
Pelix dan Amora sudah berbaikan! Tidak ada lagi amarah di hati keduanya terutama Pelix.
Saat ini Amora sedang berada di dalam rumah mendiang sang ibu. Rumah besar itu tampak tidak terawat dengan debu di mana-mana. Amora dan Pelix pun gegas membersihkannya. Ada rasa sesak di dada kala menginjakan lagi kakinya di rumah yang penuh kenangan itu.
"Apa kamu akan tinggal disini atau di rumah pemberian dari Martin?" tanya Pelix sembari menyapu lantai.
"Tak tahu lah Pel! Tapi aku akan selalu menengok rumah ini dan akan mencari ART untuk merawat rumah ini" jawab Amora sembari tangannya memegang kemoceng.
"Lalu bagaimana dengan Florist peninggalan ibu?" Tanya Pelix kembali.
"Aku akan meneruskan usaha itu. Aku akan melanjutkan perjuangan ibuku" Jawabnya.
"Aku kira kamu akan menjadi guru lagi. Aku takan melarangmu sayang. Kau bisa bekerja dimanapun atau ingin menjadi istriku saja tanpa bekerja juga aku akan senang hati" Pelix berbicara sembari tangannya sibuk menyapu lantai berdebu itu.
"Aku sekarang lebih fokus saja untuk mengurusi bisnis berjualan bunga. Aku akan menjadi guru untuk anak-anak kita saja" Amora berkata sembari meraba-raba perutnya yang rata.
"Semoga perutmu segera terisi benihku" ucap Pelix sembari mencium kening Amora.
Tak terasa bersih-bersih di rumah mendiang ibunya telah selesai. Hari juga menunjukan sudah sore akhirnya mereka berdua pulang ke rumah Amora.
¥
Pagi hari, Kaisyah dan Jhonson sedang menanan tomat di depan Vila mereka. Dari kejauhan terlihat truk besar berwarna hijau tengah melaju arah vila mereka.
"Ayah, apa kau tidak bosan hidup di perkebunan seperti ini?" tanya Kaisyah sembari memasukan biji tomat kedalam tanah.
"Aku ingin menikmati hari tuaku dengan senang sayang! Hidup denganmu disini membuatku sangat bahagia. Merasa lengkap sebagai kepala keluarga apalagi sudah ada cucu diantara kita. Pelix si bodoh belum memberikan aku cucu" Jhonson berbicara sembari memotong rumput liar.
"Sabarlah ayah, Pelix sedang berproses" jawab Kaisyah.
Klakson truk pun berbunyi membuyarkan obrolan pasangan senja itu.
"Henry" teriak Kaisyah sembari meninggalkan Jhonson.
"Bunda bagaimana kabarmu? Aku rindu. Maaf aku baru mengunjungimu hari ini. Aku terlalu sibuk mengurusi bisnis peninggalan papa" Henry memeluk sang bunda.
__ADS_1
Mata Henry langsung memandang sosok pria paruh baya di depannya. Kaisyah yang menyadari perasaan Henry langsung mengatakan yang sebenarnya.
"Oh jadi ini ayahnya Kakak dan Camilla? Hai ayah aku Henry anak bunda juga" Henry memberikan tangannya pada Jhonson.
"Hai nak! Nama ayah Jhonson. Kenapa.kau tidak hadir waktu kami menikah?" tanya Jhonson pada pemuda hitam manis berlesung pipi itu.
"Maaf sekali ayah, aku sibuk mengurusi perusahaan peninggalan papa, dan baru sekarang aku punya waktu luang untuk mengunjungi bunda" jawabnya.
Walaupun Henry bukan anak kandung Kaisyah dan sejatinya tidak punya pertalian darah apapun, tetapi pemuda itu sudah menganggapnya ibu sendiri. Henry kecil yang terabaikan karena sang ibu pergi dengan pria lain dan ayahnya sibuk mengurusi perusahaannya yang khusus membuat alat-alat berat membuat henry kecil tak ada yang mengurusi. Waktu itu umurnya baru menginjak sepuluh tahun, kaisyah menemukannya sewaktu dia mengorek-ngorek makanan dalam tong sampah. Di bawalah dia kerumahnya dan tanpa di sangka Henry seorang anak dari orang kaya. Saat itu papa Henry menitipkan untuk di urus sampai lah dia menjadi sebesar ini menjadi pemuda yang tampan dan mapan tapi sederhana berkat didikan Kaisyah.
"Ayo masuk nak" Jhonson menggandeng Henry kedalam kediamannya.
Mereka bertiga pun masuk kedalam rumah.
"Bunda, kakak mana?" Henry mencari sosok Pelix.
"Kakak pergi ke Jakarta dengan istrinya" jawab Kaisyah.
"Apa istri? Sejak kapan kakak menikah?" Henry semakin bingung dengan apa yang tidak dia ketahuinya.
"Kata bunda telepon kamu waktu itu, bunda suruh kamu pulang tapi katamu sedang banyak orderan di pabrik kamu" Kaisyah jadi merasa bersalah pada putranya.
"Masih tidur! Lihat saja di kamar" jawab Kaisyah.
"Oh ya sudah aku ke kamar dia sekarang" Henry berjalan ke kamar Camilla, lalau mendapati dia masih bergelung dengan selimutnya. Henry lalu masuk kedalam gulungang selimut itu, memeluk Camilla dan mendaratkan bertubi-tubi ciuman di wajah Camilla.
Camilla mengerjap lalu menyadari jika itu Henry.
"Abang! Kapan datang?" tanyanya dengan suara parau khas bangun tidur.
"Baru saja abang sampai. Kenapa masih bergelung dengan selimut seperti kepompong?" Henry di buat gemas oleh Camilla.
"Dingin di luar" jawabnya.
"Alasan saja" ucap Henry sembari mengangkat tubuh gadis itu ke kamar mandi.
__ADS_1
"Abang, aku belum mau mandi. Aishhh abang ini" Camilla kesal.
"Mandi sekarang karena aku akan mengajakmu jalan-jalan" Henry kemudian keluar dari kamar Camilla.
Skip
"Aku tunggu di kebun belakang" Pesan yang Henry kirimkan pada ponsel Camilla.
Camilla pun langsung berjalan kearah kebun yang di maksud. Sesudah sampai disana, dia mencari-cari Henry.
Sebuah tangan menariknya ke balik pohon.
"Abang! Bikin aku terkejut saja" Camilla sedikit sebal.
"Sayang, aku merindukanmu. Sudah saatnya kita jujur kepada bunda apa yang selama ini kita tutup-tutupi berdua. Kamu mau kan?" Henry menatap netra gadis itu.
Henry yang sejak remaja memang sudah menyukai Camilla walau usianya waktu itu baru sepuluh tahun. Mereka pun tanpa sepengetahuan Kaisyah menjalin hubungan sudah delapan tahun. Walau awalnya hanya cinta monyet tetapi lama-lama menjadi cinta gorila. Mereka berdua pandai menyembunyikan itu rapat-rapat karena takut akan Kaisyah yang akan kecewa.
"Bang, aku takut bunda akan marah pada kita!" Camilla tak bisa menyembunyikan rasa takutnya.
"Hei, tenanglah! Kita akan hadapi berdua apapun yang terjadi. Kita akan selalu bersama walaupun itu akan terluka" Henry mencoba terus meyakini Camilla.
"Bang, sabarlah dulu kita harus mencari waktu yang tepat untuk berterus terang pada bunda! Jujur aku belum siap" Camilla terus merajuk cemas.
"Terus mau sampai kapan kita harus sembunyi-sembunyi seperti ini dengan dunia? Hubungan kita sudah terjalin delapan tahun dan kamu masih memintaku bersabar. Sayang aku ingin menikahimu secepatnya, Aku sudah tak tahan lagi untuk memendam hasratku padamu" ucap Henry sembari membenamkan Camilla kepelukannya.
"Tapi kita saudara bang" Camilla berkaca-kaca.
"Kita bukan saudara kandung. Sah saja kalau kita menikah" Jawab Henry.
"Bang!" ucap Camilla lirih.
"Tatap aku sayang! Tatap aku dan temukan arti keseriusan disana. Aku sudah tak sabar untuk menumda lebih lama lagi hubungan ini. Malam ini kita harus berterus terang pada bunda dan ayah kalau kita saling mencintai dan ingin menikah, lalu meminta restu mereka" Henry bicara dengan sangat yakin.
"Baiklah bang kalau begitu" ucap Camilla pasrah.
__ADS_1
Henry pun langsung mencium bibir sang adik sekaligus kekasihnya itu. Camilla pun membalasnya. Mereka saling mencumbui, saling bertukar saliva hingga suara teriakan terdengar.
"Apa yang kalian lakukan?" ucap Kaisyah