
Pelix pun memasuki rumah Amora dan terlihat sudah lebih baik dari sebelumnya. Pelix terlihat menenteng tas kecil yang di dalamnya resep dokter. Martin yang sudah tiba lebih dulu langsung memberondongnya dengan pertanyaan.
"Pel gimana sekarang keadaan mu?“ tanya Martin.
" Sudah agak baikan Tin sekarang, tapi masih sedikit pusing" jawab Pelix.
"Duduk lah broo jangan berdiri seperti itu. Aku ingin tanya sesuatu!" ucap Martin.
"Wanita yang tadi siapa?" tanya Martin.
"Dia pacarku" ucap Pelix spontan.
"Sleramu bagus juga. Cantik banget duh" ucap Martin pelan tetapi masih terdengar jelas oleh Amora.
"Cantik siapa yang cantik hah?" tanya Amora sembari bersidekap kedua tangannya ke depan.
"Eh anu~~ Cantik iya kamu lah yang cantik Amor" balas Martin sembari menggaruk kepala yang tak gatal.
Martin yang tak melihat jelas sosok wanita itu tak bisa menebak jika itu adalah Marini.
Disaat sedang mengobrol datanglah Vivid membawa brownies.
"Walllllaaaaa~Brownies ala chef Vivid siap di hidangkan" ucap Vivid.
Dia segera menoleh ke arah Pelix yang masih sedikit pucat.
"Mas Pel gantengnya akuhh, gimana sudah sembuh?" tanya Vivid sambil meraba kening dan dada Pelix dengan manja.
"Mendingan mbak" jawab Pelix sekenanya.
Martin yang melihat itu tak habis pikir di buatnya.
"Vid kok kamu heboh banget ngeliat Pelix?" tanya Martin.
"Hehe☺ maaf tuan habisnya saya khawatir sama mas Pel" jawabnya.
"Kamu waktu saya sakit kok gak seheboh ini malah acuh saja?" tanya Martin.
"Duh Tuan kalau saya heboh sama anda kan Nyonya Amor bisa-bisa marah dan cemburu. Di kira saya pelakor kan ngeri" tutur Vivid.
Semua orang yang mendengar itu menjadi tertawa dan mereka memakan brownies bersama-sama.
Pagi itu Martin mendapat kabar bahwa ada seorang wanita yang sudah dua hari selalu mengawasi kantor pengacaranya dan tertangkap basah oleh satpam tetapi wanita itu tidak mengaku dan hanya bilang bahwa dia sedang menunggu seseorang.
"Aku pergi sekarang ada urusan" ucap Martin pada Amora.
"Masih Pagi sekali mas mau ngapain kantor juga belum buka kan?" tanya Amora.
"Tenang aku punya kunci cadangannya. Aku harus mencari tahu ada seorang wanita yang mengawasi kantor ku" ucap Martin.
__ADS_1
"Yasudah mas hati-hati di jalan" ucap Amora sembari menyalimi tangan sang suami.
Di kantor Martin melihat dari balik kaca ada seorang wanita yang berdiri dekat pohon sambil menatap kantor Martin. Wanita itu tidak di ketahui siapa lantaran dia memakai masker dan kerudung segi empat.
"Siapa wanita itu aku harus menghampirinya" ucap Martin.
Martin kemudian berjalan melewati koridor dan sampailah di belakang wanita itu. Martin langsung menepuk punggung wanita itu dan membuat dia terkejut.
"Maaf anda sedang apa disini?" tanya Martin.
Wanita itu hanya memandsng Martin dan langsung berlalu tanpa berkata apa-apa.
"Siapa wanita itu kenapa prilakunya sedikit aneh" gumam Martin.
Pada saat Martin sedang duduk di ruangannya dan netra nya memandang luar jendela wanita itu terlihat lagi berdiri mematung mengamati kantor Martin.
"Sebenarnya dia siapa sih apa mungkin dia sedang memata-mataiku" Martin bermonolog.
Kemudia dia segera menelpon semua keamanan kantor nya dan memberitahu ada wanita itu lagi harap berhati- hati dan terus waspada.
Hari pun berganti jadi senja. Martin segera berlalu dari kantornya untuk pulang. Ingatannya tak lepas dari wanita misterius itu yang selalu berdiri di dekat pohon depan kantor pengacaranya. Sedang konsen menyetir tiba-tiba sesuatu menabrak mobil Martin.
Brughhhhhh.
"Ya tuhan apa itu?" ucap Martin yang segera keluar dari mobilnya untuk mengecek.
Dan betapa terkejutnya ternyata yang dia tabrak adalah wanita yang ada dalam fikirannya. Kemudian wanita itu merintih dan mengatakan sesuatu:
Martin pun membawa wanita itu kedalam mobilnya. Di dalam mobil wanita itu menangis dan terlihat ada genangan darah di pelipisnya.
"Nyona maafkan saya. Sungguh tak sengaja menabrak anda" ucap Pelix.
"Bawa saya pergi dari sini" ucap wanita itu dengan diiringi suara tangisnya.
"Anda kan yang selalu diam mengawasi kantor saya bukan? Ada apa sebenarnya kenapa anda mencurigakan?“ tanya Martin.
" Bawa saya pergi dari sini" ucap wanita itu tanpa berkata yang lainnya.
Martin pun hendak membawa wanita itu ke rumasakit namun wanita itu menolak dan hanya berkata:
"Bawa saya pergi dari sini" ucapnya membuat Martin jengkel.
Martin kemudian membuka paksa masker itu dan bertapa terkejutnya wanita itu ternyata bagian dari masalalu Martin. Pantas saja selama ini dia selalu mengawasi kantor Martin.
"Susan? Ini kamu?“ tanya Martin sembari mengguncangkan bahu Susan.
Susan hanya menangis
__ADS_1
" Siapa yang melakukan itu Sus?"
"Apa ini alasan kamu selalu mengawasi kantorku?"
"Jawab Sus jangan diam saja" ucap Martin dengan memberondong beberapa pertanyaan.
Kemudian susan menarik nafas panjang dan mulai bercerita.
"Tin aku sakit~Hikhikhik" lirih Susan dengan tangisnya.
"Menangislah Sus menangis sampai kamu merasa puas. Aku akan mengajakmu ke hotel untuk bercerita lebih dalam padaku. Aku takan apa-apa hanya ingin tahu kenapa kamu seperti ini.
Dia segera menelpon Amora kalau malam ini dia tak pulang karena sedang ada pekerjaan yang penting.
Sesampainya di hotel Martin segera mengajak Susan ke salah satu kamar untuk dia bercerita dengan lepas.
" Sekarang coba kamu ceritakan apa yang buat wajahmu luka seperti ini" tegas Martin.
"Aku seperti ini karena ulah suami dan keluarganya. Aku belum bisa memberikan anak pada suamiku hingga mereka mengataiku wanita mandul. Suamiku selingkuh dia banyak meniduri wanita-wanita malam berharap salah satunya bisa hamil dan memberikan dia anak dan aku harus sudi merawatnya. Aku pun dengan keras menolak dan akhirnya dia memukuli ku. Aku mengadu pada keluarganya dan mereka malah menyalahkanku atas dugaan kemandulanku. Hingga suatu saat kami memeriksa kesuburan pada dokter dan ternyata suamiku lah yang mandul dan sama sekali gak bisa memiliki keturunan. Dia marah sekali dan aku lah yang menjadi pelampiasan kemarahannya. Setiap hari dia memukulku dan setiap malam meniduri wanita panggilan hingga suatu hari dia terkena penyakit
HIV/AIDS hingga meninggal dunia dua minggu yang lalu. Keluarganya begitu terpukul atas kematian suamiku dan mereka menuduhku atas kematiannya lalu mereka semua memukuliku sampai aku seperti ini" tutur Susan dengan deraian air mata.
"Aku tak menyangka hidupmu akan semengenaskan itu Sus. terus alasan kamu selalu berdiri di depan kantorku untuk apa?" tanya Martin.
"Aku ingin sekali menemuimu dan meminta pertolongan tetapi aku takut kau akan mengacuhkanku setelah dulu ku meninggalkanmu Tin. Maafkan aku!" lirih Susan.
"Jadi itu alasannya? Aku sudah memaafkan mu Sus. Bagaimanapun aku yang salah saat itu. Aku akan bantu sampai kamu mendapatkan keadilan seadil-adinya. Besok kita visum luka kamu ke rumasakit untuk jadi bukti utama. Sekarang kamu harus makan dan istirahat. Sementara kamu tinggal dulu disini untuk dua hari. Lusa aku akan bawa kamu ke apartemen ku. Kamu bisa tinggal disana" ucap Martin dengan nada simpati.
"Terimakasih Tin, Kamu sungguh baik dari dulu padaku. Padahal aku sudah meninggalkanmu di saat kamu bangun dari kecelakaan waktu itu. Terimakasih untuk semuanya" lirih Susan.
Martin langsung memeluk Susan dan menenangkannya.
"Tenanglah kau aman disini bersamaku" ucap Martin sembari mengusap-usap punggung susan agar dia tenang.
SEKILAS TENTANG SUSAN.
Susan Berliana merupakan cinta pertama Martin sejak kuliah sampai terakhir Martin mengalami kecelakaan. Saat itu Martin amatlah terpukul atas musibah yang menimpanya. Sikapnya jadi tempramental kepada siapaun tanpa terkecuali kepada kekasihnya saat itu yaitu Susan. Pernah satu waktu susan membawakan semangkuk bubur hangat untuk Martin di kamarnya tetapi bukannya di terima dia malah melempar mangkuk bunur itu hingga tercerai kemana-mana dan pecah berkeping-keping, hal itu membuat Susan sedih dan kecewa.
"Aku tidak sakit Sus. Jangan perlakukan aku seolah menjadi pesakitan aku ini normal" ucap Martin yang saat itu berpangku pada kursi roda.
Saat itu Martin mengalami kelumpuhan dan orang tuanya sedang ada di Argentina untuk bekerja dan tak bisa pulang alhasil perawatlah dan Susan yang mengurusinya.
"Kamu sakit Tin kamu harus terima itu" ucap Susan.
"Oh jadi kamu menganggapku pesakitan hah? Tunggu sampai kaki sialan ini normal lagi aku tak sudi di perlakukan seperti ini. Pergi kamu Sus dari hadapanku. Aku tak butuh wanita yang mengasihaniku. Pergi sekarang aku muak denganmu" ucap Martin.
"Kamu mengusirku Tin? Setelah apa yang ku lakukan padamu selama kau sakit. Mana rasa terimakasih mu Tin, jahat sekali" ucap Susan.
"Pergi dasar wanita sialan. Kau senang kan melihatku seperti ini agar bisa pacaran dengan lelaki lain?" ucap Martin sembari mengacungkan telunjuk pada wajah Susan.
__ADS_1
"Lelaki tak tahu di untung. Aku pun akan pergi tanpa kau usir seperti sampah. Najis" bentak Susan sembari berlalu.
Martin yang saat itu merasa menyesal dengan apa yang sudah dia lakukan tiba-tiba mendapatkan kabar jika Susan sudah menikah dengan lelaki yang bernama Ricko Brini membuat Martin sangat terpukul dan meratapi.