SUPIR KU SEORANG MAFIA

SUPIR KU SEORANG MAFIA
Harta Tersembunyi


__ADS_3

Masuklah Pelix menyusuri tangga jalan masuk ruangan itu, sambil membawa lampu senter dan mengarahkan lampu itu kesegala ruangan bawah tanah itu. ujung matanya menangkap stop contak listrik dan dia segera menyalakannya. Tak butuh waktu lama, lampu yang ada di ruangan itu menyala semua. pemandangan yang sangat bagus terpampang disana. Ruangan yang bersih dan rapi. Terdapat koleksi buku dan senjata, seperti pisau, samurai, pistol dri jaman perang dunia ke dua lengkap dengan peluru yang tertata rapi dan juga baju perang jaman era Romawi kuno.


"Gila semua ini, barang yang ada semua adalah barang yang sangat antik. Aku harus bisa memiliki ini semua" gumanya.


Lalu ia memeriksa koleksi buku disana, betapa terkejutnya dia kala membuka satu buku bersampul hitam dengan goresan pena berwarna gold. Dibuka nya buku itu, alangkah terkejutnya ketika melihat isi catatan nya.


"Ini kan manuskrip kuno dari seorang filsup Yunani, ini barang tak ternilai harganya. Siapa sebenarnya yang punya rumah ini. Apa ahli warisnya tidak mengetahui bahwa terdapat harta karun yang sangat berharga" ucap Pelix.


Lalu dia berjalan lagi menuju sekumpulan lukisan antik, gambar seorang wanita dengan balutan gaun pada era Victoria. Dibalik lah lukisan itu dan terdapat tanggal pembuatan dan tanda tangan asli sang pelukis, membuat Pelix berdecak kagum. Dia terus menyusuri tempat itu, lalu mata nya menatap sesuatu di balik lemari kaca yang tertutup debu.


"Apa itu seperti berkilau terkena cahaya lampu" ucap nya.


Segera Dia membuka lemari itu, alangkah terkejutnya ketika melihat banyak sekali perhiasan bertahtakan berlian, batu rubi , cincin berlian dengan berbagai bentuk, dan kalung mutiara. Lalu dia melihat peti yang berukir emas sepanjang kurang lebih 3 meter. Ketika dia akan membuka, dia mengurungkan niatnya sejenak, dia takut kalau yang di peti itu adalah mayat.


"bagaimana jika di dalam nya ada seorang mayat" ucapnya sambil bergidik ngeri.


Setelah mengalami pergolakan batin, akhirnya dia membuka peti itu. Ketika peti itu terbuka, alangkah kagetnya, Dia melihat dalam peti itu penuh dengan emas batangan dan dia pun syok.


"OMG.. Apa ini? aku ini tidak mimpi. ini real" ucapnya seraya mengambil salah satu emas itu. Terlihat tanggal pembuatan emas ( AMERICAN GOLD 1900 ) dan menggigit emas itu sedikit.


"Ini asli. Harta karun" ucapnya.


Sesudah menutup peti emas itu, langkah nya beranjak kepada peti lain. Dibukanya peti itu. Alangkah terkejutnya ketika melihat barang yang di cari sang kakek. Banyak sekali barang ini. Sejenis narkoba yang sangat di cari ,ternyata tersimpan rapi di tempat ini.


"ini seperti mimpi. Kakek ini yang kau cari sudah ku temukan" ucapnya senang.


di samping narkoba, ternyata ada ganja kering yang masih awet tersimpan rapi disana.


Belum sempat menjelajahi semua ruangan itu, ingatan Pelix tentang waktu istirahat nya.

__ADS_1


"Aku harus segera kembali ke atas, sebelum mereka curiga" ucapnya.


Naiklah ke atas dan segera menutup ubin lantainya lagi dengan rapi. Dan tak lama dia keluar dari kamar itu. Matanya menelisik keberadaan Vivid dan Amora. Ketika dia kedapur, dia melihat Vivid yang sedang ngorok di kursi dekat mini bar dengan mulut menganga meneteskan sedikit liur nya.


melihat itu membuat Pelix sedikit ingin muntah. Lalu dia berjalan ke arah ruang tamu dan melihat Amora tidur di atas kursi. Pandangannya seketika teralihkan dengan hembusan angin yang menyibak dress nya Amora, terlihat kaki bagian atasnya tersingkap hingga memperlihatkan lekuk nya yang sempurna membuat jiwa kelelakian seorang Pelix bergelora. Tak sadar dede kecilnya menggeliat manja di bawah seperti bangun dari bobo manisnya.


"Sexy nya majikan ku. Duh ini lagi, jangan bangun dong woooy" kesal Pelix.


Di angkatnya tubuh Amora menuju kamarnya, dan di baringkan di atas tempat tidur. Ketika dia bersiap keluar dari kamar, tiba-tiba tangan Amora memegang tangannya hingga beringsut jatuh kepelukan Amora.


"Mas Martin jangan pergi mas. Puaskan aku mas. aku butuh kehangatan" lirih Amora dengan mata masih tertutup.


"Maaf nyonya. Saya bukan suami anda. Saya supir anda tolong jangan seperti ini. Bangun nyonya" ucapnya sembari mengguncangkan tubuh Amora.


Tak lupa Amora pun bangun dan seketika dia menendang benda pusaka milik Pelix. Seketika Pelix terjungkal sambil meringis.


"Jangan bohong kamu. Jangan kurang ajar. Saya ini majikanmu. Kamu seharusnya sadar akan posisi itu Pelix" Pekik Amora dengan bentakan.


"Demi tuhan nyonya Amora, saya tidak ada niat untuk melecehkan anda, Justru anda lah yang memegang tangan saya sampai saja terjungkal dan menindih tubuh anda" tutur Pelix dengan sedikit emosi.


"Keluar kamu dari sini. Saya akan adukan kepada suami saya kalau kamu ingin melecehkan saya. Keluar sekarang juga. Dasar pemuda kurang ajar" bentak Amora.


Keluarlah Pelix dengan amarah. Ia tak menyangka jika wanita sebaik Amora bisa semenyeramkan itu ketika marah.


"Silahkan kalau anda ingin mengadukan ini kepada suami anda karena saya tidak takut. Saya tidak bersalah" dengus nya kesal.


Keluarlah dia dari kamar Amora dengan amarah dan segera menuju kamarnya.


Di dalam kamar, dia menumpahkan segala nya. "Jika aku tidak terikat janji dengan kakek untuk mengambil barang yang ada di rumah ini, sudah aku setubu*i dia benar-benar" ucapnya dengan nafas menderu kesal.

__ADS_1


saking kesalnya, sampai tangannya meninju tembok rumah itu.


Vrooohhhhhhhhhhh


Suara dinding itu seketika dan merontokan semen dan bata hingga meninggalkan bekas yang dalam.


"Hahhh.. ternyata dinding ini sudah rapuh" ucapnya sembari mengambil obeng dan mengorek dinding kamarnya sedikit. Tetapi alangkah kagetnya ketika dinding itu bolong dan tembus ke kamar Amora. walau lubang itu hanya muat di mata sebelah tapi itu membuat jelas untuk sekedar melihat sang empu ketika tidur di atas ranjang.


Kemudian pandangan Pelix melihat kalau Amora sedang menghubungi seseorang dengan wajah yang sedang menangis.


¥


¥


Di seberang telpon, Martin yang mendapat panggilan dari istrinya membuat ia murka. memang pada dasarnya, dia tidak mencintai Amora, tetapi mendengar Amora mengatakan jika Pelix ingin melecehkannya, sontak Martin pun marah.


"Brengsek. Dasar supir cabul. Mesum. Aku pulang sekarang dan akan mengusirnya" ucap Martin geram.


Beberapa jam kemudian Martin tiba di rumah dengan menggebrak pintu.


Brukhhhhhhh.


Suara pintu di dorong dengan paksa membuat Vivid gemetar. Dilihat Martin dengan tatapan menusuk berjalan mencari keberadaan Pelix.


"Pelix dimana kau, supir cabul. Aku tak akan membiarkan seseorang menyentuh istriku" geram Martin.


Mendengar keributan yang terjadi, tentunya Pelix sudah tau kalau dirinya sedang dalam masalah. Tetapi jiwa mafianya bangkit kembali. Dia sangat tenang menghadapi situasi segenting apapun, apalagi hanya menghadapi remahan rengginang seperti Martin baginya.


"Dimana-mana wanita selalu menjadi sumber masalah" ucapnya frustasi.

__ADS_1


__ADS_2