SUPIR KU SEORANG MAFIA

SUPIR KU SEORANG MAFIA
Menata Hidup Baru


__ADS_3

Sesudah peristiwa ikrar talak Martin, Amora siap akan di berangkatkan ke Penang, Malaysia. Walaupun dia sempat menolak, tapi Pelix berhasil membujuknya. Selama di tempat terapi nya, Amora akan di temani Vivid untuk mengurusi keperluannya.


Ketika Vivid sedang memainkan ponselnya, Tiba-tiba notifikasi pesan masuk padanya. Sebuah SMS banking telah memberitahukan bahwa telah menerima transfer uang sejumlah lima belas juta dari no rekening Martin.


"Ya tuhan, banyak banget uangnya" gumam Vivid.


Tak lama Martin mengirimkan pesan pada Vivid.


"Temui saya sekarang di jalan tenda biru no 11"


"Baik tuan!" jawab Vivid.


"Jangan ada yang tahu. Saya menunggumu cepat" ucap Martin.


Vivid pun segera bergegas menemui Martin dengan menaiki taksi. Hal itu memantik kecurigaan Billy dan Pelix.


"Kita harus ikuti dia" ucap Pelix.


"Aku saja! Kau jaga Amora disini" Billy pun segera menaiki mobilnya membuntuti taksi yang di naiki oleh Vivid.


Setelah 10 menit berlalu, akhirnya Vivid sampai di tempat yang sudah di janjikan oleh Martin. Terlihat laki-laki gagah itu sedang duduk termenung di bangku taman di bawah sinar lampu yang temaram dengan pandangan kosongnya.


"Tuan" sebuah panggilan halus.


"Mbak, sini duduk saya mau bicara!" ucap Martin pada Vivid yabg baru tiba.


"Ada apa tuan mengajak saya bertemu malam-malam?" tanya Vivid heran.


"Saya ingin kamu berkata jujur pada saya. Apakah kamu tahu perselingkuhan Amora di mulai dari kapan?" tanya Martin dengan tatapan menelisik.


Deg!!! Jantung nya berdetak sangatlah kencang. Apa yang harus Vivid katakan? Dia pun bimbang apa harus berbohong atau berkata yang sejujurnya.


"Hmmmmmm~~ Anu tuan, anu. Hmmmmmmm" ucap Vivid tak mampu berkata-kata.


"Jawab pertanyaan saya mbak! Apapun kamu harus jujur. Percayalah pada saya" Martin segera meraih tangan ART itu berusaha untuk menyakinkan supaya dia berkata jujur.


"Please mbak, kamu sudah saya anggap adik saya sendiri. Jangan ada yang di tutupi" Martin terus saja membujuk Vivid.


"Baiklah saya akan jujur kepada anda tuan! Mas Pelix dan nyonya Amora sudah berselingkuh dari anda jauh-jauh hari ketika dia masih bekerja menjadi supir pribadi nyonya Amora" ungkapnya dengan berderai air mata.


Martin seketika mengeraskan rahang tegasnya karena selama ini dia merasa tertipu akan sikap lugu sang istri.


"Brengsek. Jahanam! Dasar wanita murahan. Aku tidak menyangka kau tega melakukan hal ini.. Arghhhhhhhh" sungutnya berapi-api.


"Nyonya merasa kesepian karena anda jarang sekali menyentuhnya dan pulang ke rumah. Nyonya yang bilang itu pada saya tuan. Apalagi saat itu anda sering sekali menyiksa dia. Anda pun sebenarnya berperan dalam aksi perselingkuhan ini tuan" ucap Vivid.


"Tapi tidak menguatkan dia untuk berselingkuh juga dari ku. Apakah mereka sudah berhubungan laknat?" tanya Martin kembali.


"Saya hanya melihat mereka sedang bercumbu saja di gudang peternakan, itu saja. Jika berhubungan badan saya belum melihatnya tuan" jawab Vivid sepengetahuannya.


"Benar-benar jahanam" geram Martin.


"Lalu apa bedanya dengan anda tuan? Sama-sama berkhianat juga kan?" tanya Vivid sedikit geram.


"Tapi aku menikahinya bukan berzin@!" Martin berkata seakan membela dirinya.


"Jika wanita bisa berpoligami, maka nyonya pun mungkin akan melakukannya tuan!" jawab Vivid


"Kenapa kamu tidak memberitahukan ini pada saya hah? Apa kamu di bayar oleh Pelix?" tanya Martin dengan nada yang di tinggikan satu oktaf.


"Tuan kenapa selalu memandang apapun dengan nominal! Apa waktu saya merahasiakan pernikahan anda, saya juga menerima bayaran? Lebih tepatnya saya menolak bukan? Saya hanya tidak ingin membuat rumahtangga majikan saya hancur" ucap Vivid dengan suara yang sudah terbata-bata menahan tangis.


Martin yang sudah membentak Vivid pun merasa bersalah langsung memeluk Vivid dengan eratnya dan mencium pucuk kepala Vivid membuat dia terlonjak kaget.


"Maafkan saya ya mbak sudah terbawa emosi" ucapnya.


"Ya tuan tidak mengapa! Jika sudah tidak ada yang ingin di bicarakan lagi saya pamit" ucap Vivid karena merasa takut kenapa tiba-tiba Martin memeluk dan menciumnya.


Di sepanjang jalan, Vivid tidak menemukan satu buah taksi pun lewat. Malam itu tepat pukul 11:00. Tubuh mungilnya terus saja berjalan menembus pekatnya malam. Bukan tanpa alasan dia pulang sendiri, Martin sempat menawarinya untuk pulang bersama namun dia menolaknya karena takut akan sikap Martin.


"Kenapa tiba-tiba tuan Martin memeluk dan menciumku sih? Aku jadi takut. Tampan sih dan mapan itu tipe ku tapi gak mantan suami majikan juga dong aku embat" kelakar nya dalam hati.


Ketika sedang melewati pos ronda, terdapat segerombolan laki-laki sedang meminum alkohol dengan riang gembiranya. Mata sayunya tiba-tiba berbinar tak kala melihat Vivid berjalan sendirian.


Seorang ketua genx yang bernama Madun menghampiri Vivid.


"Malam cantik nya abang! Sendirian aja nikh" ucap Madun sembari mencolek bokong Vivid.


"Pergi dari sini saya gak kenal kalian" ucap Vivid dengan nada gelisah.


"Maka dari itu kita kenalan dulu atau langsung mau kenalan sama si piton nya abang" suara tawa Madun menggelegar sembari menunjuk selah pahanya.


"Gemblung dasar wong edan! Pergi . Tolong-tolong" Vivid meminta tolong sembari berlari dan Madun mengejarnya.

__ADS_1


Tak hanya Madun tapi teman-temannya juga mengejar Vivid.


"Mau lari kemana kau nona cantik? Malam ini kau akan menjadi santapan makan malam kami. Kau masih perawan?" tanya laki-laki yang bernama Badru dengan tangan masih memegang minuman bernama intis*ri itu.


"Tolong jangan apakan saya! Tolong saya mohon!" Vivid sudah kalut dan terus saja menangis.


" Halahhhh banyak omong, Aku yang pertama" ucap Madun.


"Tidak bisa! Aku yang akan mencicipi nya dahulu" ucap Badru.


"Aku dahulu. Sudah tak tahan nih dua bulan di tinggal istri TKW ke negara Wakanda. Aku haus belaian" timpal Baron si pria berwajah abu-abu.


"Berisik! Hei nona kemarilah sayang, Abang Udin yang akan mencoblos mu duluan. Abang senior disini jadi mereka harus patuh pada abang" ucap Udin pria berhidung tumpul.


"Moh ( tidak)! Aku gak sudi. Pergi jangam ganggu aku pergi" teriak Vivid.


"Beraninya kau melawan ku" ucap Udin yang tangannya akan menampar wajah Vivid.


Tiba-tibaBrughhhhhh!!! Seseorang memukul wajah Udin dengan kencangnya sampai dia terhuyung.


"Bangs@t! Kau siapa berani menggangu kesenangan kami hah?" tanya Baron.


"Aku kekasih wanita ini. Seujung kuku kalian sentuh maka malam ini kalian tinggal nama" ucapnya.


"Mas Billy! Mas tolong mas, aku takut" tangis Vivid pecah.


"Masuk ke dalam mobil sekarang honey, biar cecunguk ini aku bereskan" ucap Billy.


Vivid pun segera masuk ke dalam mobil dan kenyaksikan Billy bertarung melawan lima orang.


Billy dengan perkasanya menumbangkan semua pria mabuk itu sampai tak sadarkan diri. Dia pun masuk ke dalam mobilnya dan melihat Vivid sedang menangis disana.


Di rengkuhnya tubuh mungilnya ke dalam pangkuannya.


"Are you oke honey?" tanya Billy.


"Aku takut mas Bill" jawab Vivid dengan memangis tersedu-sedu.


"Kamu sudah aman bersamaku" ucap Billy.


Billy pun segera menjalankan mobilnya pulang ke rumah Amora.


Di rumah, Amora sudah sedikit tenang. Pelix tak hentinya memberi semangat agar pikirannya dapat terkontrol lagi.


"Dalam waktu yang sedikit lama. Aku ingin kau menikmati suasana baru di sana!" jawab Pelix yang beralasan jika Amora ke Malaysia hanya untuk holiday.


"Tapi aku dengan siapa kesananya?" tanya nya lagi.


"Kamu akan di temani Vivid. Enjoy ya nanti di sana. Jika ada apa-apa segera hubungi aku" ucap Pelix sembari membelai rambut panjang Amora.


"Mulai saat ini tidak ada yang mengganggu hubungan kita lagi sayang. Kau miliku seutuhnya" gumam Pelix sembari tambah mengeratkan pelukannya pada pinggang ramping Amora.


"Aku mengantuk!" seru Amora.


"let's go kita bobo. Aku ingin memelukmu sepanjang malam" Pelix langsung menggendong Amora seperti koala menempel pada induknya.


Pelix membaringkan tubuh Amora di ranjang dengan sangat pelan. Kemudian dia pun merangkak naik ke sebelah Amora.


"Sayang!"seru Pelix manja di telinga Amora.


" Yes honey" ucap Amora.


"Aku menginginkan mu malam ini. Berikan ya sebelum kau pergi ke Malaysia karena kita mungkin tidak bisa bertemu dalam waktu yang sebentar" Pelix merengek seperti anak kecil yang ingin di belikan balon.


Amora hanya mengangguk kecil dan ekspresi wajah yang malu-malu tapi mau.


Bagai gayung bersambut, Pelix segera mencium bibir ranum itu, setiap inci dari tubuh Amora tak ada yang terlewati. Malam ini di kamar itu suara decapan bibir saling bersahutan, di susul derit ranjang dengan ritme yang tidak teratur.


Cketttt!!


Krietttt!!


Ckettt!!


Kriett!!


"Kau sangat memabukan sayang" ucap Pelix di sela-sela waktu mencangkul nya.


"Pel lebih cepat! Eumcchhh" rac@u Amora dengan suara par@unya.


Tak di sangka di luar kamar, Vivid mendengarkan suara-suara laknat itu membuat seluruh badannya gemetar. Dia tahu suara itu, suara orang yang sedang bercocok tanam.


"Itu suara orang yang sedang!" ucap Vivid yang langsung membekap mulutnya.

__ADS_1


Kakinya seolah tak ingin beranjak dari depan kamar itu. Vivid wanita normal, kala mendengar itu dia merasakan sesuatu berkedut di bawah sana.


Di dalam kamar, Pelix masih memacu dengan gerakan yang sangat cepat.


Tak lama sesuatu yang hangat meledak di bawah sana hingga pasukan kecebong itu keluar.


Billy melihat Vivid berdiri mematung di depan kamar Amora sembari memegangi segi tiganya. Billy langsung menghampiri Vivid dan merasa heran dengan wajahnya yang sudah memerah.


"Kau sedang apa?" tanya Billy.


"Aku, aku, Anu aku" Vivid berbicara terbata-bata karena malu ketahuan oleh Billy.


Billy yang paham akan situasi ini segera menuntun gadis itu ke kamar mandi.


"Ikut aku" ucap Billy.


"Mas Bill, badan saya serasa panas" lirih Vivid.


"Seharusnya kau pergi dari sana bukannya menguping suara orang yang sedang bercint@" ucap Billy sedikit kesal pada gadis lugu ini.


"Mas Bill kok tau?" tanya Vivid polos.


"Aku tahu dari ekspresi wajah mu. Ayo duduk" ucap Billy.


Vivid duduk di dalam kamar mandi dan Billy segera mengguyur badannya oleh air yang sangat dingin.


"Dingin mas. Tengah malam kamu mengguyurku pakai air ini! Bagaimana kalau aku sakit" racau Vivid kesal.


"Itu supaya kamu tidak h0rn¥" jawab Billy.


¥


Di sebuah rumah sederhana, seorang wanita sedang mengelus perutnya dengan air mata yang menetes.


"Aku harus bisa hidup mandiri mulai dari sekarang. Uang yang mas Pelix berikan padaku harus ku jadikan modal usaha supaya kelak aku bisa memiliki biaya untuk melahirkan" ucap Susan.


Ya wanita itu adalah Susan. Pasca peristiwa memilukan itu dia meminta pada Pelix untuk di sembunyikan.


FOV Susan:


Aku merasa menjadi wanita paling jahat di dunia. Saat itu pikiran ku sangatlah kacau. dalam benak ku terlintas bagaimana jika aku di laporkan ke polisi oleh Amora? Aku tidak mau, aku tidak sanggup karena aku tak ingin calon anaku menderita. Kemudian aku memantapkan hati untuk menghampiri Pelix yang sedang galau sembari meremat rambutnya. Ketika ku menghampiri dia, ada gurat rasa benci terhadapku.


"Boleh saya bicara dengan anda?" tanya ku terbata-bata.


"Apa yang ingin kau katakan padaku? Cepat waktuku tidak banyak" jawabnya ketus sekali padaku.


"Tolong sembunyikan aku dari siapapun termasuk suamiku" pintaku saat itu.


"Apa? Kau ingin aku menyembunyikan mu? Bukannya kau senang karena sebentar lagi Martin akan menjadi milikmu seutuhnya?" tanya nya dengan ekspresi datar padaku.


"Tidak! Anda salah menilaiku. Aku tidak sejahat itu. Aku juga tidak menginginkan pernikahan itu. Tolong sembunyikan saya agar hidup saya dan calon anak saya baik-baik saja" ucap ku dengan nada mengiba.


"Baiklah aku akan menolongmu karena aku tahu kau bukan wanita jahat. Pergi ke apartemen ku sekarang, Billy yang akan mengantarmu malam ini" ucap Pelix.


Hatiku sangat bahagia bercampur terharu. Di balik sikap dinginnya ternyata Pelix laki-laki yang peduli.


"Dengan apa ku harus membayar kebaikanmu? Bahkan dengan tubuhku pun aku rela?" ucap ku.


"Aku tidak menginginkan apapun darimu. Amora sudah cukup memberiku itu semua. Lagi pula aku tidak bernafsu bercint@ dengan wanita hamil" ungkapnya dengan terang-terangan menolaku.


"Terimakasih atas kemurahan anda. Tapi sebelum saya pergi, izinkan saya melihat keadaan Amora" ucapku mengiba.


Pelix kemudian mengantar ku ke ruang rawat Amora. Terlihat Amora tengah koma pasca operasi pengangkatan kedua janin kembarnya. Di sana aku menangis, meraung memeluk Amora. Tak terhitung berapa ribu kata maaf yang ku ucapkan pada wanita yang sudah ku rebut kebahagiaan nya. Ku cium keningnya dan ku tatap wanita itu.


"Maafkan saya mbak! Kita sebenarnya korban keegoisan suami kita. Saya akan tebus rasa bersalah dan dosa ini padamu. Saya akan pergi dari kehidupan Martin. Biarlah saya akan merawat calon anak saya sendiri. Semoga mbak cepat sehat kembali" ucapku sembari mencium tangan dan kening Amora lalu ku langkahkan kaki keluar dari ruangan itu.


Jika bertanya kemana Martin ketika ku memasuki ruang rawat Amora? Dia sedang sibuk di ruang jenazah melihat jasad mertuanya dan kedua janin kembarnya. Oh tuhan aku tidak sanggup dengan ini semua!.


Malam itu, seorang pria tampan dengan wajah bak dewa Yunani walau tertutupi dengan brewok yang tebal, mengantarku ke apartemen milik Pelix. Di sepanjang perjalanan kami tidak terlibat percakapan apapun. Tak lama mobil itu berhenti di sebuah apartemen mewah. Dia mengantar dan membawakan koper ku hingga masuk ke dalam.


"Nona, pakailah fasilitas apapun di apartemen ini. Semua kebutuhan sudah tercukupi. Bahkan makanan sudah ada di lemari pendingin. Saya pamit dan selamat malam" ucapnya dengan nada dingin dan langsung keluar dari apartemen itu.


Lamunan Susan beakhir kala ponselnya berdering.


"Hallo" ucapnya.


"Jal@ng, dimana kau sembunyikan setifikat rumah adiku?" ucap seseorang di balik panggilan telepon itu.


Nantikan karyaku selanjutnya ya! Yang berjudul: Babi Ngepet!!.🐷🐷 Cerita kehidupan sehari-hari yang akan di warnai cerita horor dan komedi.


Karena novel yang berjudul Supirku Seorang Mafia, beberapa episode lagi menuju tamat.


__ADS_1


__ADS_2