
Amora sudah satu minggu tinggal di rumah Kaisyah, Mereka disana memperlakukan Amora dengan sangat baik apalagi Camilla yang senang karena dia merasa tidak kesepian lagi. Tapi ada satu orang yang kesal, tak lain dan tak bukan itu adalah Pelix karena dia tidak bisa bermesraan dengan Amora.
Kaisyah melarangnya karena mereka belum halal.
"Jadi kapan kalian akan menikah dan memberi ayah cucu?" tanya Jhonson.
"Malam ini aku siap!" jawab Pelix asal.
Jhonson pun kesal dan melemparkan kotak tisu ke arah Pelix.
"Aku tidak becanda! Aku sudah tak sabar menimang cucu" ucapnya.
"Ya sabar! Tunggu suasananya kondusif dulu" jawab Pelix.
Tiba-tiba raut wajah Jhonson sendu.
"Kenapa ayah sedih?" tanya Camilla.
"Ayah hanya ingat dengan paman Ken adiku! Aku tidak tahu dia sekarang bagaimana keadaanya. Walau kelakuannya di luar nalar tapi di tetap adiku" ucapnya sendu.
"Semua yang terjadi padanya hasil dari keinginan dia sendiri. Kurang nya strategi dan sogokan pada aparat membuat aksi kejatan bisa terungkap dengan mudah" Pelix berusaha menjelaskan agar sang ayah tidak terlalu cemas.
"Yasudah kalian istirahat lah ini sudah malam" ucap Jhonson yang langsung menggandeng Kaisyah menuju kamar.
"Yuk kita tidur sayang!" ucap Pelix sembari menuntun tangan Amora namun segera di hentikan oleh Kaisyah.
"Mau apa Kak? Kakak belum boleh tidur bersama" ucap Kaisyah.
"Bun masa aku tidur sendiri sih. Takut bun!" rengek Pelix seperti anak kecil.
"Alasan saja itu sayang! Dasar bocah tua" ledek Jhonson.
"Boleh ya bunda! Please" Pelix terus saja merengek.
"No! Amora tidur di kamar tamu, kakak tidur di kamar Hendri. No debat!" tegas Kaisyah.
"Yasudah bun aku antar dulu Amora ke kamarnya ya" ucap si modus Pelix yang tak akan menyerah.
"Kakak nakal ya!" ucap Kaisyah sembari menjewer telinga Pelix.
"Sakit bun! Cuma mengantar Amora saja kok habis ini langsung kembali ke kamar" ucapnya mengiba.
"Jangan biarkan sayang! Aku tahu dia hanya modus. Kita jangan kasih dekat-dekat dengan Amor takut kebablasan" ucap Jhonson.
"Kakak gelagatmu sudah terbaca oleh Ayah" Camilla menimpali sembari tertawa meledek.
"Kalian semua tidak adil padaku" ucapnya sebal.
Mereka semua pun pergi ke kamar masing-masing.
Di dalam kamar, Pelix tak bisa tidur! Badannya hanya berguling-guling seperti cacing kepanasan. Rasa untuk menemui Amora sudah tidak terbendung lagi, dia pun mengendap-endap berjalan ke kamar Amora.
"Amor sayang, buka pintunya ini aku!" ucap Pelix setengah berbisik.
Tak ada sahutan tetapi Pelix tidak menyerah.
__ADS_1
"Amor sayang buka pintunya" bisiknya di depan pintu.
Tak lama, Amora pun membuka pintu kamar itu dengan sedikit kesal karena dia sudah sangat mengantuk.
"Apa sih Pel? Aku ngantuk sekali!" ucapnya.
"Aku mau tidur sama kamu! Kamar ku banyak kecoa. Aku fobia kecoa! Bolehya?" Pelix memohon dengan sedikit sandirwara.
"Nanti ayah dan bunda tau bagaimana?" tanya Amora was-was.
"Tenang saja mereka sudah tidur, Camilla juga sudah tidur" ucap nya sembari masuk ke dalam kamar Amora.
"Jangan berbuat yang aneh-aneh ya!" Amora member ultimatum pada Pelix.
"Gak janji sih" ucapnya sembari nyengir kuda dengan wajah tanpa dosa.
"Ishhhh, kau ini. Mungkin kalau kita di rumahku kau bisa kapan saja tidur dan bercinta tetapi disini ada ayah, bunda dan adikmu. Kita tidak bisa bebas melakukan itu" tutur Amora.
"Ya aku tahu! Tapi gimana dong ini sudah tak tahan" ucapnya sembari menunjuk Anacondanya yang sudah tegak secara sempurna.
"No!" ucap Amora spontan menolak.
"Kepalanya aja yang masuk ya? Boleh ya please" rengek Pelix.
"Gak ya! Sudah lah aku ngantuk" ucapnya sembari merebahkan tubuhnya di kasur.
Pelix pun tidak memaksa, dia kemudian pergi ke kamar mandi untuk bersolo karir.
¥
"Akh kenyang juga!" ucapnya.
Tetapi tak berapa lama dia menangis seperi anak kecil.
"Hikhikhik~~ Ayah aku tersiksa sendiri disini"
"Aku ceroboh melakukan sesuatu yang tidak pernah ayah lakukan! Aku menyesal" ucap Ken dengan tangisan.
¥
"Kakak kemana dek?" tanya Kaisyah pada Camilla yang sedang menata tanaman hias di belakang rumahnya.
"Cari siapa sih sayang pagi-pagi begini?" timpal Jhonson.
"Cari kakak yah! Ayah lihat Kakak?" tanya Kaisyah.
"Pelix sedang menganggu kekasihnya yang sedang memetik teh! Bunda lihat saja kesana!" tunjuk Ken ke arah Pelix dan Amora.
Tanpak Pelix menggoda Amora yang sedang sibuk memetik teh dengan memeluk, mencium, dan kadang-kadang membelai rambutnya.
"Pel, jangan begini! Bagaimana jika bunda tahu kau semesum ini" ucap Amora.
"Mesum sama kekasih sendiri kan tak apa sayang" kelakar Pelix.
"Pel jangan dekat-dekat seperti ini, bahkan Anaconda mu terasa menusuk-nusuk belakangku. Pel jangan begini ini di tempat umum" ucap Amora semakin kesal pada tingkah Pelix.
__ADS_1
"Sayang, minum susu boleh ya sedikit saja biar ada tenaga untuk menjalani kehidupan yang keras ini" ucapnya merayu.
"Ya nanti ku buatkan kalau sudah sampai di rumah bunda" jawab Amora yang pura-pura tidak tahu maksud Pelix yang sangat mesum itu.
"Bukan susu itu tapi susu ini" ucapnya dengan alis terangkat sebelah.
"Ishhh apa sih. Kamu sabar sedikit dong sampai kita nikah" ucap Amora.
"Ayolah sayang! Sudah tidak tahan rasanya. Hei lihat aku bawa kain. Disini saja ya! Gak apa-apa deh kepalanya aja" rayu Pelix.
"Gak ya Pel!" ucap Amora tegas.
"Aku maksa ya! Ayolah Anaconda ku sudah sangat sesak nih" rayunya.
Amora pun pasrah dan menurut. Dengan telaten Pelix membentangkan kain itu di bawah pohon teh. Tak di sangka dari tadi Kaisyah dan Jhonson menguping apa yang mereka lakukan dengan bersembunyi di bawah pohon teh.
"Ayah hentikan mereka" ucap Kaisyah.
Jhonson pun mengangguk dan meremat daun teh lalu melemparkan pada Pelix.
"Mau ngapain kalian?" tanya Jhonson dengan sorot mata yang tajam.
Hal itu membuat Amora dan Pelix belingsatan antara terkejut dan malu.
"Emzz, eummmmzzz~~ Kita mau tamasya! Ya tamasya saja yah!" ucap Pelix dengan nada gugup.
"Tamasya apaan kau ini? Aku sudah dengar kau terus saja merayu Amora" geram Jhonson.
"Arghhhh, selimut ku!" ucap Kaisyah melihat selimutnya sudah terbentang rapih di atas tanah.
"Kakak mau mesum disini pakai selimut bunda sebagai alasnya? Kakak benar-benar ya!" ucap Kaisyah sembari mengambil selimut tipis itu.
"Sudah bun kita nikahkan saja mereka sekarang! Ayah takut mereka akan nekat! Ikut aku sekarang kita temui penghulu sekarang untuk menikahkan kalian. Kau ini ingin bercinta disini seperti kucing saja" ucap Jhonson sembari menjewer telinga Pelix dengan keras.
"Ya mungkin ingin di saksikan langit dan matahari. Betul kan Kak?" tanya Kaisyah sembari tertawa terbahak-bahak.
"Kenapa sih Anacondamu itu tidak bisa tahan sebentar saja. Aku juga bisa tahan bertahun-tahun ketika bundamu jauh dari ayah" ucap Jhonson kesal.
"Itu beda yah beda!" ucap Pelix tak mau kalah.
"Beda apanya? Sama saja" jawab Jhonson.
Sementara Amora dari tadi hanya tertunduk malu.
"Nak, siap ya sekarang kamu mau kami nikahkan supaya tidak ada masalah! Bunda tau kamu tidak salah, yang salah itu Pelix" ucapnya.
"Baiklah bunda, saya mau menikah dengan Pelix" jawab Amora.
"Persiapkan dirimu ya nak! Penghulu akan datang sebentar lagi.
Skip.
Acara akad pun di mulai. Semuanya berjalan lancar dengan satu tarikan nafas! Walau hanya menikah secara siri tetapi acaranya cukup khidmat.
Amora memasangkan cincin di jari Pelix dan mencium tangannya dengan takzim. Sementara Pelix memasangkan cincin yang sama di tangan Amora dan mencium keningnya dengan perasaan yang dalam.
__ADS_1
Dan acara pun selesai.