
Malam itu kedua bencong di bawa ke tempat makan. Mereka terlihat sangat lapar dan lesu sampai membuat Ricky tak tega pasalnya dia ingat pernah ada di posisi mereka walau dia tak menjajakan tubuhnya untuk semua orang, dia hanya menjadi pemuas nafsu James.
"Kalian sudah lama bekerja jadi bencong?" tanya Ricky.
"Kami bekerja kaya begini sudah hampir satu tahun om" jawab Seruni.
"Jangan panggil om dong, aku masih dua puluh lima tahun. Kalau kamu mau panggil om sama dia aja" ucap Ricky sembari menunjuk Martin.
"Dasar anak bau kencur sangat tak sopan" ucap Martin.
"Sorry om. Gak main-main deh sama pengacara takut di somasi" ucap Ricky sembari terkekeh.
"Kok tahu saya pengacara?" tanya Martin.
"Ya jelas saya tahu lah om, kan waktu itu kita pernah sama-sama hadir di acara kumpulan pengusaha dan orang yang berpengaruh. Saya mewakili dady saya hadir disana“ jawab Ricky.
Obrolan mereka di buyarkan oleh datangnya pelayan yang membawa beberapa hidangan.
"Silahkan di nikmati hidangannya tuan dan nyonya" ucap pelayan wanita itu dengsn ramah.
"Terimaksih" ucap Amora.
Mereka pun makan dengan lahapnya termasuk dua war wer wor itu.
Sesudah makan, Martin memberikan uang kepada masing-masing bencong itu.
"Terimakasih ya om dan tanteu! Semoga kebaikan kalian di balas oleh tuhan" ucap Seruni dan Miska.
"Sama-sama! Semoga setelah ini kalian mendapatkan pekerjaan yang lebih baik“ ucap Amora.
"kalian mau pekerjaan?" ucap Ricky.
"Mau bang mau" jawab Seruni.
"Tapi kalian harus tampil seperti laki-laki! Bagaimana?" tanya Ricky.
"Bisa bang. Kami juga sebenarnya masih normal hanya keadaan saja yang memaksa kami menjadi seperti ini" jawab Miska yang sudah bersuara jantan.
"Lubang matahari kalian masih aman?" tanya Ricky.
"Masih bang kami tidak sakit" jawab Seruni.
"Oke kalau begitu. Besok kalian datang ke perusahaan ku. Kalian akan aku tempatkan di bagian OB dan kamu akan di tempatkan di bagian parkir. Tidak masalah kan? Gaji kalian lima juta perbulan makan dua kali sehari dan tempat tinggal kalian di mess perusahaan, free Wifi" tutur Ricky.
Mendengar itu alangkah bahagianya mereka berdua sampai mereka menitikan air mata.
"Terimaksih bang terimakasih" ucap Keduanya.
Mereka pun pulang ke tempat masing-masing karena waktu sudah sangat larut malam.
¥
Di apartemen Pelix, Marini masih tertidur berdua dengan sang kekasih. Kemudian suara telepon membangunkan keduanya.
Di angkat lah panggilan itu tanpa melihat siapa yang memanggil.
"Hallo siapa ini?"tanya Marini dengan suara khas bangun tidur.
" Haloo Rin ini mama. Kamu kenapa jam segini belum pulang? Kamu ada di mana sih?" tanya Elizabeth.
"Hmmmmm aku, aku, aku ada di rumah teman mah!" jawab Marini.
"Siapa dia sayang?" tanya Pelix.
Marini pun spontan membekap mulut Pelix agar tak di dengar oleh sang mama, tapi nasi sudah menjadi bubur, suara bariton khas bangun tidur dari seorang Pelix terdengar sampai di seberang telepon.
"Suara siapa itu Rin? Jawab mama!" tanya Elizabeth keras.
"Hmmmmmmzzz Suara, Suara teman iya mah suara teman" ucap Marini gugup.
"Jangan pernah membohongiku" tegas Elizabeth.
__ADS_1
"Aku pulang mah sekarang. By" ucap Marini panik segera menutup panggilan sang mama.
Marini langsung loncat dari kasur lalu mengemasi barang-barangnya untuk segera pulang. Pelix pun menghampiri nya.
"Aku yang akan mengantarmu pulang malam ini" ucap Pelix.
"Tap Pel, bagaimana dengan mama" ucap Marini.
"Aku akan bicara dengan tante Elli malam ini" ucap Pelix.
Mereka pun pergi ke rumah Marini. Di sepanjang perjalanan, Marini tampak gelisah dengan jari terus meremat celana yang dia kenakan.
"Hei kenapa kamu khawatir sebegitunya? Kita akan menghadapi mama mu loch bukan menghadapi mafia. Tenang saja apapun keputusan tante Elli akan aku terima" ucap Pelix.
"Baiklah Pel. Tapi aku harap mama menyukaimu" ucap Marini.
Sementara di rumah Marini, Ricky datang ingin bertemu dengannya.
"Selamat malam tanteu. Maaf saya mengganggu malam anda! Apa Rini sudah tidur?" tanya Ricky pada Elizabeth.
"Maaf nak Ricky, Rini nya belum pulang. Ayo masuk dulu" ucap Elizabeth merasa tak enak hati.
Ricky pun masuk dengan membawa bucket bunga dan sekotak coklat made in swizerland.
"Bagaimana kabar nak Ricky?" tanya Elizabeth pada pemuda tamvan itu.
"Baik tanteu! Tanteu sendiri bagaimana kabarnya?" tanya Ricky.
"Tanteu baik kok. Oya silahkan di minum teh nya" ucap Elizabeth.
Elizabeth begitu senang melihat kedatangan Ricky, Luka hatinya sedikit terobati manakala wajah Ricky mirip dengan alm Putranya.
"Kamu suka kepada anak tanteu?" tanya Elizabeth.
"Saya tidak akan kemari terus jika saya tak mencintai anak tanteu. Tapi sepertinya hatinya sudah ada yang mengisi"jawab Ricky sendu.
" Saya sangat menghargai mu nak Ricky. Rencana tuhan kan siapa yang tahu kita sebagai makhluknya hanya bisa berencana tapi tuhan kan yang menentukan segalanya. Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini" tutur Elizabeth lembut.
Tak lama mobil yang di kemudikan Pelix berhenti di halaman rumah Marini.
"Ayo kita masuk" ucap Pelix.
Marini hanya diam mematung seakan berat untuk melangkahkan kakinya.
"Rin ayo! Ini kan rumah kamu" ucap pelix sembari menuntun tangan Pelix.
Marini pun masuk ke dalam rumah. Tak di sangka di ruang tamu sudah ada Ricky dan Elizabeth yang sedang berbincang sembari ketawa-ketiwi.
Ketika melihat kedatang Marini dengan Pelix ada rasa ketidak sukaan yang Ricky. Hatinya pedih melihat wanita yang di cintainya bersama lelaki lain.
"Bagaimana tidurnya nyenyak?" tanya Elizabeth menyindir Pelix dan Marini.
Mereka pun terlihat kikuk menghadapi pertanyaan sarkas dari Elizabeth.
"Maaf tanteu Elli, saya bisa jelaskan" ucap Pelix.
"Duduk dulu nak Pelix. Setelah sekian lama kamu baru muncul lagi sekarang ya. Bagaimana kabar mu?" tanya Elizabeth.
"Kabar saya baik tanteu. Bagaimana dengan keadaan tanteu?" balas Pelix
"Ya tanteu sekarang seperti ini hanya berpangku pada kursi roda akibat stroke dua tahun yang lalu. Nak Pelix tanteu minta maaf atas kesalahan tanteu di masa lalu pada mu" ucap Elizabeth.
"Saya sudah memaafkan Tanteu jauh sebelum tanteu meminta maaf pada saya sekarang. Saya sudah lupa" balas Pelix.
"Terimakasih nak Pelix. Apakah kamu serius dengam anak tanteu? Jujur saja Marini sangat mencintai mu, dia tak pernah jatuh cinta pada lelaki selain kamu. Lama dia menunggu mu sampai saya sebagai ibunya merasa prustasi melihat putri saya satu-satunya tak ingin dekat dengan lelaki manapun. Saya harap kamu tidak menyakiti Marini ya nak" ucap Elizabeth dengan netra berkaca-kaca.
"Saya tak akan menyakiti anak tanteu" ucap Pelix.
Seketika Ricky yang menjadi pendengar setia tiba-tiba terbatuk mendengar janji yang di ucapkan Pelix.
"Uhukkk uhukkkk uhukkkkkk~~ Serak banget tenggorokan" ucap nya tiba-tiba.
__ADS_1
"Ekh ada tamu ternyata" ucap Marini yang pura-pura tidak mengetahui keberadaan Ricky.
"Dari tadi non saya di sini" jawab Ricky pada Marini.
"Tanteu saya pulang dulu ya hawa disini sangat panas, sepanas gejolak cinta yang terabaikan. Ini bunga dan cokelat untuk tanteu. Saya pamit tan! Selamat malam" ucap Ricky sembari menyalami tangan Elizabeth dan berlalu begitu saja tanpa melihat ke arah Marini dan Pelix.
"Nak Pelix serius dengan anak tanteu?" tanya Elizabeth.
"Ya tan" ucap Pelix.
"Jika kamu serius segera lah nikahin Marini. Umur kalian kan sudah pantas untuk menikah! Lalu tunggu apa lagi?" ucap Elizabeth.
"Baiklah tanteu saya akan menikahi Marini tetapi setelah ibu dan adik saya di ketemukan. Berikan saya waktu Tanteu" tutur Pelix.
"Baiklah Tanteu akan beri waktu kamu" ucap Elizabeth.
Sesudah menjelaskan apapun, Pelix langsung pulang dari rumah Marini menuju apartemennya.
¥
Ricky yang sedang mengemudikan mobilnya dengam kesal memukul-mukul kan kemudi stir nya dengan kencang.
"Aku yakin kamu tak akan berjodoh dengan dia Rin. Kamu jodoh aku" ucap Ricky.
Tak lama, dia memarkirkan mobilnya di sebuah bar terbesar di kota itu.
Seorang bartander menyapa nya dengan sangat ramah.
"Selamat malam bos. Kenapa baru kemari sekarang" ucap Bartander
"Diam kau Okan! Aku ingin pusing malam ini" ucap Ricky.
"Baiklah aku akan memberikan mu sezuatu yang enak" ucap bartander itu.
"Berikan aku satu botol minuman Favorit ku Okan! Cepatttttttt" ucap Ricky yang sudah terduduk di kursi bar itu.
Malam itu Ricky mabuk sembari menghisap Rokok dengan pikiran kalut bercampur emosi.
Dia sudah habis sampe dua botol jack'D dan meminta lagi dan lagi.
"Okan, berikan aku satu botol lagi" ucap Ricky.
"Kau sudah terlalu mabuk. Aku tak ingin kau pingsan disini" ucap Okan.
"Hahahahaha kau tak tau sekarang aku sedang kacau! Kau tahu aku sangat mencintai Marini tetapi dia malah memilih lelaki yang menyelingkuhinya. Apa kurang nya aku hahhh? Aku tampan, gagah dan berwibawa kenapa Marini tak menyukaiku. Ohhh Marini ku kemarilah sayang dekap aku. Aku ingin kita bercinta sampai pagi.. uhukkkk uhukkkk uhukkkk" racau Ricky di sertai batuk khas orang mabuk.
"Kalian tahu alamat nya?" tanya Okan kepada penjaga bar itu.
"Kami masih ingat" jawab salah satu penjaga bar itu.
"Antarkan dia ke rumahnya" perintah Okan.
Penjaga bar itu kemudian mengantarkan Ricky dengan keadaan mabuk berat mengunakan mobil nya. Di sepanjang perjalanan, Ricky terus meracau menyebutkan nama Marimi.
"Dokter cantiku kenapa kau mengabaikan ku hah?“
"Kau akan sia-sia berhubungan dengan lelaki itu karena dia sudah tak mencintaimu"
"Oh Marini ku, ku ingin bercinta dengan mu sayang, ku ingin memadu kasih dengan mu. Ku membayangkan kau berada dalam kungkungan ku lalu kau mende@ah, menjerit dan memekik bersamaku kala pinggangku memacu mu dengan hentakan demi hentakan"
"Oh baby sini mendekat lah"
Di tengah racauan nya yang semakin tak karuan, tiba-tiba Ricky muntah dengan sangat banyak hingga membuat mobilnya penuh dengan sisa muntahan nya sendiri. Hal itu membuat penjaga barbyabg sedang menyetir dan satu temannya merasa jijik.
"Sudah berisik, muntah lagi" ucap lelaki yang berada di pinggir kemudi.
"Biarkan saja namanya juga orang mabuk" jawab satu pria lagi.
__ADS_1
Mereka pun akhirnya sampai di kediaman Ricky dan langsung membawa untuk masuk kedalam rumahnya.