
Susan tak hentinya menangis sembari memukul-mukulkan tangannya ke dada Martin yang masih memeluknya. Dia menyalahkan Martin atas semua yang terjadi.
Martin yang merasa bersalah pun hanya bisa mengiyakan segalanya dan pasrah saja ketika Susan memakinya.
"Sudah ku bilang saat itu tak usah menikahiku kenapa kau nekat hah? Semua orang telah menyalahkan ku atas perbuatanmu. Aku sebagai wanita tertuduh yang dengan sengaja merebut suami orang lain. Saat ini keluargamu menganggap ku seorang pelakor" ucap Susan dengan tangisan kekecewaan.
"Maafkan aku Sus. Maafkan aku! Niat ku hanys ingin melindungimu itu saja" jawab Martin yang semakin mengeratkan pelukannya.
Susan tak menjawab, dia hanya tergugu menangis.
¥
Pagi itu Amora merasa badannya sangat lemas dan wajahnya pucat. Vivid yang melihat itu mendadak panik karena tak seperti biasanya Amora seperti itu.
"Nyonya mau sarapan apa pagi ini?" tanya Vivid.
"Saya mau makan asinan buah mbak" celetuk Amora.
"Tapi ini masih pagi nyonya. Gak baik loh untuk lambung nya" ucap Vivid.
"Tapi saya ingin makan itu mbak. Atau gimana kalau kamu yang buatin yang segar-segar untuk saya. Rujak buah misalnya! ucap Amora.
" Aneh banget nyonya Amora kok pagi-pagi minta di buatkan makanan asam ya. Apa jangan-jangan dia sedang hamil ya" gumam Vivid dalam hati.
Ketika sedang berpicara di dapur dengan Vivid, Amora melihat Billy yang sudah mandi keluar dari kamarnya. Dia pun menghampiri Billy.
"Pak Billy stop!" perintah Amora.
"Ya nona ada apa? Saya akan ke peternakan sekarang" jawab Billy.
"Pak Billy pakai sabun apa kok wangi sekali? Boleh saya menghirup aroma tubuh Anda sebentar saja please?" rengek Amora seperti seorang anak kecil yang meminta di belikan balon.
"Tapi nona apakah anda tidak risih?" tanya Billy.
"Tidak pak. Saya yang mau kok. Sebentar saja" ucap Amora mengiba.
"Baiklah silahkan" ucap Billy.
Amora pun langsung mengendus-endus badan Billy dan mengangkat tangan Billy lalu Amora menghirup aroma ketiak Billy.
"Huummmmmmmm segar banget" ucap Amora yang di lihat heran oleh Vivid dan Billy sendiri.
"Terimakasih pak Billy" ucap Amora yang berlalu menuju kamarnya.
Billy hanya mengangguk tak menjawab sepatah katapun. Vivid yang aneh dengan Amora, dia pun menirukan Amora untuk mengendus badan Billy guna memastikan ada apa di badan nya.
Vivid pun mengendus perut Billy, punggung, tangan dan juga ketiak membuat Billy merasakan desiran aneh pada tubuhnya.
"Cuma bau sabum mandi kok. Tak wangi yang lain" ucap Vivid sembari mengendus kepala dan leher Billy.
Billy pun tak tahan dan segera menghindar dari Vivid.
"Anak nakal kau ya. Caramu itu sama saja membangkitkan sesuatu di bawah sana. Arggghhbhh" kesal Billy karena belalainya sudah keras membuat celananya menjadi serasa sesak.
"Mas Bill kenapa toh wajahnya memerah gitu? Mas Bill sakit ya?" tanya Vivid dengan polosnya.
"Sakit karena mu. Pergi dari hadapan ku atau ku terkam kau sekarang" tegas Billy yang sudah tak tahan dengan lonjakan belalaianya di bawah sana.
"Akh mas Bill mah suka marah-marah. Ya sudah aku mau masak dulu" ucap Vivid dengan mencubit perut Billy sembari pergi ke arah dapur.
__ADS_1
Kini tinggalah Billy tersiksa sendiri menahan gairahnya yang di sebab kan oleh Vivid.
"Aku harus menuntaskan nya di kamar mandi" ucap Billy sembari masuk ke dalam kamar mandi..
Siang pun tiba, Amora semakin tidak enak badan dan mual-mual terus. Dia sudah mengoleskan minyak angin ke seluruh tubuhnya tapi masih saja merasakan tidak enak.
Di luar Vivid membawakan makan untuk Amora karena dia tidak kekuar kamar lagi.
"Nyonya saya masuk ya" ucap Vivid.
"Masuk saja mbak" ucap Amora.
Vivid pun masuk ke dalam kamar untuk memberikan sepiring nasi dan lauk nya. Tetapi ketika Amora mencium nasi, dia pun seketika mual dan langsung berlari menuju kamar mandi. Vivid pun sontak terkejut dengan tingkah Amora sekarang ini.
"Oekkkk oekkkkkkk" Amora muntah dengan hanya mengeluarkan air saja.
"Nyonya kenapa bisa mual seperti itu?" tanya Vivid sembari memijit pundak Amora.
"Entahlah mbak, saya pun tak tahu dari semalam saya sudah tidak enak badan" jawab Amora.
"Apa jangan-jangan nyonya sedang hamil! Apa bulan sekarang nyonya sudsh datang bulan?" tanya Vivid.
"Masa sih saya hamil.. Belum mbak saya sudah telat dua bulan tetapi belum sempat periksa.
"Baiklah nyonya tunggu sebentar saya akan membeli tespek sekarang" ucap Vivid sembari berlalu ke luar rumah.
Saat itu Billy sedang memasukan mobil Amora ke dalam garasi.
Billy pun segera mengejar Vivid melewati gerbang rumah.
"Honey kau mau kemana?" tanya Billy yang sudah mensejajarkan langkah nya dengan langkah Vivid.
"Kepo" ucap Vivid acuh.
"Aku ingin beli tespek mas" ucap Vivid seraya terus melangkah kan kaki menuju Arah apotek.
"Kamu hamil honey? Sama siapa? Siapa bajingan yang telah menodaimu hah?" geram Billy sembari meraba perut mungil Vivid.
Vivid pun menghempaskan tangan kekar itu karena merasa risih ketika orang-orang melihat hal itu.
"Mas Bill aku tidak hamil. Yang hamil itu nyonya Amora" ketus Vivid.
"Sukurlah jika begitu" lega Billy mendengar ucapan Vivid.
Mereka sampailah di sebuah Apotek dan segera membeli tespek.
Di sepanjang perjalanan pulang, Billy tak henti-hentinya memandang wajah ayu Vivid.
Wajah hitam manis dengan rambut panjang tergerai, badan mungil tetapi dia memiliki buah dada yang montok dan pinggul yang cukup besar.
"Honey nama aslimu siapa?" tanya Billy.
"Kepo!" ketus Vivid.
"Jawablah" ucap Billy yang sudah tak sabar dengan jawaban Vivid.
"Namaku Syifa Nur Vidianty mas! Orang-orang memanggil ku Vivid. Sudah jelaskan!" jawab Vivid penuh penekanan.
"Nama yang cantik" gumam Billy yang masih terdengar oleh Vivid.
__ADS_1
"Saya memang cantik" begitu narsis nya Vivid
"Kamu pernah ciuman?" tanya Billy serius membuat Vivid terhenyak.
"Hmmmmm anu mas, hmmmmmm~~Aku malu" kekeh Vivid karena merasa malu menjawab pertanyaan Billy.
"Jawab saja " tegas Billy.
"Dulu aku pernah pacaran mas waktu masih SMA, terus cowok ku dulu mau ngajak aku ciuman, waktu bibir kami mau bersentuhan ternyata mulut cowok ku bau Kelabang, jadi aku spontan muntah dan sialnya muntahan ku mengenai bajunya. Seketika itu juga dia langsung memutuskan hubungan kami. Sempat galau waktu itu sampai mogok sekolah sampai aku sakit. Tapi itu semua bisa di atasi sampai aku lulus sekolah, ku masuk yayasan tak lama tuan Martin memilihku untuk bekerja jadi ART di rumah nya"tutur Vivid bercerita panjang lebar.
"Kamu masih perawan?" tanya Billy tampa berpikir bertanya hal tabu pada Vivid.
Vivid pun kesal dengan pertanyaan yang di tanyakan Billy.
"Hei tuan brewok, dengar ya! Aku ini ciuman saja belum pernah, apalagi silaturahmi kelamin. Aku hanya akan menyerahkan mahkotaku untuk suamiku kelak" ucap Vivid sembari merjalan masuk ke gerbang rumah Amora dengan langkah cepat.
Entah hal itu membuat Billy bahagia.
"Aku yang akan pertama kali mencicipi madu mu gadis kecil. Aku akan menikahimu" gumam Billy dalam hati.
Vivid sudah berada di depan pintu kamar Amora. Dia pun mengetuk pintu itu.
"Nyonya boleh saya masuk? Tespek nya sudah saya beli" ucap Vivid.
"Masuk saya mbak" jawab Amora.
Vivid pun masuk kamar lalu memberikan tespek itu pada Amora.
"Saya akan test sekarang" Amora pun langsung berjalan menuju kamar mandi.
Tespek itu pun di celupkan kedalam urin nya, lalu tak menunggu waktu lama, sebuah garis merah dua terpampang nyata pada tespek itu seketika Amora pun terharu dan menangis merasa tak percaya dia sedang hamil.
Dia pun keluar dari kamar mandi itu di dapati Vivid sedang mondar-mandir dengam cemas.
"Mbak, saya hamil" Amora berbicara dengan gembira dan haru.
"Serius nyonya?"tanya Vivid.
Amora hanya menganggukan kepalanya dengan senyum mengembang sembari memberikan tespek itu pada Vivid.
"Puji syukur untuk anda nyonya. Semoga bayi dan bundanya sehat" ucap Vivid sembari mengelus perut rata Amora.
"Terimaksih mbak" Amora memeluk Vivid dengan bahagianya.
"Yasudah sebaiknya nyonya istriahat saja. Jangan kecapean ya. Saya keluar dulu" Vivid pun langsung keluar dari kamar sang majikan.
Di ruang tamu, Vivid tak henti-hentinya tersenyum bahagia. Hal itu membuat Billy merasa heran.
"Honey kenapa kau senyum-senyum sendiri?"tanya Billy.
" Nyonya hamil mas Bill" ucap Vivid.
Billy pun segera berlalu menuju kamarnya meninggalkan Vivid seorang diri di ruang tamu.
Billy segera mengambil ponsel nya dan langsung menelepon Pelix.
"Hallo bos! Aku memberitahukan bahwa Amora sedang hamil. Semoga kau sabar dalam menghadapi semua ini" tutur Billy.
"Apa kau bilang Amora hamil?" ucap Pelix di sebrang telepon.
__ADS_1
Billy sudah menduga bahwa bos nya itu akan kecewa tetapi dugaan itu salah. pelix malah tertawa bahagia mendengar kehamilan Amora.
"Aku tak tahu itu anak suaminya atau bisa jadi anak ku. Jaga terus dia sampai aku selesai dengan tugasku" ucap Pelix seraya mematikan panggilan telepon nya.