
Amora sedang menenangkan pikirannya dengan bermeditasi. Alunan nada dari ponselnya memecah keheningan. Pelix menghubunginya! Entah sudah berapa puluh panggilan Pelix mengubunginya setiap waktu.
"Morning sunshine! Bagaimana harimu?" tanya Pelix dengan nada manja.
"Jauh lebih baik sayang! Dokter Nizam selalu memberikan pelayanan yang baik padaku! Pel, I miss you baby! Aku ingin secepatnya pulang ke Indonesia" ucap Amora
"Kamu harus benar-benar sehat ya sayang nanti aku akan menjemputmu disana" jawab Pelix.
"Dan satu hal lagi, I also miss you so much" ucap Pelix.
Mereka pun tak lama menutup panggilan teleponnya. Amora pun melanjutkan meditasi kembali.
Lain Pelix lain juga Ricky. Pemuda itu kini sedang menunggu seseorang di sebuah resto pinggir pantai. Dia akan melakukan meeting santai dengan seorang pria berkebangsaan Jerman🇩🇪, yang bernama Mr Paul.
"Hai Mr guten morgen (selamat pagi)?" sapa Ricky.
"Ebenfalls einen guten morgen ( selamat pagi juga), Mr Ricky" jawab Paul.
"Bagaimana apa bisa kita mulai sekarang?" tanya Ricky.
"Silahkan saya sudah mempersiapkan semua berkas untuk pembahasan ini" jawab pria tampan itu.
Mereka pun membahas semua rencana dan strategi masing-masing dan akhirnya tuntas sudah acara meetingnya dan menemukan kesepakatan bersama.
"Mr Ricky apa anda tidak tergoda melihat wanita yang memakai bikini di luar sana?" tanya Paul.
"Saya cukup tergoda dan membuat saya tidak fokus, Adik saya di bawah sana selalu mengeliat" kelakar Ricky.
"Tapi anda sepertinya tidak tergoda dengan wanita-wanita cantik itu? Apakah istri anda paling cantik di antara gadis-gadis itu sehingga anda tidak tertarik kepada mereka?" tanya Ricky heran pada pria yang ada di hadapannya.
"Saya tidak punya istri, saya hanya punya suami" jawab nya santai.
"Are you a gay?" tanya nya.
"Yes, i'm a gay. Dan suami saya berasal dari negara kamu" jawabnya.
"Wooow amazing! Siapa nama suami anda?" tanya Ricky dengan wajah sudah menahan tawa
"Dia bernama Yanto" jawabnya santai.
"Yanto kau bandit yanto! Radarmu sudah sampai ke Jerman!" dalam hatinya tertawa.
"Kalian bahagia?" tanya Ricky.
"yes, i'm verry happy" jawabnya dengan wajah yang bahagia.
Obrolan unfaedah mereka akhirnya usai, lalu masing-masing mereka meninggalkan resto itu.
Di mansion, Ricky melihat-lihat media sosial milik Marini. Banyak poto cantik dan lucu marini ketika sedang traveling dan hang out dengan para rekan kerjanya.
"Rin, kenapa kamu tak pernah menghubungiku? Apa aku salah sudah mengharapkan mu, hem? Atau kah ku harus kubur harapanku?" tanya nya dalam hati.
tak lama suara dering ponselnya memecah lamunan Ricky. Seseorang yang sangat Ricky rindukan menghubunginya.
"Hallo?" sapa Ricky dengan hati yang berdebar.
"Hallo Ric! Maaf aku ganggu, hehehe. Aku, aku, aku hanya~~" Tuuuttttttttt. Panggilan dari Marini seketika di putus secara sepihak membuat Ricky heran.
Ingin dia balas menelepon Marini tapi niat itu dia urungkan karena perkataan Elizabeth selalu terngiang.
"Dia kenapa sih?" Ricky heran dengan Marini.
Sesudah dia mandi, dia segera membuka lembaran kerja nya kembali. Di kamus hidupnya yang sekarang, dia tidak mengenal rasa lelah. Ricky telah menjelma menjadi seorang pria workaholic yang dalam otaknya selalu ada cuan dan cuan.
"Perusahaan Bref Company sedang dalam keadaan vailid, dan mereka sudah menawarkan saham dalam harga yang sangat murah, Aku akan mengakuisisnya. Dan perusahaan Tech inovation juga sedang dalam krisis karena banyak direksi nya yang korup, aku akan membeli sahamnya. Cukup cerdas bukan aku ini?" Ricky tersenyum puas akan keinginannya.
__ADS_1
¥
Sementara di rumah Marini, dia sedang merutuki kebodohannya karena mematikan panggilan itu secara sepihak dengan Rikcy.
"Aduh, kenapa aku jadi deg-degan begini sih sama tuh bocah? Aku nervous kala mendengar suaranya saja. Tenang Marini tenang" ucapnya sembari mengelus-elus dadanya dengan debaran jantung yang sangat kencang luar biasa.
Lalu dia mengambil lagi benda pipih itu dan segera menghubungi Ricky kembali.
" Hallo Ric! Bagaimana kabar mu?" tanya Marini.
"Baik!" jawabnya singkat.
"Kamu sedang ada di mana sekarang?" tanya nya lagi dengan gugup.
"Aku sedang di Venezuela bekerja!" jawabnya lagi seakan Ricky malas sekali untuk menjawab apapun dari Marini.
"Aku ganggu ya?" Marini mencoba memastikan.
"Sedikit!" jawabnya. Padahal saat itu Ricky sedang bersantai sembari memandang mentari pagi di pinggir pantai.
"Maaf! Aku hanya ingin mengetahui kabarmu saja" ucapnya lesu.
"Aku baik dan aku bahagia" ucap Ricky ketus.
Di sela-sela obrolan canggung itu, terdengar suara perempuan manja menyapa nya.
"Bir nya lagi mister?" tanya nya.
"Yes baby! Satu gelas bir berikan padaku dan menarilah yang erotis di hadapanku" jawab Ricky.
Hal itu terdengar menyakitkan untuk Marini.
"Maaf aku sudah mengganggu kesenangan mu mister Ricky" ucap Marini ketus sembari mematikan panggilan teleponnya.
Padahal orang yang menawarinya bir adapah wanita yang sudah paruh baya dan berbadan gembrot khas wanita Hawai dengan kulit eksotis dan rambut tebal bergelombang dan jangan lupakan bando bunga yang menghiasi kepalanya.
Ricky tidak benar-benar meminum bir, dia hanya memesan air kelapa muda, tapi karena untuk menjahili Marini, dia sampai meminta bantuan pada wanita tadi untuk berpura-pura membawakan pesanan bir untuknya.
"Akh lucu sekali dia ketika marah begitu! Akan ku uji apa dia sudah benar-benar mencintaiku setelah putus dari Pelix apa akan selalu mengenang Pelix? Akh mengenang, memangnya Pelix pahlawan revolusi yang harus di kenang! Marini sayang, jika kau sudah benar-benar memantapkan hatimu untuku, baru akan ku langsung lamar dan menikahimu dan aku akan setiap saat mengg@ulimu agar benih calon profesor ku cepat bertumbuh di rahimu" ucap Ricky sembari membayangkan sedang bercint@ dengan Marini lalu mempunyai anak-anak yang banyak.
"Tak sia-sia, tanteu Elizabeth selalu melaporkan apapun padaku termasuk putusnya hubungan kau dengan Pelix" ucap Ricky sembari terkekeh. Ketika sedang menikmati lamunan nya, tiba-tiba seseorang menepuk pundaknya.
"Hai broo!" ucap pria itu.
Ricky sangat mengenali pria yang menyapanya, tetapi penampilannya sangat amat berubah, bagaikan 180° dengan dahulu.
"James? Kau kah itu?" tanya Ricky pada pria yang pernah jadi kekasih gay nya dahulu.
"Benar ini aku" jawab James dengan suara baritonnya.
"Kau jadi maco sekarang?" tanya Ricky.
"Yes broo! Aku bertobat atas kekeliruan ku selama ini. Malam itu ketika terakhir kali kita bertemu dan kau memukulku sampai pingsan, anak buahku bukannya membawaku ke rumasakit tetapi mereka membawaku ke Gereja. Disana ada seorang pendeta yang sudi merawatku dan selalu berikan nasehat dan khotbah nya padaku hingga aku sadar dan menjadi pria seutuhnya dan laki banget" tutur James.
"Syukurlah kau sudah kembali ke jalan yang lurus. Aku tidak menyangka kita bisa bertemu disini. Dunia ini terasa sempit" ucap Ricky sembari terkekeh.
Ketika mereka berdua sedang mengobrol, datang lah seorang wanita hamil yang berwajah latin, berkulit sedikit cokelat dan berambut hitam legam dengan memakai bikini warna merah maroon kontras dengan kulitnya yang bersih nan glowing.
"Sayang, sedang apa disini dan kau mengenal laki-laki ini?" tanya wanita cantik itu dalam bahasa inggris.
"Yes baby, dia Ricky teman ku" jawabnya.
Tak mungkin kan James bicara bahwa Ricky pernah jadi partner ngadu pedang nya dulu, bisa malu dirinya.
"Owh hai! Namaku Jenifer Mendez, istri dari James Mc'Aday.
__ADS_1
" Owh hai! Ricky sahabat james. Senang bisa berkenalan dengan mu" jawab Ricky.
"Yaollo, yaollo! Bandit kau ya James, diam menjadi homo bergerak menjadi calon bapak" Ricky tertawa tetapi Jenifer hanya senyum karena dia tidak mengerti bahasa Indonesia.
"Ya berarti onderdil ku bisa berfungsi kembali" jawab James tergelak.
Lama obrolan dengan sang mantan yang sudah menjadi laki seutuhnya, Ketiga insan itu memutuskan untuk pulang ke rumahnya masing-masing.
Besok Ricky akan pulang ke Indonesia🇲🇨 karena pekerjaan nya disini sudah beres, Dia sudah membeli semua oleh-oleh untuk keluarganya dan Marini tentunya si pujaan hati.
•
"Welcome to my country. Selama berpuluh-puluh jam akhirnya aku sampai juga di Indonesia tercinta ini" ucapnya ketika dia berjalan di bandara menuju pintu keluar.
Disana dia sudah di jemput oleh supir nya yang bernama Gudono.
"Selamat datang tuan muda! Bagaimana perjalanan anda?" tanya Baskoro.
"Yang jelas aku lelah" jawabnya sembari duduk di kursi penumpang menunggu Gudono memasukan semua barang-barang bawaan yang di bawa Ricky dari Venezuela.
"Tuan muda, selama anda pergi, Ada satu wanita yang pernah berkunjung ke rumah anda sebanyak dua kali. Dia selalu menanyakan keberadaan anda!" ucap supir berbadan ceking itu.
"Siapa wanita itu?" tanya nya heran.
"Saya tak tahu, tapi dia itu cantik, dan selalu memakai pakaian dokter. Dia cantik dan mempunyai tahi lalat persis di bawah
bibir sebelah kanan" ucapnya.
mendengar itu, Ricky hanya senyum-senyum sendiri. Dia tahu persis ciri-ciri itu siapa lagi kalau bukan Marini.
Tibalah Ricky di rumahnya. Disana dia sudah di sambut oleh Daisy dan Tomi.
"Selamat datang jagoan dady" ucap Tomy sembari merangkul sang putra tercinta.
"Kantung mata mu terlihat membesar. Pasti kamu lelah sekali ya nak" ucap Daisy yang mencium kepala sang putra secara bertubi-tubi.
" Aku kangen kalian" rengek Ricky.
"Kami pun sama my junior. Apalagi momy mu sudah mengancam dady jika kau tidak pulang minggu sekarang, maka momy mu akan menyusul mu ke Venezuela" ucap Tomi.
"Momy khawatir sekali dengan junior kita" jawab Daisy.
"Tenang mom, aku sekarang sudah ada di depan mu" kelakar Ricky manja pada sang momy.
Mereka pun lanjut mengobrol di ruang tamu.
"Ricky sayang, momy ada hal yang ingin di bicarakan. Momy dan dady sudah sepakat akan menjodohkan mu dengan anak tuan Wiro pemilik perusahaan PT kapak 212 sejahtera. Tbk! Nama anak nya Sandra Citra Wiro. Dia pewaris utama perusahaan papanya. Bagaimana apa kamu bersedia?" tanya Daisy dengan wajah seakan memohon.
"Big no mom! Aku sudah punya pasangan!" ucap Ricky.
"Siapa? Kenapa kau tak membawanya ke hadapan kami?" tanya Tomy.
"Ya kekasihku Marini!" ucapnya lirih.
"Hah dokter itu? Bukannya dia tidak mencintaimu? Ayolah jangan berharap sesuatu yang semu" ucap Tomy dengan sedikit kesal.
"Tapi dad!" ucapnya seakan tertahan.
"Di coba dulu, siapa tahu kalian cocok! Dia cantik dan elegan" ucap Daisy.
"Betul Ric, cantik dan dadanya montock" ucap Tomi spontan dan langsung membekap mulutnya.
"Owh dady mulai genit ya sekarang?" kesal Daisy pada sang suami.
"Tidak mom tidak! Momy yang paling montok dan singset" jawab Tomy dengan berlari yang kemudian di kejar oleh sang istri.
__ADS_1
Hal itu membuat Ricky pusing dengan tingkah random kedua orang tuanya.