SUPIR KU SEORANG MAFIA

SUPIR KU SEORANG MAFIA
Penyesalan Martin.


__ADS_3

Ketika keluar dari rumah sang istri, Martin langsung duduk di taman area komplek rumah itu. Ada semburat rasa penyesalan, atas apa yang sudah dia lakukan kepada sang istri.


"Apa yang sudah aku lakukan kepada Amora, sungguh sangat menyakitkan baginya. Andai saja aku tak terbawa amarah, mungkin Amora akan merasa bahagia. Maafkan aku Amor" Lirih Martin sembari merutuki kesalahannya.


Di taman itu, Martin hanya melamun, sesekali melihat temaram nya lampu taman. Kemudian dia mengekuarkan ponselnya dan melihat Facebook nya sang istri.


Terlihat poto Amora sedang mengajar murid-muridnya dengan bahagia, terlihat dari pancaran senyum teduhnya.


"Bahkan aku menyuruhnya untuk berhenti mengajar. Aku tahu dia sangat bahagia kala itu. Aku renggut mimpinya" ucap Martin.


Dia pun kembali ke kediaman nya untuk meminta maaf kepada sang istri.


Di kamar itu keadaan Amora sudah baik. Dia sudah meminum obat dan istirahat. Masuklah Martin menemui Amora, setelah terlebih dahulu bicara dengan sang ART dan supirnya.


"Vivid dan Pak Pelix, malam ini saya akan menginap disini. Untuk malam ini dan besok, biarlah saya yang melayani istri saya. dan ingat, kejadian tadi anggap saja tak pernah ada" Ucap Martin sembari berlalu meninggalkan mereka.


Mendengar itu Vivid menjadi emosi.


"Lelaki psikopat mungkin dia. Jelas-jelas sudah menyiksa istrinya tapi belaga tidak terjadi apa-apa. Mas Pelix, ini sudah masuk ranah pidana kan, KDRT ini namanya. Bagaimana mungkin seorang pengacara yang tau hukum melakukan ini semua" geram Vivid.


"Mbak asal kamu tahu ya, dia itu lelaki impoten. merasa jengkel karena tidak bisa "ninu-ninu" waktu itu, dan ketambah keadaan nyonya sedang tak baik-baik saja, jadinya ya melampiaskan dengan cara menyiksa istrinya" tutur Pelix.


"Apa? Impoten?" ucap Vivid dengan suara cemprengnya.


"Kamu kalau ngomong yang pelan dong, kuping saya sampai pengang begini. Ini rahasia. Awas kalau ember mulut mu" ucap Pelix sembari membekap mulut Vivid.


"Kok Mas Pelix tahu kalau Tuan Martin impoten? jangan-jangan cuma ngarang ya?" tanya Vivid dengan wajah mendekat ke wajah Pelix.


(Dia tidak tahu kalau aku punya lubang rahasia di kamar..hahahaha) gumamnya dalam hati.


"Sudahlah mbak, jangan tanya terus. Intinya dia itu burung nya loyo. bahkan sampai sekarang, nyonya itu masih PERAWAN" tutur Pelix.


Mendengar itu, seketika mata Vivid melotot seakan mau keluar.


"Bener loh mas, aku gak nyangka benget. Muka tampan, badan kekar, reputasi baik, uang banyak, tapi kalau impoten ya buat apa sih gak guna. Apem juga kan harus di kasih asupan nutrisi biar romantis" Ucap Vivid sambil tertawa.


"Sa ae nih botol marjan" kekeh Pelix.


"Tapi mas Pelix gak impoten kan?" tanya Vivid sembari menaikan alis nya sebelah.


"Mau bukti nih" jawab Pelix sebari memengang sleting celana nya dan siap membukanya.


Melihat itu membuat Vivid langsung lari terbirit-birit menuju dapur dengan tertawa ngakak..


Sementara di kamar, Martin menghampiri sang istri. Melihat itu membuat Amora ketakutan.


"Jangan mas. Ampun mas" Lirih Amora sembari mengiba.


"Amor, maafkan aku. Aku sudah melakukan tindakan bodoh. Maafkan aku" Ucap Martin sembari memeluk tubuh lemah sang istri.


Amora tidak bergeming, dia tetap pada posisi tubuh gemetar dan ketakutan melihat Martin.


"Jangan siksa aku mas, aku mohon" Pinta Amora.


"Aku sungguh menyesal. Aku tak akan menyiksa mu lagi Amor. tolong jangan adukan ini kepada ibu mertua" lirih Martin.


Sementara di kamar Pelix, dia masih mengintip adegan drama korea di balik dinding yang tembus ke kamar Amora


"Ckkkk.. Rupanya kau takut kekejaman mu terbongkar, dasar pengacara tengik. Aku sudah memvideokan kebejatan mu. Jika kau macam-macam, habislah riwayatmu beserta karirmu" Gumam Pelix kesal.

__ADS_1


Kemudia Amora berhasil temang, dia tertidur dalam peluka Martin dan tidur berdua.


Ingatan Pelix kembali kepada keluarganya yang memberikan tugas untuknya.


"Besok tepat satu bulan aku bekerja disini, dan besok hari terakhir, waktu yang di berikan kakek padaku untuk mengambil barang itu. Aku harus bisa mengabil sedikit demi sedikit agar penghuni rumah itu tidak curiga" Gumam Pelix.


Pagi pun tiba dengan sinar mentari yang indah.


Amora bangun dalam dekapan sang suami.


Ingin rasanya dia menyingkrikan tangan yang yang sudah memukulnya, tapi pelukan sang suami sangat erat. Tak lama Martin pun terbangun.


"Selamat pagi istriku. Sudah bangun rupanya. Gimana keadaanya sekarang?" tanya Martin dengan senyum ketulusan.


"Aku sudah mulai baik mas" jawab Amora. Ada rasa takut yang masih tersimpan untuk sang suami.


"Maafkan aku ya" ucap Martin sebari mencium mesra sang istri. Dia mencium bibir sang istri dengan sangat lembut dan di balas oleh Amora. Ciuman yang berhasrat dan menuntut. Tak di duga, keajaiban muncul pagi itu. Burung yang selama ini konslet ternyata sudah tegak dengan sempurna.


"Mas itu kamu" ucap Amora sambil menunjuk ke arah "hmmmmm" nya sang suami.


merasakan itu membuat Martin bahagia bukan main. Ternyata benar kata dokter Marini, kalau mau melakukan itu, harus dengan perasaan relax. Seketika Amora dengan nakalnya memegang "hmmmmmm" sang suami dan mengelusnya dengan manja.


"Ayo, kamu siap?" tanya Martin.


"Ayo" jawab Amora dengan muka mupeng nya.


Di tuntunlah si burung untuk masuk kedalam sangkarnya. Tetapi tanpa di duga tiba-tiba sang burung konslet kembali, membuat Martin menjadi frustasi.


"Mas, are u okey?" tanya Amora.


"Maafkan aku" jawab Martin lesu.


"Kita mandi bareng" ajak Martin.


"Dengan senang hati" jawab Amora.


Selesai mandi dan berganti pakaian, suami-istri itu menuju ke ruang sarapan.


Sesudah sarapan, Martin memanggil Vivid dan Pelix ke ruang tamu.


"Tuan memanggil kami?" tanya Pelix.


"Ya benar. Saya ingin memberikan gaji untuk kalian. Silahkan terima" jawab Martin sembari memberikan masing-masing dua amplop cokelat.


"Terimaksih" Ucap Vivid dan Pelix.


"Tuan, ada hal yang saya ingin katakan kepada anda, tentang anda yang sedang mencari sesorang yang mau menjaga peternakan kuda, kalau anda setuju, bagaimana kalau saya saja yang menjaganya peternakan itu. Saya bisa untuk bekerja penuh disini" ucap Pelix.


"Baiklah kalau begitu. Tugas untuk menjaga kuda-kuda ini, saya berikan kepada anda Pak Pelix" jawab Martin.


Ketika Vivid sedang memasak. Tiba-tiba telp nya berbunyi. Tertera nama Pakde Amir pada layar ponsel miliknya.


"Hallo pakde, sugeng enjing. Ada apa pakde menelpon aku pagi ini?" tanya Vivid.


"Vid, Pakde minta koe muleh sekarang. Bapak mu sudah meninggal barusaja di rumasakit" ucap sang pakde.


Mendengar kabar duka itu seketika Vivid lemas dan menangis sejadinya. melihat itu, Pelix segera menghampiri Vivid.


"Apa yang terkadi mbak?" Tanya Pelix.

__ADS_1


"Mas, bapak saya barusan meninggal. Saya harus pulang sekarang~~hikhikhik" jawab Vivid dengan tangis menggema.


"Ada apa ini?" tanya Amora yang datang karena mendengar suara tangisan.


"Bapak dia meninggal" ucap Pelix.


"Inalillahi. Semoga beliau di terima di sisi tuhan. Kamu yang sabar ya mbak. Ayo sekarang kemas barang mu. Sekarang kamu pulang. Kami akan mengantar mu sampai kampung. Ayo Pelix, kita harus siap-siap" ajak Amora.


Ketika Vivid sedang berkemas di kamarnya, Tiba-tiba pelix masuk tanpa ketuk pintu terlebih dahulu.


"Mas mau apa ke kamar saya?" ucap Vivid dengan mata sembab.


"Ini buat kamu mbak, anggap saja untuk membantu biaya pemakaman bapak mu" ucap Pelix sambil memberikan dua buah amplop pemberian Martin.


"Jangan mas. Kita sama-sama butuh uang ini. Ini gaji pertama kamu. Dan ini terlalu banyak" jawab Vivid.


"Terima saja mbak. Kamu lebih butuh ini" ucap Pelix.


Di terima lah amplop itu dengan berat hati.


"Makasih mas" ucap Vivid haru.


"Sudah, sekarang cepat berkemasnya. Kita pergi sekarang" ajak Pelix.


Sesudah Vivid selesai membereskan barang yang akan di bawa, dia sempat-sempatnya membuka amplop pemberian dari Pelix.


Betapa kagetnya, uang itu senilai 30 juta rupiah.


"Duh gusti banyak sekali uang dari Mas Pelix" gumamnya.


Di kamar Amora pun menelpon suaminya.


"Hallo Amor. Ada apa?" Tanya sang suami.


"Mas, aku dan Pak Pelix akan mengantarkan Vivid ke kampungnya di Salatiga. Bapak nya meninggal hari ini. Aku minta izin pada mas. Boleh?" tanya Amora.


"Inalillahi. Ya silahkan pergi saja. Kirimkan no rekening Vivid, nanti aku akan kirim uang duka cita padanya" jawab Martin.


Di perjalanan pulang ke Salatiga, Vivid tak hentinya menagis, dan Amora pun tak henti-hentinya memberikan semangat.


Sampailah di kampung halaman Vivid. Dia langsung berhambur ke depan jenazah sang ayah.


"Hihihihik.. Bapak, maafin aku pak. Aku belum bisa membahagiakan mu. Maafin aku. Kenapa bapak meninggalkan kami secepat ini..hikhikhihik" tangis Vivid sambil memegangi kaki jenazah sang ayah.


"Wis ndo. Bapak sudah tenang. Doa kan saja" ucap ibu nya.


Sesudah acara pemakaman selesai. Amora dan Pelix segera pamit.


"Mbak, kami pamit ya. Semoga kamu dan keluarga selalu di beri ketabahan. Ada sesuatu dari suami saya untuk kamu dan keluarga. Coba buka notifikasi hp kamu" ucap Amora.


Di lihatlah pesan dan tertera transfer senilai 20 juta atas nama Martin, membuat Vivid terharu.


"Ini terlalu banyak nyonya" Lirih Vivid.


"Sudah, itu buat kamu. kami disini tidak bisa lama-lama, kami harus segera kembali ke Jakarta. kami pamit ya. Oya, apa nanti kamu akan kerja lagi di rumah saya atau pensiun dini mbak?" kekeh Amora.


"Nyonya bisa aja. Saya akan masuk kerja sesudah tujuh harian bapak saya" Jawab Vivid.


"Yasudah kami pulang ya Mbak.."

__ADS_1


"Ibu saya pamit pulang. Semoga semuanya selalu di berikan keikhlasan" Ucap Amora kepada seluruh keluarga Vivid.


__ADS_2