
Kondisi Marini semakin membaik dan dia di perbolehkan untuk pulang dari rumasakit.
"Pelix kemana ma?" tanya Marini pada sang ibu.
"Entahlah mana mama tahu" jawab Elizabeth singkat.
"Tunggu dia datang ya ma, baru aku pulang dari sini ( Rumasakit ).
"Tidak! Kau pulang dengan mama dan jangan membantah.
Marini pun hanya mencebik kesal pada sang mama karena tidak di perbolehkan menunggu Pelix terlebih dahulu.
Di sepanjang perjalanan menuju parkiran mobil, mata Marini terus saja melihat-lihat seseorang tapi tak kunjung dia temukan.?
" Dia tidak ada disini Rin. Dia sudah pergi ke luar negri"ucap Elizabeth.
"Mama tau apa yang ku cari?" tanya Marini.
"Ricky kan yang kamu cari?" Elizabeth balik bertanya dan seakan mengetahui semua isi hatinya.
"Ya ma, dia yang aku cari. Biasanya selalu semangat mengantar ku" lirih Marini.
"Kena kau anak bucin! Skenario ku mulai ada kemajuan dan semoga berhasil. Nak Ricky lihatlah Marini mulai mencarimu~~hehe" gumam Elizabeth dalam hatinya
"Dia kan sudah pergi dan mungkin lelah juga mengharapkan wanita yang bucin dan keras kepala. Yasudah sih kekasih mu kan Pelix, tapi dia tidak ada menjemputmu" Elizabeth mengatakan itu dengan nada yang ketus.
Setengah jam membelah jalanan, akhirnya Marini dan sang mama sampai di rumah.
Marini mengantar sang mama ke kamarnya dan sesudah itu dia pun masuk ke kamarnya.
Dia langsung merebahkan tubuhnya di atas ranjang kesayangannya. Marini berfikir tindakan yang dia lakukan kemarin sangatlah konyol. Bagaimana dia memanjat menara sinyal dan sejengkal lagi dia mengakhiri hiduonya sendiri hanya gara-gara seorang Pelix. Tapi rasa cintanya pada laki-laki gagah itu sangatlah besar! Dia takut jika tidak bisa Memiliki Pelix seutuhnya. Dan lagi-lagi Ricky yang menyelamatkannya dan menolongnya, dia pun sampai lupa berterimakasih pada pemuda rupawan itu.
Di lihatnya ponsel pintarnya, tidak ada satupun pesan dari Ricky yang masuk pada Whatsap ataupun medsos dia yang lainnya.
"Kemana dia? Apa dia sudah benar-benar marah padaku?" tanya nya pada diri sendiri.
Marini pun menelepon Ricky, namun Ricky selalu menolak panggilan dari Marini membuat dia jengah.
"Angkat panggilan ku sebentar, please" pesan memohon yang di kirimkan oleh Marini.
Ricky tak menggubris pesan itu, dia hanya membukanya.
"Centang biru tapi tidak di balas" gumamnya sembari menghembuskan nafas kasar ke udara.
¥
Siang ini, Martin dan kedua orang tuanya hendak menemui Amora dan membujuk agar dia mau memaafkan Martin dan kembali menjalin pernikahan yang sempat tak baik itu. Martin tak henti-hentinya mematut dirinya dengan penampilannya supaya sang istri terkesima. Tetapi dia juga saking nervous nya berapa kali bolak-balik ke kamar mandi karena perutnya menjadi mules! Kadang ingin BAB kadang ingin kencing atau sekedar ingin kentut saja.
"Repot sekali kamu!" ucap Yuni tak kala melihat Martin terus saja ke kamar mandi.
"Aku gugup ma!" jawab Martin.
__ADS_1
"Relax, kita akan mencari jalan terbaik dan jika terjadi sesuatu yang buruk pun bagi rumahtangga kamu, mama harap kamu bisa menerimanya dengan lapang dada karena kesalahan mu begitu besar kepada Amora" Yuni memberikan sedikit kata-kata agar Martin tidak akan kecewa dengan hal apapun di depan sana.
"Aku masih berharap Amora mau memaafkan ku ma" jawab Martin.
"Semoga saja!" ucap Yuni.
Perjalanan di tempuh dengan waktu 15 menit. Sebuah rumah yang selalu menjadi tempat yang jarang di singgahi akhirnya dia masuki kembali. Terlihat Vivid dan Billy sedang sibuk dengan pekerjaan masing-masing.
Suatu pemandangan yang membuat hati Martin tersayat adalah melihat Amora sedang menciumi wajah Pelix dengan gemas. Seketika darahnya mendidih.
"Brengsek! Apa-apaan ini?" Martin langsung menarik tubuh Amora ke dalam dekapannya.
Seketika Amora berteriak dan menangis.
"Pembunuh! Pergi kau dari sini pembunuh. Kau dengan si ****** itu sudah membunuh anak dan ibu ku kau harus membayarnya. Hahahahaha, lihatlah suamiku wajahmu seperti kambing. Hus-hus jangan mendekat" Amora kambuh lagi depresinya kala melihat Martin.
"Ada apa dengan Amora?" tanya Hendra bingung dengan kelakuan menantunya.
"Eh ada mertua! Hehehehe, Mama dan papa pasti ingin mengunjungi cucu kembar kan? Tapi sayangnya belum lahir sudah meningal" ucap Amora yang kemudian menangis lagi.
"Amora depresi om!" ucap Pelix tiba-tiba.
"Apa depresi? Sejak kapan? Kenapa tidak ada yang mengatakan nya pada kami?" tanya Hendra yang langsung lemas hingga badan gemuknya pangsung melorot di lantai.
"Amora depresi sejak pulang dari rumasakit! Seperti yang kalian ketahui Amora seperti ini karena tidak bisa menerima kematian anak dan ibunya secara bersamaan. Ini semua karena ulah dia" Pelix memberi penjelasan dan seketika menunjuk wajah Martin dengan Murka.
Brughhhhh!!! Sebuah tonjokan penuh cinta mendarat di wajah Martin membuat dia terjengkang ke belakang.
"Kau tidak tahu apa yang aku rasakan? Dan aku masih punya hak atas Amora! Dia istriku" balas Maetin dengan sengit.
"Pembunuh kau. Mana si ****** itu? Mana wanita pelakor itu aku akan bunuh dia. Hahaha,, suami ku menikah lagi, suamiku menikah lagi" racau Amora membuat hati Martin dan kedua orang tuanya sangatlah sakit.
"Sayang maafkan aku. Tolong rajutlah kisah indah pernikahan kita lagi ya? Kamu mau kan sayang. Kita mulai dari awal lagi!" bujuk Martin.
"Kau siapa mengajak ku seperti itu? Suamiku itu Pelix bukan kamu..Oh ya aku ingat kamu kan suamiku juga, ya suamiku juga yang sudah membunuh anak dan ibukuHuhuhu" Amora kembali menangis.
"Aku suamimu sayang" Martin terus saja membujuk Amora.
"Mbak, bawa Amora ke kamar" ucap Pelix yang segera di angguki oleh Vivid.
"Kau seharusnya tidak mencampuri urusan rumahtanggaku bodoh! Amora itu istrku" sentak Martin yang langsung meraih kerah baju Pelix.
"Tapi aku yang merawatnya dan kau tidak ada disisinya. Bahkan keberadaan Susan pun kau tak tahu kan? Hahaha,, Aku yakin kau takan menemukan Susan" seringai Pelix dengan nada ejekan.
"Apa kau menyembunyikan istriku?" tanya Martin sangat geram.
"Hahahah Kalau iya, lantas kau mau apa? Menyembunyikan wanita lugu itu bukan hal yang sulit buatku" tawa Pelix membahana.
"Bedebah kau jahanan! Kau menguasai Amora di atas depresinya, sekarang kau menyembunyikan Susan! Dimana sekarang dia sedang mengandung anakku" desak Martin.
"Ceraikan Amora, maka ku akan beritahukan Susan dimana“ ucap Pelix.
__ADS_1
Semua orang yang ada di sana sangatlah terkejut mendengar kata-kata dari Pelix.
" Tak akan seujung kuku pun. Amora hanya miliku" ucap Martin dengan tegas.
"Ya ya ya!! Kau memang suaminya, tapi kau bisa apa dengan keadaan Amora yang depresi parah bahkan mendekati gila! Kau bisa apa? Aku tegaskan sekali lagi ceraikan dia. Ini semua untuk kebaikannya jika dia terus bersamamu maka jiwanya tidak akan sembuh" ucap Pelix sedikit mengancam.
"Benar itu! Mama minta kamu ceraikan Amora karena mama kasian dengan dia! Anggap saja perceraian ini sebagai alasan permintaan maaf terhadap Amora" ucap Yuni.
"Papa setuju. Kamu tidak akan bisa menyembuhkan depresinya Amora! Papa mohon kamu jangan egois Tin! Amora seperti ini itu gara-gara ulah mu" timpal Hendra.
"Aku tidak mau bercerai pa, Aku akan bawa Amora ke rumasakit jiwa terkenal di luar negri supaya Amora bisa kembali sembuh. Aku akan membawa dia menemui psikiater terbaik yang ada di Korea Selatan" Martin berusaha menyakinkan semua orang karena dia tidak ingin bercerai dengan Amora.
"Lalu bagaimana dengan Susan? Pikirkan dia sedang mengandung anak mu, cucuku! Apa kau ingin kehilangan dia juga? Hidup dan pekerjaan mu sangat terasa sulit jika kamu terus bertahan dalam situasi seperti ini. Terkadang hidup itu harus berkorban demi kebaikan" Hendra terus saja menasihati Martin supaya tidak egois.
"Hatiku sangat berat ma/pa! Aku sangat mencintai Amora bahkan separuh hidupku adalah Amora" ucap Martin sudah terbata- bata sembari menahan tangisnya.
"Kau harus kasian terhadap Amora dan Susan! Susan dan Anaknya juga tanggung jawabmu jangan lupakan itu. Anak mama pasti bisa legowo memutuskan sesuatu" ucap Yuni sembari menangis.
"Mbak, panggil Amora kemari!" perintah Hendra.
Vivid pun menuruti perintah itu dannlangsung berlalu membawa Amora.
Terlihat penampilan Amora yang menyedihkan, Hendra segera memeluk Amora dengan sayangnya sembari membelai rambutnya.
"Amora, maafkan papa dan mama karena tidak bisa mendidik Martin menjadi pria bertanggung jawab. Maafkan kami juga karena telah menjodohkan mu dengan anak kami. Papa sangat menyanyangimu nak! Kamu sudah papa anggap seperti anak sendiri" Hendra menangis sembari memeluk Amora.
Yuni pun ikut memeluk Amora dan menangis sesegukan disana. Amora hanya tersenyum kaku.
"Martin kemari!" seru Yuni.
Martin berjalan menghampiri Yuni dengan langkah yang berat.
"Kamu sudah menghukum Amora sedemikian rupa, dari awal pernikahan sampai sekarang. Kini saatnya kamu berbaik hati dan harus rela melepaskan Amora. Biarkan dia hidup bersama orang lain" ucap Yuni dengan suara terisak sembari memegang kedua pundak sang putra.
"Tapi ma~~" lirihnya.
"Kesalahan mu sudah sukar di maafkan nak! Bersikaplah yang jantan, Amora berhak bahagia" lirih Yuni.
"Baiklah aku akan melakukannya" jawab Martin mantap.
Martij berjalan ke arah Amora yang sudah sedikit berontak.
"Tenanglah sayang, kamu akan segera lepas. Silahkan hidup bersama pria pilihanmu. dan semoga secepatnya kamu bisa normal kembali" ucap Yuni sembari mengecup kening Amora.
Martin sudah berada di hadapan Amora. Matanya sudah di basahi oleh air mata, bibirnya sukar sekali untuk bersuara. Pelan-pelan tangannya terangkat menyentuh kepala Amora.
"Aku suami dari engkau wanita yang bernama Amora, malam ini dengan sadar dan tanpa paksaan menalak mu dengan talak dua! Mulai malam ini kau bukan lagi istriku secara hukum agama" Ikrar pedih yang di ucapkan Martin membuat kedua orang tua nya dan Vivid menangis.
"Untuk masalah harta gono gini, aku akan memberikan rumah ini padamu beserta peternakan, mobil, dan uang empat milyar padamu. Biarkan urusan perceraian di pengadilan agama aku akan mengurusnya sendiri kau tak perlu datang. Aku tidak menuntut apa-apa darimu. Aku hanya minta kau memaafkan ku Amor" ucapnya dengan air mata menetes deras.
Ada rasa sesak di hati Amora yang paling dalam, dia hanya mengangguk dan menyunggingkan senyum kelunya.
__ADS_1
Sesudah itu, Martin langsung pergi dari rumah itu.