SUPIR KU SEORANG MAFIA

SUPIR KU SEORANG MAFIA
Mengikhlaskan


__ADS_3

"Aku akan terus menunggumu Rin! I love you so muach baby! Aku yakin suatu saat kau akan mencariku“ gumanya sembari mencium poto itu sekilas


Kemudian dia pulang ke mansionnya.


Di dalam kamarnya, Ricky terus saja memikirkan Marini tapi ucapan Elizabeth untuk mencegah jangan sekali-kali menghubungi Marini terngiang di kepalanya.


Di dalam otak Ricky hanya ada dua kemungkinan yaitu, pertama Marini akan merindukannya, yang kedua Marini sama sekali tidak akan mengingat Ricky.


¥


Di kamar yang luas itu, Marini hanya membolak-balikan tubuhnya. Matanya sama sekali tidak bisa terpejam karena memikirkan Pelix dan hilang nya Ricky dari radar dirinya.


"Pelix dan Ricky kenapa susah sekali di hubungi? Apa aku mulai merindukan bocah itu? Hmmmmm ini konyol dan tidak boleh terjadi. Cintaku hanya pada Pelix seorang, tapi dia sudah tidak mencintai ku lagi" Tak terasa air mata Marini tumpah kala mengingat hubungannya dengan Pelix yang kandas, tepatnya Pelix yang memutuskannya.


Dia pun akhirnya terlelap dalam tidurnya.


Pagi pun hadir, dia sudah akan bekerja kembali, mengingat masa cuti nya sudah berakhir. Ada rasa malu kala memulai hidup nya seperti sedia kala, mengingat berita aksi percobaan bunuh dirinya sudah sangat viral dan di ketahui oleh teman kerja nya dan khalayak umum. Dengan sedikit menebalkan muka dan telinga dia akan menghadapi berbagai sindiran bahkan cemoohan yang akan orang lain lontarkan padanya. Marini pun duduk di meja makan untuk sarapan bersama Elizabeth.


"Apa kamu sudah siap bekerja kembali?" tanya Elizabeth yang melihat sang putri sudah rapih dengan balutan jass dokternya.


"Sudah! Aku siap bekerja kembali ma..Aku harus mencari uang untuk kita. Apalagi aku anak yatim kan? Harus selalu ada untuk memberikan mama uang" ucapnya datar.


Pltakkkk!! Sendok terbang mengenai tangannya membuat dia meringis.


"Almarhum papa mu meninggalkan warisan yang sangat banyak untuk kita, jangan berlaga menjadi orang susah seperti itu Rin, kamu kerja untuk mu sendiri bukan untuk mama, mama tidak akan menerima sepeserpun uang dari gaji kamu sebagai dokter! Walau kamu anak yatim dan tidak bekerja pun, aku sebagai mama mu masih bisa memberikan kehidupan yang layak untuk mu" Elizabeth merasa marah kala Marini merendahkan dirinya.


"Ya deh ma iya, maaf ya jangan marah dong ah pagi-pagi sudah ngegas aja" ucap Marini mencandai mamanya.


"Ya habisnya kamu bicara seolah-oleh kamu harus tetap bekerja dan menghidupi mama mu yang stroke ini" Elizabeth mengatakan itu dengan lirih.


"Ya maaf ya cantik! Yasudah ma aku berangkat kerja dulu ya. By mama ku sayang" Marini mengambil tangan sang mama dan menyalaminya dengan takzim, lalu dia berangkat dan menaiki mobilnya.


Sesampainya di rumasakit, seluruh dokter yang dia temui menatapnya dengan tatapan mencemooh, hal itu membuat Marini sedikit terusik.


"Selamat datang kembali dokter Marini! Bagaimana sudah sembuh sakitnya?" tanya dokter vega, dokter yang menangani spesialis THT.


"Saya tidak sakit“ jawab Marini ketus sembari meninggalkan Vega yang menertawakannya.


" Ya memang kamu tidak sakit, tapi mental mu sakit" gumam Vega.


Di lorong rumasakit dia bertemu seorang dokter psikolog yang awalnya tidak akrab justru sekarang mengakrabkan diri pada Marini.


"Pagi dokter Marini! Saya sudah tahu apa yang dokter lakukan! Beritanya cukup viral loh di mana-mana" ucap dokter Naomi.

__ADS_1


"Oh ya? Saya senang bisa terkenal" ucap Marini dengan nada malas.


"Tak baik loh memendam masalah sendiri, Saya ada waktu luang, akan sangat senang jika anda bercerita kepada saya" ucap Naomi.


"Terimasih atas tawarannya. Tapi saya hari ini sudah full jadwal pemeriksaan" ucap Marini sembari berlalu dari hadapan dokter itu.


"Masalah cinta sampai manjat tower! Bagaimana rasanya Viral dok?" tanya Rosalinda menyindir Marini.


"Oh rupanya anda seakan menyindir saya? Apakah anda tidak punya masalah pada diri anda sampai sebegitunya pada saya? Dan ingat ya dokter Linda, kita tidak akrab jadi jangan anda seolah meremehkan atas apa yang menimpa pada diri saya" ucap nya sembari berlalu meninggalkan dokter Rosalinda yang sedang menggerutu.


"huuuhhhhh masalah cinta sampai seperti itu najis amat, wanita hina" geram dokter yang berbadan tambun itu.


Dari sekian orang yang mencemoohnya akibat aksi tidak terpuji itu, ada satu dokter yang memberikan secercah semangat untuknya.


Ya dokter Hanah namanya, dia spesialis dokter mata. Sebelum peristiwa memalukan itu, dia tidak begitu kenal dengan dokter yang satu ini, hanya dia pernah mendengar bahwa Hanah akan di promosikan sebagai kepala dokter di rumasakit tempat Marini bekerja. Senyum hangat sembari menyapa membuat Marini tertegun sejenak.


"Bagaimana kabar nya sekarang dokter? Maaf sebelumnya kita jarang bertegur sapa" ucapnya hangat.


"Puji syukur saya baik dokter" jawab Marini sedikit tertunduk malu.


"Saya telah melihat dari berita apa yang kemarin anda lakukan! Tapi saya tidak akan menyalahkan anda. Setiap orang mempunyai masalah hidupnya tersendiri, betulkan dokter Marini?" tanya Hanah


"Hmmmm, benar dokter! Saya gelap mata" ucap Marini kelu.


"Yaampun ternyata kita sama dok! Kita sebagai wanita yang ada di barisan para nestapa lovers! Tapi demi tuhan saya tidak akan mengulanginya lagi dokter" ucap Marini yakin.


"Jangan sampai berpikir seperti itu lagi ya dok! Kita wanita berhak di cintai dan di kejar. Biarlah jika pria itu sudah tidak mencintai kita lagi kita cari yang mencintai kita saja" ucap Hanah sembari tersenyum.


Marini hanya membalas senyuman dokter itu.


"Dokter Marini butuh pelukan?" tanya Hanah


"Ya, tentu saja" jawab Marini terkekeh.


Mereka pun berpelukan dengan hangatnya, dan tak lama mereka berpisah dan memasuki ruangan masing-masing. Ketika dia membuka pintu ruang praktek nya, dia di kejutkan dengan sesuatu yang membuat dia terharu.


"Surprise!!! Welcome untuk dokter kita tercinta" ucap semua perawat yang bekerja khusus di ruangan Marini praktek.


"Welcome to the jungle dokter sayang" ucap suster yang bernama Maladina sembari memegang balon dan menaburkan serbuk pita.


Marini sangat amat terharu dan menitikan air mata. Dia tidak menyangka akan di perlakukan dengan baik oleh semua suster bantu nya, walaupun Marini di kenal dokter yang agak jutek kepada siapa saja tapi di balik itu dia wanita yang baik dan tulus.


"Terimakasih untuk ini semua! Saya terharu" ucap nya sembari memeluk keempat suster itu.

__ADS_1


"Ini sengaja kami buat untuk menyambut kedatangan dokter. Dokter yang kuat ya! Kami disini akan selalu ada untuk anda" ucap suster Lina.


"Kalian memang partner yang baik! Terimakasih. Tapi siapa yang akan membereskan kekacauan ini?" kekeh Marini.


"Siapa lagi kalau bukan mang Ujang OB sejuta umat yang selalu pasrah di suruh apapun" jawab suster Mia Khalifa.


"Oke, oke! karena kalian semua sudah mensuport saya, saya akan kasih uang jajan untuk kalian" Ucap Marini sembari membuka tasnya dan mengambil uang satu juta untuk keempat suster itu.


keempat suster itu tampak girang kala mendapat uang jajan itu.


Mereka pun lalu tertawa bersama-sama dan melanjutkan tugasnya kala ruangan itu sudah bersih kembali.


Sore pun tiba, Pelix ingin bertemu dengan Marini untuk berbicara dari hati ke hati dan ingin meminta maaf. Pelix sudah bertekat akan menyuruh Marini untuk menjauhinya tanpa sikap pengecut.


D*Starla Resto menjadi tempat mereka bertemu.


"Hai Rin, bagaimana kabar mu?" tanya Pelix dengan canggung.


"Apa pendapatmu melihat aku sekarang, hem?" Marini balik bertanya dengan sorot mata yang sangat dalam.


"Rin, maafkan aku!" Pelix to the point ke inti masalah mereka.


"Untuk apa maaf?" Marini masih mendelik kesal oada pria di hadapannya. mengingat semua penghianatan yang Pelix torehkan dalam hatinya.


"Rin, ayolah!" Pelix merasa terintimidasi oleh sikap acuh Marini.


"Untuk apa kau ingin menemui ku? Oh ya aku tahu kau ingin mengatakan betapa bahagianya sekarang kau dengan wanita itu. Atau kah kau ingin menunjukan padaku seberapa mesranya kalian atau~~" ucapan Marini tertahan! Dia tak mampu berbicara lagi karena hatinya sudah di liputi kedukaan.


"Rin aku minta maaf padamu! Aku ingin kita tidak saling bersitegang walau kita sudah tidak bersama lagi. Percayalah Rin, kau itu pernah menjadi wanita yang paling spesial di hidupku! Ku ingin kamu bisa mempunyai pendamping yang lebih baik dari ku, Rin" tutur Pelix.


"Persetan dengan ucapanmu! Dan ya benar kata mu, semoga aku bisa mendapatkan pendamping yang tulus padaku bukan pria sepertimu. Dan aku juga tak ingin bersaing dengan wanita gila itu. Aku melepasmu Pel, kau bebas dengan siapa kamu bersanding" Setelah mengatakan itu, Marini langsung pergi dari hadapan Pelix.


Ada rasa lega di hati pria tampan nan kekar itu kala Marini sudah ikhlas dengan berakhirnya hubungan itu, tapi dia pun merasakan kesakitan yang amat dalam terlihat dari sorot mata Marini.


Di dalam mobil, Marini menangis sejadi-jadinya sembari memukul-mukul kemudi mobil nya sampai tangannya merasakan sakit.


"Hancur sudah hancur, harapan untuk bisa menikah dengan mu Pel, Kau cinta pertamaku dan pria yang menghancurkan masa depanku. Kehadiran wanita j@l@ng itu seakan menjungkir balikan hatimu dan perasaan mu padaku" Marinibterus saja menangis dan sesekali mengumpat akan nasib nya.


Tapi seketika dia tersenyum dan menghapus air matanya.


"It's oke Marini sayang! Kau akan jauh lebih baik tanpa Pelix. Masih banyak orang yang menyayangimu" ucapnya sendu.


Marini pun segera melajukan mobilnya ke arah jalan pulang.

__ADS_1


__ADS_2