SUPIR KU SEORANG MAFIA

SUPIR KU SEORANG MAFIA
Menerima


__ADS_3

"Ada apa mas Billy jauh-jauh menemui aku?" tanya Vivid dengan gugup.


"Begini honey, aku sengaja ingin menemuimu karena aku ingin melamarmu" ucapnya spontan.


"Apa, melamar?" Tanya ketiga orang itu terkejut.


"Ya saya kemari ingin melamar anak ibu untuk menjadi istri saya" Billy mengatakan itu dengan hati yang mantap


Vivid kemudian mengajak sang ibu pergi ke dapur.


"Sebentar ya mas Bill, Aku mau bicara dulu dengan ibu" ucapnya sembari mengajak sang ibu pergi.


Billy yang kepo kemudian membuat alasan ingin buang air kecil kepada adik nya Vivid.


"Dek, maaf saya ingin ke kamar mandi. Dimana ya letaknya?" tanya Billy pada gadis itu.


"Lurus belok kiri mas sebelah dapur" jawabnya.


Billy pun berjalan menuju kamar mandi dekat dapur yang di sekat tembok. Dia lalu mendengarkan apa yang Vivid bicarakan dengan ibunya.


"Bagaimana nduk apakah mas Billy mau kamu terima lamarannya?" tanya sang ibu.


"Aku ndak tahu bu! Aku malu mas Billy itu orang kaya bu sedangkan kita orang gak punya, ya walau sekarang kita sudah berkecukupan tapi rasanya aku minder bu" jawab Vivid.


"Kamu sebenarnya sukakan sama dia nduk?" Sang ibu terus bertanya.


"Sebenarnya aku cinta sama mas Billy tapi aku minder bu, apalagi kata mas Pelix kalau dia itu tukang gonta-ganti wanita" ucapnya lesu.


"Ibu sih terserah kamu saja nduk. Ibu juga takut kalau nanti kamu di hina sama keluarganya karena kita tidak kaya. Harga dirimu no satu nduk! Ibu tidak rela jika dia menyakitimu apalagi kamu bilang dia suka gonti-ganti wanita" tutur sang ibu dengan nada penuh kecemasan.


"Tapi hati ku sudah cinta sama mas Billy tapi disisi lain aku takut. Aku itu bukan level dia bu" Vivid menangis di pelukan sang ibu.


"Yang tabah ya nduk. Kita sadar diri itu perlu! Ibu tidak akan memaksamu dengan siapapun jodohmu ibu akan terima. Lantas bagaimana cara menolak dia, ibu pun berasa tidak tega karena dia sudah tampan sekali, dan jauh-jauh kemari?" tanya Sang ibu bingung.


"Begini saja bu, ibu katakan saja bahwa aku sudah ibu jodohoan dengan pemuda kampung ini. Dengan begitu mas Billy pasti mengerti" Vivid sebisa mungkin mengajatkan sang ibu untuk berbohong tanpa di sadari Billy dari tadi mendengar percakapan itu.


"Lah kan pemuda kampung ini sudah pada menikah semua, bagaimana jika dia pinta bukti?" tanya sang ibu semakin ragu.


"Ada kok bu yang belum nikah. Ibu tahu ndak anaknya bude Lilik yang namanya Fajar yang wajahnya melow karena dia suka ekting nangis kalau ketahuan bude Lilik mencuri uangnya?" tanya Vivid.


"Ya ibu tahu dia kan Fajar Sadboy" jawab sang ibu



"Yasudah bu ayo kita temui mas Billy dia sudah menunggu" ajak Vivid oada ibunya.


Billy pun kembali kagi ke ruang tamu dan tak lama Vivid dan ibunya menemui Billy kembali.

__ADS_1


Tidak ada ketegangan di wajah Billy karena dia sudah tahu jawaban apa yang di berikan oleh sang pujaan.


"Bagaimana bu apakah lamaran saya di terima?" tabya Billy pada calon mertuanya.


"Sebelumnya maaf nak Billy, tapi Vivid sudah di jodohkan dengan pria kampung disini. Maaf sekali lagi mungkin kalian belum jodoh" tutur sang ibu dengan nafas beratnya.


"Oh seperti itu ya bu. Baiklah tak apa! Tapi boleh saya bertemu dengan pria itu, pria yang sudah di jodohoan dengan anak ibu?" tanya Billy menantang.


Keduanya mendadak pucat karena bingung harus mencari Fajar sadboy dimana untuk menyakinkan pemuda itu agar mau bersandiwara menjadi tunangannya Vivid.


"Nak Billy mau apa dengan tunangan anak saya?" tanya sang calon mertua dengan gugup.


"Saya ingin mengajak dia duel. Siapa yang menang maka dia berhak atas anak ibu" jawab Billy tegas.


"Lah dalah duh gusti, bagaimana ini kok jadi begini" gumamnya.


Karena suasana sedikit panas, akhirnya Vivid mengajak Billy pergi ke lantai atas rumahnya untuk bicara.


"Mas Billy ikut aku sebentar" ucap Vivid sembari menarik tangan Billy.


Sesudah sampai di lantas atas mereka duduk di kursi kayu sembari memandangi bintang dan cahaya bulan.


"Apa?" tanya Billy dengan wajah kecewa.


"Mas kenapa bilang begitu pada ibu?" Vivid sesikit kesal.


"Mas Billy kenapa maksa begitu?" tanya Vivid.


Kemudian tangan Billy menyentuh pundak Vivid dan memandang netra itu dengan perasaan dalam.


"Tatap aku honey, temukan arti cinta disini" ucapnya.


Vivid pun memandang nerta itu dalam-dalam dan di hayati. Ada cinta disana. Cinta yang dalam dan keseriusan.


"Apa kau mencintaiku sayang?" tanya Billy dengan tangan mengelus lembut pipi wanita pujaannya.


Vivid pun seketika menitikan air matanya dan mengangguk lesu.


"Kenapa membohongi perasaanmu sayang? Kenapa enggan jujur padaku dan memilih mengajak ibumu berbohong dengan mengatakan kau sudah di jodohkan?" tanya Billy dengan tangan menangkup pipi sang pujaan.


"Mas tahu?" tanyanya lirih.


"Aku tahu sayang, ku sengaja mengikutimu sewaktu kau mengajarkan ibumu berbohong"jawab Billy.


" Ya tuhan aku malu pada mu mas" Vivid berbicara dengan kepala tertunduk.


"Maaf mas Bill, bukannya aku menolakmu tapi keadaanmu denganku jauh berbeda! Mas cari saya wanita yang sepadan denganmu" ucap Vivid dengan kepala tertunduk, air matanya mulai merembes membasahi pipinya.

__ADS_1


"Jadi soal harta yang jadi masalahmu sayang?" tanya Billy dengan jari mengangkat dagu Vivid.


Vivid hanya mengangukan kepala.


"Aku tidak pernah mempermasalahkan itu honey! Aku mencintaimu dengan sungguh-sungguh dan ingin menikahimu" tuturnya yakin.


"Tapi aku hanya seorang pembantu" ucapnya kelu.


"Aku tidak memandang itu" Billy berusaha meyakinkan gadis pujaannya.


"Satu lagi yang buatku sulit menerimamu mas. Kamu selalu gonta-ganti wanita dan aku tak ingin kau sakiti atau diselingkuhi" ucapnya dengan lantang.


Billy sekali lagi merengkuh tubuh mungil itu berusaha meyakinkan kegelisahan sang pujaan.


"Mungkin dulu aku seorang bajingan, tapi sekarang aku sudah melupakan kebiasaan buruku sayang. Aku hanya ingin satu wanita yaitu kau honey. Tolong percaya padaku, aku sudah bertobat dan mau menikahi satu wanita yaitu kamu" Billy dengan mata berkaca-kaca menatap pujaan hatinya.


"Maukah kamu menikah dengan ku?" tanyanya dengan wajah gugup.


Vivid pun tampak berpikir sejenak dan akhirnya mengangguk.


"Ya mas aku mau menikah denganmu" jawab Vivid malu-malu meong.


"Serius?" tanya Billy.


"Ya mas" jawabnya


Betapa bahagianya Billy kala pengorbanan jauh-jauh dari Jakarta berbuah manis.


Billy langsung memeluk Vivid dengan erat dan menciuminya dengan sangat agresif karena saking bahagianya. Vivid pun membalasnya.


"Eummppphh,, Mas sudah nanti kebablasan" Vivid melenguh karena aksi nakal Billy.


Billy pun melepaskan pagutan itu dan membenahi baju Vivid yang mulai terbuka kancingnya.


"Maaf honey, aku terlalu bahagia" Billy sekali lagi mencium bibir pujaan hatinya dengan singkat.


"Mas agresif sekali sih" dia baru sadar kalau Billy pria agresif.


"Honey, mumpung udara malam ini mendukung, bagaimana kalau di cicil saja di sini kan ibu tidak akan tahu" Billy merajuk.


"Gak ya mas Bill! Cicil apa? Memangnya aku kredit panci harus di cicil segala. Mas Billy kalau mau gitu jangan sama aku ya mas! Cari saja wanita penghibur" Vivid kesal dan segera melangkahkan kaki ke tangga tetapi Billy mencekal tangannya.


"Maaf honey jangan marah ya! Please jangan ngambek" Billy memeluk Vivid.


"Ya habisnya mas Bill kok begitu. Ingat ya mas itu dosa kita belum menikah" Vivid tak suka pada sikap agresifnya Billy


"Iya honey aku akan menunggumu halal dulu" ucap Billy lesu.

__ADS_1


"Yasudah kita bilang ibu dulu ya mas" Mereka pun meninggalkan lantai atas dengan perasaan bahagia.


__ADS_2