
Billy sudah berada di tempat yang Pelix janjikan yaitu D'Casanova Hotel And Resort, Mereka mengadakan pertemuan secara privat di ruangan yang kedap suara.
Di ruangan itu terdapat meja bundar dan tiga kursi untuk mereka duduki.
"Ada apa kau memanggil ku bos?" tanya Billy.
"Paman Ken mengusir kami. Kau tahu kakek ku menunjukku sebagai ketua kalian, tetapi paman Ken menentang habis-habisan. Alhasil aku menyerahkan kekuasaan ku padanya. Tapi kau tahu kemampuan dia seperti apa bukan?" ucap Pelix.
"Aku sangat tahu kemampuan dia bos. Maka dari itu kau biarkan saja dia untuk menikmati kesenangan nya barang sebentar saja sesudah itu kau langsung mengkudetanya" ucap Billy.
"Itu yang akan ku lakukan. Lagi pula dia tidak tahu bisnis penjualan kokain di Mexico dan lahan Casino di Las Vegas itu bagian dari milik kakek" seringai Pelix penuh kemenangan.
"Ternyata kau bukan lelaki bodoh anaku! Ku bangga dengan mu" ucap Jhonson dengan menepuk pundak sang putra.
"Ya aku bukan pria bodoh! Aku tidak akan semudah itu melepaskan apa yang sudah menjadi miliku. Paman Ken hanyalah pemimpin ilusi semata. Aku lah kepala mafia Bikini Botton yang sesungguhnya sesuai apa yang kakek katakan" ucapnya.
"Bos jika kau mau, kau bisa tinggal di apartemen ku saja untuk sementara waktu!' ucap Billy.
"Aku tidak miskin, aku masih punya delapan unit apartemen. Aku bisa tinggal di manapun ku mau. Terimakasih atas tawaranmu" ucap Pelix yang langsung di angguki oleh Billy.
Pertemuan rahasia itu pun di sudahi. Billy pun segera keluar dari kamar hotel itu. Dan tinggalah Pelix bersama sang ayah Jhonson. Ada kecanggungan melingkupi ayah dan anak itu. Sikap Pelix yang dingin di dasari rasa bencinya pada Jhonson ketika Pelix melihat sewaktu Leon memisahkan Pelix dengan ibu dan adiknya. Saat itu Jhonson hanya diam tak ada upaya mencegah atau apapun membuat rasa aman pada keluarganya. Hal itu membuat Pelix menganggap bahwa Jhonson lah pria yang lemah.
"Pelix, anaku bisakah kita tidak secanggung ini sekarang? Di dunia ini aku hanya punya engkau nak" ucap Jhonson.
"Sejak kapan kau menganggap aku satu-satunya punya mu?" tanya Pelix dengan acuhnya.
"Please Pel dengarkan ayah, Maafkan atas semua yang terlah terjadi di masalalu. Aku sangat menyesal. Tapi saat itu aku tak bisa melawan perintah ayahku sendiri jadi mengertilah" Jhonson mencoba membela dirinya.
"Dan itu yang buat ku sangat muak dengan mu AYAH" Pelix menatapnya sebentar kemudian berlalu menuju balkon hotel itu.
¥
"Sepi banget rumah ini ya bun! Bang Hendri pulang ke Jakarta, Kak Pelix juga tak memberi kabar. Apa aku telepon saja ya" ucap Camilla sembari merapihkan meja makan.
"Pagi saja teleponnya. Mungkin sekarang dia sudah tidur nak. Kasian jangan ganggu istirahat kakak mu ini tengah malam loh" jawab Kaisyah.
"Aku ingin telepon saja" ucap Camilla sembari mengambil benda pipih dari dalam sakunya.
Dia menghubungi Pelix dengan video call..
Tak lama menunggu, Pelix pun mengangkat panggilan dari Camilla.
"Hallo sayang! Kenapa telepon kakak selarut ini hem?" tanya Pelix.
Tak di sangka Jhonson mengintip nya dari balik tirai.
"Kakak, aku merindukanmu! Bagaimana kabar mu? Bunda selalu menanyakan apa kakak disana sehat?" tanya Camilla.
"Kakak juga merindukan mu dek. Besok kakak akan ke tempat mu. Mungkin dalam beberapa minggu kakak akan tinggal disana untuk sementara waktu" ucap Pelix.
"Yang benar kak? Yasudah aku bilang pada" belum selesai bicara ponselnya sudah di rebut oleh Kaisyah.
__ADS_1
"Nak bunda rindu! Katanya kau mau kemari betul?" tanya Kaisyah.
"Benar bunda aku besok kesana dan tinggal beberapa minggu disana untuk menenangkan pikiran ku. Bunda aku ingin memberitahukan jika kakek menyebalkan itu sudah meninggal. Aku dan ayah sudah melarung abu nya ke laut" ucap Pelix dengan nada sendu.
"Ya tuhan ayah mertua! Semoga saja dia tenang di alam sana" ucap Kaisyah.
"Yasudah nak kamu sebaiknya istirahat yang cukup agar besok tidak kelelahan ya" ucap Kaisyah.
"Baik bunda. Selamat malam aku istirahat dulu" Telepon pun di matikan.
Ketika Pelix melangkahkan kaki ingin masuk ke kamarnya, Jhonson menghentikan langkahnya.
"Tunggu ayah Pelix!" seru Jhonson.
"Apa?" tanya Pelix keki.
"Siapa barusan yang menghubungimu? Kenapa kau memanggilnya bunda?" tanya Jhonson.
"Menurut mu, aku mempunyai bunda berapa?" tanya Pelix balik.
"Apakah itu Kaisyah? Jawab Pelix apa itu dia?" Jhonson sembari mengguncang-guncangkan kedua bahu kekar sang putra.
"Kau tak usah tahu! Apa peduli mu ayah?"Pelix melangkah tetapi Jhonson menahannya.
" Jawab jujur padaku agar aku seumur hidup tidak di hantui kesalahan. Itu Kaisyah kan yang menghubungimu? Jawab?" ucap Jhonson dengan nada getir dan bibir bergetar.
"Ya itu bunda. Wanita yang kau biarkan pergi bersama bayi kecil adiku" ucap Pelix sembari melepaskan cengkraman sang ayah dan berjalan menuju ranjang.
"Untuk apa kau ingin menemuinya? Bunda sudah trauma dengan mu pak tua. Takan ku biarkan kau mengusik hidup nya lagi" ucap Pelix.
Mendengar perkataan sang putra membuat Jhonson kalap. Dia mengambil gelas kaca memecahkannya dan pecahan itu dia arahkan ke lehernya sendiri. Dia ingin bunuh diri di hadapan Pelix.
"Apa yang kau lakukan ayah? Lepaskan beling itu" seru Pelix dengan panik.
"Aku mending mati saja. Lagi pula kau tak membutuhkan aku bukan? Lantas untuk apa ku hidup" beling itu semakin menancap pada urat leher Jhonson menggoresnya sampai darah mengucur dari lehernya.
"Hentikan sekarang" ucap Pelix.
"Katakan kau akan mengantarku kepada Kaisyah maka beling ini akan ku lepaskan" Jhonson dengan mode masih mengores-goreskan beling tajam pada lehernya.
"Baiklah aku akan mengantarmu besok. Buang barang itu" ucap Pelix.
Jhonson pun membuang pecahan beling itu ke belakang. Dia langsung memeluk tubuh sang putra dan menangis di sana.
"Maafkan ayah nak maafkan ayah! Aku belum menjadi seorang ayah yang baik dan bertanggung jawabhuhuhu" tangis kelelakian Jhonson menguar.
"Ayah kau tetaplah ayahku bagaimana pun rupa dan bentukmu kau tetap lah ayahku" ucap Pelix dengan mengeratkan pelukannya pada sang ayah.
"Aku hanya punya engkau di dunia ini. Jika kau mendiamkan ku lantas untuk apa aku hidup. Maafkan pria brengs€k ini nak maafkan ayah" Jhonson tergugu menyesali perbuatannya.
"Sudah lah itu semua sudah berlalu. Kau tidah hanya punya aku, tetapi kau punya Camilla" ucap Pelix sembari memperlihatkan poto Camilla di ponselnya.
__ADS_1
"Cantik sekali anak ayah. Ayah tak sabar ingin bertemu dengan mu nak" ucap Jhonson.
Penyesalan memang selalu datang belakangan, kalau di awal itu namanya pendaftaran. Nasi sudah menjadi bubur tinggal di pakaikan toping dan sedikit sambal.
Pepatah mengatakan bahwa jika kau masih muda tanamlah biji kebaikan maka di hari tua mu akan memanen apapun sesuai yang kau tuai. Caelah othor ngaco.. Kembali ke Laptop.
Sesudah sesi drama mengharu biru, akhirnya Jhonson dan Pelix beristirahat di ranjang yang berbeda. Karena Pelix tak ingin mendengar dengkuran sang ayah yang seperti motor R-Xing.
Pagi pun hadir dengan semburat sinar mentara yang menyilaukan netra.
Jhonson sudah mandi terlebih dahulu. Dia tak sabar akan berangkat menemui Kaisyah wanita yang sangat dia cintai dan sang putri.
Pelix saat itu masih bobo ganteng sembari memeluk gulingnya! Betapa imut ya bukan Pelix ini☺.
"Pelix bangun sudah siang" ucap Jhonson.
Sebotol Vodka dan roti panggang isi daging sapi tersaji sebagai sarapan untuk ayah dan anak itu.
Pelix pun bangun dengan malas-malasan dan segera berlalu menuju kamar mandi.
"HmmmmmHidup seperti ini ternyata sangat menyenangkan" gumam Jhonson.
Pelix pun keluar dari kamar mandi dengan berpakaian yang rapih siap untuk meluncur.
"Sarapan dulu" ucap Jhonson.
"Kurangi minum Vodka ayah. Kau sudah tak muda lagi" Pelix memakan roti itu tapi tak menyentuh minuman keras itu.
"Bagaimana aku fokus menyetir jika dalam suasana mabuk" ucap Pelix kembali.
"Baiklah"jawab Jhonson.
Tak lama mereka pun berangkat menuju tempat tinggal Kaisyah..
Di perjalanan, tangan Pelix terasa kebas karena sudah empat jam menyetir mobil. Kini gantian Jhonson yang menyetir mobil itu.
Delapan jam membelah jalanan, akhirnya mereka sampai di halaman Villa milik Kaisyah.
Pelix pun turun tapi tidak dengan Jhonson. Rasanya dia punya kaki berat sekali untuk melangkah. Apalagi menemui mantan istrinya yang sudah dia sia-siakan tepatnya terpaksa menyia-nyiakan atas perintah Leon.
Kaisyah dan Camilla sudah menunggu di luar menyambut Pelix.
"Bunda, Adik! Aku merindukanmu" ucap Pelix sembari berhambur kepelukan merka.
Mata Kaisyah menangkap seseorang sedang memperhatikannya di dalam mobil. Sosok yang tak asing baginya tetapi sangat menyakitkan.
"Kau kemari bersama siapa nak?" tanya Kaisyah.
Pelix tak menjawab pertanyaan dari sang ibunda. Jhonson pun keluar dari mobil itu dan berjalan. Langkahnya berat bagai membawa bertumpuk-tumpuk beban. Kaisyah langsung terperanjat melihat seseorang yang dia hindari sedari lama.
"Kaisyah" ucap Jhonson.
__ADS_1
"Kamu??? Berhenti di sana. Jangan kau mendekati kami berhenti" ucap Kaisyah yang tiba-tiba histeris.