SUPIR KU SEORANG MAFIA

SUPIR KU SEORANG MAFIA
Hasrat Yang Tak Tersalurkan


__ADS_3

"Darimana kalian hah?" tanya Martin sembari menggeram penuh amarah.


"Maaf mas, aku pulang telat. Aku jenuh di rumah dan berjalan-jalan tetapi aku kehujanan dan~~~" Tak sempat melanjutkan perkataan, Martin segera menuntun tangan sang istri dengan kasar.


Melihat itu membuat Pelix sedikit emosi, Ada amarah yang mencuat, terlebih lagi dia tidak suka jika seorang pria mengasari wanita. Dia berpikir kalau tindakan seperti itu, hanya di lakukan oleh lelaki pengecut.


"Seorang wanita istimewa tak seharusnya mendapatkan suami seperti banci" gumam Pelix.


Sesaat kemudian Vivid menghampiri Pelix.


"Ada apa mas? kok tegang gitu?"


"Saya habis mengajak nyonya jalan-jalan, Kemudian kehujanan sampai alergi dingin nya kumat" ujar Pelix.


"Oh, kirain habis!" ucap Vivid sambil mencebikan bibirnya.


"Apa? habis enak-enak maksudnya? maaf ya mbak Vivid yang kurang bahenol, saya tidak se mesum yang kamu pikir" ucap Pelix sambil berlalu menuju kamarnya.


Vivid hanya senyum saja mendengar penuturan pelix.


"Mas Pelix lucu juga ya. Udah tamvan, kekar banget pula. kebayang gak sih kalau lengan nya yang kekar itu menggendong ku" Ucap Vivid sembari berhayal.


Sementara di dalam kamar, Martin menduduk paksakan sang istri.


"Dari mana kamu, sampai pulang malam seperti ini hah? Jangan mentang-mentang ku gak pernah menyentuhmu lantas kau mencari pelampisan dengan supir mu" bentak Martin.


"Kamu bicara apa mas? jangan pernah menuduhku seperti itu. Aku bukan pelac*r yang bisa melakukan dengan siap saja. Pak Pelix, seorang lelaki baik. Tak mungkin melakukan itu pada majikannya. Tolong mas jangan menghakimi atas apa yang tak aku perbuat. Tolong" Lirih Amora sembari menangkupkan kedua tangannya seakan memohon ampun.


Mendengar Amora bicara lelaki lain, membuat amarah Martin semakin membuncah.


"Diam, Jangan bicara pria lain di hadapanku" teriak Martin sembari menjambak rambut sang istri.


"Sakit mas, Ampun" tangis Amora.


Pelix yang melihat adegan itu di balik dinding kamarnya, hanya mampu mengepalkan tangan menahan amarahnya.


"Maafkan aku Amor. Aku tak bisa membantumu" Lirihnya.


Sementara di kamar sang majikan, tampak Martin melucuti pakaian Amora.


"Mas mau apa?' tanya Amora dengan pilunya.


" Aku akan meminta hak ku sebagai suami" jawabnya kasar.


"Tolong mas, jangan sekarang. Badanku masih lemah" jawab amora dengan tenaga yang tersisa.


"Jangan membantah" ucap Martin sambil melucuti semua baju sang istri.


Di cumbunya sang istri dengan rakusnya, Amora hanya diam tak melawan, karena tubuhnya masih merasakan sakit dan lemah. Hal itu membuat Martin menjadi Frustasi dan yang di harap kan, burung perkututnya menggeliat, malah masih lemas seakan tak mau bangun dari hibernasinya. Di hempaskan lah badan sang istri ke atas pembaringan dengan kasarnya, membuat seketika Amora tak sadarkan diri. Melihat sang istri tak bergeming, membuat martin semakin lalap. Dia seketika memakai bajunya kembali dan meninggalkan Amora yang tergolek tak sadarkan diri.


"VividVivid, kemari kamu cepat" teriak Martin.


"A~ada apa tuan memanggil saya?" tanya Vivid tergagap.

__ADS_1


"Urus istri saya sekarang" titah Martin.


Kemudian dia memanggil Pelix.


"Pak Pelix cepat kemari" teriak Martin.


Dan Pelix pun segera menghampiri.


"Ada apa tuan?" tanya Pelix.


"Bawa istri saya ke rumasakit sekarang. Saya masih banyak urusan" Jawab Martin sembari berlalu.


"Mbak, coba lihat ke kamar nyonya, apa yang terjadi. Saya tunggu saja di luar" ucap Pelix pada Vivid.


"Tapi mas, saya takut. Ayo sama kamu aja mas kita periksa sama-sama" jawab Vivid sembarienciut ke badan Pelix.


Bukannya dia tak mau melihat ke dalam kamar sang majikan, tetapi Pelix tahu bahwa sekarang Amora pingsan dan tak memakai pakaian sama sekali membuat dia merasa tak enak hati oleh Vivid.


Sampailah Vivid di kamar Amora. Terlihat lah keadaan Amora yang memperihatinkan, dengan rambut kusut, dan tanpa memakai pakaian.


"Ya ampun nyonya, nyonya kenapa bisa seperti inihikhikhik" Tangis Vivid menguar dari dalam kamar.


Segeralah dia, merengkuh tubuh Amora dan memakaikan nya baju agar Pelix segera menolongnya.


"Mas Pelix cepat kemari mas. Kita harus bawa nyonya ke rumasakit" teriak Vivid.


Datang lah Pelix melihat keadaan Amora.


"Sudahlah mbak, kita obati saja nyonya disini, ini hanya pingsan saja" ucap pelix sambil membopong tubuh sang majikan, ke atas pembaringan.


"Syukurlah nyonya sudah sadar" Ucap Vivid.


"Kepala saya sakit mbak" Lirih Amora.


"Mungkin efek pingsan tadi nyonya" kata Vivid.


"Apa anda mau saya bawa ke rumasakit, nyonya?" Tanya Pelix.


"Tak usah. Saya istirahat saja, yasudah sekarang sudah malam. Silahkan kalian kembali ke kamar masing-masing" perintah Amora.


"Baiklah" jawab Pelix dan Vivi sembari berlalu dan menutup pintu kamar Amora.


Di kamar, Amora hanya menangis. Seluruh badannya serasa remuk oleh perlakuan suaminya sendiri. Bahkan dadanya terasa perih. Ada luka memar disana, seperti bekas gigitan manusia.


"Arggghhhhhhh. Mas Martin, kamu selalu menyiksaku. Apa salahku mas. Ingin rasanya aku menyerah dan mengugat cerai lelaki bengis itu, tapi aku tak mau menyakiti hati ibuku~~hik hik hik" tangis Amora menggema, memenuhi seisi ruangan itu. Pelix yang melihat dari balik dinding, hanya bisa melihat dengan tatapan iba. Terlihat, tangan Amora ingin menggapai sebuah gelas yang ada di nakas, tetapi tangan yang lemah membuat gelas itu jatuh dan pecah seketika, menyebabkan semburat kaca yang berserakan.


Pranggggggggg.


Suara gelas yang menghantam lantai. Seketika Pelix lari menuju kamar Amora.


Tok tok tok.


"Bolehkan saya masuk nyonya?" ucap Pelix sembari membuka pintu kamar Amora.

__ADS_1


"Jangan maju Pelix, awas nanti kakimu terkena pecahan gelas" ucap Amora dari tempat tidurnya.


Di bersihkannya semua pecahan gelas oleh Pelix sampai semuanya bersih.


"Terimakasih Pelix. Maafkan saya yang selalu merepotkan mu" lirih Amora.


Di hampirilah Amora dan Pelix langsung duduk di samping Amora.


"Ceritakan apa yang anda alami sampai kondisi anda seperti ini!" ucap Pelix dengan sorot mata tajam.


"Saya baik-baik saja" jawab Amora dengan wajah yang sedikit berpaling.


"plis, nyonya. Jangan berbohong pada saya. Apapun yang terjadi saya akan melindungi anda. Tugas saya untuk menjaga dan itu amanat dari suami anda sendiri. Jadi sekarang jujur lah pada saya" pinta Pelix sambil memandang lekat pada sang majikan.


"Apa saya berhak di cintai ?" tanya Amora dengan deraian air mata.


"Anda sangat berhak nyonya. Bodoh saja jika seorang lelaki menyanyiakan wanita secantik anda" jawab Pelix sambil mengusap air mata Amora.


"Tapi kenapa saya di siksa seperti ini pelix? salah apa yang sudah saya lakukan, hingga menikah denga lelaki kejam itu" lirih Amora.


Kemudian Pelix merekatkan tubuhnya dan merangkul Amora.


"Tenang nyonya. Ada saya disini" ucap Pelix sembari mengusap kepala Amora dengan lembut.


Amora merasa nyaman ada di pelukan sang supir pribadinya. Rasanya sungguh hangat dan membuat dia merasakan di lindungi oleh sosok seorang ayah.


Lama berada dalam dekapan Pelix dan merasakan pelukan Pelix semakin erat membuat dia merasa kan sedikit sakit.


"Awww, Pelix cukup. Badan saya sakit" lirih Amora.


Dia merasakan sakit di area dadanya yang tadi di gigit oleh Martin hingga menimbulkan luka dan lebam kebiruan.


"Boleh saya melihatnya?" tanya Pelix dengan hati-hati.


"Tak usah" jawabnya.


"Plis nyonya. Saya sudah tau semuanya" Ucap Pelix sambil membuka baju Amora.


Di lihatnya dada Amora, dan terlihatlah luka akibat gigitan.


"Ini apa?" tanya Pelix dengan amarah.


"Saya tadi terjatuh" jawab Amora bohong.


"Jangan membohongi saya. Saya tanya sekali lagi ini kenapa?" tanya Pelix lagi sembari melotot kearah Amora.


"Saya di gigit oleh suami saya. Saya tidak bisa menuntaskan hasratnya, hingga jadilah keadaan saya seperti ini" lirih Amora.


(Edan betul nih laki-laki. Dia manusia atau vampire sebenarnya, kok senang mengigit) gumam Pelix.


"Jadi yang melakukan suami anda? Apa anda tahu ini sudah menjadi tindakan KDRT, dan harus segera di laporkan. Sudah berapa kali dia melakukan nya?" tanya Pelix dengan perasaan geram.


"Sejak kami baru menikah, dia sudah kasar pada ku" ucap Amora dengan tangis lirih.

__ADS_1


Di peluknya tubuh sang majikan yang tengah menangis itu. Dan Amora pun tertidur dalam dekapan Pelix.


__ADS_2