SUPIR KU SEORANG MAFIA

SUPIR KU SEORANG MAFIA
Pertemuan Yang Tidak Di Sengaja


__ADS_3

Di kediaman Leon sedang mengadakan rapat keluarga membahas pembangunan casino terbesar di Singapore.



"Bagaimana Ken apa kau bisa meninjau proyek itu ke Singapore?" tanya Leon.


"No! Aku sudah tak ingin menginjakan kaki lagi di negara itu" ucap Ken lantang.


"Aku tahu. Tetapi ini tugas" tegas Leon.


"Rela mati asal ku gak ke sana" ucap Ken sembari mengingat masa lalu.


POV seorang Ken.


"Tak sudi aku menginjakan kaki ke Singapore lagi. Rasanya masih sakit mengingat kala itu. Seorang wanita yang ku kasihi bermain ranjang dengan asisten pribadi ku yang bernama Noel di sebuah apartemen di sana. Rima dasar wanita bedebah".


"Pelix kau yang pergi" ucap Leon tiba-tiba membuat Pelix yang sedari tadi hanya diam langsung melonjak.


"Kenapa tidak kau saja yang pergi kek?" berang Pelix.


"Aku tak suka penolakan. Lusa kau berangkat" tegas Leon.


Mau tidak mau Pelix menuruti keinginan sang kakek.


¥


¥


Di sebuah rumah mewah seorang ibu sedang menasihati anak gadisnya.


"Marini sayang, sampai kapan kamu seperti ini nak! Apa kamu tidak lelah terus berharap pemuda pengecut itu?“ tanya seorang wanita yang bernama Elizabeth yang di ketahui ibu nya Marini.


" Mami bicara apa sih?" jawab Marini.


"Mami tahu nak, kamu masih mengharap dia kan? Bahkan kamu menutup hati dari lelaki manapun hanya untuk pemuda itu. Buka hatimu Rin kamu pantas bahagia" ucap Elizabeth.


"Plis mami, aku akan tetap menanti Pelix" tegas Matini.


"Terserah kau sajalah. Mami cape melihatmu seperti ini! Mami harap kamu bisa membuka hati untuk pria pilihan mami" ucap Elizabeth sembari berlalu meninggalkan Marini.


"Selalu mengaturku. Sepertinya aku butuh healing untuk menenangkan jiwaku" ucap Marini.


Seketika bayangan negara Singapura terlukis indah membuat nya berpikir untuk liburan saja kesana.


"Ya lusa aku akan ke singapura. Sekarang tinggal ambil cuti saja! Toh selama bekerja di rumasakit itu aku belum pernah ambil cuti" gumamnya.


Marini pun berangkat ke rumasakit tempat nya bekerja. Disana sudah menunggu beberapa baris pasien. Diantara mereka terdapat Martin yang mengajak Amora untuk ikut konsultasi.


" Panjang sekali ya sus antrian hari ini" ucap Marini pada suster Jelita.


"Benar dok. Dok hampir semua pasien kita umur nya di bawah duapuluh lima tahun. Mereka mengeluhkan sakit di bagian alat vitalnya dok. Ya tidak lain tidak bukan akibat pergaulan bebas semacam itu. Jadi ngeri saya" tutur Jelita sambil bergidik.


"Ya ngeri banget" jawab Marini secukupnya.

__ADS_1


"Saya tidak habis pikir kok bisa ya anak jaman sekarang melakukan itu tanpa adanya pernikahan. Sukur deh kena batunya untung gak HIV juga" tutur Jelita.


Mendengar ucapan Jelita membuat nya merasa tersindir. Dia pun dulu melakukan itu dengan Pelix belum menikah juga.


"Sudah sus kok kamu malah menggosip sih. Tolong panggil pasien selanjutnya" ucap Marini.


Jelita memanggil pasien selanjutnya.


"Pasien selanjutnya atas nama Ricky utomo" ucap Jelita.


Dan masuklah seorang pemuda yang lumayan tampan tetapi gemulai.



"Dengan saudara Ricky Utomo betul?" tanya Marini.


"Ya saya dokter" jawab nya.


"Apa keluhan anda?“ tanya Marini.


"Saya ambeyn dok. Organ vital saya juga gatal dan bernanah. Saya minta di periksa!" keluh Ricky.


kemudian dia di suruh berbaring di ranjang pasien dan mulai di periksa.


"Buka celananya mas atau bapak" ucap Marini.


"Eyke malu dokter entar si itunya kelihatan" ucap Ricky kemayu.


"Hmmmmm, agak lain nikh cowo. Apa dia suka maen belakang ya" gumam Marini.


"Yaampun dokter cantik-cantik kok galak sih. Untung aku gak suka cewek jadi dokter cantik ini bukan tipe ku" ucap Ricky sembari membuka celananya.


" Siapa juga yang mau sama kamu dasar kaum Nabi Luth" gumamnya dalam hati.


"Sekarang nungging" perintah Marini.


" Hah nungging?" jawab Ricky heran.


" Biasanya juga kamu nungging kan?" ucap Marini sarkas.


Sesaat Marini memeriksa bagian belakang Ricky dan alangkah kagetnya melihat pemandangan yang menjijikan terpampang nyata. Lalu Marini menyentuh bagian yang sakit nya membuat Ricky menjerit kesakitan.


"Arghhhhh sakit dokter sudah hentikan" ucap Ricky sembari menangis.


"Gawat nih" ucap Marini.


"Gawat apa dokter? Jangan nakutin eyke dong plis" ucap Ricky.


"Pemeriksaan nya selesai silahkan pakai celanamu lagi" perintah Marini.


duduk lah dia di meja pasien.


"Kamu homo?“ tanya Marini.

__ADS_1


" Hmmmm gimana ya bilangnya eyke malu" ucap Ricky sembari meremat jarinya.


"Jawab aja iya" ucap Marini.


"Jujurly sih iya dok~~hehehe" ucap Ricky terkekeh.


Marini melihat wajah Ricky sembari menghempaskan nafas kasarnya. Lelaki semuda ini sudah mengalami hidup seperti ini. Tetapi di lihat olehnya Ricky bukanlah anak yang berasal dari keluarga tidak berada, dari gaya bicara dan style nya menunjukan kalau dia berasal dari keluarga berada.


"Saya harus jujur bahwa kamu mengalami penyakit kelamin dan ambeyn parah. Rajin lah kamu konsul kemari agar saya bisa menangani lebih lanjut lagi. Untung gak sampai HIV/AIDS" papar Marini.


mendengar pemaparan Marini membuat Ricky terkejut. Seketika dia menangis seperti anak kecil di ruangan Marini, membuat dia merasa kebingungan. Ricky berguling-guling di lantai dan menjerit membuat semua suster disana berhamburan mencoba menenangkan dia.


"Relax dan tarik nafas lalu hembuskan" ucap Marini.


"Eyke gak mau dok punya penyakit itu. eyke mau sembuh dok tolongin eyke" rintih Ricky.


"Kamu mau sembuh yakin?“ tanya marini.


" iya" jawabnya.


" Gampang kok! Jadilah pria sejati dan normal. Pacaran dengan wanita ya karena itu sudah jadi peraturan manusia. Bagaimana bisa?“ jawab Marini sembari bertanya.


"Hmmm gimana ya" ucap Ricky.


"Yasudah terserah kamu. Pikirkan ucapan saya. Pemeriksaannya selesai dan ini resep obatnya" ucap Marini.


Kemudian suster memangil pasien selanjurnya dan kini giliran Martin dan Amora yang masuk.


"Selamat siang! Ow anda rupanya. silahkan duduk" ucap Marini.


"Siang dokter. Saya kemari dengan istri saya" ucap Martin.


"Hai saya Amora" ucap Amora dengan ramah.


Melihat wajah Amora membuat Marini seketika memandang lekat. Ada raut ketidaksukaan di wajahnya. Dia merasa sesuatu ketidak relaan ada di wajah Amora, Tetapi perasaan itu segera di tepisnya lalu berganti dengam senyum ramahnya.


"Saya marini. Senang bertemu dengan Nyonya Amora" ucap Marini.


Mereka pun mengobrol dengam santainya dan menceritakan keluhan, tips ala dokter, posisi yang baik saat berci*ta , hingga cara terapi mandiri untuk menyembuhkan impotensi Martin.


"Rajin-rajin lah berendam di air hangat ya Tuan agar saraf nya bisa hidup kembali plus rajin lah senam kegel. Dan untuk anda Nyonya tips dari saya jika ingin berhubungan maka anda dan suami harus benar-benar dalam keadaan vit dan relax" turur Marini.


"Baiklah dokter. Terimakasih atas solusinya saya pamit" ucap Martin dan Amora.


Setelah seharian berjibaku dengan semua pasien dari berbagai aliran membuat dia sangat lelah.


Waktu berangkat pun tiba. Marini menuju bandara begitupun Martin dan Amora. Sementara Pelix yang sudah izin kepada Martin dengan alasan pulang kampung segera pergi ke bandara.


Di bandara ketika Marini berjalan agak tergesa tak sengaja menabrak seorang pria. Keadaan saat itu mereka sama-sama memakai masker sehingga wajah dari masing-masing tidak terlihat. kemudian Marini bangkit dan melihat siapa yang menabrak nya.


"Maaf saya tak sengaja. Apa ada yang terluka?" tanya Pria itu.


Deg deg deg..

__ADS_1


Mendengar suara bariton itu mengingatkannya pada seseorang yang di cari selama ini. Tetapi wajah keduanya sama-sama memakai masker jadi tak terlihat siapa yang ada di baliknya.


"Saya tak apa" ucap Marini sembari berlalu.


__ADS_2