
Sesampainya di sebuah hotel. Pelix langsung memesan kamar.
"Dua kamar paling mewah untuk satu malam" ucap Pelix ke resepsionis hotel itu.
"Maaf pak. Hotel hari ini penuh, dan hanya tersisa satu kamar saja" Ucap resepsionis yang bernama Utari.
"Bagaimana ini nyonya? apa kita menginap disini? dari tadi kita tidak menemukan hotel yang kosong. Karena hari ini masih hari libur" ucap Pelix pada sang majikan.
"Yasudah lah mau gimana lagi, toh cuma satu malam saja" Jawab Amora.
Sesudah mendapat kunci, mereka memasuki kamar hotel itu. Suasana dalam kamar itu cukup nyaman dan berkasur cukup luas.
Pelix langsung merebahkan tubuhnya pada kursi kamar itu.
"Kamu sangat lelah?" tanya Amora.
"Tidak nyonya, saya lelaki kuat. saya temannya iron man" jawab Pelix asal.
Mendengar jawaban sang supir, membuat Amora tertawa terbahak
"Maaf ya, saya gak bisa bantu kamu buat gantiin nyetir. Saya gak bisa bawa mobil" ucap Amora lesu.
"Tak apa, Itu tugas saya" jawab Pelix dengan mata terkantuk.
Tak lama terdengar suara dengkuran halus dari Pelix.
"Kamu cape banget kayanya, Sebenernya kamu itu tampan, gak cocok juga jadi supir. Cocok nya jadi CEO. hehehe" kekeh Amora sembari memandang Pelix yang masih tertidur.
Tak lama, rasa kantuk Amora pun terasa dan dia segera tertidur di ranjang hotel.
Saat Amora terbangun, dia mendengar gemricik air dari kamar mandi. Dan saat ini Pelix tidak ada di kamar nya.
"Berarti dia sedang mandi" gumam Amora.
Sesudah mandi, Pelix keluar dari kamar mandi dengah hanya menggunakan bathrobe, dengan rambut basah dan aroma sabum, membuat Amora terpaku.
"Pelix, sangat se*si sekali" gumam Amora.
Melihat Amora yang menatap nya dengan intens, membuat Pelix merasa sedikit tak nyaman.
"Halloo, nyonya. Kenapa anda menatap saya seperti itu? ada yang salah ?" tanya Pelix.
"Hmmmmm saya mandi dulu" Jawab Amora sembari berlalu menuju kamar mandi.
Di kamar mandi, Amora membatin sendiri. Dia merutuki sikapnya yang tadi memperhatikan supirnya dengan intens, sampai membuat Pelix merasa terganggu.
"Bikin malu saja si aku ini" ucap Amora.
Sesudah mandi, dia pun keluar dari kamar mandi dengan menggunakan bathrobe. Melihat lekuk tubuh sang majikan membuat Pelix berkeringat dingin dan menelan saliva beberapa kali.
"Pelix, bisa kamu keluar sebentar? saya ingin memakai baju" Ucap Amora.
"Ya silahkan" jawabnya.
Pelix keluar kamar hotel, dan sebaliknya Amora mengenakan pakaian di dalam kamar.
Tiba-tiba ponsel Pelix berdering.
Kringggg!! tertulis nama Tuan Crab.
__ADS_1
"Hallo kek" ucap Pelix.
"Mana barang itu. Sudah satu bulan janji mu, ingat kan? dimana kamu sekarang?" Tanya Tuan Leon.
"Sorry kek aku lupa. Barang nya sudah aku temukan. Besok atau lusa ku bawa ke tempat kita" Jawab Pelix gugup.
"Aku tunggu lusa waktu terakhir, awas jangan sampai kau ceroboh" ucap Tuan Leon.
"Kau percaya saja padaku kek" jawab Pelix.
Ketika sudah memutuskan panggilan dari sang kakek, Pelix termenung di luar hotel, dia memikirkan cara membawa kokain itu dari rumah Amora.
"Pelix, kenapa bengong?" tanya Amora.
"Hmmmmmz~~ saya habis telp sama ibu saya, katanya dia kangen" jawabnya asal.
"Bilang saja sama ibu kamu, kalau kamu kerja sama saya di kota" Ucap Amora sambil melihat ponsel Pelix yang sudah retak dan di ikat karet gelang. Melihat pelix hanya menggunakan ponsel butut, membuat Amora merasa iba.
"Hp kamu kok jelek gitu masih di pakai sih?" tanya Amora.
"Saya belum bisa beli yang bagus, nyonya" jawab Pelix.
(Kalau mau, sepabriknya aku beli) gumam Pelix dalam hati.
"Nanti deh saya bilangin sama suami biar kamu di beliin hp baru yang lebih bagus ya" ucap Amora.
"Tak usah, nanti saya beli sendiri" Jawabnya.
Ketika sedang bercakap ria, tiba-tiba perut Amora terdengar kukuruyuk.
"Anda lapar?" tanya Pelix
"Mari tuan putri, saya antar mencari makanan" ucap Pelix.
Akhirnya mereka keluar dari hotel dan mencari makanan di malam hari. Amora, yang pertama kali jalan-jalan di kota orang sangat senang dengan pemandangan malam itu.
Ketika sedang berjalan di taman, Pelix melihat orang-orang yang sedang menyewakan motor nya untuk di pakai berkeliling kota dengan syarat meninggalkan tanda penduduk dan uang 500rb. Tetapi dia tak mau karena kakek nya pernah bilang "Pelix cucuku, ingat pesan kekek, dimanapun dan kapanpun jangan pernah memberitahukan KTP atau identitas kepada siapapun, tanpa terkecuali". Sepenggal ucapan sang kakek.
Dengan berbagai alasan, akhirnya mengunakan KTP Amora sebagai jaminan.
" Sudah siap untuk hamba antar putri?" tanya Pelix.
"Ayo, ku ikut kemana pun kau bawa" Jawab Amora sambil menaiki motor.
Malam menunjukan pukul 22:00. Mereka berhenti di sebuah resto cepat saji dan memesan ayam goreng. Pelix memesan dua paha ayam goreng, Sementara Amora memesan kulit ayam goreng.
Melihat Pelix yang sangat lahap memakan ayam goreng, membuat Amora ingat akan kartun serial Upin dan Ipin yang senang sekali makan paha ayam.
"Pelan-pelan makannya" ucap Amora.
"Maaf, terlalu antusias" Kekeh pelix, sembari mengunyah paha ayam dengan rakusnya.
"Suka banget ya? Kamu tuh mengingatkan aku sama kartun Upin dan Ipin yang suka makan paha ayam goreng~hehehe" Ucap Amora.
"Betul, betul, betul~hahaha"
"Saya memang suka nonton kartun itu dari saya masih kecil" jawab Pelix.
Sewaktu kecil Pelix sangat di jaga oleh keluarganya, dia tak punya teman sama sekali. Hidupnya monoton. Setiap hari hanya menonton kartun sampai dia sudah jadi dewasa. Sampai pada usia 23 tahun, dia merasakan cinta pertama dari seorang wanita yang sedang kuliah jurusan kedokteran. Hari-hari Pelix sangat bahagia, Tetapi keluarganya mencari tahu asal usul gadis itu. Dan alangkah terkejutnya ketika mendapati bahwa gadis itu adalah keponakan dari orang yang telah di bunuh oleh anak buah Tuan Leon. Pelix di suruh untuk menjauhi wanita itu. Awalnya Pelix menolak, Tetapi keluarganya mengancam akan menyakiti gadis itu, dan dia memilih meninggalkannya. Gadis itu sangat sedih dan tak terima. Pasalnya Pelix sudah berhasil merenggut kegadisannya.
__ADS_1
"Maafkan aku Banana. Aku sudah menjadi pengecut" gumam Pelix.
"Hey, kalau sedang mengemudi jangan melamun. saya masih mau hidup" ucap Amora yang melihat wajah Pelix dari balik kaca spion motor.
"Maaf" jawabnya singkat.
Ketika mereka melintasi jalanan yang ramai, Pelix melihat pasar malam yang begitu ramai.
"Nyonya, mau mampir ke pasar malam ?" tanya Pelix.
"Ayo gaskeun" jawab Amora.
Ketika di pasar malam, Amora membeli arumanis. Dia seperti anak kecil yang terus berbicara. Kemudia dia mengajak Pelix untuk menaiki wahana kora-kora dan komedi putar.
"Senang sekali ya anda?" tanya Pelix.
"saya seperti menjadi bocah kembali, hehehe" jawab Amora.
Amora yang biasanya hanya terdiam dan memendam banyak kesedihan, akhirnya bisa tersenyum dengan lepas.
Jam menunjukan pukul 24:00, akhirnya mereka pulang ke hotel.
Di dapati, ketika ingin turun dari motor, Amora tidak kunjung turun.
"Nyonya silahkan turun, ini sudah sampai di hotel" ucap Pelix.
Lumayan lama Pelix menunggu, tetapi Amora hanya diam dan memeluk tubuhnya dengan erat. Kemudian pelix menggeser kaca spion untuk melihat wajah sang majikan di belakang.
"Yeahh, pantesan gak turun-turun, malah tidur" Gumam Pelix.
Kemudian dia meminta keamanan hotel untuk membantunya memarkirkan motor, dan dia menggendong Amora seperti bayi Monyet yang menempel di tubuh induknya.
Sesampainya di hotel, dia merebahkan tubuh sang majikan di atas pembaringan. Dia memandang wajah Amora dan membelai anak rambut yang menutupi wajahnya.
"Kamu itu cantik. Tapi nasibmu tak secantik wajahmu Amor" lirih Pelix.
Tetapi tidak di duga, Amora menjawab perkataan Pelix.
"Memang aku cantik" ucap Amora sambil menangkup wajah Pelix dengan gemas.
Melihat itu membuat Pelix menjadi salah tingkah.
"kapan anda bangun?" tanya Pelix.
"Sudah lama sih. ketika ada badan kekar yang memangku saya dan membaringkan saya disini, saya sudah bangun" jawab Amora renyah.
"Beranti anda pura-pura tidur? dasar ya. Padahal saya gendong anda dari lantai satu ke lantai tiga" jawab Pelix dengan raut muka yang masam.
"Maaf deh. Kapan lagi di gendong sama kamu" ledek Amora.
"Saya akan balas dendam" ucap Pelix dengan wajah menyeringai licik.
"Coba saja kalau berani" tantang Amora.
Mendengar tantangan dari sang majikan membuat Pelix menjadi sedikit berani. Dia mendongakan wajah Amora dan langsung menciumi wajah Amora dengan gemas. Sedikit penolakan dari Amora sesaat, tetapi dengan sekejap dia pun ikut terhanyut dan mengimbangi ciuman itu. Ciuman yang lembut namun menuntut, setelah puas bertukar saliva, Pelix menghentikan ciuman itu.
"sudah waktunya tidur. Besok kita harus kembali ke Jakarta" ucap Pelix, sembari menyeka bibirnya yang di penuhi bekas Amora.
Amora hanya terdiam sambil mencerna apa yang sudah mereka lakukan.
__ADS_1
Pelix kembali tidur di sofa dan Amora langsung mengulung selimut ke seluruh tubuhnya, untuk meredam rasa malu.