SUPIR KU SEORANG MAFIA

SUPIR KU SEORANG MAFIA
Jangan jadi pengecut


__ADS_3

Sudah hampir satu bulan, Martin tidak pulang dan menemui Amora. Dia takut jika dia pulang Amora akan memakinya. Martin tidak mengetahui bahwa Amora mengalami depresi berat pasca meninggal mertua dan kedua anak kembarnya.


Pikirannya pun bercabang. Di sisi lain dia merindukan Amora dan di sisi lain dia sangat mencemaskan Susan yang pergi entah kemana dalam keadaan hamil, semenjak kejadian memilukan itu. Susan hilang bak di telan bumi, keberadaan nya tidak di ketahui. Beribu cara Martin mencarinya, tetapi hasilnya hanya hepasan kosong belaka.


"Martin mau sampai kapan kau disini? Pulanglah temui istrimu!" ucap Hendra.


"Aku takut pah aku takut jika Amora akan menolaku lagi" ucap Martin dengan tertunduk lesu.


"Setidaknya kau coba dahulu berbicara heart to heart, agar Amora bisa sedikit menerima ini semua" tutur Hendra.


"Sudah ku coba pa, tapi hasilnya Amora murka padaku" ucap Martin lesu.


"Lalu bagaimana dengan susan apakah dia sudah di temukan?" tanya Hendra.


"Aku belum menemukannya, dia hilang bak di telan bumi. Dia juga sedang hamil anaku pa" Martin tak kuasa menahan tangisnya.


Tak di sangka, tiba-tiba Yuni dari arah belakang melemparkan tutup panci ke arah kepala Martin.


"Cari dia sampai ketemu! Dia sedang mengandung cucu ku. Aku tidak mau kehilangan penerusku yang lain hanya karena kebodohan mu si@lan" geram Yuni.


"Papa tidak bisa membayangkan bagaimana hamil sendirian, entah bisa makan atau tidak di luaran sana!" ucap Hendra.


"Tenanglah jangan mengintimidasi ku. Sudah cukup Amora dan Susan menjauhiku tolong kalian sebagai orang tua berikan suport untuk ku. Ya aku salah dan sekarang Amora menganggap aku dan Susan seorang pembunuh tapi ini kesalahan ku bukan kesalahan Susan" ucap Martin sembari menangis cengeng seperti anak kecil.


"Maka dari itu sebagai seorang pria yang sudah mempunyai dua istri, kau harus bisa menyelesaikan masalahmu dengan semua istri-istrimu. Atau kau ceraikan Amora saja karena papa tahu dia sukar untuk memaafkan mu" ucap Hendra yang sudah pusing akan masalah yang di alami sang putra.


"Big no pa, sampa kapanpun aku takan menceraikan dia. Aku sangat mencintainya" jawab Martin.


"Terserah kau saja lah, aku pusing" Hendra langsung berlalu ke luar rumah.


¥


Di rumasakit, Marini sangat manja sekali dengan Pelix. Satu menit pun dia tidak mau di tinggal kan sampai membuat Elizabeth merasa risih dengan sang anak. Pelix terus di peluk, di dekap dan dia makan pun ingin di suapi oleh Pelix.


"Kamu kan bisa makan sendiri atau mama yang akan menyuapi mu" ucap Elizabeth sebal.


"No! Mama duduk saja . Aku hanya ingin bermanja dengan kekasihku"jawab Marini.


" Tak apa tanteu!" ucap Pelix.


"Maafkan anak tanteu ya nak Pelix?" Elizabeth merasa malu pada Pelix.


"Saya senang melakukannya" ucap Pelix sembari tersenyum.


Dia duduk di sisi ranjang rawat Marini, tiba-tiba ponselnya berdering dan tertera nama Vivid di sana.


"Ada apa?" tanya Pelix.


"Mas Pel, cepat kemari. Nyonya menangis mencari anda terus, dia dari tadi memanggil-manggil nama anda selalu. Cepat pulang ya mas, saya sama mas Billy kewalahan tidak bisa menenangkan dia" ucap Vivid panik.


"Baiklah aku segera kesana" ucap nya.


Marini dari tadi memperhatikan setiap gerakan dan ucapan Pelix.

__ADS_1


"Rin aku pamit sebentar ya" ucap Pelix.


"Tidak boleh! Kau pasti akan menemui wanita gila itu kan?" tanya Marini yang segera merekatkan pengangan pada pinggang Pelix.


"Tidak Rin! Perusahaan ku sedang dalam masalah. Aku harus segera kesana" ucap Pelix dengan nada selembut mungkin.


"Tidak boleh. Kau harus tetap di sini bersamaku. Perusahanmu kan bisa kau berikan tugas pada bawahan mu" rajuk Marini.


Elizabeth pun sangat jengah dengan kelakuan sang anak yang menurutnya tidak dewasa itu.


"Rin, izinkan Pelix pergi untuk mengurusi urusannya. Kamu jangan egois" tegas Elizabeth.


"Tapi ma!" ucap Marini seakan tidak rela jika sang pujangga pergi.


"Sudah tak ada tapi-tapian. Kamu disini dengan mama. Biarkan kekasihmu pergi sebentar" ucap Elizabeth.


Pelix pun akhirnya pergi menemui Amora.


Di rumah, Amora terlihat sangat kusut, dia tidak mandi karena dan tidak makan, karena pikirannya hanya tertuju pada Pelix.


Pelix langsung merangkul Amora dengan sayangnya.


"Sayang kamu kenapa, hem?" tanya Pelix.


"Kamu kemana sih sayang? Aku dari tadi mencemaskanmu" ucap Amora dengan nada manjalita nya.


"Hem maaf ya love, tadi aku pulang dulu ke rumah! Tunggu, tunggu! Kok ada yang bau asem ya?" ucap Pelix sembari mengendus-enduskan hidung nya ke ketiak Amora.


Amora terkekeh karena dia belum mandi sedari pagi.


"Hem, pantesan ada yang bau asem! Yasudah kamu mandi dulu sana atau aku yang akan memandikanmu, hem?" ucap Pelix dengan alis terangkat sebelah dan seringai nakal nya kambuh lagi.


"Sayang aku bukan bayi" ucap Amora yang langsung melangkahkan kakinya menuju kamar mandi.


Pelix duduk bergabung bersama Vivid dan Billy. Terlihat Vivid sangat lah kelelahan. Dia terus saja mengejar-ngejar Amora yang selalu berlari ke jalan, ke halaman belakang, bahkan ke atas genteng mencari Pelix. Dan yang lebih parahnya dia bertanya pada setiap kucing yang lewat menanyakan apakah mereka melihat Pelix.


"Sabar ya mbak cantik" ucap Pelix sembari mencuil dagu mungil ART itu.


Melihat wanitanya di goda Pelix, Billy langsung menghempaskan tangan Pelix dengan posesif nya.


"Jangan kau menyentuh wanita ku" sengit Billy.


"Owh jadi dia wanitamu ya?" tanya Pelix terkekeh.


"Valid, dia wanitaku. Jangan kau menyentuhnya lagi" ucapnya.


"Ishhhh,, jealous nikh. Tenang saja dia hanya milik mu" ucap Pelix.


"Mas Pel, kaki ku sakit. Dari tadi mengejar Mbak Amora terus. Mas Pel dari mana sih?" tanya Vivid sembari mengurut kakinya.


Billy dengan spontan meraih kaki Vivid lalu di naikan ke atas kakinya. Tangan kekar nya dengan telaten memijat kaki mungil Vivid.


"Gak usah mas Bill, gak apa-apa kok" Vivid sedikit malu karena Pelix terus menertawainya.

__ADS_1


"Kamu jangan banyak bicara" ucap Billy.


"Aku habis ke rumah Marini, mbak. Dia pun sama merajuk nya karena tidak mau di tinggal. Jujur saja aku pusing dengan ini. Wanita itu seakan tak mau jauh dari ku! Apa mungkin daya tarik ku terlalu kuat untuk kaum wanita ya, sampai mereka enggan lepas dari raga ini. Nasib seorang casanova ya begini beda dengan si jomblo yang satu ini" kelakar Pelix dengan jumawa nya sembari meledek Billy.


"Hei tuan casanova, kau terlalu jumawa. Aku juga sudah mendapatkan hati seorang gadis. iya kan honey bahkan sudah ku cium" ucap Billy membuat Vivid malu.


Vivid pun langsung menutup mulut Billy, hal itu membuat Pelix tertawa.


"Owh sudah sentuhan fisik ternyata~~Hahahaha" Pelix semakin senang menertawai dua insan itu.


Tak lama Amora datang menghampiri ketiganya dengan memakai piama bergambar tokoh kartun Hamtaro.


"Boleh aku gabung?" tanya nya.


"Tentu saja nyonya!" jawab Vivid.


"Hmmmm,, Aku lapar sayang" ucap Amora sembari mendudukan bokong padatnya di pangkuan Pelix. Sontak saja hal itu membangunkan pusaka keris naga bonarnya karena Amora duduk nya tidak bisa tenang.


"Ada yang mengembang tuh! Duh kenapa celanaku tiba-tiba sempit ya" sindir Billy yang melihat kegelisahan Pelix.


"Diam kau bodoh!“ ucap Pelix pada Billy yang menyindirnya.


Amora dan Vivid tidak mengetahui maksud dari sindiran Billy pada Pelix. Tak lama, Amora pun merasakan di bawah ada sesuatu yang mengganjal, keras nan besar.


" Pel, kamu?" tanya Amora yang sudah paham itu benda apa.


"Iya sayang" jawabnya dengan suara serak penuh gairah.


"Arghhhhhhhhhhhh besar sekali" ucap Amora yang langsung beranjak dari pangkuan Pelix dan berlari ke dalam kamarnya.


Billy tertawa terbahak melihat hal itu, tapi Vivid masih bingung. Lalu matanya melihat ke arah selah paha Pelix.


"Buset gede banget. Itu mah anaconda Brazil" ucap Vivid sembari berlari ke kamarnya.


Dua laki-laki itu kemudian tertawa terbahak-bahak.


"Padahal Amora sudah pernah merasakannya, bahkan sangat liar di ranjang" gumam Pelix.


"Bagaimana dengan kekasih mu yang kemarin?" tanya Billy.


"Entahlah, aku pun sangat bingung dengan sikap Marini sangat manja padaku" keluh Pelix.


"Jika seperti itu sangat sulit untukmu bisa meluangkan banyak waktu untuk Amora" timpal Billy.


"Iya begitulah" lirih nya.


"Bagaimana kalau Amora kita berangkatkan saja ke Penang, Malaysia untuk di rawat di rumasakit kejiwaan disana? Tempatnya friendly, dan tidak ada tekanan sama sekali. Kau juga bisa memesan ruangan terbaik disana supaya Amora bisa Relax dalam menjalani rehabilitasi jiwanya! Jika kau mau aku bisa atur kepergiannya." tutur Billy.


"Aku akan secepatnya memikirkan hal itu. Tapi jangan lupakan bahwa Amora masih punya suami. Bagaimana jika si bedebah itu tidak setuju Amora kita bawa ke Penang, Malaysia?" tanya Pelix.


"Kita akan sedikit memaksa! Lagi pula ini juga untuk kebaikan dia kan? dan kau sementara waktu bisa menjaga Marini sampai dia sembuh total" ucap Billy.


"Oke kita urus kepergian Amora. Jika Martin tidak menyetujuinya maka kita akan memaksanya" ucap Pelix.

__ADS_1


"Baiklah, Minggu depan Amora sudah bisa berangkat ke Penang, Malaysia bersama Vivid untuk menjaganya disana" ucap Billy.


"Kau memang selalu bisa di andalkan" Pelix terkekeh sembari menepuk pundak Billy.


__ADS_2