUPIR KU SEORANG MAFIA

SUPIR KU SEORANG MAFIA
Keluar Dari pekerjaan


__ADS_3

Sesudah mengantarkan Marini pulang ke rumahnya, Pelix langsung bergegas pulang ke rumah Amora. Sepanjang jalan dia tak bisa konsen menyetir karena terus kepikiran dengan Amora.


Sesudah agak lama mengemudi, akhirnya sampailah di rumah Amora dan segera memasukan mobilnya ke garasi rumah itu.


Pelix masuk ke dalam rumah dan tak mendapati siapapun berada disana.


Ketika kakinya hendak melangkah kan kaki menuju kamarnya, tiba-tiba suara Amora memanggilnya dan menghampiri dengan membawa map berwarna merah.


"Amor maafkan aku" lirih Pelix.


"Tandatangani ini dan kau bisa keluar dari pekerjaan ini" ucap Amora sembari menyodorkan map itu.


"Apa ini maksudnya?" tanya Pelix.


"Bacalah dan segera tandatangani" jawabnya.


Pelix mengambil map itu lalu membuka isinya ternyata secatik kertas perjanjian pekerjaan atau kontrak kerja.


"Kamu memecatku Amor?" tanya Pelix


Sementara Vivid yang terbangun gara-gara kebelet pipis langsung turun dari ranjang dan berjalan membuka pintu lalu berjalan lagi menuju kamar mandi yang dekat dapur. Ketika sudah selesai, dia berjalan lagi ke ke arah dapur, namun langkahnya terhenti ketika mendengar pertengkaran disana. Jiwa kepo Vivid pun bangkit dan berjalan ke arah selah lemari membuat keberadaannya tak terlihat oleh sepasang yang tengah bertengkar.


"Pel aku mengalah dan memang seharusnya kita tak pernah saling mencintai. Ini salah pel, ini salah" ucap Amora dengan tangisan.


Pelix dengan haru emosionalnya meraup wajah Amora dengan kedua tangannya.


" kamu menyerah hem? Bahkan kita baru berjalan satu langkah kamu sudah menyerah? Amor please aku mencintaimu lebih dari mencintai Marini. Jujur sebelum bertemu denganmu aku memang selalu mengharap Marini tetapi setelah bertemu denganmu aku benar-benar mencintaimu Amora" ucap Pelix dengan netra yang sudah berkaca-kaca.


"Tinggalkan aku Pel. Aku tak apa tanpa dirimu. Aku akan mencoba menata hati dan hidupku berusaha mencintai suamiku walau aku harus kesepian. Tandatangi ini dan kamu bebas pergi sekarang. Bebas pergi bersama Marini. Dia lebih berhak atas dirimu Pelix" lirih Amora dengan air mata yang mengucur deras.


Pelix merebut map dan bolpoin dari tangan Amora dan segera menandatangani surat pengunduran dirinya.

__ADS_1


"Dari mulai saat ini, ku bukan lagi supirmu Amora. Ku sudah tak ada lagi tanggung jawab atas dirimu" ucap Pelix.


Di berikanlah map itu kepada Amora dan Amora mengambilnya dengan tangan gemetar.


"Pel~~" ucap Amora tergantung.


"Hmmm sayang" jawab Pelix dengan tangan menangkup pipi Amora.


"Aku mencintaimu" lirih Amora.


"Aku lebih sangat mencintaimu sayang ku" ucap Pelix sembari menyingkirkan anak rambut yang menghalangi wajah Amora.


Amora berjinjit dan mencium bibir Pelix dengan sangat dalam mereka saling bertukar saliva. Suara decapan bibir terdengar mengisi ruangan itu lalu Pelix menggendong tubuh Amora seperti induk Monyet menggendong anaknya dan mendudukannya di kursi makan.


"Sebelum ku pergi, aku ingin menyuapimu makan ya" ucap Pelix.


"Ya Pel" ucap Amora dengan menyeka air mata.


Melihat Amora yang menangis, Pelix mengelap air mata itu dengan tangannya.


"Aku berharap kamu Pel. Jika seandainya suamiku bisa sedikit saja memperlakukan ku dengan baik maka aku takan memilih jalan nyaman denganmu sampai akhirnya kita bernta waktu itu" ucap Amora mengusap lembit pipi Pelix.


Mendengar semua yang di bicarakan Mereka berdua, Vivid hanya diam terpatri di balik celah lemari. Lidahnya seakan kelu mengetahui hubungan Pelix dan Amora sudah sejauh itu.


"Aku tak menyangka ternyata selama aku lengah mereka bercinta. Duh gusti bagaimana jika Tuan Martin Mengetahuinya bisa habis nyonya" lirihnya.


Sementara Pelix yang menyuapi Amora dengan lembutnya sampainsepiring nasi habis tak bersisa.


"Sudah kenyang?" tanya Pelix.


Amora hanya tersenyum sembari menganggukan kepala.

__ADS_1


"Aku pergi sekarang ya? tapi izinkan aku kemasi barang-barang ku sebentar" ucap Pelix.


Amora hanya mengangguk dan tersenyum getir.


Pelix memasuki kamarnya, dengan tak lupa mengunci pintu terlebih dahulu.


Dia kemudian menghubungi seseorang.


"Robertus bawa mobil sport ku yang ada di apartemen utama sekarang! Alamatnya sudah ku kirim dalam chat" ucap Pelix pada pelayan nya lalu menutup telponnya kembali.


pelix segera membuka pintu yang mengarah ke ruang bawah tanah dan memasuki ruangan itu. Dia mengambil emas batangan, berlian sedikit, 15 kalung berlian dan surat wasiat yang di amanatkan si pemilik rumah terdahulu. Pelix segera keluar dari tempat itu dan mengunci lalu membersihkan debu yang ada di lantai agar tak ada siapapun yang curiga ketika dia sudah pergi.


"Ruangan itu akan selamanya menjadi miliku. Aku tak butuh rumah ini, aku hanya butuh ruang bawah tanahnya"ucap Pelix bermonolog.


Pelix sudah keluar kamar dengan menenteng tas ranselnya. Vivid yang pura-pura tak tahu kejadiannya dia sengaja lewat depan Pelix.


Pucuk di cinta ulam pun tiba, Pelix pamitan kepada Vivid untuk berhenti bekerja disini. Vivid menangis. Sebelum pergi Pelix memberikan Satu buah emas batangan yang beratnya -+ 50 kg dan satu buah cincin berlian dengan motif bunga angkrek.


"Apa ini mas?"tanya Vivid heran melihat benda itu.


" ini buat kamu mbak jumlahnya sangat banyak jika di uangkan emas batangan ini akan buat kau menjadi sultan dadakan. Dan ini cincin berlian juga untukmu mbak. Ini hadiah dariku jaga Amora disini. Kamu pun tahu kan aku dan dia berselingkuh? Tapi tak apa tak, ada yang di takutkan. Cincin ini hadiah untuk mu jika nanti suatu hari kau menikah. Aku pergi jaga Amora dengan baik karena kau sudah ku gaji dengan sangat besar" ucap Pelix.


Amora yang melihat Pelix sedang berbicara kemudian menghampirinya.


"Kamu sudah tahu mbak?" tanya Amora pada Vivid.


"Saya tahu Nyonya dari awal juga. Hanya saya enggan berbicara. Biarlah ini jadi urusan kalian, saya hanya bekerja disini" ucap Vivid lemah.


Pelix menghampiri Amora dan memberikan kalung bertahtakan berlian berwarna putih.


"Untukmu sayangku. Pakailah ini jika nanti kau akan menemuiku" ucap Pelix yang tak sungkan langsung memeluk dan mencium kening Amora lalu perlahan melangkah pergi.

__ADS_1


Di depan rumah sudah ada mobil sport berhenti dan Pelix segera memasuki mobil itu dan melesat pergi. Amora dan Vivid hanya melihat dengan tatapan Nanar.


"Selamat jalan Pel, aku akan selalu menunggumu lelakiku" lirih Amora yang langsung berlari menuju kamarnya dan menangis sejadinya disana.


__ADS_2