SUPIR KU SEORANG MAFIA

SUPIR KU SEORANG MAFIA
Akad Kembali


__ADS_3

Othor ingin peran-peran yang lainnya bahagia dulu. Baru kebahagiaan yang sesungguhnya Amora akan di dapatkan dari Pelix.. Othor gak sabar ingin secepatnya buat karya terbaru lagi dan novel Supirku Seorang Mafia ini tamat dengan happy endingnya Amora.



Dan nantikan novel terbaru ku yes bestie yang berjudul : Tragedi Daster Ungu.



Akan rilis sebentar lagi... Gak sabar aku tuh..


Hendra dan Yuni sudah berada di rumasakit yang Martin beritahukan.


Saat itu Martin sengaja menunggu kedua orang tuanya di tempat duduk depan ruang rawat.


"Martin!" sapa Hendra tergopoh-gopoh.


"Papa dan mama, sukurlah kalian sudah datang. Aku ingin menunjukan sesuatu pada kalian. Ayo masuk!" ucap Martin sembari menuntun kedua orang tuanya memasuki ruang rawat.


Ketika memasuki ruang rawat, Hendra dan Yuni di kagetkan dengan keberadaan Susan dan seorang bayi tengah tertidur dengan selang infus.


"Susan?" ucap Yuni sembari melangkah kan kakinya mendekati Susan dan bayinya.


Susan tak mampu memandang wajah wanita itu, kepalanya hanya bisa tertunduk antara takut dan grogi.


Yuni kemudian langsung memeluk Susan dan menangis.


"Ya tuhan Susan, ini kamu kan nak? Kemana saja kau selama ini? Kami selalu mencarimu. Martin hampir gila mencarimu" ucap Yuni sembari menangis.


"Maafkan saya tanteu, maafkan saya! Saat itu saya terlalu takut menghadapi semuanya" Susan juga menangis dalam pelukan Yuni.


"Semuanya sudah baik-baik saja. Jangan ada yang kau takutkan nak! Dan bayi ini anak mu dan Martin?" tanya Yuni sembari memandang bayi kecil yang sedang tertidur damai itu.


Susan hanya mengangguk.


"Berarti dia cucuku?" tanya Yuni.


Lagi-lagi Susan hanya mampu menunduk.


"Dia cucuku? Hikhikhik! Cucuku, ini oma sayang. Oma datang dengan opa kesini untuk menjengukmu. Kamu yang sehat ya nak, nanti kalau sudah sehat kamu pulang ke rumah oma" ucap Yuni sembari mencium bayi itu.


Ada rasa tidak rela pada diri Susan. Hal yang sangat dia takutkan jika suatu saat keluarga Martin membawa sang anak dan jauh darinya.


"Tolong tanteu jangan bawa anak saya, biarkan dia bersama saya. Saya tidak punya siapa-siapa lagi kecuali Nayla. Tolong saya mohon jangan pisahkan kami" ucap nya sembari menangkupkan kedua tangannya dengan perasaan yang mengiba.


"Kami tidak akan memisahkan kalian, Susan dengar kan mama nak, demi anak ini demi cucu mama apakah kamu mau kembali lagi dengan Martin? Martin selalu mencari kalian berdua?" tanya Yuni sembari memegang pundak Susan.


"Harusnya tanteu tanyakan ini pada Martin!" Susan hanya tak ingin memberikan keputusan sesuai hati nya.


Di dalam hatinya, dia masih sangat mencintai Martin, tetapi dia tidak ingin berharap lebih.


"Susan, jangan panggil saya tanteu, panggil saya mama karena kamu masih sah istrinya Martin dan ibu dari cucu mama. Bagaimana Tin, apa kau ingin rujuk lagi dengan Susan, demi Nayla?" tanya Yuni.


"Ya ma, aku ingin menikahi Susan kembali dengan pernikahan yang sebenarnya di mata agama dan hukum" ucap Martin dengan nada bersungguh-sungguh.


"Bagaimana Susan?" tanya Yuni.


"Baiklah jika begitu, saya menerimanya" jawab Susan malu-malu.


Martin pun segera memeluk Susan dan mencium keningnya.


Hari demi hari berganti akhirnya Nayla si bayi mungil itu sembuh dan pulang ke rumah Martin.


"Bagaimana jika pernikahan kalian di adakan besok?" tanya Hendra.


"Ya besok, lebih cepat lebih baik karena semua dokumen pernikahan kalian sudah mama yang urus" timpal Yuni.


"Baiklah ma kalau begitu laksanakan saja" jawab Martin.


Hari pernikahan pun terlaksana, saatnya ijab kabul kembali. Tetapi dalam pelaksanaannya Martin sangatlah gugup meskipun ini ijab kabul yang ketiga.


"Apakah anda sudah siap pak Martin?" tanya Penghulu.


"Siap pak" jawabnya tegas.


"Ini ijab kabul yang ke berapa pak?" tanya penghulu dengan menggoda.


"Yang ketiga pak!" seru Martin.


"Banyak juga ya anda!" ucap penghulu tergelak.


Saatnya ijab kabul.


"Saya terima nikahnya dan kawinnya Susan binti Azam dengan mas kawin 2 gram emas dan seperangkat alat sekolah di bayar tunai" ucapnya lugas.


Semua hadirin tergelak karena mendengar ijab yang salah.


Ijab kabul part dua

__ADS_1


"Saya terima nikah dan kawinnya Susan binti Azam dengan besi 2 gram dan seperangkat alat tulis di bayar tunai"


"Salah woy salah" geram Hendra kesal ketika sang anak salah mengucapkan ijab kabul.


"Sabar pa sabar" ucap Yuni menenangkan sang suami.


Ijab kabul part tiga.


"Saya terima nikah dan kawinnya Hendra binti Yuni dengan mas kawin tersebut tunai" ucapnya gugup.


"Salah Martin, kau bodoh sekali. Masa kau mau menikahkan orang tuamu." geram Hendra.


Ijab kabul part empat.


"Saya terima nikah dan kawinnya Susan binti Martin dengan mas kawin tersebut di bayar tunai" ucapnya gugup.


"Yuni sudah kesal dengan tingkah Martin karena selalu salah dalam mengucapkan ijab kabul, dia pun mengambil air minum dan segera di berikan kepada Martin.


" Tenang pak Martin, malam masih lama kok jangan terburu-buru. Santai saja" ucap Penghulu.


"Jika ijab kabul terakhir gagal, maka pernikahan ini batal" ucap penghulu menakuti Martin.


Martin pun bersungguh-sungguh kali ini.


"Saya terima nikah dan kawinnya Susan binti Azam dengan mas kawin tersebut di bayar tunai" ucapnya lugas.


"Bagaimana para saksi sah?" tanya penghulu.


"Sah"


"Sah"


"Sah" ucap hadirin serempak.


Mereka pun kemudian bersalaman dengan tamu satu persatu. Di antara tamu yang hadir, Netra sepasang pengantin itu tertuju pada dua orang yang mengantre dengan tamu undangan yang lain.


"Amora dan Pelix?" tanya Martin dalam hatinya.


Rasa takut dan gugup menyelimuti perasaan Susan ketika langkah Amora dan Pelix semakin mendekat.


"Selamat ya bro" ucap Pelix sembari menyalami Martin.


"Terimakasih sudah datang ke acaraku yang sederhana ini" jawab Pelix.


Ketika Amora berada di hadapan Martin, jelas dalam matanya masih meredam amarah tapi dia tekan ego itu kuat-kuat dan tak ingin menghancurkan acara sakral sang mantan.


"Selamat ya mas kalian berdua sungguh cocok dan serasi" ucap Amora dengan senyum tersungging.


"Amor, maafkan aku" ucap Martin sembari memegangi tangannya tetapi Amora langsung menghempaskannya.


"Luka itu akan tetap menganga" jawabnya singkat.


"Selamat atas pernikahan kalian ya Susan" ucap Pelix.


"Terimakasih Pelix kamu sudah datang" jawab Susan.


Jantungnya sudah sangat terpacu kala Amora mendekat.


"Amora" lirih Susan.


"Selamat ya Susan kau sudah resmi menjadi nyonya Antonio Candelaz, Jangan kabur lagi karena ku takan melaporkanmu ke polisi" ucap Amora.


Susan langsung menangis dan bersimpuh di kaki Amora.


"Maafkan saya Amor, maafkan atas kesalahan saya yang terlalu banyak padamu" Tangis Susan di kaki Amora yang langsung mendapat perhatian dari para hadirin.


"Bangun Susan jangan seperti ini. Kau tidak ingin menghancurkan hari bahagia mu sendiri bukan? Bangunlah aku bukan tuhan yang harus di sujudi. Bangun Susan" ucap Amora sembari merengkuh tubuh Susan dan membantunya berdiri.


"Aku tahu ini sepenuhnya bukan salahmu. Aku mencoba berdamai dengam semua luka ini dan aku akan pelan-pelan mengikhlaskan semua ini" ucap Amora.


"Maafkan saya Amor" lirih Susan.


"Sudahlah saya sudah memaafkan mu" jawab Amora.


Mereka bedua pun akhirnya berpelukan dengan keharuan.


Saatnya menyalami Yuni dan Hendra.


"Selamat atas pernikahannya ya mama" ucap Amora dengan air mata yang mengalir.


"Anaku, kau selalu jadi anaku. Jangan sungkan pada kami walaupun sekarang keadaan nya sudah berbeda" Hendra dan Yuni serentak memeluk Amora.


"Terimakasih karena kamu sudah mau datang di pernikahan Martin" ucap Yuni masih dalam pelukan Amora.


"Aku akan datang jika mama dan papa yang mengundangku" balas Amora.


Selepas dari acara pernikahan sang Mantan, Amora tampak banyak diam walaupun Pelix bertanya hanya di jawab seperlunya.

__ADS_1


"Kau cemburu dengan pernikahan Martin" tanya Pelix.


"Tidak! Aku hanya sedang berpikir kenapa jalan hidup ku serumit ini" balas Amora.


"Semua sudah tuhan takdirkan, dan kau hanya bisa menjalankan saja" ucap Pelix.


Amora hanya tersenyum sembari bersandar di bahu kekar Pelix.


Ketika Pelix sedang mengendarai mobilnya tanpa sengaja melihat Ricky sedang membetulkan mobilnya yang mogok. Pelix pun menghampiri Ricky.


"Hai bocah" goda Pelix.


"Kau? Om perkasa kau sedang apa disini?" tanya Ricky.


"Ku hanya lewat saja" jawabnya.


Amora pun ikut keluar dari mobil itu.


"Kak Amor? Bagaimana kabar kakak?" tanya Ricky.


"Aku baik" jawab Amora.


Di tengah perbincangan mereka, seseorang menjerit dalam mobil memanggil Ricky.


"Sayang, cepetan aku sudah tidak kuat! Sakit sekali" ucap wanita itu.


"Dia siapa?" tanya Amora.


"Suara itu mirip dengan Marini?" tanya Pelix.


"Memang itu Marini. Dia sudah menjadi istriku. Dia sedang mulas kami ingin ke rumasakit tetapi mobil ku mogok" ucap Ricky.


"Argghhhhhb sakit!" teriak Marini.


Amora pun segera membuka pintu mobil itu dan di dapati Marini sudah akan melahirkan dengan darah dan air ketuban sudah keluar di kursi mobil itu.


"Astaga Marini kau mau melahirkan?" ucap Amora panik.


"Kau? Jangan mendekat!" wajah Marini murka melihat Amora.


"Nanti saja marah-marahnya, kau sudah akan melahirkan. Tenang saja aku bantu. Aku sudah normal kau tidak perlu takut" ucap Amora.


Untung saja saat itu jalanan sepi jadi tidak mengundang orang lain kala mendengar jeritan Marini.


Dengan ilmu seadaanya Amora mengecek pembukaan Marini dengan tangannya.


"Sudah lengkap. Ayo mengejan. Ya bagus, sedikit lagi. Ayo semangat" ucap Amora.


"Arghhhhhhh sakittttttt" jerit Marini.


"Tenang jangan panik" ucap Amora.


Ricky dan Pelix hanya melongo sembari menutupi kaca mobil dengan selimut.


Tak di duga, tiba-tiba Ricky pingsan tak kuat mendengar jeritan Marini.


Brughhhhh!! Tubuh kokoh itu tersungkur di tanah.


"Arggghhh kenapa harus pingsan segala sih?" ucap pelix sembari membopong tubuh Ricky dan memasukannya ke dalam mobil.


"Terus mengejan dan ambil nafas yang dalam" ucap Amora.


"Arghhhhhh" Marini hanya menjerit.


"Oekkkkkkk, oekkkkkkkk, oekkkkkkkk" Suara bayi mungil pun terdengar.


"Syukurlah anakmu laki-laki" ucap Amora sembari menyerahkan bayi itu pada Marini.


"Sayang cepat telepon ambulan" teriak Amora pada Pelix.


Pelix pun segera menelepon Ambulan itu.


Tak lama Ambulan pun datang beserta dokter dan Marini langsung di tangani beserta bayinya.


"Dia bagaimana?" tanya Amora menunjuk Ricky yang masih pingsan.


"Kita bawa ke hutan saja supaya di makan buaya" kelakar Pelix.


"Ngaco kamu" jawab Amora.


Tiba-tiba Amora muntah dan kepalanya merasa pusing.


"Sayang kamu kenapa?" tanya Pelix.


"Sejujurnya aku takut darah" ucap Amora yang langsung lemas dan pingsan.


"Argghhhhh kenapa jadi pada pingsan disini sih" Pelix pun sedikit kesal dan membawa mereka berdua ke rumasakit.

__ADS_1


__ADS_2