
Marini yang sudah duduk di dalam pesawat kelas bisnis kembali mengingat momen ketika bertabrakan dengan seorang pria. Suaranya mengingatkan pada seseorang yang dia cari selama ini.
"Hmmmm~~ Apa mungkin dia?" gumamnya dalam hati.
Tak berapa lama, seorang yang di pikirkannya tiba di pesawat yang sama dan duduk bersebelahan dengannya. Lelaki itu menyadari dan langsung menganggukan kepala.
Sementara Amora dan Martin juga menaiki pesawat yang sama dengan Marini dan Pelix.
Kemudian Marini langsung menyapa keduanya yang kebetulan tidak memakai masker sehingga keberadaannya langsung di ketahui.
"Anda?" tanya Marini sembari membuka maskernya.
Degggg!!! Tatapan Pria disebelahnya langsung fokus menatap Marini tak menyangka jika takdir mempertemukan nya diwaktu seperti itu.
"Marini! Betulkan dia?" tanya Pelix dalam hatinya.
Sementara Amora dan Martin langsung menyapa Marini.
"Hai dokter Marini, tak menyangka kita bertemu dalam satu pesawat" ucap Amora.
Sementara Pelix hanya diam mendengarkan pembicaraan mereka dibalik maskernya.
"Anda ke Singapore juga rupanya? Ada pekerjaan atau mau bulan madu" kekeh Marini.
"Kita hanya liburan saja dok" ucap Martin menimpali.
"Oke baiklah semoga liburan kalian menyenangkan" ucap Marini yang di balas senyuman Martin dan Amora.
Ketika mata Amora dan Pelix tak sengaja bertemu mereka saling pandang sejenak kemudian Pelix melengos dan menatap kedepan. Ada debaran yang aneh ketika bertemu dengan Marini kembali. Perasaan bersalah mulai hadir kembali tetapi melihat Marini dengan penampilan seperti ini membuatnya yakin jika kekasihnya dahulu sudah bisa melupakannya.
"Apa dia sudah menikah ya?“ gumam Pelix dalam hati.
Lamuannya segera di buyarkan ketika pesawat sudah mulai terbang. Pelix hanya diam dan sesekali mengamati Marini yang duduk di sampingnya.
" Sendiri saja?“ tanya Pelix.
"Hanya sendiri mas" jawab Marini singkat.
"Apa keluarganya tak ikut bersama?" tanya Pelix lagi.
Pertanyaan dari orang sebelahnya membuat Marini sedikit tak nyaman.
"Apasih dia sok kenal banget padahal gak kenal sama sekali" gumamnya dalam hati.
"tidak mas" jawab Marini ketus.
Mendengar jawaban ketus lawan bicaranya membuat Pelix terkekeh.
"Suaminya kemana mbak?“ tanya Pelix.
__ADS_1
"Mas dari pada anda terus bertanya pada saya mendingan anda fokus untuk menikmati penerbangan ini" ketus Marini.
"Maaf" ucap Pelix singkat.
Sementara di kursi penumpang sebelah, Amora dan Martin hanya diam tak bersuara.
Ketika Pelix merasakan lengannya sedikit pegal, dia memijitnya dan terangkatlah sedikit bagian lengan dan menampilkan tato di tangannya yang bertuliskan "RIPEL" yang berarti Rini dan Pelix. Sontak membuat Marini tersentak pasalnya tidak ada yang punya tato itu selain Pelix. Tetapi Marini tidak mau gegabah dan berujung malu di akhir! Dia terus saja mengamati Pelix dari mulai mata dan tubuhnya! Marini yang masih belum yakin mencoba menanyakan sesuatu pada seseorang di sebelahnya.
"Hmmmmm~~ Tato mu bagus!" seru Marini.
" Ya lumayan. Dulu saya membuatnya dengan pacar saya" jawab Pelix.
"Oya!! Sekarang kenapa dia tak ikut dengan mas?" tanya Marini.
"Dia ikut kok" jawabnya santai.
"Oya!" ucapnya singkat.
Kemudian setelah mengudara kurang lebih tiga jam akhirnya mereka sampai di bandara Changi Singapore
Di pintu keluar bandara, Martin dan Amora sempat menyapa Marini untuk bergabung di mobil jemputan nya tetapi Marimi menolak dengan halus.
"Dokter mau bareng dengan kita? Hotel nya dimana biar kami antarkan!" ucap Martin.
"Hmmmm~~ Terimakasih sebelumnya tetapi saya sudah ada janji dengan kerabat yang akan menjemput saya disini" ucap Marini.
"Kalau begitu kami duluan ya dok" ucap Amora.
"Baiklah silahkan" ucap Marini.
Amora pun berlalu bersama sang suami menuju mobil jemputan.
Sementara Marini hanya mematung sendiri karena belum ada mobil jemputan. Tiba-tiba tangan seseorang merengkuh lengannya Marini dengan keras.
"Ikut aku" ucap suara bariton pria itu.
"Kamu?“ tanya Marini.
" Ikut aku sekarang" ucapnya.
Marini hanya menurut saja sampai mereka memasuki sebuah mobil mewah. Tak ada percakapan diantara mereka hanya hening yang menyelimuti. Lalu berhentilah mobil itu di kawasan hotel mewah.
Marini tak banyak bicara hanya menurut saja ketika tangannya terus di pegang oleh seseorang yang di jumpainya tadi di pesawat yaitu Pelix. Tibalah di sebuah kamar hotel bintang tujuh yang sangat mewah.
"Silahkan duduk" ucap Pelix.
Marini pun duduk di balkon hotel dengan anggunly.
__ADS_1
"Kenapa kamu tidak bertanya kenapa saya membawamu kemari?" tanya Pelix.
"Kenapa saya harus bertanya?" tanya Marini balik.
"To the point saja Pelix" ucap Marini.
Deg jantung Pelix berdebar ketika mendengar Marini menyebutkan namanya.
"Aku tak menyangka kamu akan ingat dengan ku" ucap Pelix sembari membuka maskernya.
"Ku takan lupa dengan lelaki yang meninggalkan kekasihnya ketika telah selesai bercinta" ucap Marini kelu sembari menyulam butir-butir air mata.
Wajahnya yang sudah merah padam tak kuasa menaham amarah. Amarah yang di pendam selama bertahun-tahun akhirnya tumpah saat itu juga.
"Maafkan aku Rin" ucap Pelix kelu.
Hanya itu yang bisa Pelix ucapkan.
"Maaf katamu? ucap Marini dengan mata nyalang.
" Maaf untuk apa Pel? Maaf karena sudah menghancurkan hidupku atau maaf karena sudah meninggalkanku ketika ku masih lemah sesudah kamu tiduri~~ hikhikhhik" ucap Marini dengan tangis menggema di kamar hotel itu.
Pelix langsung merengkauh tubuh Marini yang lunglai di bawah lantai dan mendekapnya. Tetapi Marini meronta ingin lepas dari pelukan Pelix, tetapi Pelix tak mengizinkannya.
"Aku salah dan aku berhak di salahkan. Kamu boleh melakukan apapun terhadapku Rin. Pukul aku sampai kamu puas Rin" ucap Pelix dengan bertitik air mata.
Hatinya begitu hancur melihat keadaan Marini yang sedang meronta dalam tangisan.
"Aku memang pengecut saat itu aku akui" ucap Pelix kembali.
Marini masih menangis dalam pelukannya dan sesaat melepaskannya.
"Kamu berhutang penjelasan padaku! Kamu tahu saat itu adalah titik terendah dalam hidupku, aku tak ubahnya seorang lont* yang sudah di tiduri lalu di tinggal pergi begitu saja seperti sampah" tegasnya.
"Aku akan jelaskan semua nya sekarang tolong tenang dan dengarkan" ucap Pelix sembari menjelaskan kronologi waktu itu kenapa dia meninggalkan Marini sesudah bercinta.
POV Pelix
Hari ini tepat aniv hubungan ku dengan Marini yang kesekian tahun. Aku akan mengajak nya ke villa milik paman Ken di puncak. Sesampainya disana kami makan malam dengan romantis dan aku mengutarakan niatku untuk mengajanya pergi ke Canada besok pagi. Tetapi dia menolak dengan alasan jika besok hari kelulusannya! Akupun mengerti dan bisa menerima keputusannya. Sesudah kami makan malam bersama, aku mengajaknya ke kamar untuk menuntaskan hasrat ku yang sedari lama tertahan walau kami belum menikah. Akhirnya kami melakukan itu atas dasar suka sama suka walau awalnya aku sedikit memaksa. malam itu kami melakukannya dengan sangat liar. Seisi kamar hanya terdengar ******* yang saling bersahutan hingga aksi panas malam itu selesai. ketika kami sedang merasakan kelelahan dengan peluh bercucuran tiba-tiba ponsel ku berbunya dan terlihat nama kakek Leon yang memanggilku.
"Hallo kek!" ucap Pelix.
"Dimana kau sekarang? Cepat kita pergi ke Canada sekarang! Playing duchman tertangkap polisi dan dia menyebut nama genx kita di hadapan polisi dan sekarang polisi sedang memburu kita. Dan ingat satu hal jauhi kekasihmu yang bernama Marini itu, dia itu kerabat dari orang yang bernama Shin Tae Young. Pengusaha yang kita bunuh karena tidak mau mengeluarkan dana untuk kepentingan kita. Pergi sekarang kalau kau tak ingin di penjara" tegas kakek Leon.
Dengan Berat hati aku pun pergi meninggalkan Amora yang masih terbaring dengan keadaan tanpa busana sehelai pun. Dia terus meronta untuk aku tak meninggalkannya tetapi aku tetap pergi. Sebelum aku pergi dari villa itu, aku menghubungi mang Udin untuk mengantarkan Marini pulang. Berbulan-bulan aku tinggal di Canada dak akhirnya aku pulang ke Indonesia untuk mengunjungi sekaligus meminta maaf pada Marini tetapi yang kutemui saat itu adalah ibunya yang bernama Elizabeth. Beliau tidak menyambutku dengan ramah dan menghinaku saat itu juga.
"Dengan apa kamu bisa membahagiakan Marini hah? Dengan motor bututmu ini? Saya hanya mau anak saya menikah dengan orang yang selevel dengan kami. Jangan pernah temui lagi anak saya karena satu bulan lagi dia akan menikah" tegas Elizabeth angkuh dan memandang rendah Pelix saat itu.
Saat itu juga aku merasa di sambar oleh berjuta-juta Volt listrik. Pilu rasanya mendengar wanita pujaanku akan menikah. Aku pun memutuskan untuk berhenti mengharapkan Marini lagi.
__ADS_1