SUPIR KU SEORANG MAFIA

SUPIR KU SEORANG MAFIA
Bertemu Kakek Menyebalkan!


__ADS_3

Pelix pun berlalu dan menyusul Amora yang sudah diam di dalam mobil.


Di dalam mobil tak ada percakapan apapun, sunyi senyap hanya ada suara hembusan nafas dari kedua manusia itu. Amora tak ingin melihat wajah Pelix yang menurutnya sudah menghianatinya! Wajahnya dia palingkan untuk menatap cermin dan kelipnya lampu sepanjang jalanan hingga mereka sampai di rumah. Amora langsung turun dari mobil dan berjalan menuju kedalam rumah tanpa menghiraukan keberadaan Pelix.


Vivid langsung kenghampiri sang majikan dan merasa heran dengan sikap Amora yang terlihat sangat marah.


Tak lama Pelix menyusul masuk kedalam rumah dan langsung menghampiri Vivid yang sedang membuat Juice untuk Amora.


"Itu juice buat siapa mbak?" tanya Pelix.


"Untuk nyonya lah masa buat mas Pel sih" balas Vivid.


"Loh kok ketus sih jawabnya?" tanya Pelix.


"Au akh gelap mas Pel" balas Vivid.


"Mbak mau gak makan bakso?" tanya Pelix.


"Mau lah! Tapi pergi sama siapa coba!" ucap Vivid.


"Sama aku lah mbak Vivid yang gemoy. Aku lagi suntuk. Mau ya jalan sama aku?" tanya Pelix.


"Mau dong mas Pel! Aku izin dulu sama nyonya ya sembari nganterin juice ini" ucap Vivid.


"Jangan lama-lama. Dandan yang rapih jangan malu-maluin sang casanova ini" kekeh Pelix.


Pelix iba dengan keadaan Vivid yang di nilainnya orang yang tak berada. Ingin sekali memberikan kejutan kepada wanita itu. Dimata Pelix Vivid adalah sosok wanita yang jujur dan sederhana. Vivid juga manis dan anggun walau dia sedikit pendek dan hitam manis. Selama dia menjadi rekan kerja di rumah Amora, Vivid selalu telaten membuatkan sarapan walau Pelix sama-sama bekerja disana.


"Aku akan memberi kejutan untuk mu mbak gemoy" gumam Pelix.


Vivid yang sedang membawa juice menuju kamar Amora dan langsung mengetuk pintu kamarnya. Amora mempersilahkan masuk kedalam.


"Nyonya ini juice nya silahkan di minum. Oya Nyonya, maaf sebelumnya saya mau minta izin keluar sebentar dengan mas Pel. Dia mengajak saya makan bakso. Bolehkan nyonya?" tanya Vivid.


Amora tertegun sesaat kala mendengar izin dari Vivid. Dia seakan tidak rela jika Pelix hanya pergi berdua dan dia tidak di ajak.


"Bagaimana?" tanya Vivid.


"Tunggu ya mbak, aku harus bicara sebentar dengan Pelix. Kamu tunggu saja di kamar" ucap Amora.


Mereka pun keluar kamar bersama, lalu Amora berjalan menuju kamar Pelix tanpa mengetuk pintu, Amora langsung menerobos masuk ke kamar Pelix.


Terlihat Pelix sudah rapi dengan memakai celana chinos, kaos pendek warna putih dengan jaket kulit tak lupa kacamata hitam besarnya menambah kesan gahar seorang Pelix si pria tamvan. Amora yang melihat pemandangan surgawi hanya bisa terngaga.


"Pandangilah wajah tampan ku ini sampai air liurmu mengucur" ucap Pelix.


Amora yang tersadar langsung memukul-mukul dada bidang Pelix.


"Kamu kenapa sih Amor? Buka pintu langsung memukulku!" tanya Pelix heran.


"Pel kamu jahat banget sih! Kenapa kamu ngajak mbak Vivid keluar, sementara aku tak di ajak?" tanya Amora kesal.


"Memang nya kenapa kalau ngajak mbak?" tanya Pelix.


"Ya gak kenapa-kenapa sih. Cuma heran saja!" jawab Amora.


"Jadi kamu mau ikut?" tanya Pelix.


"Gak! Aku mening diam di rumah!" cebik Amora.


"Yasudah kenapa kamu jadi marah-marah. Aku berangkat sekarang. Oh ya aku minta izin pulangnya sedikit malam" ucap Pelix.


"Tuh kan kamu kok gitu sih Pel? Gak peka banget" rajuk Amora.


"Ya ampun kamu itu bagaimana sih Amor? Tadi bilangnya gak mau ikut, sekarang merajuk tak jelas dan menyuruhku untuk peka! Mau kamu apasih sekarang?" ucap Pelix prustasi sembari mengacak-acakan rambutnya.


"Mau ikut atau tidak? Kalau mau ayo kalau tidak yasudah diam saja di rumah. Lagian aku mau pergi sama mbak Vivid sekarang" ucap Pelix.


"Yaudah aku ikut" rajuk Amora.


Melihat ekspresi Amora membuat Pelix gemas lalu mencubit kedua pipi Amora.


"Wanita memang ribet" ucap Pelix yang di balas senyuman kecil oleh Amora.


Mereka bertiga pun akhirnya berangkat ke sebuah mall kenamaan di kota itu. Vivid heran tadi saat di rumah Pelix hanya mengajak nya untuk makan bakso, tetapi sekarang dia malah di ajak nya ke mall mawah.


"Mas Pel kita kok kesini? Kan tadi bilangnya mau makan bakso kan?" tanya Vivid ragu.


"Iya mbak, makan baksonya disini. Ayo cepat turun dan ikuti saja aku!" balas Pelix.


Amora dan Vivid mengekor Pelix dan memasuki mall itu.


Terlihat orang-orang berduit sedang memilih-milih berbagai barang branded, melihat itu Vivid dan Amora merasa rendah diri.


Louis Vuiton adalah brand favorit Pelix, Vivid dan Amora di ajak milih apa saja yang mereka mau.


"Lilihlah apa yang kalian mau. Belanja sepuasnya aku yang akan membayarnya" ucap Pelix.


Mendengar itu Vivid dan Amora langsung ternganga dengan mata melotot saking terkejutnya.


"Mas Pel gak salah bawa kita kesini? Mas ini bajunya mahal-mahal banget" ucap Vivid.


"Pel, sebaiknya jangan disini. Ini gak baik buat kita kaum mendang-mending" timpal Amora.

__ADS_1


"Sudah ambil saja apa yang kalian mau toh aku ini yang bayar" ucap Pelix.


Melihat Pelix yang super tampan, semua pelayan fokus memperhatikannya dan malah mengacuhkan Kedua wanita yang sedang sibuk memilih pakaian.


"Nona, bisakah anda melayani kedua wanita itu dan tidak melihat saya seperti kucing yang lapar?" tanya Pelix pada salah satu pelayan.


Pelayan itu langsung berhambur menghampiri Vivid dan Amora.


Waktu berjalan begitubcepat, mereka pun akhirnya pulang ke rumah dan mencoba pakaian masing-masing. Vivid memakai dress berwarna nude membuatnya terlihat mungil seperti anak sekolahan dan terlihat imut sekali, lalu Amora memakai celana panjang dan atasan yang di masukan kedalam celana menambah kesan jenjangnya kaki Amora.


"Wooooowww kalian sangat cantik" ucap Pelix sembari bertepuk tangan.


Amora dan Vivid yang mendapat pujian hanya senyum bahagia saja.


"Terimakasih loh mas Pel sudah beliin ini semua. Aku sungguh berterimakasih" ucap Vivid bahagia sembari berputar, lenggak lenggok bak peragawati.


"Iya Pel terimakasih ya" ucap Amora.


Tanpa di duga kedua wanita yang sedang bahagia itu tiba-tiba mencium pipi di kanan dan kiri Pelix membuat dia terkejut.


"Sayang, Pelix" ucap Amora sembari berlalu menenteng tas shoping ke kamar.


"Terlove love sama kamu mas Pel~~Roarrrrr" ucap Vivid sembari menirukan suara harimau berikut cakaran manjalitanya lalu masuk kedalam kamarnya.


Pelix hanya geleng-geleng kepala memlihat tinggkah majikannya sekaligus kekasihnya dan asisten rumahtanga itu.


"Perempuan memang unik. Bagus juga kalau aku menjadi sugar dady, mungkin akan banyak peliharaan kucing kecil" gumam Pelix sembari berlalu menuju kamarnya.


Pagi pun tiba, Amora mengajak Vivid untuk olahraga pagi di taman komplek.


Sudah beberapa hari tidak lari pagi.


"Ayo mbak ready?" tanya Amora.


"Ready" jawab Vivid.


Mereka pun berlari-lari kecil di taman kota sambil bercengkrama.


"Nyonya saya senang banget di ajak kesini. Setiap hari kan hanya di dapur" ucap Vivid sambil terkekeh.


"Biar fresh mbak dan sehat" jawab Vivid.


Ketika sedang asik mengobrol, tiba-tiba dari arah samping datang seorang kakek yang memakai tongkat ukuran ular dengan mata merah nya jalan sempoyongan dan menabrak tempat duduk.


Brughhh..


Amora dan Vivid langsung berhambur menghampiri kakek itu.



"Kakek tak apa-apa?" tanya Amora sembari memegang bahu sang kakek.


"Aku jatuh pasti gara-gara kalian ya?" ketus sang kakek.


Mendengar tuduhan itu membuat Vivid dan Amora saling melempar pandangan aneh. Bisa-bisanya kakek tua itu menuduh mereka yang tak tahu apa-apa.


"Loh kok kakek memuduh kita? Kan kita gak tahu apa-apa. Kita tuh mau nolong kakek tahu!" ucap Vivid.


"Singkirkan tangan kalian anak muda yang jelek" ucap sang kakek.


"Ikh nyebelin banget sih dasar pak tua" ketus Vivid.


"Ekh mbak gak boleh kaya gitu sama orang tua" ucap Amora.


"Abisnya saya kesal kita di tuduh macam-macam Nyonya. Gini nih kalau udah usia lanjut memang lagi lucu-lucunya" cebik Vivid kesal.


Amora hanya tertawa mendengar celotehan Vivid yang sedang kesal.


"Yasudah kita bantu kakek ini saja berdiri" ucap Amora sembari mengangkat tubuh Kakek itu.


"Jangan sentuh saya, tangan kalian pasti berkuman. Hahhh saya tahu kalian pasti perampok kan atau tukang hipnotos bisa juga tukang palak, dasar gadis jaman sekarang tidak ada yang bermutu" seloroh sang kakek.


Vivid semakin geram dengan tuduhan yang kakek itu layangkan begitu juga dengan Amora.


"Yasudah kami pergi dulu. Jaga kesehatan ya kek jangan marah-marah" ucap Amora.


"Kakek lihat ndak di kanan kakek ada siapa?" tanya Vivid.


"Memang nya ada apa di samping kanan ku?" tanya sang kakek heran.


"Disamping kakek ada Izrail" ucap Vivid.


"Siapa itu Izrail?" tanya sang kakek.


"Izrail itu malaikat pencabut nyawa" ucap Vivid spontan.


Mendengar itu Amora langsung tertawa terbahak-bahak. Vivid benar-benar kesal kepada sang kakek dan mengatai dengan spontan.


"Sialan kau anak muda. Kau mendoakan ku mati" ucap sang kakek.


Kemudian kakek itu memukulkan tongkat nya ke arah pinggang Vivid sampai Vivid merasa sedikit kesakitan.


Vivid dan Amora segera berlalu. Tetapi beberapa langkah Kakek tua itu memanggil mereka kembali.

__ADS_1


"Kalian tega meninggalkan ku disini sendiri" ucap sang kakek.


Mereka berdua pun menoleh dan menghampiri sang kakek.


"Panggil aku Paman L" ucap sang kakek.


Mendengar dia ingin di panggil paman membuat kedua wanita itu tersenyum kecut.


"Paman?" tanya Amora.


"Iya Paman L. Aku masih muda begini, masih gagah dan berkharisma" ucap sang kakek dengan narsisnya.


"Baiklah Paman L" ucap mereka serentak.


"Kenapa Paman L ada di sini?" tanys Amora.


"Aku bosan di rumah. Mau kan kalian temani aku mengobrol disini? Sebentar saja!" tanya sang kakek.


"Yasudah kita temani Paman L disini" ucap Vivid.


"Aku ini pria tua kesepian butuh teman bicara dari hati-kehati. Anaku pun segan dengan ku dan tak pernah memperlakukan sebagai seorang ayah yang baik. Aku seorang pria keras kepala dan itu menyiksaku" lirih sang kakek.


"Apa anda terlalu keras dalam mendidik mereka atau maaf salah dalam mendidik?" tanya Amora.


"Ya kamu benar saya bukan ayah yang baik" ucap sang kakek.


"Anda sabar ya Paman L semua akan baik-baik saja" ucap Vivid.


"Terimakasih ya kalian anak muda walau kalian jelek tapi kalian sangat baik dan menghibur. Kalian mau tidak antarkan aku ke tempat makan" ucap Sang kakek.


"Bagaimana kalau kita ke toko kue saja Paman L?" usul Vivid.


"Itu ide bagus" jawab Sang kakek.


Mereka bertiga pun berjalan menuju toko kue kenamaan.


"Gandeng dong tangan ku, bagaimana kalau jatuh dan pegangi tongkatku" ucap sang kakek dengan memberikan tongkat keramat nya pada Vivid untuk di pegangi.


Sepanjang jalan taman kota itu semua mata tertuju pada mahluk bertiga itu dengan tatapan aneh.


"Ngeri ya mungkin itu yang dinamakan sugar dady" ucap seorang pria


"Sudah tua bukannya tobat malah main daun muda" timpal seorang wanita paruhbaya.


"Dunia sudah semakin tua, kiamat sudah dekat. Maksiat dimana-mana" ucap seorang wanita berhijab pashmina.


Dengan banyaknya celotehan kanan kiri, tak membuat Mereka bertiga menghiraukannya.


Hingga sampailah di sebuah toko kue yang sangat lengkap.


"pilihlah yang kalian mau nanti aku yang akan membayarnya" ucap sang kakek.


Jiwa kemaruk Amora dan Vivid seketika bangkit dan mengambil apapun kue yang ada di hadapannya, sang kakek hanya tersenyum saja.


"Ini saja Paman L yang kami minta" ucap Amora sembari memperlihatkan beberapa kue yang sudah di pilihkan.


"Hei kamu gadis yang hitam manis kurang tinggi, apa kamu suka es cream?" tanya sang kakek menunjuk ke arah Vivid.


"Gak lucu sih Paman L bawa-bawa fisik. Suka dong" jawab Vivid.


"Ambil semua yang kamu mau" ucap sang kakek.


Vivid pun mengambil beberapa es cream dan setumpuk kue.


Belanja pun selesai dan sang kakek membayarnya dengan mengeluarkan black card membuat mereka berdua melongo.


"Wah ini sih highquality. Bukan sembarang kakek-kakek, bukan kaleng-kaleng" gumam Amora.


Mereka pun keluar dari toko itu dan pamit pulang.


"Paman L terimakasih atas pemberiannya ucap Amora.


"Kami pamit" ucap Vivid.


"Ya sama-sama. Aku minta alamat rumah kalian. Ada sesuatu yang akan aku berikan" ucap samg kakek.


Amora pun memberikan alamat rumahnya dan mereka pun berpisah.


Sampailah di rumah, Pelix dan Martin sedang menunggu Amora dan Vivid.


"Pel, mereka pergi kemana?" tanya Martin.


"Entahlah mereka tak bilang apapun" jawab Pelix


Amora dan Vivid pun tiba dengan membawa paper bag besar dan membuat kedua pria itu heran.


"Bawa apa kalian?" tanya Martin.


Amora yang masih kesal dengan suaminya hanya melengos.


"Itu apa mbak?" tanya Pelix pada Vivid.


"Nanti aku cerita ya mas Pel"

__ADS_1


Mereka pun masuk kerumah dengan seribu pertanyaan.


__ADS_2