SUPIR KU SEORANG MAFIA

SUPIR KU SEORANG MAFIA
Kehilangan Tiga Nyawa


__ADS_3

Martin menelepon Billy untuk mengabarkan keadaan Amora saat ini.


"Hallo pak Martin?" ucap Billy.


"Pak Billy cepat kemari! Ke Rumasakit Tali Kasih. Amora dan mertua saya tak sadarkan diri sekaramg di rawat di rumasakit ini" ucap Martin di ujung telepon dengan perasaan was-was.


"Baiklah pak! Saya ke sana mengantarkan semua keperluan ibu Amora selama di rumasakit" ucap Billy.


"Terimakasih! Saya tunggu" ucap Martin yang langsung memutus panggilan telepon nya.


Billy langsung berlari menuju kamar Vivid, Disana Vivid sedang rebahan menonoton drama Korea. Billy dengan tidak sopannya langsung masuk kedalam kamar Vivid membuat si pemilik kamar terkejut dan langsung bangkit.


"Mas Bill kamu kurang ajar ya masuk ke kamar ku tidak ketuk pintu dulu. Kamu jangam macam-macam ya mas mentang-mentang nyonya sedang tidak ada. Pergi mas Bill jangan di kamarku" Vivid mengusir Billy dengan nada ketakutan.


Billy sebaliknya, dia melongo tak kala melihat penampilan Vivid yang memakai daster pendek dan ketat hingga tercetak pinggul dan dada nya seakan menyembul. Billy mati-matian menahan hasr@tnya tak kala melihat pemandangan surgawi. Vivid mendekat karena melihat Billy hanya diam mematung.


"Mas Bill kenapa mas?" tanya Vivid sembari mengguncang-guncangkan bahu kekar Billy.


Seketika Billy tersadar kemudian tangannya meraih pinggang Vivid sehingga posisi nya sangat rapat dengan tubuh Billy. Vivid semakin ketakutan tak kala melihat sorot mata sayu Billy. Sorot mata yang sangat bergair@h.


"Mas mau ngapain kamu mas? Minggir ku bilang" ucap Vivid sembari melangkah ke belakang.


"Honey i love so muach" lirih Billy.


"Ogah! Aku takut mas jangan kaya gini! Kamu mau memperkosaku? Aku adukan kamu ke nyonya" Vivid semakin ketakutan tapi tidak dengan Billy.


Billy merangsek lalu mengunci kedua tangan Vivid dengan posisi menyandar di tembok.


Billy mengusap wajah Vivid dengan penuh damba.


"Kau cantik sekali honey. Aku menyukaimu sejak pertama kita bertemu di jalan waktu itu" tutur Billy.


"Tidak mas Bill! Kamu tidak mencintai ku. Kamu hanya sedang menjadikan ku bahan pelampiasanmu saja kala kau tak bisa meniduri wanita lain. Sejak mas Pel menyuruhmu bekerja di sini kau tidak bisa membeli wanita malam lagi bukan?" tanya Vivid.


"No honey! Jika aku mau, aku bisa keluar dari tempat ini dari kemarin-kemarin. Aku betah bekerja disini karena ada kamu honey" ucap Billy sembari mengecup pipi Vivid.


"Jangan seperti ini mas! Aku berangkat dari kampung kemari untuk bekerja mencari uang bukan ingin pacaran" ucap Vivid mengiba.


"Apa kamu tega menolaku honey?" tanya Billy sembari mendekatkan wajahnya ke wajah Vivid.


"lebih baik kamu cari yang sepadan mas Bill jangan aku. Aku tahu kamu bukan orang yang benar-benar butuh pekerjaan! Kamu itu orang kaya kan mas? Sudah ya jang hummmpppp" ucapan Vivid seketika tertahan manakala bibir ranumnya di cium oleh Billy. Vivid pun meronta tetapi Billy tak memperdulikannya. Dia terus memperdalam lum@t@nnya, Menghitung deteran gigi sang pujaan oleh lidahnya sampai Vivid tak berkutik dan menikmati sensasi pagutan itu! Ciuman itu terlepas kala Vivid merasakan sesak.


Billy memandang Vivid yang tengah malu-malu sembari menundukan wajahnya.


"Angkat wajahmu honey!" ucap Billy.


Vivid pun hanya diam dengan tangan meremat daster belel nya. Billy pun dengan lembut mengangkat wajah Vivid yang sudah terlihat rona pipi yang merah bak rebusan kepiting karena menahan malu, Billy pun semakin gemas di buatnya. Dia sekali lagi mencium bibir dan leher Vivid membuat suara indah itu spontan terdengar.


Namun Vivid seketika tersadar jika perbuatan yang di lakukan nya salah. Dia selalu mengingat pesan dari sang ibu.

__ADS_1


"Cah ayu jangan sekali-kali kamu melakukan hal yang di larang tuhan. Manusia itu memang gudangnya dosa tetapi kamu harus menjauhi dosa itu. Dan ingat jika ada laki-laki yang berani menyentuhmu sebelum menikah artinya dia hanya ingin tubuhmu saja" ucapan sang ibu seketika terngiang di otaknya.


Billy pun pelan-pelan melepaskan Vivid. Keduanya sama-sama mengatur nafas karena masih di liputi g@irah.


"Mas kita belum ada ikatan. Ini dosa mas! Aku tidak mau mengotori rumah ini! Pelase mas Bill jangan seperti itu aku mohon" lirih Vivid.


"Maafkan aku honey! Aku terbawa suasana" ucap Billy sembari mengelap bibir Vivid yang sedikit bengkak akibat ulahnya.


"Tapi enak kan ciuman itu?" tanya Billy menggoda.


"Hooh tenan mas!" jawab nya malu-malu.


Vivid pun seketika kembali ke mode serius.


"Jangan pernah bicara suka ataupun cinta padaku mas! Aku hanya ingin fokus bekerja dan mengabdi pada nyonya. Cari wanita yang sepadan dengan mu jangan aku" ucap Vivid.


"Aku akan buktikan bahwa kau pantas untuk ku honey" ucap Billy dengan merengkuh kedua tangan Vivid.


"Kamu ke kamar ku sebenarnya mau apa?" tanya Vivid memecah suasana.


"Oh ya aku sampai lupa! Nona Amora kecelakaan dan kita harus ke rumasakit membawa baju dan kebutuhan. Ayo cepat ganti baju mu. Aku akan ke kamar nona Amora untuk mengambil baju nya" tutur Billy.


"Baiklah mas" jawab Vivid.


Mereka pun berangkat ke rumasakit.


Di rumasakit keadaan nya sangat kalut. Amora yang masih tak sadarkan diri di tambah keadaan sang ibu sedang kritis. Seorang dokter paruhbaya keluar dari ruang rawat Amora dengan wajah sendu.


"Saya ingin bicara dengan keluarga nyonya Amora" ucap Dokter itu.


"Saya suaminya dok!" ucap Martin.


"Dengan berat hati saya mengatakan bahwa kedua bayi dalam kandungan istri anda tidak bisa kami selamatkan. Bayi itu kembar satu laki-laki dan satunya perempuan, kondisi nya bisa di bilang memperihatinkan karena ada beberapa bagian tubuhnya yang hancur akibat hantaman yang nyonya Amora alami" papar sang dokter.


Seketika Martin menangis di lantai. Badannya tak mampu menopang berat tubuhnya. Hendra dan Yuni pun mereka menangis meratapi kepergian kedua cucu kembarnya yang sangat dia nantikan.


"Semua gara-gara kalian" ucap Yuni pada Martin dan Susan.


"Jika kamu tidak mengambil keputusan yang sembrono, maka cucu dan menantuku masih sehat. Kamu harus membayar mahal ini semua anak jahanam" ucap Hendra sembari memukul Martin.


"Papa, mama mamafkan aku ma. Aku tidak menyangka akan seperti ini"


"Anaku maafkan papa anaku" Martin menangis sekeras-kerasnya tidak peduli dengam tatapan sektitarnya.


"Bagaimana dengan menantu saya dok?" tanya Yuni.


"Sesudah proses pengeluaran kedua janinnya, nyonya Amora masih tidak sadarkan diri" ucap dokter itu.


Tak lama Billy dan Vivid datang menghampiri mereka yang tengah di landa tangis.

__ADS_1


"Tuan bagaimana keadaan nyonya dan bayi nya?"tanya Vivid dengan wajah cemas.


"Amora masih koma dan anak saya tidak bisa di selamatkan Huhuuhuu" jawab Martin dengan tangisan.


"Apa? Nyonya dan bayi~~hihhihhik" seketika Vivid menangis mendengar kabar buruk itu dari sang majikan.


"Nyonya yang kuat, nyonya pasti bangun" ucap Vivid dalam tangisnya.


Seorang dokter muda keluar dari UGD langsung menghampiri Martin.


"saya bisa bicara dengan keluarga dari nyonya Dianawati?" tanya dokter itu.


"Saya menantunya dok" ucap Martin.


"Dengan berat hati saya menyatakan bahwa nyonya Dianawati sudah meninggal dunia beberapa menit yang lalu karena penyakit jantung. Saya harap semua keluarga yang di tinggalkan di berikan ketabahan!" ucap Dokter.


"Ibu meninggal, Ibu~~Huhuhu" Semakin menjadi lah tangis Martin karena di hati yang sama tiga nyawa melayang.


Entah bagaimana dia harus menjelaskan kepada Amora selepas dia sadar nanti. Dan bagaimana kemarahan Amora padanya.


Yuni dan Hendra pun seketika langsung tak sadarkan diri berbeda dengan Susan dia seakan hanya diam menatap kosong dengan air mata yang mengalir deras. Keadaan disana sangatlah keos. Billy pun segera menelepon Pelix.


"Hallo, ada apa malam-malam menelepon ku?" tanya Pelix.


"Kau dimana sekarang bos?" Billy balik bertanya.


"Aku sedang di apartemen" jawabnya.


"Kau harus ke rumasakit tali kasih sekarang juga! Amora kecelakaan, Kedua janin kembarnya meninggal dan ibu nya juga meninggal. Amora masih koma! Cepat kemari" ucap Blly.


Pelix pun seketika bangkit dan langsung mengambil kunci mobilnya. Dia mengemudi seperti orang kesetanan karena sangat cemas dengan kondisi Amora.


"Amora kau harus bertahan sayang" gumam Pelix.


Setelah 20 menit mengendarai mobilnya, Pelix pun sampai di rumasakit dan segera menemui Billy. Tampak Martin masih tergugu dengan posisi terduduk di lantai, Vivid menangis, Susan terdiam dengan tatapan kosongnya.


" Dimana Amora?" tanya Pelix.


"Di ruangan itu!" tunjuk Billy.


Pelix pun seketika membawa Susan ke lorong dan meminta penjelasan atas semua yang terjadi.


"Kenapa bisa begini keadaan nya?" tanya Pelix.


"Dia mengetahui pernikahan ku dengan Martin" jawab Susan sembari terisak..


"Kau akan membayar kedukaan Amora" ucap Pelix sembari berlalu.


Aku takan memaafkan mu Binatang" ucap Pelix yang di tunjukan pada Martin.

__ADS_1


__ADS_2