SUPIR KU SEORANG MAFIA

SUPIR KU SEORANG MAFIA
Pemakaman


__ADS_3

Pelix tampak emosi, dia berjalan ke arah Martin yang sedang tertunduk lesu! Pelix mencengkram tubuh Martin dan melayangkan berbagai bogem mentah di wajah dan perutnya. Martin yang tidak menyangka akan hal ini hanya bisa menikmati pukulan itu.


"**|* d@mn! Kenapa kau memukulku?" tanya Martin geram.


"Ini semua gara-gara kau, Amora jadi begini. Seandainya kau tidak berpoligami mungkin bayi itu, Amora dan tanteu Diana tidak akan begini" Pekik Pelix yang sudah murka.


"Apa pedulimu dengan keluargaku hah? Kau itu hanya seorang mantan supir pribadi nya Amora“ tegas Martin.


"Karena aku mencintainya!" tegas Pelix.


Pembicaraan itu tak sengaja di dengar oleh Marini yang kebetulan lewat karena kebetulan dia belum pulang hari itu.


"Apa aku tidak salah dengar, itu kan Pelix dan Martin. Dan Pelix bicara dia masih mencintai Amora! Yaampun jadi selama ini aku di bohongi oleh dia" gumam Marini dengan perasaan syok.


Marini pun segera berlalu meninggalkan rumasakit itu.


"Hei bung, Amora itu istriku dia miliku, Kau jangan ganggu hubungan rumahtangga orang lain" ucap Martin.


"Aku sedang mendengar bajingan yang mencoba menjadi seorang pahlawan. Sejak kapan kau menganggap Amora istrimu hah? Dari awal kau sudah melakukan kekerasan pada Amora dan aku lah yang menjadi tempat dia bercerita, lalu kau menikah lagi dengan dia dan sekarang anakmu dan mertuamu meninggal itu gara-gara kau Martin. Seharusnya kau masuk penjara" ucap Pelix.


Bruggggghhhhh!!! Sebuah pukulan hangat mendarat di rahang kokoh Pelix.


"Jangan ikut campur urusan ku! Kau jangan muncul di hadapan Amora. Dia istriku sampai kapan pun juga" tegas Martin.


Di tengah perkelahian itu, datang lah dokter menengahi.


"Tolong berhenti berkelahi di sini. Jika kalian masih ingin berlanjut silahkan lakukan di atas ring tinju" ucap dokter yang bernama Sitya.


"Itu ide bagus bu dokter" timpal Pelix.


"Anda diam! Walaupun badan anda besar dan saya seorang wanita tapi saya tidak takut dan tidak suka mendengar keributan" ucap Sitya.


"Betul itu dok" timpal Martin.


"Anda juga diam!“ tegas dokter itu.


" Saya hanya ingin memberitahukan bahwa jenazah ibu Dianawati dan kedua anak anda sudah beres di kafani. Silahkan urus administrasi nya. Nanti ambulan akan mengantar ketiga jenazah itu.


Martin langsung berlari menuju kamar jenazah demi untuk menemui dan meminta maaf kepada mertuanya dan kedua anaknya sebelum di kuburkan.


Tiba di ruang jenazah, tampak sunyi dan sepi. Hanya ada beberapa jenazah yang tertutupi kain dan di ujung sana jenazah mertua dan kedua anaknya sudah terbungkus rapi.


"Jenazahnya ada di sana pak!" ucap petugas kamar mayat.


Martin dengan langkah yang seakan berat, pelan-pelan mendekati brangkar itu. Dia membuka kain penutup wajah Diana.


"Ibu maafkan saya! Saya sudah membuat Kekacauan ini semua. Ibu mohon ampuni saya bu~~Huhuhu"


"Seumur hidup saya, mungkin saya akan menyalahkan diri saya sendiri atas semua kedukaan Amora. Ibu Maafkan saya. Saya memang pria yang sangat bodoh dan serakah! Semoga ibu tenang di sisi tuhan. Saya akan terus menjaga Amora" lirih Martin sembari menyentuh pipi Alm Diana.


Kemudian Martin menyentuh dua gundukan kecil yang sudah terbungkus rapi dengan kain kafan yang tidak lain adalah anak nya. Di raihlah dua gundukan itu kemudian dia menciumi satu demi satu.


"Maafkan dady nak! Dady belum bisa menjadi ayah yang baik untuk kalian berdua. Semoga tuhan memberikan surga untuk kalian ya sayang. Dady akan memberikan nama pada kalian! Naraya dan Narendra Antonio Candelaz" ucap Martin dengan air mata yang sudah membanjiri kelopak matanya.


Tak lama Yuni, Hendra, Vivid, Billy dan Pelix masuk ke ruangan jenazah.

__ADS_1


Mereka menangis terutama Yuni yang melihat jenazah kedua cucunya.


"Cucu oma, Maafkan kami ya nak! Kami tidak bisa melindungimu. Semoga kalian jadi penghuni surga" ucap Yuni sembari menciumi gundukan kain kafan itu sembari menangis.


"Jeng Diana, Maafkan saya jeng! Saya belum bisa menjadi besan yang baik. Atas nama anak saya, mohon jeng maafkan lah dia. Saya pun tidak menerima perilaku demikian! Semoga jeng Diana di tempatkan di sisi tuhan yang paling indah karena jeng Diana wanita yang baik dan penyabar" ucap Yuni sembari mencium kening jenazah Diana.


Tak di sangka, dari selah matanya Jenazah Diana menitikan air mata.


Ketiga jenazah sudah di bawa ke rumah duka. Di sana si sambut dengan isak tangis semua keluarga Diana.


Pukul satu siang, acara pemakaman ketiga janazah itu! Satu persatu pelayat sudah meninggalkan pemakaman itu hanya tinggal Martin, Pelix, Yuni dan Hendra yang masih tergugu dalam kesedihan.


"Jeng Diana semoga kamu tenang di alam keabadian. Jangan khawatir Amora akan kami jaga" ucap Yuni sembari mencium batu nisan Diana.


"Sayang, oma pulang dulu ya" ucap Yuni pada makam cucu kembarnya yang di makamkan dalam satu liang lahat.


Yuni dan Hendra pun pergi meninggalkan tempat itu. Kini hanya tinggal Pelix dan Martin yang masih tertahan di sana. Martin tak henti-hentinya bersimpuh di makan sang mertua dan Pelix hanya tersenyum sinis melihatnya.


"Bagaimana jadinya jika Amora tahu ibu dan anaknya sudah meninggal" ucap Pelix.


"Amora akan memaafkan ku karena dia mencintaiku" tegas Martin yang tiba-tiba bangkit.


"Tapi aku tidak yakin dia akan memaafkan mu" ucap Pelix dengan nada mengejek.


Brughhhhhh!!! Pukulan hangat fresh from the oven mendarat di rahang Pelix membuat badannya sedikit terhuyung kebelakang tapi dia tak membalas pukulan itu dan langsung pergi dari area pemakaman.


¥


Satu minggu kemudian......


"Mami ayo kita main ke sana..Ayo mi ikut sama Naraya!" ucap bocah kecil yang menyebut dirinya bernama Naraya.


"Gak boleh, mami akan ku ajak main ke taman bunga sama Narendra" ucap bocah laki-laki yang menyebut dirinya bernama Narendra.


Kedua bocah itu menarik-natik tangan Amora.


"Kita main disini saja ya nak! Mami masih sangat lelah" ucap Amora.


"oke deh mami ku sayang" ucap kedua bocah kembar itu serentak.


Di kejauhan sosok Diana muncul menghampiri Amora dan kedua anak nya.


"Naraya, Narendra ayo kita main di taman itu" tunjuk Diana.


"Biarkan mami mu kembali ya nak! Belum saatnya dia bergabung bersama kita" ucap nya lagi.


"Bu kenapa aku harus pergi? Aku ingin bersama kalian" ucap Amora.


"Tidak nak, kamu belum saatnya berada disini. Pergilah karena disana orang-orang yang menyayangimu sudah menunggu mu. Ibu pergi dulu ya karena kedua anak mu sudah menunggu ibu disana" ucapnya kemudian Diana menghilang.


Amora kemudian berjalan menuju cahaya yang seakan menyedotnya.


"Pasien bergerak" ucap seorang perawat.


Dokter berlarian menuju ruang rawat Amora dan segera memeriksanya.

__ADS_1


"Syukurlah pasien ini sudah bisa melewati masa koma nya. Segera tangani lebih lanjut" ucap dokter.


Diluar, Martin dan Billy menunggu dengan harap-harap cemas. Tak lama dokter yang memeriksa keadaan Amora keluar dari ruang rawat.


"Bagaimana keadaan istri saya dokter?" tanya Martin.


"Suatu keajaiban istri anda telah melewati masa koma nya dan sudah normal kembali..Sekarang beliau sedang tidur"jawab dokter.


Martin sangat bersyukur mendengar penuturan dari dokter. Sama hal nya dengan Billy, dia segera mengabari Pelix lewat pesan Whatsapnya.


Dua hari kemudian, Amora sudah benar-benar sadar. Di sampingnya sudah ada Vivid yang menyuapi nya.


"Demi tuhan saya sangat khawatir dengan keadaan anda nyonya" ucap Vivid sembari menangis.


"Saya sudah sehat mbak. Terimakasih sudah mengkhawatirkan saya! Saya tak sabar ingin segera pulang dan mengajak kedua bayi kembar saya ini periksa" ucap Amora sembari mengelus perutnya yang sudah rata.


Vivid tak kuasa menahan air matanya tak kala Amora tidak menyadari bahwa bayi dalam kandungannya sudah meninggal dan yang lebih sedihnya sang ibu ikut meninggal karena serangan jantung.


Ada yang berbeda kala Amora mengelus perutnya. Sebelum kejadian dia bertengkar dengan Martin, Perut nya masih terasa buncit tapi sekarang sudah rata kembali. Dia terus saja mengusap-usap perutnya.


"Mbak kok perut saya jadi rata?" tanya Amora dengan herannya.


"Anu, Anu nyonya" Vivid tak kuasa menjawab nya! Mulutnya seakan tercekat.


"Jawab saya mbak, jawab" ucap Amora sembari menguncang-guncangkan bahu Vivid.


"Maafkan saya sebelumnya nyonya. Saya harap anda menerima ini semua dengan ikhlas. Kedua bayi anda sudah meninggal dan di keluarkan sewaktu anda dalam kondisi koma" ucap Vivid lirih.


DarDerDor!!!!!!


Seketika tubuh Amora serasa membeku! Keringat dan air mata mengalir luruh membasahi wajah ayu nya. Tangisan pun menguar.


"Huhuhuhuhu!! Bagaimana bisa seperti itu mbak? Anaku, anaku ibu sangat menginginkan kalian! Kenapa kalian pergi meninggalkan ibu na" Amora meraung sejadinya.


Vivid yang panik menenangkan Amora.


"Nyonya yang sabar. Saya pun sama-sama terpukul atas semua yang di alami anda" ucap Vivid sembari mengelus-elus punggung Amora.


"Tolong panggilkan ibu saya" ucap Amora.


"Ibu anda juga sudah meninggal di hari meninggalnya kedua anak anda nyonya" ucap Vivid yang sudah tak kuasa menahan tangis.


Mendengar itu Amora menjerit-jerit hingga suaranya terdengar ke luar ruangan. Martin langsung menghampiri Amora.


"Ada apa ini Amor?" tanya Martin gugup.


Amora memandang Martin dengan tatapan nyalang dan dia langsung meludahi wajah Martin.


"Cuihhhh"


"Dasar lelaki pembunuh! Kau sudah membunuh ibu dan kedua anak mu. Kau harus membayar semua derita dan kesakitanku" Pekik Amora.


"Amor sayang maafkan aku! Aku tak bermaksud membuat keadaan jadi seperti ini maafkan aku" ucap Martin sembari tertunduk.


"Pembunuh! Sampai aku matipun ku takan memaafkan mu pria jahanam. Kau sudah menikah dan memaduku dengan wanita jal@ng itu, Sekarang kau sudah membunuh ketiga orang yang aku kasihi. Lantas maaf seperti apa yang pantas ku berikan untuk laki-laki breng$€k sepertimu" ucap Amora yang kemudian di pingsan kembali.

__ADS_1


Dokter segera berhamburan dan memeriksa nya kembali.


__ADS_2