
Diana yang sedang menonton sinetron Ikatan Batin yang di bintangi aktor dan aktris papan atas yang bernama Iryi Siliki dan Imindi Minipi terlonjak mendengar pintu di ketuk dari luar.
Tok Tok Tok!! Suara pintu yang terus di ketok.
"Siapa sih malam-malam begini mengganggu saja. Jadinya aku gak lihat Indin mencium Ildibirin! Kesel deh" gumam Diana kesal.
Dibukanya pintu itu, dan terlihalah Amora dengan wajah sembab dan mata bengkak.
"Ya tuhan nak. Kamu kenapa dan malam-malam kemari ada apa?“ tanya Diana sembari menuntun Amora ke dalam rumah.
Di dudukan lah dia di sofa itu dan Diana mulai menelisik keadaan nya.
" Ibu tanya padamu Amor, kenapa kamu bisa pulang tanpa di antar oleh suamimu malah di antar oleh nak ganteng ini?" tanya Diana sembari melihat Pelix.
Amora masih diam. Dia tak kuasa harus menjawab apa kepada sang ibu.
"Maaf tante sebaiknya Amora di biarkan tenang dulu" senggah Pelix.
"Baiklah nak Pel" jawab Diana.
Sesudah keadaan tenang Amora mulai bercerita tentang keadaan yang sebenarnya kepada sang ibu. Dengan berurai air mata dia bilang bahwa rumah tangganya bersama Martin sedang tidak baik-baik saja tetapi dia enggan bicara tentang KDRT yang selama ini Martin lakukan.
"Jadi nak Martin menuduh kalian selingkuh? benar?“ tanya Diana.
" Benar bu" jawab Amora.
"Tapi kalian tidak kan?" tanya Diana lagi.
"Tidak bu" jawab Amora.
"Betul nak Pelix?" tanya Diana.
"Benar tanteu" jawab Pelix mantap.
"Sukurlah kalau begitu. Nak Martin memang sejak awal sebenarnya ibu kurang yakin dengan pernikahan kalian. Hanya saja sudah terlanjur dengan perjodohan itu. Semoga sifat nak Martin lebih welas asih lagi kepadamu Amor".
Memdengar Diana mengatakan itu membuat Amora hanya bernafas kasar. Diana pun mengajak mereka untuk makan malam. Selesai makan malam, Pelix pamit untuk kembali ke rumah Amora, karena rumah nya tak ada yang menjaga.
"Yasudah tanteu saya pergi dulu. Biarkan lah Amora beristirahat menenangkan pikirannya dulu disini" ucap Pelix.
"Terimaksih Pel" ucap Amora.
Pelix pun pergi dan langsung menuju rumah Amora. Sesampai dirumah Amora. Dia melihat Martin yang sedang terduduk lesu di lantai teras itu. Pikirannya menerawang entah kemana. Pelix yang sedikit iba melihat laki-laki itu pun segera menepuk pundaknya.
__ADS_1
"Tuan! Tuan! Maaf saya menggangu. Alangkah baiknya anda masuk. dan saya ingin bicara masalah soal tadi" ucap Pelix
Martin pun bangkit dan berjalan mengekor di belakang Pelix. Mereka pun duduk di ruang tamu.
"Apa aku terlalu kasar? sudah kesekian kalinya aku berbuat di luar kendali kepada istriku" tutur Martin.
"Anda menyesal?" tanya Pelix.
"Aku sangat menyesal" jawab Martin.
"Aku tidak ingin mengambil istrimu tuan Martin. Jika anda mengira istri anda menjalin kasih dengan seorang bawahan maka anda sudah melakukan kesalahan besar" tutur Martin.
"Ya, aku percaya padamu. Saat itu aku hanya emosi saja. Aku sungguh menyesal" lirihnya.
"Dan untuk sebutan tuan kepadaku, sungguh tidak enak di dengar. Kita pasti seumuran bukan? panggil nama saja lebih pas. Lagian aku tak sekaya itu untuk di panggil tuan" ucap Martin kepada Pelix.
"Oke broo" Jawab Pelix.
"Itu lebih pas" ucap Martin.
"Untuk seorang pria sejati yang sedang bersedih obatnya ada dua jalan. Kau tahu ?" ucap Pelix dengan pertanyaan.
"Apa itu? " tanya Martin.
"Jalan pertama yaitu beribadah kepada Tuhan. Dan yang kedua adalah meminum segelas wine. Tinggal pilih saja yang menurutmu baik" jawab Pelix.
"Oke itu pilihanmu. Tunggu sebentar aku ambilkan no dua untuk mu" ucap Pelix sembari berlalu menuju gudang peternakan kuda. dia mengambil sebotol wine yang di bawanya dari ruang bawah tanah.
Kemudian di berikanlah botol itu kepada Martin. Melihat wine yang termasuk sangat mahal membuat dia sedikit curiga kepada Pelix.
"Darimana kamu dapatkan barang yang begitu langka ini? seumur hidupku baru pertama melihat wine ini" tanya Martin takjub.
"ku menemukan ini di dekat gudang ternak. Mungkin ini punya tuan rumah dahulu. Silahkan coba dan kau akan merasa segar" ucap Pelix.
Dan mereka pun meminum wine hingga habis dan tertidur di atas sofa.
Pagi pun tiba. Semburat sinar mentari menyorot ke arah wajah dua lelaki yang tertidur selepas mabuk itu.
Pelix pun bangun terlebih dahulu dan tak ingin membangunkan majikannya yang masih terawang dalam mimpinya.
__ADS_1
Pelix bergegas mandi. Setelah itu dia langsung mengurus semua kuda yang ada di peternakan. Dia menelpon Amora dan langsung di angkat nya.
"Hallo Amor" ucap Pelix di sebrang telpon.
"Hai Pel. Ada apa kamu menelpon ku pagi-pagi?" tanya Amora.
"Aku hanya ingin memastikan apa kamu sudah baik!" serunya.
"Aku baik Pel. aku merindukanmu" ucap Amora dengan suara pelan yang sayup terdengar dan langsung mematikan panggilan dari Pelix.
Pelix hanya tersenyum samar mendengar ucapan dari majikannya itu.
"Ini sudah gila. Bagaimana aku bisa menjalin hubungan dengan wanita istri orang. Tapi bagaimana lagi dia pun nyaman dengan semua perlakuan ku selama ini dan aku pun terbuai. Bagaimana kalau keluargaku tahu aku mencintai seorang wanita yang sudah bersuami maka mereka akan menertawakanku" gumam Pelix.
Sesudah menjalankan tugasnya, diapun hendak meminta izin kepada Martin untuk pergi sebentar dengan alasan ingin menemui seseorang. Ketika hendak meminta izin, rupanya Martin sudah tidak ada di sofa itu. Dia sudah bangun dan langsung pergi.
"Orang itu seperti jaelangkung" ucap Pelix.
Sebelum pergi, diapun menyempatkan untuk menutup pintu dari dalam dan menutup semua gorden rumah itu agar tidak ada tahu dia melakukan apa di dalam rumah.
Dia langsung berjalan menuju ruang bawah tanah untuk membawa narkoba sesuai dengan permintaan Leon sang kakek.
Sesudah mengantongi barang itu, dia segera bergegas keluar dan menuju luar rumah. Ketika dia sudah berjalan beberapa langkah tiba-tiba suara Bariton seseorang menghentikan langkahnya.
"Mau kemana kau sepagi ini membawa tas besar?" ucap suara bariton lelaki itu yang ternyata Martin.
Falshback Martin satu jam yang lalu.
"Aku ingin berjemur sebentar sebelum aku mandi" ucap Martin dengan memakai celana boxer motif Tayo.
Dia pun berjemur di atas rumput dengan alas kain. Badannya pun sesekali menggeliat dan berguling-guling seperti seorang bayi.
Satu jam kemudian dia bangkit karena ingin mandi. Ketika dia memasuki halaman rumah, dia melihat Pelix yang hendak pergi dengan membawa tas ransel besar dan membuat dia heran.
"Boleh aku membuka tas itu?" tanya nya sekali lagi.
Tampak sedikit panik tetapi dia menyerahkan tas itu kepada Martin. Dia pun membuka tas itu dan mendapat hanya baju-baju yang sudah koyak. Satu persatu baju itu Martin angkat membuat Pelix semakin pucat.Ketika Martin hendak membuka tumpukan baju terakhir, dia di kagetkan dengan suara ponselnya berdering.
"Hallo. Ada apa?" tanya Martin.
"Pak di kantor ada suami dari client yang bernama sinta. Beliau mengamuk karena anda membantu kasus istrinya. Keadaan disini kacau. Saya harap anda secepatnya kemari" ucap seseorang di seberang telp.
Mendengar hal itu membuat Martin murka.
__ADS_1
"Sialan! Awas saja kau. Akan secepatnya ku jerat dengan berbagai pasal" geram Martin.
Dia pun langsung pergi ke dalam rumah dan menaruh tas ransel milik Pelix. Sebelum nya Pelix sudah meminta izin untuk pergi dengan membawa mobil Amora.