SUPIR KU SEORANG MAFIA

SUPIR KU SEORANG MAFIA
Pelix Cemburu?


__ADS_3

Hari terakhir di Singapore di habiskan oleh Amora untuk berkemas segala barangnya dan barang sang suami.


"Pastikan tidak ada yang tertinggal" ucap Martin sembari mengemasi baju ke dalam koper.


"Semua sudah di masukan ke dalam koper mas" jawabnya singkat.


Tiba-tiba ponsel Amora berdering dan tertulis nama Vivid disana.


"Hallo mbak apa kabar?" tanya Amora


"Maaf mbak memang saya dan suami sedang tidak ada di rumah. Besok kami baru kembali sekarang sedang ada di singapore"


"Duh bagaimana ya! Coba sekarang telpon ibu saya saja dan untuk sementara kamu meningap saja di rumah ibu"


"Baiklah. Maaf ya sekali lagi"


Panggilan pun di tutup.


"Amor siapa yang telpon?“ tanya Martin.


" Mbak Vivid mas, dia sudah kembali dan sekarang ada di rumah kita. Dia bilang di rumah tidak ada siapa-siapa dia hanya duduk di depan rumah katanya sudah lelah dan bingung harus kemana. Lalu aku saranin dia untuk tinggal di rumah ibu untuk sementara sampai kita jemput dia" tutur Amora.


"Yasudah itu lebih baik dari pada tidur di luar rumah kita" ucap Martin.


Di kamar hotel lain Marini dan Pelix juga sedang mengemasi barang-barang untuk bersiap kembali ke tanah air.


"Souvenir nya gak tambah lagi untuk orang rumah Rin?“ tanya Pelix.


" Ini sudah banyak Pel. Ini semua akan ku bagikan ke perawat dan orang rumah" jawab nya.


"Rin aku minta plis jangan bilang mamamu kalau aku orang berada ya. Ku hanya tidak mau beliau menerima ku hanya karena harta saja. Biarkan lah aku seperti ini saja" ucap Pelix.


"Kamu tenang saja gak akan ada yang tahu siapa kamu sebenarnya kecuali aku. Rahasia mu aman di tangan ku Mr Pelix" ucap Marini dengan tawa kecilnya.


"Rin asal kamu tahu sebenarnya hotel yang kita tempati saat ini adalah hotel milik keluarga ku. Jadi kapanpun kamu mau kesini tunjukan saja tanda pengenalku maka mereka pasti langsung melayanimu dan tak usah membayarnya" ucap Pelix.


Mendengar ucapan Pelix membuat Marini ternganga dia berguman sekaya apa Pelix sebenarnya sampai punya ini semua. Dulu hanya Marini yang mau dekat dengan Pelix lantaran Pelix di cap sebagai lelaki miskin yang kemana-mana hanya memakai motor beda dengan selera wanita-wanita yang meninginkan lelaki bermobil dan bergelimang harta. Pernah suatu waktu ketika masih kuliah Pelix mengincar bintang kampus yang bernama Violet dengan mengajaknya berpacaran. Saat itu dia hanya membawa bunga dan cokelat lalu di berikannya kepada sang pujaan. Tanpa di duga bukannya menerima cintanya, Violet malah mencaci dan menginjak cokelat beserta bunga membuat Pelix sakut hati.


Flashback ketika Pelix menembak Viona.


"Vion tunggu" ucap Pelix.


"Apa lagi sih" judes Viona.


"Kamu mau kan jadi pacar ku" tanya Pelix penuh harap.


Viona hanya menyunggingkan bibir dan menatap jijik Pelix. Dia mempunyai wajah tampan tetapi mereka tahunya Pelix seorang cowok yang miskin bermodal motor saja.

__ADS_1


"Cihhh dasar gak tahu diri. Derajat ku dengan mu jauh berbeda. Aku gak mau dong harus jalan-jalan cuma pakai motor butut mu ini bagaimana kalau rambutku rusak?" ketus Viona sembari merebut bunga dan cokelat yang Pelix pegang lalu menginjaknya membuat Pelix takan mengejar cinta gadis itu. Hanya Marini yang menerima nya apa adanya saat itu. Walau Pelix hanya bisa membelikan minuman es cekek dan sebungkus kuaci rebo, tapi Marini sangat menghargai itu semua.


¥


Sementara Vivid yang sudah cape sekarang sudah berada di rumah Diana. Diana pun mengizinkan Vivid untuk membantu di rumahnya sementara sampai Amora dan Martin kembali dari Singapore.


"Ibu matur suwun geh saya sudah di izinkan tinggal sementara disini" ucap Vivid.


"Tak apa mbak. Terimakasih ya sudah mau kerja di rumah anak saya. Sebenarnya saya mau juga ikut tinggal di rumah Amora. Tapi pasti dia tidak mengizinkan saya" lirih Diana.


"Bukan masalah tidak di izinkan ya bu, tetapi kamarnya hanya ada tiga. Memangnya ibu mau tidur sama saya?" ucap Vivid.


"Emmzzz mending ibu tidurnya sama nak Pelix aja" celos Diana.


"Loh ibu kenal dengan mas Pelix gantengnya aku?" tanya Vivid.


"Kenal dong" jawabnya bangga.


¥


Martin dan Amora sedang berada di dalam pesawat kelas bisnis dan tak lama Pelix dan Marini pun berada di pesawat yang sama.


Pelix yang melihat Amora hanya menundukan kepala dan enggan berbicara apapun. Dia takut jika Amora akan mengetahui dirinya dan rencana yang semula akan hancur berantakan. Dia berfikir jika ketahuan maka pekerjaan di rumah Amora pun terancam.


"Loh dokter Marini. Kita bertemu lagi" ucap Amora.


"Ini suami anda dok?“ tanya Amora.


" Hmmmm~~ Ini teman dekat saya" jawab Marini


Pelix hanya diam tak menggubris obrolan antara Marini dan Amora membuat Amora sedikit heran.


"Mas lihat deh pacar dokter Marini cuek banget di sapa pun tak membalas" kesal Amora.


"Biarkan saja mungkin sedang tidak enak badan" jawab Martin sekenanya.


"Iya juga ya mas! Kok aku jadi kepo" kekeh Amora.


Di dalam Pesawat Marini tak lepas menggandeng tangan Pelix seakan takan membiarkan satu detik pun terlepas. Martin yang melihatnya merasa geli sendiri. Dia tak menyangka sosok dokter yang di kenalnya dengan sifatnya yang tegas dan ceplas ceplos bisa menjadi wanita yang bucin seperti itu.


"Di pegangin terus bu dokter takut hilang ya" kelakar Martin dari kursi sebrang.


"Iya nih pak" jawab Marini yang terus menggenggam tangan Pelix.


(Dikira ku anak hilang mungkin) gumam Pelix dalam hati.


Amora hanya geleng-geleng kepala melihatnya. Amora yang curiga dengan lelaki di sebelah Marini terus saja menatapnya intens.

__ADS_1


"Seperti Pelix" gumamnya.


Tetapi dia langsung menepis anggapan itu.


Tak lama akhirnya pesawat lepas landas di bandara dan tak lama mobil jemputan Martin datang.


Setelah menempuh perjalanan yang sangat melelahkan akhirnya dua sejoli ini sampailah di rumah dan heran tak menemukan Pelix berada disana. Selang berapa lama Pelix pun tiba di rumah Amora dengan memakai jaket kulit agar Penyamarannya tidak di ketahui.


"Maaf saya terlambat membuka pintu" ucap Pelix.


"Slow broo. Kita juga baru sampai kok" jawab Martin santai.


Ketika Amora hendak melangkahkan kaki tiba-tiba angin meniup rambutnya dan memperlihatkan leher nya yang penuh dengan tanda merah. Pelix cukup tahu tanda itu dan membuat Pelix merasa hatinya teriris.


( Rupanya dia sudah sembuh) Gumam Pelix dalam hati.


Sore hari Pelix berdiam diri di peternakan. Dia mencerna kembali pertemuannya dengan Marini yang secara tiba-tiba.


"Kenapa di saat perasaan ini sudah pada Amora, Marini kembali" ucap Pelix seraya menghembuskan nafas kasar nya ke udara.


Tiba-tiba Amora datang membawa secangkir teh dan sepotong brownies.


"Hai" ucap Amora.


"Kenapa kemari? Harusnya kamu istirahat. Sepertinya kamu sangat lelah habis bulan madu ya" Kelakar Pelix.


"Apasih" Ketus Amora.


"Ambil cermin lalu lihatlah leher jenjang mu nona" ucap Pelix.


Pelix tak banyak bicara saat ini hanya menjawab pertanyaan seperlunya. Hal itu membuat Amora heran.


"Pel kamu kenapa sih? Emang salah kalau istri tidur dengan suaminya?" tanya Amora.


"Tidak salah. Mulai saat ini kita jaga jarak saja. Lagian suamimu juga sudah bisa memuaskan mu bukan? kita jalani secara profesional saja selayaknya atasan dan bawahan" tutur Pelix.


"Hei kamu kenapa jadi seperti ini?" tanya Amora sembari menguncang-guncangkan bahu Pelix.


"Aku hanya tidak mau bersentuhan dengan istri orang" ucap Pelix sembari menangkup kedua pipi Amora.


Amora seketika menangis tak mampu berkata apa-apa.


"Sudah jangan seperti ini Amor. Orang lain yang melihatnya akan menyangka ku memperkosamu. Sudah sana kembali ke dalam, suamimu ingin bermanja ria dengan mu" ucap Pelix seakan mengusir Amora.


"Aku kira kamu gak akan seperti ini Pel" lirih Amora.


Kemudian Amora berlalu dan Pelix memandanginya tak bergeming.

__ADS_1


__ADS_2