
"Ngapain Pelix dengan wanita depresi itu?" tanya nya.
Marini pun seger turun dari mobilnya dan berjalan tergesa menuju dua sejoli itu.
"Kalian"teriak Marini.
Pelix dan Amora segera menoleh ke sumber suara itu. Dalam hati Pelix sangat cemas tetapi dia bersikap setenang mungkin.
" Gawatttt!! Bumi gonjang ganjing serasa terompet sangkakala akan di tiupkan saat ini juga. Aku mendingan menghadapi puluhan mafia dengan senjata mematikan dari pada harus menghadapi makhluk yang aneh seperti wanita" gumam Pelix.
Marini menarik tangan Pelix supaya menjauh dari Amora.
"Jadi ini alasan kau menjadi acuh padaku, hem?" tanya Marini murka.
"Rin, tolong pelankan suaramu Amora sedang sakit" ucap Pelix.
"Kau lebih peduli terhadap wanita depresi ini di banding aku kekasihmu hah?" sentak Marini.
"Rin aku mohon jangan seperti ini, ya aku akui aku salah tetapi aku mohon kali ini saja maklumi sikapku" ucap Pelix memohon.
"Maklumi ya? Maklumi ketika kau bermesraan dengan si depresi ini. Come on bahkan dia istri orang dan kau memanjakannya! Aku tidak habis pikir dengan jalan pikiran mu" sengit Marimi.
Perdebatan mereka bahkan mengundang beberapa pasang mata dan mereka memandang remeh terhadap Amora. Pelix pun menghampiri mereka dan langsung memarahinya.
"Apa yang kalian lihat? Ini bukan drama Korea jadi pergi sekarang atau ku pukul kalian semua. Cepat Pergi" ucap Pelix pada mereka.
Mereka pun seketika membubarkan dirinya.
"Dia punya nama Marini. Kasian Amora hidupnya sebatang kara dan suaminya entah kemana. Rin aku mohon tidak kah kamu kasihan terhadap nya" ucap Pelix.
"Persetan! Kau sudah bermain api. Ingat ya Pel, orang pertama yang menghancurkan masa depan ku itu kamu. Kamu harus bertanggung jawab dan satu lagi jauhi wanita depresi ini" tegas Marini.
"Sorry tapi aku tidak bisa meninggalkan Amora sendiri. Aku tahu kesalahan padamu begitu besar tapi aku tidak mungkin meninggalkan Amora karena~~" ucap Pelix tak mampu melanjutkan perkataannya.
"Karena apa? Karena apa?" tanya Marini menggebu.
"Karena aku mencintainya" tegas Pelix.
"Oh **|*,, jawaban apa itu? Jawaban yang jelas sangat tak ku harapkan. Aku tidak terima" ucap Marini yang sudah berukir air mata.
Pelix memandangi Marini, ada perasaan tak tega melihat wanita itu menangis olehnya. Di raihlah tangan Marini.
"Rin, maafkan aku sekali lagi. Tapi aku harus mengatakan kalau hibungan kita cukup sampai di sini saja. Aku sudah tak mencintaimu" tegas Pelix.
"Tidak, tidak! sampai kapan pun aku tidak akan menerima kata berpisah dengan mu Pel, Aku sangat mencintaimu apapaun yang terjadi..Kau tega!"lirih Marini.
" Tapi hubungan kita sudah semu Rin, dan aku sudah tidak mencintaimu lagi!" jawab Pelix.
"Sejak kapan? Apa sejak ada dia?" tunjuk nya pada Amora.
Pelix diam seolah membenarkan apa yang terjadi.
Amora merasa heran pada Marini dan Pelix, Kemudian dia menghampiri Marini yang masih berapi-api di selimuti Amarah.
Amora dengan polosny tersenyum dan mengulurkan tangan pada Marini.
"Hallo, mbak! perkenalkan saya Amora teman nya Pelix" ucapnya sembari mengulurkan tangan.
Bukan sambutan yang dapatkan, melainkan tepisan kasar dari Marini.
"Wanita ****** perebut laki orang kau ya! Wanita ODGJ sepertimu harusnya ada di rumasakit jiwa bukan berkeliaran di sini" geram Marini.
"Sorry kenapa anda marah-marah pada saya? Apa salah saya dan apa kita pernah bertemu sebelumnya?" tanya Amora.
"Asal kau tahu ya, Pelix itu kekasih ku! Kau yang buat dia berpaling dariku. Wanita murahan bukannya kau sudah bersuami tapi kau malah jalan dengan kekasihku" Marini semakin menggila memaki Amora.
"Marini, stop! ucap Pelix.
__ADS_1
"Asal kamu tahu ya, suami saya sudah memberikan izin pada Pelix untuk bersama saya bahkan suami saya mengizinkan Pelix untuk tidur bersama saya" tutur nya.
"What the F√c×, Jadi kau tidur dengan wanita ini Pel? Seliar itu kah kau membohongi wanita depresi ini?" tanya Marini dengan gemretak di giginya menahan amarah.
Pelix hanya diam mematung tak mampu menjawab pertanyaan yang menyudutkannya.
"Bahkan kau diam, karena sudah ketahuan. Cikh menjijikan sekali" cibir Marini.
"Sudah Rin, cukup hentikan! Aku punya alasan melakukannya. Sebaiknya kau pergi"ucap Pelix ketus.
" Kau mengusirku demi wanita gila ini hah?" ucap Marini.
"Dengar ya kau ******, suami mana yang rela mengizinkan pria lain menemaninya di ranjang yang sama? Kau ini memang stres, kau tidak mau menerima takdir. Ibu dan anakmu sudah mati kau harus terima itu. Kegilaan mu mungkin sebagai karma karena kau sudah mengambil kekasihku" Marini terus saja mencemooh dengan kata-kata yang mengintimidasi.
Plakkkkkkkkk!!!!! Sebuah tamparan hangat mendarat di pipi mulus nan glowong nya Marini.
Amora menampar wajahnya karena dia mengatai bahwa ibu dan anaknya sudah mati.
"Jangan kau sebut ibu dan anaku sudah mati! Mulutmu tajam sekali. Pergi dari sini, Pelix miliku bukan milikmu. Dan satu lagi ibu dan anaku sehat" geram Amora.
"Usaplah perutmu wanita ******, ku tidak berbohong, anakmu sudah tidak ada" ucap Marini.
Amora pun meraba-raba perutnya yang langsing dan merasa aneh.
"Pel, perutku ko kecil? Aku kan sedang hamil lima bulan? Kemana anak ku Pel?" tanya Amora yang sudah mulai panik.
Pelix melihat itu sangat lah geram terhadap sikap Marini yang menyerang psikis nya Amora.
"Pergi dari sini kau Marini. Kau tidak kasihan apa dengan dia? Yang seharusnya di salahkan dalam penghianatan ini adalah aku bukan Amora karena dia tidak tahu jika ku sudah mempunyai kekasih. Pergi dari hadapanku kau memang wanita yang tidak berperasaan" bentak Pelix.
"Kau jahat tega mengusirku" ucap Marini sembari meninggalkan tempat itu.
Amora tiba-tiba ingat dengan kematian ibu dan kedua anaknya, Dia langsung menjerit dan meronta..Seketika berlari meninggalkan Pelix.
"Amor kau mau kemana? Tunggu!" seru Pelix.
Amora terus saja berlari, di sepanjang jalan dia terus saja berteriak memanggil nama sang ibu.
"Ibu, ibu aku kangen padamu" ucap Amora sembari memeluk wanita asing itu.
Wanita itu pun menoleh keheranan dengan sikap wanita yang memeluknya.
"Sorry saya bukan ibu kamu" ucap wanita itu.
"Bu kok tega sih gak ngakuin aku! Aku Amora bu, putrimu" ucap Amora sembari terus memeluk wanita itu.
"Tolong-tolong ada orang stres tolong" teriak wanita itu.
Pelix segera menghampiri Amora dan wanita itu. Di tariknya Amora pelan-pelan oleh Pelix agar dia tidak meronta.
"Nyonya untuk hal ini saya meminta maaf untuk teman saya, Dia sekarang sedang terganggu kejiwaannya karena di tinggal oleh ibu dan kedua anaknya. Dia bekuk siap menerima takdir. Sekali lagi maafkan teman saya" ucap Pelix.
"Ya tidak apa-apa mas! Hanya saya sedikit terkejut saja. Saya turut prihatin atas apa yang menimpa nona ini. Semoga cepat normal kembali ingatannya" ucap wanita itu.
Pelix menarik Amora dan segera mengajak nya pulang walau Amora berontak tetapi Pelix sedikit memaksanya dan akhirnya Amora menurut.
¥
Ricky yang sudah lama tidak mengunjungi rumah Marini, sore ini dia mengunjunginya sembari membawa klepon cake kesukaan Elizabeth.
"Selamat sore tanteu! Bolehkan saya main kemari?" tanya Ricky ramah.
"Tentu boleh nak Ricky! Kemarilah ayo minum teh disini! Tapi Marini belum pulang"ucap Elizabeth
"Oh tak apa tanteu santai saja" jawab Ricky.
__ADS_1
"Oh ya nak Ricky tidak ke kantor?" tanya Elizabeth.
"Saya baru pulang dari meninjau proyek tante! Saya langsung mampir saja kemari" ucap Ricky.
Mereka pun mengobrol dengan serunya.
¥
Marini sejak di usir oleh Pelix di taman kota itu dia tak henti-hentinya menangis, Dia amatlah hancur hatinya tak kala mengetahui Pelix melindungi Amora dan bahkan Amora mengatakan bahwa dia tidur satu ranjang dengan Pelix.
"Arggghhhhhhhhh~~Tega sekali kau Pelix padaku! Aku mencintaimu lebih dari apapun. Jahat kamu Pel jahat" tangis Amora menguar
Brughhhh brugghhhh brughhhh
Tangan mulusnya terus saja memukul-mukul kemudi mobil itu dengan kesalnya.
"Jika aku tidak bisa memilikimu dan tidak menikah dengan ku, untuk apa aku hidup" ucapnya.
Kemudian Marini membelokan stir nya ke arah jajaran menara sinyal yang ada di tengah lapangan. Dia seakan gelap pikiran dan berniat ingin mengakhiri hidupnya dengan melompat dari atas sana.
Dia memarkirkan mobilnya di bawah menara sinyal yang tingginya tujuh puluh meter itu.
Perlahan-lahan dia berjalan menuju kaki menara itu. Dia mulai menaiki menara melewati tangga menara itu. Di tengah perjalanan Marini merasa ngeri sendiri melihat ke arah bawah tapi hatinya sudah bulat ingin mengakhiri hidupnya.
Dua pria sedang berjalan dan melihat seorang wanita sedang merangkak menaiki menara itu.
"Doni lihat itu siapa yang sedang naik ke atas menara? Aku jadi Khawatir" ucap pria yang bernama Izul.
"Bener tuh. Aku rasa ada hal yang tidak beres, apa dia mau bunuh diri. Ayo Zul kita segera lapor polisi terdekat kamu tunggu disini jaga wanita itu" ucap Doni yang segera berlari menuju kantor polisi terdekat.
"Hei nona kau mau apa ke atas sana? Turun woooy turun itu bahaya" teriak Izul di bawah sana.
"Nona nyebut ayo turun woooyyyyy“ teriak nya lagi agar Marini mendengar.
" Untuk apa ku hidup jika tak berada di sisi mu Pel, Mungkin dengan aku mati kau bisa menyesal" ucap Marini.
Dia tidak menyadari di bawah sudah banyak orang yang meneriakinya untuk turun.
Polisi pun tak lama datang dengan membawa speaker dan langsung meneriaki Marini untuk turun.
"Nona bisa berkomunikasi dengan kami? Ayo saya perintahkan untuk turun sekarang. Sayangi nyawa anda karena orang terkasih sudah menunggu di rumah" teriak polisi.
"Tidak! Saya tidak akan mundur satu jengkal pun. Untuk apa saya hidup jika tidak bersama pria yang saya sayangi" teriaknya dari atas.
"Turun mbak ayo"
"Mbak sudah laki-laki jangan di tangisi masih banyak yak mau. Kamu itu cantik loh saya saja mau jadi suamimu"
Ucap beberapa orang yang meneriaki Marini.
Reporter juga sudah datang dan mengabarkan bahwa ada aksi percobaan bunuh diri yang di lakukan oleh seorang perempun.
"Selamat sore pemirsa. Saya Gita dari stasiun Metromini melaporkan bahwa ada seorang wanita yang menaiki menara sinyal untuk bunuh diri. Di duga motifnya asmara! Disini sudah ada polisi yang bernama bapak Predy Sambi yang sedang membujuk wanita itu"
"Apakah bapak bisa sebutkan ciri-ciri wanita itu pak?" tanya repotrer itu.
Elizabeth dan Ricky kebetulan sedang menonton tv di buat syok dengan berita itu.
"Astaga ngeri sekali ya wanita jaman sekarang" ucap Elizabeth.
"Takut ya tan!" ucap Elizabeth.
kemudian polisi itu memberikan inisial wanita itu.
"Inisialnya MDR, seorang dokter karena di dalam mobilnya kami menemukan jaket dokter, sesuai di usia KTP berusia tiga puluh tiga tahun dan kontak terakhir yang di hubungi di ponselnya bernama Pelix" ucap Polisi itu.
__ADS_1
Elizabeth dan Ricky sempat tertegun lalu dadar dan berteriak.
"Marini Daniela Romero" teriak Elizabeth sembari menangis.