
Kaisyah sudah berdiskusi dengan anak-anaknya jika pesta pernikahan Camilla akan di langsungkan bersama acara pesta pernikahan Pelix yang sempat tertunda. Alhasil pelaminan pun menjadi dua kursi.
Pelix menghubungi Ricky, dia sengaja mengundang Ricky dan Marini karena ingin berbagi kebahagiaan dengan mereka.
Pelix pun menghubungi Martin mengatakan bahwa dia akan mengadakan pesta pernikahan. Martin di undang, dia langsung mengatakan bahwa akan datang dan meminta alamatnya.
"Kenapa tidak menikah di Jakarta saja Pelix?" tanya Martin heran dengan alamat yang di berikan.
"Orang tuaku ingin kami menikah di tempat nya, yang menikah bukan hanya aku tetapi adiku" jawabnya.
"Maraton ya bung! Baiklah aku usahakan akan datang kesana bersama Susan dan kedua orang tuaku" ucapnya di seberang telepon.
"Baiklah aku tunggu kedatangan kalian" Pelix berkata sembari mematikan sambungan teleponnya.
Di saat seisi rumah tengah sibuk mempersiapkan acara pernikahan yang sudah dekat, Jhonson malah merenung di bawah pohon sembari mencabuti rumput dengan mata sembab. Hal itu membuat Pelix langsung menghampirinya.
"Ayah kenapa kau disini sendirian?" Pelix heran.
"Aku teringat dengan pamanmu!" Jawabnya lirih.
"Paman Ken maksudmu ayah?" Pelix memastikan.
"Ya siapa lagi kalau bukan dia. Dia adiku satu-satunya yang entah kemana dan dimana sekarang! Aku hanya khawatir saja dengan kesehatannya apalagi giginya yang hitam itu kadang terasa sakit, Aku khawatir sebagai seorang kakak padanya, terlepas kelakuannya yang sebelas dua belas dengan kakek mu tapi dia sangat ceroboh" Jhonson akhirnya menangis mengingat keberadaan Ken.
"Aku akan memerintahkan semua anak buah ku untuk mencari paman Ken sampai ketemu" Pelix mencoba menghibur sang ayah.
"Terimaksih nak!" ucap Jhonson sembari memeluk sang putra.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di rumah Marini sedang sibuk. Marini sedang kenyiapkan kado untuk pernikahan sang mantan.
"Sayang buat kadonya dua?" ucap Ricky sembari menggendong bayi lucu anak mereka.
"Kok dua?" Marini merasa heran.
"Kan adiknya juga nikah. Bedanya Kak Amor nikahnya sudah, hanya tinggal resepsi. Sementara adiknya nikah nya beneran sembari ijab kabul" jawab Ricky.
"Oh begitu!" Marini pun segera membungkuskan kado untuk Camilla.
Daisy dan Tomi menghampiri mereka yang tengah sibuk mempersiapkan keberangkatannya.
"Rin, tinggalkan saja si gembul bersama momy dan dady. Kita khawatir jika perjalanan jauh akan berdampak pada cucu momy!" seru Daisy.
"Apa momy tidak keberatan selama aku pergi menjaga Alexza?" tanya Marini segan.
"Tidak sama sekali! Kami malah senang bisa mengurus gembul" ucap Tomi sembari membawa baby Alexza kedalam dekapannya.
"Cucu grandfa yang paling cantik! Pewaris tahta. Ukh sayang ayo kita makan puding di taman belakang" Tomi membawa sang cucu dengan sayangnya di susul Daisy.
Ricky mendekat dan memeluk sang istri.
"Sayang, terimaksih sudah memberikan buah hati padaku. Aku sangat mencintaimu ratuku" Ricky memeluk dan menciumi wajah Marini.
"Itu hadiah untukmu sayang! Karena sudah sabar mengadapiku selama ini. Terimakasih sudah menjadi suami dan dady terbaik untuk Queen Alexza putri kita" Marini balas memeluk Ricky.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di tempat lain, para anak buah Pelix sedang bergerilya ke hutan untuk mencari keberadaan Ken hidup atau mati. Anak buah Pelix yang bernama Maman Racing, melihat jejak-jejak kehidupan di dekat sungai.
"Fablo, lihat ada bekas kayu terbakar" ucap Maman Racing.
"Benar! Ayok kita sebar semuanya" ucap Fablo.
Lalu Fablo menemukan sebuah bungker tua, dia yakin didalam sana ada kehidupan.
Dia pun mencoba masuk tapi sangat sulit.
"Hallooo, ada orang disana?" tanya Fablo.
"Kata kunci" terdengar sahutan dari dalam.
"Bikini botoom URAAAAAAAAAA!!!!!" ucap Fablo.
Ken pun langsung membuka pintu bungker itu membuat Fablo terhenyak dengan keadaan Ken yang percis seperti pria tua dengan gigi menghitam.
"Tuan Ken" Fablo langsung memberi hormat.
"Siapa yang menyuruhmu kemari Fablo?" tanya Ken.
"Bos Pelix yang menyuruhku membawa anda tuan" ucap Fablo.
"Aku takut keluar dari hutan ini. Polisi pasti masih mencariku" ucap Ken was-was.
"Tidak akan Tuan! Polisi telah menghentikan pencariannya dan takan melanjutkan kasus anda karena anda tidak di temukan. Sekarang anda bebas" Fablo terus meyakinkan agar Ken mau ikut dengannya.
Walau mereka tidak dengat dengan Ken secara personal, tapi hubungan darah lebih dari segalanya. Dia ingat sewaktu Pelix masih kecil, dia senang sekali membuat keponakannya menangis. Entah itu di jewer telinganya, di ambil mainnanya, ataupun di colok hidungnya sampai Leon sang ayah marah padanya.
"Tuan Jhonson ada di Vila istrinya" jawab Fablo.
"Apa istri? kapan dia menikah dan dengan siapa dia menikah?" Ken semakin penasaran.
"Beliau menikah lagi dengan istrinya terdahulu" jawab pria itu.
"Ibunya Pelix?" tanya Ken kembali.
"Benar Tuan!" jawab Fablo.
"Kak Jhoni benar-benar bersatu kembali dengan kak Kai cinta sejatinya. Aku ingin ketempat mereka. Aku ingin meminta maaf! Fablo antarkan aku kepada mereka" Perintah Ken.
"Baiklah. Ayo sekarang ikut kami" Fablo pun memapah tubuh lemah Ken kekuar dari hutan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hari pernikahan pun terjadi. Henry dengan satu tatikan nafas berhasil melakukan ijab kabul dengan sangat cetar membahana.
Sah lah dua sejoli yang sebelumnya sembunyi-sembunyi dalam berpacaran itu.
"Selamat ya untuk kalian berdua" ucap Pelix yang sudah merencanakan sesuatu bersama Jhonson sang ayah untuk mengerjai waktu bulan madu Camilla dan Henry.
"Terimakasih Kak! Maaf sekedar mau tanya, kado nya mana ya?" tanya Henry pada Pelix dengan santainya.
__ADS_1
"Tenang, ada untuk kalian" ucap Pelix.
Jhonson yang duduk mendampingi mereka pun mengacungkan jempol pada Pelix dan seketika di balas anggukan.
Memang ayah dan anak ini selalu iseng dimanapun.
Bahkan pernah suatu ketika, Ken sedang bercinta dengan wanita panggilan di kamarnya, tiba-tiba Pelix, Jhonson dan semua anak buah Leon masuk ke dalam kamar Ken, mengagetkan di tengah aksi pergumulan mereka, sembari membawa balon, pita tabur dan kue ulangtahun.
"Selamat ulang tahun" ucap Pelix dan semuanya membuat Ken bungung.
Saat itu tubuhnya masih menyatu dengan wanita yang ada di bawah kendalinya membuat Ken marah bukan kepalang. Dia pun seketika mencabut pusakanya. Terlihat kesal di wajah wanita itu.
"Sialan kalian mengganggu kesenanganku bangsat" Ken marah dengan raga yang masih polos tak berbusana.
"Selamat ulang tahun adiku" ucap Jhonson sembari melemparkan kue ultah ke wajah sang adik.
"Aku tidak ulang tahun bodoh!" Ken tidak merasa bahwa hari ini adalah ulang tahunnya.
"Terus siapa yang ulang tahun?" tanya Pelix.
Salah satu anak buah Leon yang bernama Kenta langsung mengangkat tangannya.
"Saya yang ulang tahun" ucap pria itu.
"Oh ternyata kita salah. Yasudah kita harus kembali" Jhonson mengajak semuanya keluar dari kamar Ken menyisakan Ken yang bingung dan marah dengan wajah yang penuh dengan krim bolu.
Jika mengingat hal itu, Pelix dah Jhonson selalu tertawa.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Perjalanan menuju acara terasa sangat melelahkan untuk pasangan Martin dan Susan, Marini dan Ricky.
"Sayang masih kama gak sih?" tanya Marini yang sudah pegal duduk oama di dalam mobil.
"Sebentar lagi sayang!" hanya itu yang Ricky ucapkan.
Sementara Susan hanya tertidur di dalam mobil dan seketika terbangun kala ban mobil melindas polisi tidur.
"Ya ampun apa itu" ucapnya seketika.
"Tenang Sus, itu hanya polisi tidur" jawab Martin.
"Apa masih lama mas? Aku dah gak tahan pengen pipis ini" Susan sembari memegangi selangkangannya.
"Yasudah kita numpang pipis di rumah orang aja" Martin pun memberhentikan mobilnya di depan rumah sederhana.
"Permisi ibu, sebelumnya mohon maaf, apa kami boleh menumpang ke kamar mandi? Saya dari Jakarta" ucap Martin ramah pada wanita paruh baya itu.
"Mangga Den! Masuk saja" ucap wanita itu.
Martin dan Susan pun silih berganti masuk ke kamar mandi.
Sesudah itu mereka pamit sembari memberikan uang dua ratus ribu pada wanita pemilik rumah itu. Awalanya dia menolak, tapi Martin memaksanya.
Marini dan Susan pun akhirnya sampai di Vila milik Pelix di susul oleh Marini dan Ricky.
__ADS_1
Perjalanan jauh mereka terbayar oleh keindahan alam di sekitar vila milik Kaisyah. Apalagi hamparan kebun teh yang luas menambah kesejukan suasana.