
Pagi pun datang, Jhonson sudah rapih dengan stelan kameja berwarna biru muda di padukan dengan jas dan celana bahan. Kaisyah sudah memakai kebaya dengan rambut di sanggul ayu.
"Sudah siap sayang?" tanya Jhonson sembari mencium bibir Kaisyah sekilas.
"Sudah!" jawab Kaisyah dengan senyum di bibir merekahnya.
"Aku tak sabar" ucap Jhonson.
"Tak sabar apa hem? Nakal ya sekarang. Malu sama umur" ucap Kaisyah terkekeh.
"Kita sudah lama loh. Apa kamu tak rindu dengan posisi aku di belakangmu lalu ku jambak rambutmu dengan mesra?" tanya Jhonson sedikit liar.
"Jangan begitu lagi. Takut kita akan encok" jawab Kaisyah.
"No sayang. Aku masih kuat"jawabnya tepat di kuping Kaisyah membuat dia merasakan gelenyar aneh pada tubuhnya.
" Penghulunya sudah tiba, ayo segera bersiap-siap" ucap Pelix.
Mereka pun berkumpul di ruang utama. Disana sudah ada pak penghulu menunggu. Jhonson pun mengikrarkan janji sucinya dan akhirnya sah sebagai suami dari Kaisyah.
Ada yang rindu dengan Amora? Othor akan balik lagi menulis kan tentang Amora.. 😘😘😘😘
Sebulan kemudian.
Kandungan Amora sudah memasuki trimester kedua. perutnya pun sudah terlihat membesar. Sudah hampir dua minggu Martin jarang pulang entah keberadaannya pun tidak di ketahui Amora. Pikiran Amora menjadi berkecamuk dia semakin kurus.
"Nyonya, anda kenapa berada di peternakan?" tanya Billy yang sudah selesai memandikan kuda-kuda itu.
"Saya hanya ingin disini saja. Entah kenapa hidup saya se-kesepian ini pak Billy" lirih Amora.
"Masih ada saya dan Vivid yang bisa menjadi teman bercerita" jawab Billy.
"Terima kasih karena telah menjadi teman curhat saya. Entah semenjak saya memutuskan hubungan dengan Pelix, saya menjadi tambah kesepian" ucap Amora dengan nada terisak.
"Pilihan yang sulit nona. Apapun yang anda putuskan maka anda pun yang akan merasakan buah dari keputusan itu" ucap Billy santai.
"Ya anda benar pak Billy" jawabnya kelu.
Di sela-sela obrolan itu, Vivid datang dengan membawa sepiring asinan buah dan sepiring nasi lengkap dengan lauk pauknya.
"Bawa apa honey?"tanya Billy.
"Bawa asinan buah sama nasi buat nyonya makan. Dari pagi nyonya belum makan apapun saya khawatir sama si kembar" ucap Vivid.
"Terima kasih mbak" ucap Amora yang langsung memakan nasi dengan lahapnya.
Entah kenapa dia jadi lahap sekali makan hari ini.
"Nyonya makan yang banyak ya, biar mereka sehat. Ini vitamin dan asam folat nya harus di konsumsi setiap hari" titah Vivid.
Amora merasa terharu pada kedua nya.
"Terimakasih ya mbak dan pak Billy sudah peduli pada saya" ucap Amora.
"Sama-sama" ucap keduanya kompak.
Amora pun pamit kepada keduanya untuk beristirahat di kamarnya.
"Saya pamit ke kamar ya mbak, silahkan kalau kamu masih ingin mengobrol dengan pak Billy di sini karena kerjaan kamu kan sudah beres semua" ucap Amora sembari melangkahkan kaki nya.
Kini tinggalah Vivid dan Billy berdua di peternakan itu. Suasana canggung pun menyelimuti keduanya.
"Honey kamu kenapa seperti tegang begitu?" tanya Billy.
"Mas Bill yang terhormat, bisa tidak sih jangan panggil aku honey! Aku malu tau mas di kira kita pacaran!" gerutu nya kesal.
"Terserah aku dong!"timpal Billy.
" Sumpah ya mas, sampean itu ngeselin" ucap Vivid.
"Ngeselin apa ngengenin?" tanya Billy menggoda sembari mencuil dagu Vivid.
Vivid pun segera menepis tangan Billy dari wajahnya.
Billy semakin tergoda dengan bibir Vivid apalagi dia memakai lipstik berwarna Maroon di tambah keringat yang mengucur dari selah leher turun ke dadanya membuat pikiran jahanam itu muncul. Billy pun mempunyai ide untuk mengerjai gadis pujaannya.
"Honey aku boleh minta tolong?" tanya Billy.
"Boleh! Mau bantuan apa dariku mas?" tanya Vivid sembari mengunyah asinan buahnya.
"Tolong ambilkan kunci dalam kantong celanaku, tangan ku sedang pegal" perintah Billy.
__ADS_1
Dengan polosnya Vivid pun menuruti perintah konyol Billy. Di rogohnya kantong celana Billy yang ternyata saku itu bolong dan langsung tembus ke pusat bumi nya Billy. Billy dengan ekspresi sayu menahan geli karena selah pahanya di remas oleh Vivid dengan sedikit cepat namun mendayu.
"Mas kok kunci nya gede banget ya mas? Mas kunci apaan sih kok keras ada lembek-lembeknya?" ucap Vivid yang masih mengobok-obok selah paha Billy tanpa Vivid ketahui.
"Eummmmhhh"Billy melenguh matanya mendelik ke atas dengan menggigit bibir bawahnya.
" Mas kuncinya kok ada bolanya dua lagi. Kunci apa sih mas?" tanya Vivid heran.
Billy tak menjawab.
Seketika mata Vivid melihat ke bawah dan dia baru sadar jika dia dari tadi meremas benda yang tegak tapi bukan keadilan itu. Dia segera mencabut tangannya dari saku bolong itu.
"Mas aku remas apa mas? Itu bukan kunci kan mas Bill? Mas Bill jawab mas kok kunci gede banget hampir sebesar tangan! Itu kunci apa?" tanya Vivid dengan ekspresi ketakutan.
"Honey kamu meremas nitnit aku" ucap Billy lirih.
"Apa aku menyentuh itu? Argggghhhhhhhhhh mama tangan ku ternoda" vivid berlari sembari memegangi tangannya.
Billy hanya tertawa melihat tingkah Vivid yang ketakutan.
Di kamar, Amora menelepon sang ibu untuk mengajak Diana mengunjungi rumah mertuanya. Dia ingin memberikan kejutan untuk meruanya atas kehamilannya.
"Hallo Amora sayang! Ada apa sore begini kau menghubungi ibu nak?" tanya Diana.
"Ibu, aku ingin mengajak mu pergi kerumah mama Yuni untuk memberitahukan kehamilanku" ucap Amora.
"Baiklah ayo. Ibu juga sudah rindu dengan dia. Ibu ke rumah mu jam lima sore ya nak" jawab Diana di seberang telepon.
"Baiklah bu. Aku tunggu!" ucap Amora.
Â¥
Di rumah orang tua Martin, mama dan papanya sedang berdebat.
"Apa mama yakin Martin ingin menceraikan wanita itu sesuai dengan janjinya pada kita?" tanya Hendra.
"Mau tidak mau harus di lakukan pah demi nama baik dia dan pernikahannya dengan Amora" jawab Yuni lantang.
"Papa sih berharap semua akan baik seperti semula lagi" ucap Hendra.
"Ya pah, mama pun berharap demikian" ucap Yuni.
"Tekanan darah ku sampai naik gara-gara memikirkan Martin setiap hari" keluah Hendra.
Yuni pun menghubungi Martin lewat telepon dan langsung di angkat oleh nya.
"Hallo mah" ucap Martin.
"Kau harus datang malam ini ke rumah" ucap Yuni.
"Baik mah" jawabnya.
"Beritahu Susan dia juga harus datang malam ini ke rumahku" ucap Yuni yang langsung memutus panggilan telepon nya.
Martin pun segera menelepon Susan agar datang malam ini ke rumah orang tuanya.
Malam pun hadir, Diana dan Amora sudah siap-siap akan pergi ke kediaman Yuni.
"Semua nya sudah siap pergi?" tanya Billy.
"Sudah! Ayo pak Billy kita pergi sekarang keburu malam banget" ucap Amora.
Mereka pun meluncur ke kediaman Yuni dan Hendra sang mertua.
Di waktu yang sama, Martin baru saja tiba di susul dengan kedatangan Susan!. Mereka langsung masuk kedalam rumah.
Hendra dan Yuni. Martin langsung di sambut oleh kedua orang tuanya di ruang tamu. Dengan tatapan tegang Yuni terus mendelik melihat Susan dan Martin apalagi dia melihat sejoli itu berpegangan tangan seolah saling menguatkan.
"Pernikahan apa yang kau inginkan Martin?" tanya Hendra.
"Aku ingin bahagia pah dengan pasanganku" jawab Martin dengan penuh keyakinan.
"Pasangan yang mana yang bisa membuat kau bahagia?" tanya Hendra.
"Pah ayolah jangan beri aku pertanyaan yang menjatuhkan kami" ucap Martin.
"Susan, tanteu tau kamu wanita yang baik, kamu pasti tidak mau kan melihat sesama wanita tersakiti bukan?" tanya Yuni.
Susan saat ini hanya menunduk sembari menangis tak mampu menjawab pertanyaan yang Yuni lontarkan.
Di luar, mobil yang Amora naiki sudah sampai di halaman rumah Hendra. Amora pun mengernyitkan dahi manakala melihat mobil sang suami terparkir disana.
__ADS_1
"Loh kok ada mobil nya mas Martin disini? Apa dia juga sama sedang berkunjung ke rumah mama" ucap Amora.
Amora pun mengetuk pintu tetapi tidak ada yang menyahuti. Dia pun masuk begitu saja bersama Diana.
Tiba di dalam rumah terdengar sayup-sayup sang mertua tengah memarahi seseorang.
"Mama sedang marah dengan siapa ya?" gumamnya.
Jiwa kepo Diana meronta. Dia mengajak sang putri mendengarkan dari balik tirai ukiran kayu jati sebelah kursi yang di duduki mertuanya namun dia tidak melihat posisi Martin dan Susan.
"Kamu tahu kan jika Martin sudah beristri? Dan saya hanya menerima Amora sebagai menantu saya satu-satunya" ucap Yuni pada Susan.
Deg hati Amora merasa nyeri begitupun dengan Diana. Mereka berdua saling pandang dalam netra dan pikiran bingung.
"Saya tahu tanteu, saya salah" ucap Susan.
"Tapi bagaimanapun saya istri dari anak tanteu dan saya mencintainya" ucap Susan.
JDAR JDER JDORRRRR!! Gemuruh dada Amora mendengar itu bak di sambar petir di siang bolong.
Hati perempuan mana yang sudi mendengar penuturan yang membagongkan macam itu dari seorang perempuan lain. Oh no Amora hatimu tak setegar batu karang, hati mu rapuh sama seperti hati Aurhor ini.
"Martin, mama harap kau menepati janjimu. Janji jika sudah sebulan kau pasti menceraikan dia" ucap Yuni sembari menunjuk Susan.
"Ma, tidak kah mama punya rasa iba pada Susan mah! Biarkan dia terus menjadi istriku asal Amora tidak mengetahui itu. Aku janji aku pasti bisa adil dengan keduanya" ucap Martin.
"Aku sudah tahu"ucap Amora yang tiba-tiba muncul di hadapan mereka.
Semua yang ada di ruangan itu sontak terperanjat. Martin dengan paniknya langsung berhambur pada sang istri pertama dan hendak memeluknya. Amora seketika mundur .
" Stop!! Jangan menyentuhku" ucap Amora dengam isyarat tangan terbuka.
"Amor dengar kan penjelasakn ku dulu ya sayang tolong aku ingin bicara!" ucap Martin.
"Jadi ini yang buat kamu jarang pulang dan mengabaikan ku hah? Wanita ini yang jadi wadah pelampiasan hasrat mu? Bahkan kalian sudah menikah!" Amora menangis dengan tatapan murka.
"Kamu jal@ng sudah bermain-main dengan suamiku. Bagaimana enak rasa goyangannya atau "********" besar? Sampai kau tidak bisa membedakan mana pria yang bujang dengan pria beristri" ucap Amora sembari menjambak rambut Susan dengan kasar.
Diana langsung menghadang Amora agar tidak membabi buta pada Susan.
"Cukup nak cukup! Kau bukan wanita kasar nak kendalikan emosimu" ucap Diana sembari merangkul tubuh sang anak.
"Jahat kalian berdua! Sangat jahat padakuHuhuhu" Tangis Amora dalam pelukan sang ibu.
"Jadi kecurigaan ku semenjak kejadian di mall itu tidak salah. Itu kau kan?" tanya diana.
"Benar bu itu saya! Maafkan saya bu maafkan saya" ucap Martin sembari bersimpuh di kaki sang mertua.
"Dengan sadarnya kau menyakiti hati anakku? Kau sadar tidak bahwa perbuatan mu akan mengundang banyak masalah. Jika tahu akan seperti ini persetan aku akan menyetujui perjodohan ini"ucap Diana geram.
" Maafkan anak kami jeng Diana maafkan" ucap Yuni mengiba.
"Kalian sudah tahu kan bahwa anak kalian berpoligami? Saya kira kamu Yuni sahabat terbaik saya tetapi kamu juga sama saja pintar menyembunyikan bangkai!" ucap Diana.
Yuni dan Hendra hanya tertunduk malu.
"Mas, kau tahu saat ini ku sedang mengandung anakmu? Kau memang lelaki yang sangat tidak punya perasaan! Aku setiap hari melewati masa ngidam seorang diri! Dan aku tahu jawabannya kau malah memadu kasih dengan pelakor ini" ucap Amora.
"Putuskan sekarang juga Martin, ceraikan Susan" ucap Yuni.
"Tidak! Aku menolak perceraian ini. Bagaimana seorang suami menceraikan istrinya jika dia sedang hamil" ucap Susan.
"Apa hamil?"
"Hamil?"
"Hamil!" ucap Amora, Martin dan Diana.
"Ya aku sedang hamil anak Martin. Kandungan ku sudah delapan minggu! Aku tidak mau anaku lahir tanpa seorang ayah" ucap Susan mengiba.
"Astaga Martin apa yang ada dalam pikiranmu? Aku tidak mengerti" ucap Hendra.
"Pilih aku atau wanita ini?" ucap Amora memberi ultimatun.
Martin hanya diam tak mampu menjawab pertanyaan dari sang istri. Amora geram kemudian dia berlari ke luar di ikuti oleh Diana, dan ketika orang lainnya.
Amora berlari menuju jalan raya. Tak di sangka mobil dari arah yang berlawanan melaju kencang seketika Amora tertabrak dan badannya terhempas beberapa meter. Amora terkapar dengan kaki yang sudah berlumuran darah. Diana dan Yuni menjerit histeris melihat Amora yang tak sadarkan diri.
"Amora bangun sayang, Amor" tangis Diana menguar.
Tiba-tiba Diana terengah sembari memegang dadanya. Martin seketika menjadi tambah panik melihat istri dan mertuanya pingsan di tambah Amora mengeluarkan banyak sekali darah pada kewanitaannya.
__ADS_1
"Amor bangun sayang Amor maafkan aku. Maafkan akuHuhuhuhu" Martin menangis sembari memanggu kepala sang istri.
Ambulance datang membawa Diana dan Amora.