
"Jaga bicaramu kak! Aku sudah bukan siapa-siapa lagi di keluarga mu" balas Susan.
"Kau bawa kemana sertifikat rumah adiku hah? Kembalikan pada kami" ucap seseorang dari balik panggilan telepon itu.
"Tidak! Rumah itu adalah miliku. Sampai kapan pun tak ada yang berhak memiliki itu. Rumah itu di bangun dengan uang ku, uang hasil keringat ku sendiri. Adik mu yang selama ini kau bangga-banggakan tak pernah memberikan ku nafkah. Jadi jangan berharap ku akan memberikan itu pada kalian" ucapnya sembari menutup pangilan telepon itu secara sepihak.
"Jangan harap aku akan menjadi wanita lemah kembali seperti dulu. Aku takan diam jika kalian mengusik hidup ku lagi" geram Susan dalam hati kala mengingat semua perilaku saudara mantan suaminya.
Sebelum Susan pergi dia sempat di beri semacam wejangan oleh Pelix agar dia menjadi wanita yang kuat dan bisa mandiri agar tidak mudah di tindas oleh siapapun.
"Kini aku harus kuat demi calon anaku" gumam Susan dalam hati sembari mengelus-elus perutnya.
Tiga minggu kemudian...
Seorang laki-laki yang mengatasnamakan perwakilan dari pengadilan agama mengantarkan akta cerai ke rumah Amora, Dengan di sambut oleh senyum manis Pelix, dia menerima akta cerai itu. Di hatinya begitu berbunga-bunga sebab tidak ada lagi penghalang bagi dia untuk memiliki Amora seutuhnya.
Semakin dekat dengan keberangkatan Amora ke Malaysia untuk terapi jiwa, ada rasa berat menghinggapi hati kecil Pelix. Amora kemungkinan di rawat akan lama disana.
"Kenapa kau bersedih bos?" tanya Billy kala melihat Pelix terbengong.
"Aku hanya tak ingin kehilangan dia!" ucap Nya lirih.
"Dia tidak kemana-mana. Dia itu berobat bukan ingin menikah lagi. Come on dia hanya milik mu seorang" Billy memberi semangat pada bos nya itu supaya Pelix tidak larut dalam keaedihan.
"Kau betul! Semoga saja Amora cepat normal kembali. Sesudah beres pengobatan aku akan segera menikahinya. Mengikatnya agar tidak ada seorang pun yang bisa memisahkan aku dengannya kecuali tuhan dan kematian" ucap Pelix mantap.
"Gentle sekali anda ini ya pak!" Billy terkekeh mendengar pengakuan yang Pelix utarakan.
"Harus dong biar terlihat semakin Lakik" ucapnya dengan suara bariton nya.
"Hei ku ingatkan ya padamu, jika sedang bercocok tanam usahakan suaramu dan Amora pelan sedikit! Kau tahu semalam Vivid mendengar des@h@n dan er@ngan kalian. Sungguh menjijikan" ketus Billy.
Pelix mendengar itu tiba-tiba tersenyum dan menutup wajahnya dengan telapak tangannya.
"Aishhhh,, sorry! Aku tak bisa menahannya. Roti jabrik Amora sangat legit dan mengigit" ucap Pelix sembari tertawa.
"Jossss tenaaaannnnn" timpal Vivid dari dalam dapur ikut meledek Pelix.
Billy mendengar itu kemudian tertawa terbahak-bahak.
•
Hari keberangkatan Amora ke Malaysia pun tiba. Jadwal keberangkatan nya pukul sepuluh pagi. Semua dokumen sudah di persiapkan dengan baik.
Pelix segera menghampiri Vivid yang sudah bersiap menemani Amora selama di Malaysia.
"Mbak, sekarang kau bekerja untukku, karena Martin sudah bukan majikanmu. Kamu kan ku gaji setiap bulannya tiga puluh juta rupiah, bagaimana?" tanya Pelix.
"Baiklah mas Pel, eh tuan saya mau" ucap Vivid.
"Ckkk kau jangan memanggiku tuan itu sangat geli. Panggil seperti biasa saja" ucap Pelix.
"Oke mas Pel, aku mau" Vivid dengan senang hati menerima tawaran Pelix.
__ADS_1
"Oalah, gaji besar segitu aku bisa nabung buat bikin rumah dan modal usaha di kampung buat ibu ku. Dan aku akan kuliah supaya aku jadi wanita yang pintar" gumam Vivid dalam hatinya.
Pukul sepuluh, mereka pun sudah ada di dalam pesawat menuju Malaysia. Di kursi pesawat Vivid tak henti-hentinya berdoa karena dia takut. Billy yang duduk di sebelahnya mencoba memeluknya guna meredam rasa takutnya.
"Jangan takut honey! Kita akan baik-baik saja" ucap Billy sembari memeluk tubuh Vivid.
"Saya takut mas Bill, maklum pertama kali naik pesawat" ucap Vivid yang semakin erat memeluk tubuh Billy.
Tiga jam berlalu akhirnya pesawat mendarat dengan mulusnya."
•
Kedatangan Amora dan ketiga orang lainnya, di sambut hangat oleh seorang dokter bernama Afizah Nizam bin Hafiz , dia sudah bisa menebak jika yang akan menjadi pasien rumasakit itu adalah Amora. Dapat di lihat tatapan Amora kosong seakan tidak ada kehidupan disana.
"Elok nye tapi sayang kurang normal" gumam Nizam.
Dia langsung menyapa Pelix dengan uluran tangannya.
"Selamat siang dokter! Saya senang bertemu dengan anda" ucap Pelix.
"Saya pun amat sangat senang bertemu dengan Mr Pelix. Mari silahkan masuk ke ruangan yang akan Mrs Amora tempati.
Dokter itu pun mengajak mereka berempat memasuki ruangan yang terlihat seperti rumah dengan fasilitas terbaik karena Pelix memesankan ruangan istimewa di rumasakit itu. Ruangan itu di lengkapi tempat spa dan arena yoga dengan pemandangan pantai di belakangnya.
" So beautiful" Pelix takjub dengan fasilitas itu.
Besar harapan Pelix untuk kesembuhan jiwa Amora, dengan sentuhan ketenangan dalam masa perawatannya, akan membuat Amora pelan-pelan menerima jiwa dan takdirnya.
"Kami akan mengupayakan kesembuhan untuk Mrs, Amora. Tapi di samping kami juga berusaha, anda sebagai orang terdekatnya harus selalu suport apapun keadaanya" Nasehat dokter Nizam.
"Baiklah Mr, Pelix" jawabnya singkat.
Dokter tampan itu kemudian meninggalkan mereka berempat. Amora tampak gelisah karena dia akan tinggal berdua dengan Vivid di negara orang tanpa adanya Pelix.
"Kenapa kamu gelisah, hem?" tanya pelix sembari membelai rambut Amora.
"Tidak bisakah kau tinggal disini bersamaku, sayang?" Amora berbicara dengan terbata-bata dan seakan ingin menangis.
"Sayang, disini ada mbak Vivid yang akan menemanimu. Aku pun harus pulang, aku harus bekerja. Tenang disini ya, aku akan selalu mengunjungimu" ucap Pelix yang langsung mencium pucuk kepala Amora.
Billy menghampiri Vivid yang sedang membereskan barang-barang di kamar Amora, dia memeluk Vivid dari belakang dan segera menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Vivid.
"Jaga dirimu baik-baik disini ya honey! Apapun yang kau alami disini kau harus langsung menghubungiku. Aku rasanya tidak sanggup bila jauh-jauh darimu tapi harus bagaimana lagi" ucap Billy sendu.
"Iya mas Bill! Mas tolong jangan seperti ini" ucap Vivid yang serasa geli karena bibir Billy menjil*ti leher dan pundak Vivid hingga dia menggelinjang.
Billy tidak menghiraukan ucapan wanita itu, bibirnya terus saja menyusuri leher mungil Vivid.
"Emmmphhh" suara laknat itu lolos dari bibir Vivid.
Hal itu sontak terdengar oleh Pelix dan Amora lalu mereka menghampiri si pembuat suara itu. Pelix sengaja mengintip aksi nakal Billy pada gadis polos itu, Vivid dengan wajah yang sudah memerah, tak kuasa menahan sentuhan yang Billy berikan.
Billy dengan nakalnya mer*m@s gunung kembar Vivid dan tangannya masuk kedalam bajunya.
__ADS_1
"Sayang, mereka sudah tidak beres! Cepat temui mereka sebelum Vivid ternodai" ucap Amora.
Pelix dengan beraninya masuk kedalam kamar Billy dan menjewer telinga Billy hingga mengaduh.
"Apa kau mau menodai anak orang disini hah? Aku dari tadi melihat aksimu bodoh" ucap Pelix.
"Arghhhh kau mengganggu kesenanganku saja" kesal Billy.
"Mbak kamu jangan mau, dia itu maniak! Banyak J@l@ng yang sudah dia tiduri" kelakar Pelix yang langsung di pelototi Billy.
"Maafkan aku mas Pel, aku hilaf! Maaf sekali lagi karena Mas Billy merayu ku" ucap Vivid tertunduk malu dan diam-diam menangis karena rasa malunya di ketahui oleh Pelix.
"Jangan sampai berlebihan ya mbak. Saya percaya kamu. Jangan menangis, hapus air matamu" ucap Pelix.
"Kau menasehati kesayanganku, kau juga berbuat itu dengan Amora" Billy kesal karena dia di ganggu.
"Aku dan kau kan beda, aku tampan dan pemberani. Statusku dan Amora jelas sebagai sepasang kekasih, sedangkan kau kan belum menjadi kekasih nya dia" jawab Pelix datar.
"Aku akan menikahinya" ucap Billy dengan yakinnya.
Pelix hanya memutar matanya jengah dan langsung keluar dari kamar itu.
Billy merasa bersalah pada Vivid karena dia tidak bisa menahan dirinya dan selalu saja hasratnya melonjak kala bersentuhan dengan wanita ini. Billy seakan tercandu-candu padanya. Berapa puluh j@l@ng yang sudah dia tiduri dari level Asia hingga Eropa tapi rasanya tak ada yang semewah kala menyentuh dan mencium aroma tubuh gadis desa itu.
"Honey, maafkan kelancangan ku ya. dan maaf sudah membuatmu malu" ucap Billy lirih.
"Mas Bill kenapa sih jadi pria nafsuan amat? Sudah berapa wanita yang kau tiduri? Jangan jadikan aku pelampiasan ya mas! jangan seperti itu lagi ya mas“ ucap Vivid dengan suara gemetar.
" Aku tidak janji! Tapi aku akan berusaha mengendalikan agar aku tidak menyentuhmu" ucap Billy.
Vivid pun kembali membereskan semua barang-barang dirinya dan Amora. Sesudah itu mereka langsung makan malam.
*
Caracas Venezuela
Seorang pria sedang berkutat dengan berkas dan laptopnya. Dia seakan menjadi pria gila kerja semenjak dia tidak berhubungan lagi dengan Marini. Ya laki-laki itu adalah Ricky! Empat cangkir kopi hitam telah dia teguk untuk menghilangkan rasa kantuk terhadap dirinya.
Semenjak kepergiannya ke Venezuela untuk mengakuisisi perusahaan pamannya yang hampir vailid, Ricky tak ubahnya seperti robot yang begitu gila kerja. Suara ponselnya memecah konsentrasinya.
"Hallo mom!" sapa Ricky.
"Kamu sudah di mansion?" tanya Daisy sang momy.
"Aku masih di kantor" jawabnya singkat.
"Ya ampun kau masih kerja? ini sudah tengah malam waktu negara itu Ric! Kau harus istirahat jangan seperti itu. Momy minta kau segera pulang ke Mansion, segera tidur dan lupakan kerjamu itu" bentak Daisy.
"Yes momy, aku pulang sekarang" ucapnya.
Ricky takan bisa membantah ucapan sang Momy karena dia tahu sifatnya seperti apa! Ricky pun pulang dari kantornya. Dia sempat melihat layar ponselnya dan menatap satu poto wanita yang dia jadikan walpaper di ponselnya.
__ADS_1
"Aku akan terus menunggumu Rin! I love you so muach baby! Aku yakin suatu saat kau akan mencariku“ gumanya sembari mencium poto itu sekilas.