SUPIR KU SEORANG MAFIA

SUPIR KU SEORANG MAFIA
Memohon


__ADS_3

Di kantor Martin melihat seorang lelaki dengan dua ajudannya sedang marah-marah dan membanting barang apa saja yang ada di hadapannya.


"Ada apa ini?" tanya Martin kepada orang- orang bringas itu.


"Aku ingin bertemu dengan pengacara yang bernama Martin Antonio Candelaz" ucap seorang dengan perawakan tinggi kurus


"Siapa kau?" tanya Martin.


"Aku Mikail Tedja! Suami dari client kalian yang bernama Sinta" jawabnya.


"Oh jadi ini yang ibu Sinta maksud. Hmmmm~~ sepertinya anda bukan lelaki sejati" ucap Martin.


"Maksud Anda?" tanya Mikail dengan wajah yang mengintimidasi.


"Lelaki sejati takan melakukan KDRT dan berselingkuh apalagi menjadikan istri sebagai mesin ATM nya" ucap Martin dengan penuh penekanan seolah dia melupakan semua tindakan yang dia lakukan kepada sang istri.


"Bedebah kau! Dasar pria tengik. Cepat katakan dimana si Martin itu" bentak Mikail.


"Yang anda cari itu adalah saya" ucap Martin dengan wajah menadah.


Mendengar orang yang di cari ada di depan mata. Mikail langsung mencengkram kerah baju Martin dengan keras. Tak ada rasa takut yang dia rasakan melainkan tatapan seolah mengejek membuat Mikail semakin geram.


"Aku memperingatkan mu jangan menerima istriku sebagai client mu atau kau akan tahu akibatnya" ucap Mikail.


Martin langsung menepis tangan Mikail dari kerah bajunya. Seolah merasa jijik tangan Mikail menyentuh bajunya membuat dia meludah.


"Tindakan istrimu yang meminta cerai dari lelaki bang*at sepertimu sangatlah tepat. Akan ku buat kau menerima berlapis pasal pidana. Dan kau ingat istrimu sudah membayar penuh untuk kasusnya kepada ku. Jangan macam-macam atau aku bisa menjebloskan mu sekarang juga ke penjara atas pasal mengerusakan, pengancaman dan tindakan yang sangat tidak menyenangkan. Oya jangan lupakan pasal perzinaan, KDRT, dan penipuan yang kau lakukan terhadap ibu Sinta. Pergi sekarang! Kita bertemu di pengadilan" tutur Martin.


Mendengar pengancaman Martin membuat Mikail terdiam. Ada semburat ketakutan di wajah nya. Tanpa banyak bicara akhirnya dia pergi bersama kedua boydiguard nya.


Melihat kekacauan yang terjadi dan segala kerusakan di kantornya membuat Martin menyuruh sekuriti untuk membersihkannya.


Sementara di kediaman Leon. Pelix sedang di puji oleh nya.



Visualisasi Kakek Leon alias Tuan Crab.


Bonus triliunan menanti nya di depan mata karena sudah berhasil membawa barang yang di maksud dengan sangat banyak. Tetapi Pelix bukan seseorang yang mendewakan uang.


"Kenapa kau tidak senang ?" tanya Ken kepada sang ponakan.


"Terlalu banyak uang itu untuk ku" jawab nya.


"Kerjamu sungguh luar biasa" ucap Ken.


Pelix hanya tersenyum samar. Tak ada rona kebahagiaan disana. Pada dasarnya dia menginginkan kehidupan yang seperti orang pada umumnya. Bebas berteman dengan siapaun sampai hal yang paling menyedihkan dalam hidupnya yaitu harus rela di pisahkan dengan ibu kandungnya dan kekasih hatinya.


Tak banyak bicara, Pelix pun berjalan menuju arah balkon rumahnya. Menatap nanar birunya warna air laut dan merasakan semilir angin di tengah kehampaan hatinya. Dia teringat akan seorang wanita yang bernama Marini. Rasa bersalahnya sampai saat ini masih menghantuinya. Dia bertanya selalu dalam hati apa Marini bisa memaafkannya!.


Di tengah lamuanmya, tiba-tiba bahunya di tepuk oleh seseorang.

__ADS_1


"Maafkan aku belum bisa menjadi seorang ayah yang baik" ucap seorang.


Sesak didada mendengar ucapan itu. Seorang ayah yang seharusnya ada di saat-saat waktu di butuhkan. Menjadi pelindung dari kerasnya dunia.


"Siapa ayah ku?" tanya pelix.


"Aku ayahmu nak" ucap Jhonson.


"Aku tak punya seorang ayah. Aku hanya di besarkan oleh sekelompok lelaki beringas. Aku hanya punya ibu dan itu pun di pisahkan oleh mu Tuan Jhonson yang mulia" ucap Pelix dengan emosi tertahan.


"Maafkan ketidak berdayaan ku nak" lirih Jhonson dengan rasa penyesalan yang tiada tara.


"Semua yang kalian beri hanyalah sampah bagiku. Nyatanya tidak bisa membeli kebahagianku. Wanita yang melahirkan ku kalian buang seperti kotoran" bentak Pelix.


Dia ingat waktu umurnya delapan tahun dan adiknya yang bernama Camilla berumur tiga bulan di pisahkan secara paksa oleh Leon sang kakek dengan alasan telah melahirkan anak perempuan. Sebab menurutnya anak perempuan tidak bisa menjadi pewaris dinasti Bikini Bottom. Suara tangis sang ibu bercampur dengan suara tangis bayi Camilla menambah rasa sakit seorang Pelix waktu itu.


"Ibu jangan tinggalkan aku bu" rengek Pelix kecil.


"Ibu tak akan meninggalkan mu sayang" ucap Ibu Pelix yang bernama Kaisyah.


"Pah tolong jangan pisahkan kami pah. Aku sangat mencintai istri dan anaku" ucap Jhonson pada sang papa.


"Jangan pisahkan kami pah. Papah tak berhak melakukan itu" ucap Kaisyah pada Leon sang papa mertua.


Leon seolah menulikan dirinya dan menyuruh semua ajudannya membawa Keisyah dan bayi Camilla pergi. Tak ada perlawanan berarti dari Jhonson dan hal itu membuat Pelix membenci ayahnya sampai sekarang.


Pelix pun berlalu meninggalkan Jhonson yang masih bersedih.


Sore pun tiba. Martin sengaja pulang ke rumah mertuanya untuk membujuk Amora untuk pulang bersamanya.


"Selamat sore bu" ucap Martin.


"Sore nak. Ayo masuk" ucap Diana sembari membuka gerbang rumahnya.


"Silahkan duduk nak. Coba jelaskan kenapa Amora bisa pulang tanpa kamu?" tanya Diana.


Martin tak kuasa menjawab dia hanya diam kelu seolah semua kata-kata berhenti hanya sampai tenggorokan saja.


"Jawab nak" bentak Diana.


"Maafkan saya bu. Ini hanya salah paham saja. Sungguh saya menyesal telah~~" ucapan Martin berhenti.


"Telah menuduh anak saya selingkuh dengan supir nya kan? prasangka macam apa itu" bentak Diana.


"Maafkan saya bu. Saya di kuasai emosi waktu itu. Bisa kah saya bertemu Amora? saya ingin meminta maaf kepadanya" lirih Martin.


"Tunggu sebentar saya panggilkan dulu Amora ke kamarnya" ucap Diana sembari berlalu menuju kamar sang anak.


Di kamar Amora masih tertegun. Rasa sakit yang di alami membuat dia sedikit trauma kepada sang suami.


"Nak ada suamimu kemari" ucap Diana.

__ADS_1


"Bilang saja aku tak ingin menemuinya" jawab Amora.


"Loh kok gitu nak. Temui saja suamimu dahulu nak. Bicarakan yang harus di bicarai jangan menghindar. Baik buruknya dia suamimu" tutur Diana dengan lembut.


"Tak ada yang harus di bicarakan bu. Aku cape" ucap Amora.


"Yasudah kalau begitu. Ibu tidak bisa memaksamu" ucap Diana.


Dia pun menemui Martin yang sedari tadi menunggu Amora.


"Nak Martin sepertinya Amora tidak berkenan bertemu dengan mu" ucap Diana.


"Saya mohon bu. Izinkan saya bertemu Amora. saya mohon" lirih Martin.


"Tapi anak saya menolak bertemu dengan mu" tolak Diana.


Tak di sangka Martin bersimpuh di kaki Diana untuk meminta izin bertemu dengan Amora.


"Bangun nak Martin bangun. Jangan seperti ini" ucap Diana yang memegangi bahu sang menantu.


"Aku mohon bu izinkan saya bertemu istri saya. Saya ingin meminta maaf dan mengajak nya kembali ke rumah kami. Izinkan saya bu" lirih Martin yang masih kukuh bersipuh di kaki sang ibu mertua.


"Baiklah baik. Bangun nak tidak baik seperti ini. Sebaiknya kamu temui sendiri saja kedalam kamar nya Amora" ucap Diana.


Martin berdiri dan berterimakasih karena ibu mertuanya sudah mengerti.


Pintu kamar di ketok. Amora pun sudah tahu kalau yang mengetuk pintu itu adapah sang ibu.


"Masuk" ucap Amora.


Melihat yang masuk ke kamarnya bukan sang ibu melainkan seseorang yang ingin dia hindari membuat Amora langsung beringsut ke atas pojok ranjangnya dengan memeluk bantal. Rasa trauma kepada suaminya masih sangat besar saat ini. Martin berjalan ke arah Amora dengan langkah pelan.


"Mau apa kau kemari jahanam?" ucap Amora sembari memeluk erat bantal itu.


"Amor maafkan aku. Aku memang pria yang kurang bersyukur" ucap Martin lirih.


"Pergi dari sini sekarang. Aku muak dengan mu" bentak Amora.


Diana yang mendengar percakapan dari balik pintu hanya mengelus dada. Kenapa putrinya bisa semarah itu kepada suaminya. Hal apa yang sudah menantunya itu lakukan.


Di dalam kamar Martin menghampiri Amora yang masih memeped tubuhnya di ujung ranjang. Ketika tangan Martin hendak menyentuh pipi Amora, sontak dia menjerit dan menepis tangan Martin.


"Jangan tolong" ucap Amora mengiba.


Traumanya akan kekerasan yang di lakukan sang suami membuat dia menjadi paranoid.


"Amora aku tak akan melakukam hal yang jahat lagi maafkan aku. Kita perbaiki pernikahan ini. Aku akan belajar menjadi suami yang baik untuk mu semua yang kamu mau aku akan menurutinya asal tidak keluar jalur pernikahan. Ayo ikut pulang dengan ku. Aku akan belajar mencintaimu dan memberi hak-hak yang aku lupakan" tutur Martin sembari menangkupm


qkan kedua lengannya ke lengan sang istri.


Amora masih diam. Dia masih mencerna kata demi kata yang terlontar dari mulut sang suami. Ada keraguan menyelimuti hatinya. Amora yakin sang suami seperti mengidap penyakit BIPOLAR yang seolah mempunyai kepribadian ganda. Kadang baik kadang kejam. Sesaat Amora memandangi mata sang suami mencoba menemukan adakah kebohongan yang terlihat tetapi Amora tidak menemukannya. Martin berkata jujur dan sangat menyesali semua perbuatannya.

__ADS_1


"Mau ya pulang bersamaku?" tanya Martin.


Amora hanya mengangguki kepalanya sontak saja membuat Martin bahagia dia langsung memeluk tubuh sang istri dan menciuminya bertubi-tubi.


__ADS_2