
Tiba di kamar Amora, Martin sudah di bakar api amarah. Dibukanya pintu kamar itu dan mendapati Amora yang tengah menangis.
"Jika supir sialan itu terbukti melecehkan mu maka aku akan langsung mengusir nya dan membuat perhitungan dengan nya. Tetapi jika itu tidak terbukti maka aku akan menyeretmu kedalam masalah Amor. Kamu tahu kan menuduh orang lain tanpa bukti itu sangat bahaya, apalagi mengingat profesiku yang seorang pengacara" tutur Martin.
"Kamu tidak percaya kepadaku mas? jelas-jelas dia sudah berada di atas ku. Itu artinya apa mas. Kurang bukti apalagi" ucap Amora.
Keluarlah Martin menuju kamar Pelix.
Brukhhhhh...
Tiba-tiba pintu di dobrak sangat keras dari luar dan langsung mencengkram tubuh Pelix.
"Kau apakan istriku, bajingan?" tanya Martin dengan nada beringas.
"Saya tidak apakan istri anda. Ini hanyalah salah paham saja" jelas Pelix membela diri.
"Ngaku atau aku bawa ke kantor polisi sekarang?" ucap Martin dengan penuh penekanan.
"Tunggu dulu tuan. Anda hanya mendengarkan sepihak saja bukan? apakah anda tidak mau mendengarkan alasan saya?. Saya memang bekerja dengan anda manamungkin berani kepada istri anda. Saya tidak bersalah dan saya tidak akan mengakui apa yang tidak saya perbuat. Dan kalau anda menuduh saya tanpa bukti, itu bisa membawa anda dan profesi anda dalam masalah" ucap Pelix dengan mata selidix. Tak ada ketakutan di sana. Jiwa kemafiaannya keluar. Dingin dan seakan ingin menerkam lawan bicaranya.
"Sialan memang kau. Beraninya mengitimidasi aku" jawab Martin.
"Saya tidak mengintimidasi anda tuan. Saya saat ini hanya membela diri saya yang tidak bersalah. Mungkin saya saat ini tak punya bukti. Tunggu saja sampai kebenaran berpihak kepada saya. Dan satu lagi jika anda memecat saya sekarang, maka saya akan siap untuk pergi" tutur Pelix.
Mendengar itu, dia ingat akan kamera cctv yang dia sembunyikan di kamar Amora. Tujuan utama di simpan nya cctv adalah untuk memata-matai Amora.
"Ikut aku" ucap Martin yang di ikuti oleh Pelix di belakang.
Sampailah di kamar Amora dan Martin menuju tempat cctv itu di simpan.
"Mas, kenapa bawa dia kemari. Aku muak dengan nya" lirih Amora.
Melihat reaksi Amora. Pelix hanya diam saja dan bersikap sangat tenang.
Di ambilah ponsel yang langsung terhubung dengan video yang ada di kamar itu.
"Dengan ini kebenaran akan terungkap" ucap Martin dengan nada tegas.
Di putarlah video itu dan terlihatlah aksi yang di lakukan keduanya. terlihat Amora di gendong oleh Pelix, di baringkan dan di selimuti. Kemudian ketika Pelix ingin keluar tetapi tangan Amora menjegalnya hingga Pelix terjatuh di atas tubuh Amora. Sesaat kemudian Amora terbangun dan marah-marah.
"Kamu tidak bersalah" ucap Martin kepada Pelix.
"Ya saya tahu Tuan" ucap Pelix dengan nada mengejek dan mencebik ke arah Amora yang masih tertunduk lesu sekaligus merasa malu atas tindakannya.
"Kamu boleh keluar. Dan maafkan tindakan saya tadi" ucap Martin
Keluarlah Pelix dari kamar itu dan langsung menuju kamarnya untuk melihat reaksi majikannya dari balik selah dinding yang kroak sedikit.
__ADS_1
"Rupanya kamu yang gatal. kenapa bisa menuduh orang sembarangan. dimana otakmu. Ya aku tahu, sejak kita menikah, aku tak bisa memberimu kepuasan batin tetapi awas saja jika melanggar perjanjian kita maka kamu akan mendapat masalah" ucap Martin dengan wajah menghina.
"Cukup ya mas. Kamu tak berhak menjudge aku seperti itu. aku tahu kamu seorang lelaki impoten yang tak bisa memberikan ku kepuasan ranjang, tetapi aku tidak semudah itu melakukan dengan lelaki lain terlebih dengan supir ku sendiri. Ya aku tahu perjanjian sialan itu yang mengikat kita" jawabnya dengan lantang.
Pelix yang sedari tadi melihat adegan pertengkaran itu kini mulai memahami situasi kedua majikannya.
"Ternyata dia seorang lelaki impoten. Pantas saja istrinya selalu tidak ceria..ckkk" gumamnya pelan.
Lalu kembali lagi ke kamar Amora.
"Pelankan suaramu wanita ******. Aku tak mau jika ini semua di ketahui oleh siapapun" geram Martin sembari mencengkram rahang sang istri.
"Auchhhhhh mas, sakit mas. Ampun. Kamu sudah melakukan kekerasan dalam rumahtangga mas tolong lepaskan" lirih Amora sembari meminta pengampunan.
Mereka tak menyadari kalau aksi nya di rekam oleh Pelix dengan menggunakan ponselnya di balik celah dinding itu. Dengan leluasa kamera ponsel memindai video ketika Martin melakukan kekerasan terhadap istrinya. Dilihat tindakan Martin yang terlalu keras membuat hati kecil Pelix menjadi tak terima.
"Dasar lelaki binatang. Sudah impoten kasar pula" gumam Pelix.
Keluarlah dia dari kamarnya dan segera menuju dapur. terlihat Vivid yang ketakutan mendengar keributan majikannya.
Diambilah piring dan Pelix memecahkan nya.
"Opo to yooo mas! Sudah mas kamu jangan merusak barang-barang disini mas" ucap Vivid dengan ketakutan.
"Sudah mbak diam saja dan bantu saya. Kamu tahu di dalam Tuan Martin sedang menyiksa istrinya. Apa kamu mau kalau majikanmu mati disini" jawab Pelix
"Baiklah mas saya akan bantu" ucap Vivid terbata.
Terdengar tangisan di dalam kamar. Ketika tangan Martin ingin menampar wajah sang istri. Vivid berjalan tergesa ke depan kamar majikanya dan memecahkan mangkuk dengan kerasnya.
Pranggggggggggg...
Sekerika tangan Martin yang terayun ke wajah Amora melepaskan ketika mendengar bunyi barang pecah itu.
di Bukanya pintu dan terlihat Vivid sedang membersihkan pecahan kaca itu.
"Kamu menguping kita?" tanya
"Hmmmmmmmz~~~ti- tidak tuan. Saya kebetulan lewat sini ketika membawa mangkuk ini dan saya terpeleset disini. Maaf tuan jika saya menggangu" ucap Vivid sambil terbata.
"Bereskan ini semua cepat" Ucap Martin sembari berlalu menuju pintu rumah itu dan keluar dengan mengendarai mobilnya.
Melihat Martin yang sudah pergi dari rumah itu. vivid hanya terdiam melongo. Tak Lama kemudian, dia mendengar suara tangisan dari dalam kamar itu. Masuklah Vivid dengan nada ragu. Sesaat melihat keadaan sang majikan yang menyedihkan dengan rambut kusut, baju sedikit terkoyak, wajah lebam, dan ekspresi wajah yang bermuram durja.
di hampirinya wanita yang menyedihkan itu oleh Vivid.
"Yaampun nyonya. Nyonya kenapa bisa seperti ini. Saya Akan bawa anda ke rumahsakit sekarang" ucap Vivid panik.
__ADS_1
Tak menjawab pertanyaan Vivid, Amora malah berhambur kepelukan pembantunya itu dengan tangisan yang menguar.
"Mbak saya salah apa kepada suami saya mbak. suami saya selalu memperlakukan hal yang buruk kepada saya~~~hikhikhik" ucap Amora sembari menangis tersedu di pelukan ART nya.
"Nyonya tidak salah apapun. Tuan yang tidak bersukur bisa mendapatkan wanita sebaik anda. Nyonya harap bersabar" Ucap Vivid sambil mengelus punggung sang majikan.
Lama Amora menumpahkan kesedihan di dalam pelukan ART yang sudah dia anggap adiknya itu.
"Mbak bisa panggilkan Pak Pelix kemari. Saya ingin bicara" ucap Amora lirih.
"Baiklah Nyonya" jawab Vivid sembari berlalu menuju kamar pelix.
Sesampainya di kamar Pelix, Vivid segera mengetuk pintunya.
Tok tok tok.
Tak lama, sang penghuni kamar itu membukanya.
"Ada apa mbak kemari?" tanya Pelix malas.
"Mas di panggil ke kamar sama nyonya. Beliau minta, mas ke kamarnya sekarang"
"Baiklah" jawab nya singkat.
Sesudah sampai di depan pintu kamar Amora. Dia segera mengetuk pintu dan di persilahkan masuk oleh Amora.
" Nyonya memanggil saya untuk apa? ingin memecat saya atau apa?"tanya Pelix tanpa basa-basi.
Rasanya ingin marah, tetapi urung karena melihat Amora dengan penampilan yang memperihatinkan terutama di bagian wajah nya yang lebam.
"Kemari pak. Saya meminta maaf pada anda. Saya sudah menuduh anda yang tidak-tidak. maafkan saya" lirih Amora yang menatap nanar pada Pelix.
"Ya sudah" ucapnya singkat.
Ketika Pelix ingin berbalik badan dan meninggalkan Amora di kamar. Tiba-tiba Amora memeluknya dari belakang.
"Maafkan saya Pak Pelix, maafkan saya" ucapnya lirih.
"Sudah saya maafkan nyonya. Tolong lepaskan pelukan anda. Nanti saya di kira lelaki cabul" kesal Pelix.
"Tetaplah disini, jangan tinggalkan saya. Saya tak punya siapa-siapa disini pak" lirih Amora.
Di balik lah tubuh Pelix seketika menghadap Amora dan mereka kini berhadapan. Pelix paling tak tega melihat wanita yang di pukuli lelaki seperti yang di alami majikannya.
"Luka anda harus segera di bersihkan nyonya" ucap Pelix sembari ingin mengurai pelukan Amora. Tetapi Amora enggan melepaskan pelukan itu. Bukannya renggang, pelukan itu malah semakin erat hingga bukit kembar menempel jelas di tubuh Pelix. Merasakan benda itu membuat jiwa kelelakian nya bangkit hingga membuat si kecil di bawah sana menggeliat dari bobo cantiknya.
"Sial betul si rembo. Plis jangan bangun jangan. Aku malu kalau Amora tahu" gumanya .
__ADS_1
Dan betul yang dia duga. Amora merasakan sesuatu yang tumpul nan keras menyembul dari dalam celana sang supir. sekejap Amora teriam merasakan benda pusaka milik Pelix menggeliat manjalita di bawah sana. Tak tahan dengan ini semua akhirnya Pelix melepaskan pelukan majikannya itu.
"Maaf nyonya. saya lelaki normal. saya tidak bisa menerima perlakuan seperti ini" ucap nya sembari mengurai pelukannya dan berlalu dari kamar itu.