SUPIR KU SEORANG MAFIA

SUPIR KU SEORANG MAFIA
Pelukan Ternyaman Untuk Marini


__ADS_3

Malam itu Pelix kembali ke mansion nya dengan perasaan gundah gulana level dewa. Dia mendudukan bokongnya di sofa mewah dan mengambil ponselnya lalu melihat poto Amora dengannya yang sedang tersenyum.


"Aku akan kembali dan membawamu pergi sejauh mungkin sayang" ucap Pelix sembari mengusap-usap layar ponselnya.


Tiba-tiba ponselnya berdering tertera nama Marini.


"Hallo Rini" ucap Pelix sembari memijit pangkal hidungnya.


"Dimana kamu sekarang?" tanya Marini.


"Di apartemen ku" jawabnya singkat.


"Pel, sepertinya kau tak senang ku hubungi?" tanys Marini curiga.


"Aku hanya sedang lelah saja Rin maaf" ucap Pelix.


"Aku ke rumahmu mu sekarang" ucap Marini sembari mematikan sambungan teleponnya.


"Argghhhhhh,, kenapa kau tak membiarkan ku sendiri dulu Marini. Aku butuh waktu untuk menyegarkan pikiranku" ucap Pelix prustasi.


Pelix langsung merebahkan tubuh nya di sofa dan langsung tertidur.


Mobil BMW milik Marini sudah berhenti di depan rumah Pelix dan langsung di persilahkan masuk penjaga rumahnya.



β€œLangsung ke dalam saja nona" ucap penjaga rumahnya.


Marini langsung memasuki mansion itu dan melihat Pelix dengan penampilan yang sangat kacau tertidur di sofa.


Di hampirilah Pelix lalu tangan Marini mengelus pipi dan rambut Pelix dan dia merasaksn bahwa tubuh Pelix sangatlah panas.


"Yaampun kamu demam Pel" ucap Marini.


Dia segera berlalu mencari kotak P3K untuk menemukan plester penurun demam.


Setelah lama mencari akhirnya menemukan obat itu. Di tempelkan lah di dahi Pelix berharap demamnya akan mereda. Marini mencari selimut di kamar Pelix, setelah mendapatkan nya dia langsung menyelimuti kekasihnya itu agar tak menggigil.


"Kenapa bisa seperti ini Pel?" lirih Marini sembari memandangi wajah lelaki yang amat di cintainya sedang terbaring lemah.


Β₯


"Tin, sudah tiga hari kamu tinggal di rumah papa, apa istrimu tahu kau kemari hah? ucap papa Martin.


" Aku rindu kalian, masih betah disini dan Amora tak tahu aku disini" ucap Martin.


"Loh bagaimana sih kamu, istri sendiri di tinggal terus. Martin kamu harus ingat, Amora jangan di perlakukan seperti itu, dia itu istrimu nak. Mamah akan sangat kecewa jika kau menyia-nyiakan istri sebaik dia" ucap Yuni pada sang putra.


"Mama dan papa, tenang saja! Tidak ada yang perlu di khawatirkan tentang pernikahanku yang kalian paksakan" ucap Martin sarkas.


"Kok kamu begitu hah? Kalau tidak kami jodohkan kau dengan Amora, kau ini masih sendiri paham! Jadi harusnya kau berterimakasih dengan kami orang tuamu yang melindungimu dari rasa malu" ucap sang papa geram.


"Cepat pergi sekarang dari sini, temui istrimu dan minta maaflah karena kau tak pulang" ucap Yuni.


"Mama mengusirku? Aishhhhh tega sekali kalian ini" ucap Pelix kesal.


"kalau tidak di usir, kamu akan tetap berada disini dan mengabaikan tanggung jawabmu sebagai seorang suami" ucap Yuni.


"Sakura anak mama dan papa, kemari nak!" ucap Yuni pada kucing oren kesayangannya yang sedang bersantai di atas sofa sembari mengibaskan ekor panjangnya.


"Loh mama kok panggil dia, please mah dia memelototi ku. Hey sakura kau masih saja dendam padaku karena kau kalah tampan dengan ku dasar kucing jelek" sungut Martin pada kucing milik orang tuanya.


Yuni mengelus lembut bulu oren mengkilap itu dan Sakura mendusel manja di pangkuan majikannya.


"Usir dia sakura" ucap sang papa.


Seketika kucing oren itu melotot, menggeram ke arah Martin dan langsung mengeluarkan cakaran mautnya. Martin langsung berdiri sembari mengambil kunci mobilnya, ketika hendak melangkah, Sakura menyerangnya Mencakar kaki dan Menggigit bokong Martin hingga kesakitan.


"Sialan Kucing sialan. Mama tolong ma suruh dia hentikan" ucap Martin.

__ADS_1


Yuni segera memanggil nama kucing itu dan menyuruhnya berhenti. Kucing itu langsung turun dari bokong Martin dan melompat ke pangkuan Yuni dan seketika mendengkur lalu tertidur.


Martin pulang dengan perasaan kesal.


Saat sudah tiba di rumah, Martin tak melihat Amora, dia hanya melihat Vivid sedang membersihkan lemari es di dapur.


"Mbak, nyonya kemana?" tanya Martin.


"Tadi ada di peternakan tuan" jawab Vivid.


Martin segera berlalu menghampiri sang istri di gudang peternakan.


"Amor" sapa Martin.


"Mas, kamu darimana saja?" tanya Amora.


"Maaf, mas tak mengabarimu. Mas menginap di rumah mama" ucap Martin.


"Mas sudah makan? Oh ya aku ingin kasih tau kalau Pelix kemaren keluar dari pekerjaannya karena kemarin orang tuanya meninggal dan dia diminta untuk pulang dan meneruskan bisnis orang tuanya!" ucap Amora dengan alasan yang di buat sedemikian rupa agar Martin percaya.


"Aku belum makan. Loh kok dia tak bicara padaku? Aku harus menanyakan langsung kepadanya kenapa tak beritahukan terlebih dahulu karena jujurly kontraknya masih lama" ucap Martin.


"Tak usah lah mas biarkan saja. Lagian dia sudah bicara kepadaku sama saja kan" ucap Amora.


"Tapi aku yang membuat kesepakatan dengannya dan aku pula yang menggajinya. Aku akan tetap menghubungi nya jika ku tak sibuk" ucap Martin.


"Terserah kamu saja lah. Ayo kita makan dulu, aku sudah masak untukmu" ucap Amora sembari menarik tangan sang suami.


Di meja makan sudah berbagai masakan yang sangat lezat.


"Makan yang banyak mas biar kamu sehat" ucap Amora sembari mengambilkan nasi dan lauk untuk sang suami.


"Iya istriku. Semoga kamu selalu perhatian kepada suamimu ini ya" ucap Martin sembari mencium pucuk kepala Amora.


Deg!! Jantung Amora berpacu dengan keras seakan merasa tertampar oleh ucapan sang suami.


"Pastinya mas asal kamu bisa lebih meluangkan waktu untuk ku biar aku tidak selalu kesepian" ucap Amora.


Sesudah makan, Amora di ajak oleh Martin untuk pergi ke mall.


"Tumben ngajak ngemall, ada apa nikh?" tanya Amora.


"Aku ingin kamu belanja karena belum pernah sekalipun ku mengajakmu untuk shoping" ucap Amora.


"Ya sih gak seperti wanita itu" ucap nya.


"Hei Amor, sudahya jangan ungkit-ungkit hal itu lagi kan aku sudah meminta maaf kepadamu" ucap Martin dengan ekspresi sedih.


"Iya mas gitu aja kamu sedih" jawabnya.


"Bagaimana gak sedih, kamu hampir meminta cerai waktu itu. Ayo ganti baju" ucap Martin sembari memanggul tubuh Amora seperti memanggul karung beras.


Mereka pun pergi ke Mall dan segera duduk di salah resto dalam mall itu.


"kita kan sudah makan, kenapa mas mengajaku kemari?" ucap Amora pada sang suami.


"Aku hanya ingin belikan makanan untuk mbak Vivid kasian dia di rumah sendirian" jawab Martin.


"Duh kok gak kepikiran sih mas sama sia, karusnya tadi kita ajak aja kemari" ucap Amora.


"Aku juga berpikir begitu" jawab Martin.


Mereka dengan santainya berjalan-jalan menyusuri mall kesana kemari seperti anak kecil. Lalu mata Martin tertuju pada sesama pengunjung yang membawa anaknya dan bercanda dengan anak nya tersebut.


"Mas, are you oke?" tanya Amora.


"Yes i'm oke baby. Aku cuma iri melihat kebersamaan pasangan itu yang sedang mengajak anaknya bermain mana anakanya lucu banget" ucap Martin sedih.


"Kamu mau punya anak?" tanya Amora.

__ADS_1


"Setiap orang ingin punya keturunan" jawab Martin sembari berjalan meninggalkan timezone mall itu.


Vivid yang merasakan kesepian di rumah itu mencoba menghibur diri dengan cara berkaraoke dan membuat video di tok tik. Dia menari dan meliuk-liukan badannya dengan lincah agar banyak yang menonton video nya.


Tetapi pikirannya seketika teringat Pelix yang entah dimana keberadaannya.


"Mas Pel, kemana sih kamu sekarang? Aku kangen karo koe mas Pel. Biasanya kalau lagi sepi begini selalu mas Pel nemenin aku karaoke atau ngajak aku keluar beli makanan..hummmmmmm" lirih Vivid yang merasa rindu dengan rekan kerjanya.


" Andai saja nyonya dan kamu mas gak selingkuh, mungkin kamu masih bekerja disini" ucapnya lagi dengan nada sedih.


Sejurus kemudian, Vivid menghubungi Pelix untuk menanyakan kabarnya, tetapi yang mengangkat suara perempuan.


"Hallo, dengan siapa ini?" tanya nya.


" Hah kok suara mas Pel jadi suara perempuan" guamanya dalam hati.


"Apa benar ini nomor mas Pelix?" tanya Vivid.


"Benar. ini dengan siapa?" tanya wanita itu.


"Saya dengan temannya mbak. Kalau mbak soponya mas Pelix?" tanya Vivid.


"Saya pacarnya Pelix. Pelix sedang sakit! Jadi apa ada yang harus di sampaikan?" tanya wanita yang kebetulan itu Marini.


"Semoga cepat sembuh saja" ucapnya.


Marini langsung menutup panggilan dari Vivid membuat dia sedikit kesal.


"Oalah jadi itu toh pacarnya mas Pel. Gila judez banget mana main matiin telepon lagi" kesal Vivid.


Β₯


Marini segera menghapus story panggilan dari Vivid agar Pelix tak menanyakannya.


Pelix yang lama tertidur akhirnya menggeliat bangun dan mendapati dirinya sudah terbungkus selimut dengan plester anti demam di dahinya.


"Siapa yang mengompres ku" ucap Pelix.


Marini kemudian datang menghampiri Pelix dengan membawa semangkuk bubur hangat.


"Sudah bangun rupanya hmmm" ucap Marini sembari mencium pucuk kepala Pelix.


"Rin kamu yang lakuin ini?" tanya Pelix.


"Ya Pel, aku khawatir banget lihat kamu demam. Bagaimana sudah agak enakan?" tanya Marini.


"Masih agak pusing sih bu dokter" ucap Pelix tersenyum.


"Makan dulu ya. Ayo ku suapi anggap saja aku ini mamamu" ucap Marini.


Memang tak di pungkiri jika Marini sangat perhatian dan telaten mengurus Pelix. Marini juga akan sangat agresif jika ada wanita siapa saja yang berani mendekati Pelix! Korban keagresifan nya yaitu Amora yang di maki habis-habisan kala ketahuan selingkuh dengan pawangnya. Tetapi dia akan sangat lembut kepada siapa saya yang baik dan akrab padanya.


"Rin, aku mohon kontrol emosimu ya sayang! Aku gak mau kamu jadi wanita kasar" ucap Pelix.


"Aku hanya melindungi yang sudah jadi miliku saja Pel. Aku hanya takut wanita itu mengantikan posisiku. Kamu juga Pel jangan sampai mengecewakanku untuk kedua kalinya" ucap Marini.


"Iya, iya Rin..Serem dekh kalau sudah mengancam" ujar Pelix sembari mencubit hidung mancung Marini lalu memeluknya.


"Pel" ucap Marini pelan.


"Apa?" jawabnya.


"Ini pelukan ternyaman yang pernah ku rasakan dari seorang lelaki. Bahkan ayahku saja tak pernah memeluku karena aku lahir, ayhku sudah meninggal" lirihnya.


"Jangan sedih ya! Kamu bisa peluk aku kapanpun kalau mau" ucap Pelix sembari mengelus kepala Marini.


"Kamu pasti lelah ya? Kita tidur di kamar ku saja temani aku" ucap Pelix sembari memangku tubuh Marini dan menurunkannya ketika sudah sampai dalam kamarnya. Mereka tidur derdua dengan buntelan selimut dan saling berpelukan.


Ayo dukung selalu karyaku...πŸ‚πŸ‚πŸπŸπŸ„πŸŒΎπŸ’πŸŒ·πŸŒΉπŸ₯€πŸŒ»πŸŒΌπŸŒΈπŸŒΊ

__ADS_1


Love you sekebon untuk para pembaca..πŸ’


__ADS_2