SUPIR KU SEORANG MAFIA

SUPIR KU SEORANG MAFIA
Bertemu Keluarga Ricky


__ADS_3

Ricky memperhatikan wajah Marini dengan intens. Wajah yang sangat anggun membuat dia tak bisa melupakan sosok dokter cantik dari mulai saat di periksa dulu.


"Kamu sudah sembuh. Sekarang bisa keluar" ucap Marini pada Ricky.


Tiba-tiba, Ricky mengeluhakn sakit di bagian dadanya membuat Marini terkejut.


"Aduh dokter sakit dok" ucap Ricky meringis.


"Mana yang sakit tunjukan?" ucap Marini sekbari memegang badan Ricky dengan panik.


"Ini dok!" ucap Ricky sembari menunjukan letak jantungnya.


Marini meraba bagian dada Ricky dan tak menemukan indikasi apapun.


"Coba dengarkan dok" ucap Ricky.


"Marini pun menurut dan mendongakan kepalanya ke arah jantung Ricky.


" Nah benar dokter disana. Jantung saya berdebar saat melihat dokter" ucap Ricky santai.


Marini yang merasa di bohongi merasa kesal dengan tingkah laku pasien nya yang usil.


"Kamu ngerjai saya hah? Kurang ajar. Kamu sudah ganggu waktu saja. Keluar!" ucap Marini geram.


Ingin rasanya dia melemparkan apa saja ke wajah pemuda tampan itu. Ricky pun keluar dengan terkekeh..


"Suka atau tidak kau akan ku jadikan kekasih, bu dokter emosian" gumam Ricky sembari meninggalkan rumasakit itu.



Visualisasi Ricky setelah menjadi lelaki seutuhnya... Tampan Bukan???😁😁😁😁😁


Sore pun tiba Marini pun bergegas pulang dari rumasakit. Sepasang mata memperhatikan Marini dengan intens lalu menghampirinya.


"Selamat sore dokter cantik" ucap Ricky.


Marini yang melihat kedatangan Ricky dengan memakai jas berwarna hitam seketika terpana dan melongo tetapi lamunan itu segera di tepisnya.


"Kamu ada apa kemari?" tanya Marini heran.


"Saya akan mengantarkan anda pulang!" ucap Ricky dengan santainya.


"Tidak, terimakasih saya bawa mobil sendiri" balas Marini.


"Mana mobilnya?" tanya Ricky.


Marini lalu mencari-cari dimana mobilnya berada tetapi tidak menemukannya. Dia pun bingung.


"Kamu sembunyikan dimana mobil saya?" tanya Marini yang sudah sedikit kesal.


"Apa anda pikir mobil sebesar semut bisa di sembunyikan" ucap Ricky.


Dia kemudian mengambil ponselnya dan memperlihatkan bahwa mobil Marini sudah ada di garasi rumahnya.


"Apa maksud semua ini? Kamu jangan lancang ya Ricky. Kamu sudah berbuat kriminal" bentak Marini yang tak habis pikir dengan ulah pasien nya.


"Kok kriminal sih dok? Saya kan berbaik hati ingin mengantar anda pulang. Kalau anda ingin mengambil mobil anda, ambilah di rumah saya" ucap Ricky dengan santai.


"Saya lebih suka melihatmu bergaya seperti wanita bukan so jantan seperti ini. Sikapmu bikin saya ilfiel" sungut Marini.


Tanpa menghiraukan ucapan Marini, Ricky menarik tangannya untuk ikut dan masuk kedalam mobilnya. Marini pun hanya pasrah dan mengikuti ajakan Ricky.


"Sialan benar bocah ini. Berani-beraninya memaksaku seperti seorang tawanan" gumam Marini dalam hati.

__ADS_1


Tak lama, mereka sampailah di depan sebuah rumah yang sangat mewah bernuansa klasik. Patung-patung peri jerjejer di halaman rumah dengan kolam air mancur yang mewah.


"Anjimmm ini rumah apa istana? mewah banget" gumam Marini dalam hatinya.


"Ayo masuk tuan putri" ucap Ricky.


"No terimakasih. Saya hanya ingin mengambil mobil saya dan langsung pergi" ucap nya.


"Rasanya tak etis jika tuan rumah tak mempersilahkan masuk pada tamu spesial. Masuklah sebentar ada yang ingin bertemu dengan anda dokter" ucap


Marini pum heran pasalnya dia tidak mengenal siapapun di rumah Ricky. Dia pun mengikuti langkah Ricky dan memasuki rumahnya yang mewah bak istana.


Di ruang tamu, mereka sudah di sambut oleh orang tua Ricky dengan sangat ramah.


"Malam mom" ucap Ricky dengan menggandeng Marini.


Marini sedikit risi dengan perlakuan Ricky di depan kedua orang tuanya yang dinilai sedikit berlebihan.


"Malam juga sayang. Silahkan duduk" ucap ibunya Ricky yang bernama Daisy Soetardjo.


Marimi hanya mengulas senyum hangat kepada suami istri itu.


"Jadi ini yang bernama dokter Marini, betul?" tanya Daisy ramah.


"Benar tanteu, saya sendiri" jawabnya.


"Kenapa bisa tahu namaku.. Hmmm pasti bocah nakal ini yang memberitahu kan semuanya" gumamnya dalam hati.


Tiba-tiba Daisy bangkit dari tempat duduknya dan langsung memeluk Marini. Membuat dia terkujut. Daisy menangis di pelukan marini tanpa mengucapkan apa-apa.


"Tanteu, are you oke?" tanya Marini sembari mengucap punggung wanita paruh baya itu.


Daisy kemudian mengurai pelikannya dan memegang kedua tangan Marini dengan lembut.


"Terimakasih nak kau sudah menyelamatkan hidup anak kami dari kemalangan. Jika tidak bertemu dengan mu mungkin Ricky akan terus berkubang dalam masalah orientasinya dan takan meninggalkan kebiasaan buruknya" ucap Daisy.


Kemudian ayah nya Ricky yang bernama Tomy soetarjdo angkat bicara.


"Bu dokter pasti tahu kan masalah Ricky yang telah berhubungan dengan sesama jenis? Waktu itu kami sudah bersusah payah mencari cara agar dia bisa kembali ke jalan yang lurus dan mencintai wanita. apapun kami jalani mulai dari konsul ke pemuka agama dan berpuluh ahli kejiwaan mereka tak bisa menyembuhkan kebiasaan anak saya sampai dia menderita penyakit seksual. Waktu itu saya sarankan agar dia kedokter tetapi dia tak mau. Sampai dia sudah lelah dengan penyakitnya sendiri barulah mau periksa ke dokter dan andalah yang menanganinya. Entah apa yang anda katakan, semenjak itu Ricky mulai berubah sedikit demi sedikit dia bisa berperilaku jantan dan akhirnya dia berubah menjadi lelaki seutuhnya dan mulai giat berobat sampai dia di nyatakan sembuh total. Kami sangat berterimaksih pada anda dokter" ucap Tomy dengan mata berkaca-kaca.


"Saya tidak berbuat apa-apa untuk Ricky om. Dia yang ingin sembuh sendiri" ucap Marini merendah.


"Dan semenjak saat itu, Ricky selalu menceritakan anda. Setiap hari dampai sekarang membuat kadang saya merasa pusing sendiri" ucap Daisy dengan tawanya mennggoda Ricky yang sudah merah wajahnya menahan malu.


"Mom stop jangan buka kartuku" ucap Ricky yang membenamkan wajahnya di sofa saking malunya.


"Sudah ya bercakapnya sekarang kita makan malam dulu sebelum bu dokter pulang" ajak Tomy ramah.


"Panggil saya Marini saja om" ucap Marini.


Tak lama mereka pun berlalu menuju ruang makan dan memakan hidangan mewah..


Sesudah selesai makan, Marini undur diri untuk pamit dan mengambil mobilnya.


"Tanteu dan om, terimaksih atas jamuan malam nya. Saya pamit pulang karena sudah malam mama saya pasti khawatir" ucap Marini.


"Ini sudah malam saya tidak akan biarkan nak Marini pulang sendirian. Saya akan menyuruh bodyguard untuk mengawal mu pulang" ucap Tomy.


"Tak perlu om. Saya bisa pulang sendiri" ucap Marini.


"Big no sayang. kami khawatir" ucap Daisy.


Marini pun mau tidak mau mengikuti perintah orang tua Ricky. Ricky yang membawa mobil Marini dan dia berada di sebelah Ricky di ikuti oleh lima mobil milik bodyguard Ricky.

__ADS_1


"Maaf ya dok sudah buat anda sedikit tak senang dengan ini semua" ucap Ricky memecah keheningan.


"Aku hanya terkejut" jawab nya singkat.


¥


Amora yang masih saya sedih di hampiri oleh Pelix dan langsung memeluknya.


"Kenapa masih saya melamun hem?" tanya Pelix.


"Aku jenuh Pel" ucap Amora sembari membenamkan wajahnya di dada bidang milik Pelix.


"Kita keluar mencari resto terenak bagaimana?" tanya Pelix.


"Itu ide bagus" ucap Amora dengan mendongakan wajahnya menatap Pelix.


Hal itu tidak di sia-siakan Pelix, dia segera mencium bibir Amora dan ********** begitupun dengan Amora yang membalas ciuman dan pagutan sosok laki-laki pujaannya.


"Aku ingin!" ucap Pelix sembari menyentuh titik sensitif Amora.


Amora menggeleng.


"Jangan sekarang oke. Aku ingin mencari udara segar dulu" balasnya.


Mereka segera pergi dan mencari resto terlezat di ibu kota. Sampailah mereka di sebuah restoran steak bergata Texas.


Mereka memesan steak ukuran jumbo dan menunggunya.


¥


Di dalam mobil Marini hanya diam tetapi suara derukan perut laparnya tak bisa di bohongi.


kriukkkkk!! Suara Perut Marini memecah kesunyian.


"Ada yang lapar nih" ucap Ricky terkekeh.


"Saya tidak lapar!" timpal Marini.


"Bohong banget!" ucap Ricky.


Marini kemudian mencubit pinggang Ricky sedikit keras, pasalnya Ricky selalu menyebalkan menurutnya.


"Kamu ya waktu jadi wanita nyebelin nya minta ampun, sekalinya sembuh malah makin menyebalkan" ucap Marini.


"Siapa suruh bikin aku menjadi pria sejati" kekeh Ricky sembari membelai rambut panjang Marini.


Marini segera menepis tangan Ricky yang di nilainya tidak sopan.


"Aisshhhh kamu tidak sopan sekali ya menyentuh rambut saya..Saya ini lebih dewasa dari kamu tolong kamu jaga sikap" ucap Marini berang.


"Maaf deh maaf. Jangan marah dong bu dokter cantik" ucap Ricky yang tiba-tiba memberhentikan mobilnya di depan sebuah restoran steak.


"Mau ngapain kemari?" tanya Amora.


"Makan lah bu dokter masa mau isi bensin" ucap Ricky sembari berjalan memasuki restoran steak.


Marini hanya pasrah mengikuti Ricky dan memasuki resto itu.


Saat dia sedang memilih kursi, mata nya di kejutkan oleh pemandangan yang seketika membuat darahnya mendidih. Dia melihat lelaki yang amat di cintainya yaitu Pelix sedang mesra dengan Amora. Pelix dan Amora makan steak saling menyuapi, Pelix tak sungkan mencium pipi Amora dengan gemasnya di balas oleh senyuman Amora, melihat Pelix dan Amora saling lap sisa makanan di bibir, dan melihat Pelix menyibak rambut Amora yang menutupi wajahnya membuat seketika Marini murka.


Ricky yang tidak tahu apa-apa langsung menghampiri Marini dan bertanya:


"Ayo bu dokter kita makan sebelah sana saja" ucap Ricky.

__ADS_1


Marini yang sudah di buat murka tak mengindahkan ucap Rikcy, dia segera berjalan menghampiri meja Pelix.


"Ngapain kalian?"


__ADS_2