SUPIR KU SEORANG MAFIA

SUPIR KU SEORANG MAFIA
Keinginan Untuk Normal Kembali


__ADS_3

Amora Seketika terdiam sesaat. Merasakan perasaan nyaman di balik tubuh sang supir. perasaan yang sama sekali tidak dia dapatkan dari sang suami.


"Sadar Amor. Jangan karena suamimu sering mengasarimu, Kamu jadi nyaman di pelukan lelaki lain, apalagi supir sendiri" gumamnya dalam hati.


Di dalam kamar, Pelix pun merasakan yang sama. Debar jantung nya sangat kencang, Dia merasakan gelenyar aneh pada tubuhnya.


"Agrhhhhhhhh. Kenapa ini. Fokus akan tujuanmu bandit. Lagi pula dia sudah jadi istri orang lain" kesal Pelix.


¥


¥


Di kantor, Martin sedang melakukan diskusi. Dia di tunjuk oleh seorang keluarga konglomerat untuk menangani kasus sembilan tahun yang di buka kembali. Kasus pembunuhan yang di lakukan oleh segerombolan mafia terhadap laki-laki yang bernama Shin Tae Young. Sebab di bunuh adalah dia tak mau bekerja sama untuk menyediakan dana, untuk alat pembuat narkoba.


"Kami harap, anda bisa membela dan menemukan jejak genx para begundal itu. Ada harga untuk kerja keras anda, dan itu tidak lah sedikit" Ucap istri dari Shin Tae Young.


"Baik lah nyonya. Saya dan tim akan bekerja keras untuk mengungkap kasus ini" jawab nya sungguh-sungguh.


¥


¥


Di rumah, Pelix tampak sedang memikirkan sesuatu sambil melihat peternakan kuda milik majikannya.


"Aku harus melakukan sesuatu. Jika ada orang lain yang bekerja disini, maka rencanaku akan sulit untuk mengambil barang yang ada di ruang bawah tanah itu" gumannya .


Sesaat dia sudah memiliki rencana cemerlang.


"Ya, aku harus bicara dengan si Martin itu, kalau tak usah mencari orang untuk mengurusi kuda-kuda ini. Aku lah yang akan bekerja disini sekaligus menjadi supirnya" gumamnya dengan penuh kemenangan.


Berjalan lah Pelix menuju kamar sang majikan.


Tok tok tok.


pintu itu di ketuk sebanyak tiga kali, dan Amora membukanya.


"Pak Pelix ada apa? tanya nya sedikit malu.


" Nyonya bisa keluar sebentar?, saya ingin bicara" tanya Pelix.


"Baiklah" jawabnya singkat.


Langka mereka terhenti di balkon lantai atas.


"Apa yang ingin Pak Pelik bicarakan? tanya Amora serius.


" Maaf nyonya, jika saya sedikit lancang. Waktu itu saya tak sengaja mendengar percakapan anda, dengan Tuan Martin mengenai orang yang akan menjaga peternakan kuda itu. Jika berkenan bisakah saya saja yang menjadi penjaga semua kuda disini? tentunya saya juga akan tetap menjadi supir pribadi anda. Jika anda mengizinkan saya akan mulai bekerja hari ini' tutur Pelix.


"Untuk masalah itu, saya akan bilang terlebih dahulu kepada suami saya. Jika beliau mengizinkan maka saya akan langsung bilang" jawabnya.


"Baiklah kalau begitu saya pamit dulu ke belakang" ucap Pelix.


Ketika pelix bersiap melangkahkan kaki. Tangan Amora menjegalnya.


"Pak Pelix, saya minta maaf untuk hal yang tadi..Saya harap anda tidak berpikir apa-apa"

__ADS_1


"Ya saya memaklumi itu Nyonya. Wanita memang tidak baik kalau sering merasa kesepian bukan" jawab Pelix seraya berlalu.


Mendengar itu membuat Amora merasa tertampar, pasalnya yang di katakan supirnya itu adalah suatu kenyataan. Wanita normal yang harus menikah dengan lelaki kasar dan impoten membuat dunia Amora serasa runtuh. Hidupnya, cintanya bahkan masadepannya tidak lah jelas. Demi meredam rasa kepedihan nya, dia menghubungi ibunya.


Di angkatlah panggilan dari Amora untuk sang ibunya.


"Hallo sayang" ucap Diana.


"Hallo bu. Bagaimana kabar ibu?" tanya sang putri.


"Ibu baik-baik saja nak. Gimana kabar kamu? apa sekarang sudah ada tanda-tanda kehamilan mu nak?"


(Hamil gimana, di sentuh juga gak pernah. Andai ibu tahu kalau suamiku seorang impoten, pasti detik ini juga ibu akan menyiruhku untuk menceraikannya" gumamaya dalam hati.


"Amor, kok kamu diam saja?" tanya sang ibu.


"Ehhhh anu bu. hmmmmmm, belum bu. Mas Martin masih sibuk terus, jadi kami belum program untul kehamilan. Doakan saja ya bu, semoga Amor dan suami segera di beri karuni anak" Ucap Amor lirih.


"Minggu depan, ibu sama Jeng Yuni akan menginap di rumah kalian. Tolong bilang suamimu ya" tutur Diana.


Degggg.


Seketika Amora diam membisu, dia bingung harus bilang apa kepada sang suami. Belum lagi sikap Martin yang selalu cuek l,do takutkan akan mengundang curiga ibu dan mertuanya.


"Oke bu. Kabarin saja kalau mau kemari. Bu sudah dulu ya, Amor belum mandi..hehee" ucap Amora yang ingin sekali menutup telp nya karena sudah tak tahan berpura-pura bahagia di depan sang ibu.


"Ya sayang. Sampai jumpa nantinya. Jaga kesehatan. Cepat berikan ibu cucu yang banyak" jawab Diana senang.


Di tutup lah telp itu, seketika Amora menangis sejadinya. Mendengar itu membuat Vivid dan Pelix menghampiri keberadaan suara itu.


"Nyonya kenapa bisa seperti ini" ucap Vivid sembari merangkul tubuh Amora.


Pelix yang melihat itu hanya menatap dengan tatapan iba.


Tidak ada jawaban dari Amora. Dia hanya menangis di dalam dekapan tubuh sang ART.


Selang berapa lama, akhirnya Amora melepas pelukan Vivid.


"Maafin saya mbak. Saya hanya tak mengerti saja, kenapa semua yang saya alami seperti mimpi buruk. Saya ingin pergi ke suatu tempat. kalian ikut saya ya?" ucap Amora.


"Maaf nyonya saya tidak bisa ikut, masih banyak pekerjaan saya di belakang" Jawab Vivid dengan lemah lembut.


"Baiklah kalau begitu. Saya dengan Pak Pelix saja... Pak Pelix bisa antarkan saja kemana saha?" tanya Amora.


"Tentu saja nyonya" Jawabnya.


¥


¥


Suasana rumasakit yang tidak terlalu ramai membuat jadwal pemeriksaan tidak membutuhkan waktu lama. Seorang perawat memanggil nama seorang calon pasieun di ruangan khusus, penanganan masalah kulit dan kelam*n


"Atas nama Tuan Martin" ucap seorang perawat.


Masuklah Martin ke ruangan itu.

__ADS_1


Di temui seorang dokter wanita yang masih sangat muda, cantik, tetapi bicaranya tegas dan ceplas-ceplos.


"Tuan Martin apa keluhan anda?" ucap sang dokter yang di ketahui bernama Marini Oetomo.


"Saya kira dokter yang biasa, sudah ganti rupanya" lirih Martin.


"Dokter Adnan sudah pindah rumasakit Tuan. Saya yang menggantikan beliau. Saya harap anda tidak ragu memeriksa kepada saya karena walaupun saya seorang perempuan tapi itu sudah menjadi tugas dan pengabdian sesuai jurusan saya. silahkan bicarakan keluhan anda" ucap sang dokter cantik itu.


"Saya ingin periksa terkait organ *** saya dok. Sudah lima tahun pasca kecelakaan, saya mengalami impoten dan sampai sekarang itu saya tidak pernah bangun" tutur Martin dengan malu-malu.


"Anda sudah beristri ?" tanya sang dokter.


"Sudah dok" jawab Martin.


"Bagaimana memuaskan istri anda? apakah dengan perantara benda lain? tanya sang dokter.


" Saya tidak pernah menyentuhnya" Jawab nya.


Mendengar itu dokter Marini hanya menghela nafas.


"Sekarang buka selana anda dan silahkan berbaring di sana tuan" ucap dokter dengan santainya.


"Apakah tidak ada cara lain dok. Saya malu" Ucap Martin dengan wajah memerah.


"Anda pikir saya seorang peramal, bisa menerawang penyakit seorang pasieun. buka sekarang atau anda keluar dari ruan praktek saya" ucap dokter Marini dengan nada sedikit keras.


"Baiklah" jawabnya pasrah.


Dibukanya celana martin dan terlihat benda itu, lemas dan tak berdaya.


"Maaf tuan, anda saya periksa" ucap sang dokter.


Di pencet dan di periksalah si lemas itu. memang benar setelah di sentuh pun tak ada reaksi apapun.


"Tuan, jika di pegang seperti ini apa anda merasakan sentuhan?" tanya dokter Marini.


"Saya tidak merasakan apapun dok" jawab Martin


"Saya akan oleskan gel sedikit. Maaf ya mungkin akan membuat anda sedikit risih" ucap dokter Marini.


Di oleskan lah gel itu ke ***nya Martin.


"Relax ya tuan"


Tak di sangka, burung perkutut nya tiba-tiba mengeras dan tegang, membuat dokter cantik itu terkejut dan beringsut mundur.


"Pake lagi celananya tuan" Ucap sang dokter.


"Dok, kok saya bisa normal lagi, metode apa yang anda punya?" tanya Martin dengan raut binar bahagia.


"Sering-sering lah anda terapi tuan. Sebenarnya anda masih bisa sembuh jika rajin terapi dan yakin. Jika ingin mencoba dengan istri anda, maka harus relax agar bisa maksimal. Selamat di coba dan ini resep obatnya silahkan anda tebus di apotek" ucap sang dokter.


"Terimakasih dok"


Keluarlah Martin dari ruangan itu dengan hati yang gembira.

__ADS_1


__ADS_2