SUPIR KU SEORANG MAFIA

SUPIR KU SEORANG MAFIA
Kacau


__ADS_3

"Tanteu cukup pusing memikirkan Marini. Pantas saja dia seperti itu karena sudah di nodai oleh Pelix! Tanteu tidak bisa menyalahkan Pelix karena dia melakukan itu dengan Marini atas dasar suka sama suka! Tapi Marini pun ada benarnya karena hanya laki-laki yang pertama merusak maka dia harus bertanggung jawab" tutur Elizabeth.


"Tapi seandainya Pelix tidak mau menikahi putri anda, Maka saya lah yang akan menikahinya karena jujur saya sangat mencintai Marini, tanteu!" seru Ricky.


"Semoga saja ada jalan terbaik untuk masalah ini. Dan tanteu akan dukung siapapun laki-laki yang akan menikahi Marini asal dia mau menerima apapun dari dirinya" ucap Elizabeth.


Sesudah lama berbincang ria, akhirnya Ricky pulang dari rumah Marini.


¥


Di mansion milik Leon, Ken sedang murka lantaran banyak anak buahnya yang berbelot menjadi bagian dari Pelix. Alasan mereka mau di ajak kerja sama lantaran Ken selalu bersikap semena-mena. Di tambah lagi keuangan Ken hampir habis akibat dari kalahnya judi di casino Las Vegas dalam waktu dua hari dua malam semakin membuat nya tak terkontrol.


"Jasun, apakah si bodoh Roel sudah bisa membayar hutang nya padaku?" tanya Ken pada orang kepercayaan nya.


"Mereka tak bisa membayar hutang nya bos lantaran uang yang dia pinjam dari kita untuk modal perusahaan nya habis di curi oleh orang kepercayaan nya" jawab pria botak itu.


"Sialan! Apa yang bisa kita bawa sebagai jaminan nya?" tanya Ken sembari menghisap cerutu nya.


"Satu buah rumah dan empat buah mobil" ucapnya.


"Sita malam ini juga! Apakah dia punya seorang anak gadis?" tanya Ken!


"Punya bos, Namanya Lisa" tutur Jasun.


"Bawa kemari malam ini juga, aku ingin menikmati tubuhnya" ucap Ken dengan seringai bak serigala yang lapar.


"Baik bos siap laksanakan" ucap Jasun.


Ken mengambil ponselnya dan langsung menghubungi Pelix.


"Hallo paman! Kau mau apa menghubungiku?" tanya Pelix.


"Kau ingin bermain-main dengan ku rupanya. Kenapa kau mengambil anak buah ku?" tanya Ken murka.


"Mereka yang mau ikut dengan ku. Itu bukan anak buahmu, tetapi itu anak buah Kakek yang kau ambil. Ingat kakek memberikan tahta Bikini Bottom padaku" tegas Pelix.


"Tengil kau. Aku minta seluruh hasil penjualan kokain yang di Mexico serahkan semua padaku" ucap Ken.


Pelix yang mendengar itu seketika tertawa mengejek..


"HahahaBahkan kau tak mengetahui seberapa banyak penjualan dan uang yang mengalir di sana!" ucap Pelix.


"Aku tak mau tahu. Aku hanya ingin uang itu" ucap Ken.


"Datang lah ke Mexico dan ambil semua nya untuk mu" ucap Pelix


Panggilan dari Ken pun langsung terputus. Pelix seketika tertawa terbahak-bahak, hal itu membuat Vivid dan Billy heran.


"Kenapa mas Pel tertawa?" tanya Vivid.


Malam ini Pelix memutuskan menginap di rumah Amora karena Amora masih sangat labil, kadang menangis kadang meracau, Dan kadang memaki Susan dan Martin.


"Ah tidak! Hanya merasa lucu saja melihat Billy wajahnya seperti singa" kelakar Pelix.


"Sialan kau ya dasar kingkong"Billy meledek kembali bos nya itu.


"Yasudah saya ke kamar dulu mau istriahat. Silahkan lanjutkan main krambol nya" ucap Vivid sembari melangkah kan kaki menuju kamarnya.


"Kenapa kau tertawa?" tanya Billy.


"Paman Ken meminta hasil penjualan kokain yang ada di Mexico! Kau tahu disana sudah tidak ada uang, semua uang itu sudah ku bawa dan ku simpan di Swiss atas nama ku. Aku menyuruhnya untuk mengambil sendiri kesana" ucap nya sembari tertawa.


"Gila kau. Otak mu terbuat dari apa? Kau sungguh cerdik!" ucap Billy sembari bertepuk tangan.


"Kakek ku takan salah memilih penerus" ucap Pelix jumawa.


"Bagaimana dengan kepemilikan casino yang di Singapore?" tanya Billy kembali.


"Casino itu sudah ku jual semua saham nya pada Mr.Ahh Fung, mereka tinggal membayar uang sewa saja padaku setiap tahunnya" ucap Pelix.


"Bagaimana bisa seperti itu, semua kan harus ada tanda tangan kakek mu"tanya Billy heran.


" Aku yang memalsukan tanda tangan kakek ku" seringai licik Pelix.


"Dasar kau iblis" kekeh Billy.


Pelix memang pantas di sebut jenius karena otak nya sangat lihai dalam mengatur berbagai strategi dan ahli meniru tanda tangan seseorang walau serumit apapun tulisannya. Bakat itu dia dapat dari sang kakek yang tidak di turun kan kepada Jhonson ataupun Ken meskipun mereka anaknya sendiri.


"Kau mau bagian berapa?" tanya Pelix pada Billy.


"Aku tak butuh uang mu bos! Dari awal ku bergabung dengan mu hanya satu tujuanku yaitu balas dendam pada paman ku yang sudah membantai orang tua dan adik-adiku" tutur Billy.

__ADS_1


"Kau konglomerat, aku baru ingat!" kekeh Pelix.


"Itu kau tahu. Bahkan kekayaan ku takan habis tujuh turunan" ucap Billy jumawa.


Di tengah obrolan mereka, Tiba-tiba Amora kekuar kamar sudah memakai baju rapih. Dia berniat ingin mengunjungi ibunya dan memeriksa kan kandungannya..


"Pel, sejak kapan kamu disini?" tanya Amora yang melihat-lihat sesuatu.


"Aku akan menginap disini bolehkan?" tanya Pelix.


"Bagaimana ya, aku takut suamiku marah" ucap Amora sendu.


"Tak akan! Dia sudah memberikan izin padaku untuk menjagamu" jawab Pelix berbohong.


"Sungguh?" tanya nya.


"Aku tidak bercanda sayang" kekeh Pelix yang langsung memeluk erat Amora.


Ada rasa sesak melihat keadaan Amora yang sedang depresi saat ini. Dia pun akan membalaskan kepedihan yang Amora rasakan pada Martin. Kehilangan tiga nyawa sekaligus membuat Amora tersentak dan tak bisa menerima takdir hingga seperti ini keadaanya.


"Kau mau kemana,hem?" tanya Pelix.


"Aku mau ke dokter kandungan, Sepertinya vitamin ku habis"ucap Amora bahagia sembari mengelus perutnya.


" Hei, ini sudah larut malam. Tak ada dokter yang buka selarut ini! kamu sebaiknya istirahat" ucap Pelix sembari mengelus kepala Amora.


"Kamu ngomong apa sih, Ini baru jam sembilan pagi" ucapnya.


"Pak Billy antarkan saya sekarang ke dokter kandungan ya" ucap Amora meminta pada Billy.


"Anda bisa ikut saya sebentar?" tanya Billy.


"Kemana?" Amora merasa heran dengan Billy.


"Ikutlah sebentar" ucapnya.


Billy mengajak Amora ke luar rumah dan menunjukan deretan bintang yang terhampar di atas pekatnya malam.


"Anda lihat kan sekarang sudah sangat larut malam. Lihatlah ponsel anda" ucap Billy.


Kemudian Amora melihat ponselnya, disana tertulis pukul 23:00 membuat seketika Amora merasa heran.


"Kok sudah malam ya pak Billy? Perasaan saya ini sudah pagi" kekeh Amora merasa malu.


"Iya Pel“ ucap Amora yang langsung melangkahkan kaki memasuki rumah itu.


Di dalam rumah, Pelix menatap nanar Amora, Bagaimana tidak bersedih, Wanita yang amat di cintainya kini seakan tidak mengenali dirinya sendiri dan ingatannya seolah berhenti selepas kejadian Martin menghianatinya. Andai dia bisa memutar waktu, ingin sekali membunuh Martin sebelum Amora mengetahui peristiwa memilukan itu.


Saat ini Billy dan Pelix sedang meminum kopi, tiba-tiba terdengar suara pecahan gelas di kamar Amora di susul suara tangis Amora.


Pranggggggggggg!!! Suara piring yang sengaja di hempaskan.


"Teganya kau sudah menghianatiku dan menikahi wanita lain di saat aku sedang mengandung anakmu! Laki-laki biadab tak punya perasaan" Racau Amora dari dalam kamarnya.


Billy dan Pelix langsung masuk ke dalam kamar Amora dan mendapati dia sedang duduk tergugu di lantai dengan keadaan yang memperihatinkan.


"Amora kau kenapa?" tanya Pelix.


"Dia pembunuh, dia membunuh anak dan ibu ku" ucap Amora sembari menangis.


Di raihlah tubuh Amora lalu segera di dekapnya.


"Tenangkan dirimu Amor! Kau harus bisa menerima kepergian mereka" ucap Pelix.


"HahahahaSiapa yang meninggal, Dan kenapa si A menikahi si B? Aku seperti menonton sinetron~~Hahahaha" ucap Amora meracau.


"Ini bisa semakin parah, kau harus mencari psikiater terbaik untuk menangani masalah ini" ucap Billy.


"Kau benar! Besok kita cari psikiater untuk Amora" ucap Pelix.


Mendengar itu, Amora seketika mendelik karena dia beranggapan bahwa dia tidak gila.


"Kenapa kalian mau bawa ku ke psikiater? Aku tidak gila" ucap Amora.


"Hei kau tidak gila, hanya butuh waktu berbicara saja dengan dokter!" ucap Pelix.


"Yasudah aku mau" ucap Amora sembari mencebikan bibirnya.


Melihat kedekatan dua sejoli itu, Billy langsung ke luar kamar Amora.


Di dalam Kamar itu, Pelix memeluk Amora dengan sayang nya. Sudah berbulan dia tidak menyentuh Amora.

__ADS_1


"Pel, kenapa kamu masih di kamar ku, hem?" tanya Amora.


"Aku akan tidur dengan mu sayang! Apakah kau tidak merindukan ku?" tanya Pelix sembari membelai rambut dan wajah sang pujaan.


"Aku merindukan mu sangat Pel. Tapi bagaimana jika suamiku tahu kau disini?" tanya Amora dengan tatapan awas.


"Tenang saja aku sudah izin pada Martin dan dia menyuruhku untuk menemanimu tidur di ranjang ini" jawab Pelix yang tentunya berdusta.


Mana mungkin ada seorang suami di dunia ini menyuruh laki-laki lain untuk menemani istrinya tidur satu ranjang? Pelix ada-ada saja ya! Terserah Author juga sih kan saya yang ngarang!😎😁


Malam ini mereka berdua merebahkan diri di atas ranjang. Saling pandang dan mendalami pikiran masing-masing. Amora masih ragu kenapa Pelix ingin membawanya ke psikiater, Ada apa dengan dirinya. Pelix mengetahui kegelisahan Amora, Dia langsung meraih tubuh Amora kedalam dekapan tubuh kokoh nan kekarnya.


"Jangan terlalu banyak pikiran ya sayang!" ucap Pelix.


"Aku hanya merasa hatiku kosong saja Pel! Kamu tetap di sampingku ya? Jangan pernah tinggalkan aku" tatap Amora sembari membelai wajah dan rahang tegas Pelix, memindai bulu-buku halus di wajah nya dan mengecup bibir tebal nya yang menggoda.


"Aku janji akan selalu di samping mu sayang" ucap Pelix yang langsung ******* bibir ranum Amora.


Lama beciuman, akhir ya kedua insan itu melepaskan pagutannya dan langsung tertidur sembari berpelukan.


¥


Di mansion Ken, Suara tangis wanita muda menggema. Lisa seorang gadis tawanan Ken yang akan di jadikan pemuas nafsunya malam ini di kunci di sebuah kerangkeng lapis baja. Dia meronta dan memohon agar di lepaskan.


"Buka kerangkeng ini aku mohon" tangis Lisa menguar di ruangan dengan pelita yang redup.


Tak lama langkah kaki sepatu pantopel terdengar seakan penambah rasa mencekam pada diri Lisa.


"Cantik" suara bariton di balik wajah yang tertutupi topi koboi dan terlihat cerutu terselip di antara celah bibir nya.


"Tolong tuan lepaskan saya. Saya ingin bertemu dengan keluarga saya" lirih Lisa.


"Keluargamu telah menyerahkan mu sebagai jaminan hutangnya. Malam ini kau akan ku jadikan teman tidur ku. Jangan melawan kalau kau masih sayang akan nyawamu" seringai licik Ken.


"Tuan akan apakan saya?"tanya Lisa di sela ketakutannya.


" Aku akan mengobrak-abrik lubang surgawi mu" jawab Ken.


Pria paruhbaya itu sangat haus akan belayan wanita, Pasalnya sesudah dia di hianati oleh istrinya dia menjadi taruma kepada wanita, Sekarang hasrat itu bangkit kembali. Dia sangat ingin segera menuntaskan nya.


"Brandon, keluarkan wanita ini dan langsung bawa ke kamarku" ucap Ken sembari meninggalkan ruangan pengap itu.


Brandon segera mengeluarkan Lisa dari dalam kotak lapis baja itu.


"Aku seperti kucing yang di kurung dalam kandang" lirih Lisa.


Lisa kini sudah berada di dalam kamar Ken, Kamar yang di hiasi dengan nuansa Dark gradasi maroon itu terlihat gahar. Terlihat Ken sudah duduk di atas ranjang dengan mengunakan semacam bathrobes berwarna navy.


"Kemarilah" titah Ken.


Lisa hanya berdiri dan enggan untuk mendekati laki-laki paruhbaya itu.


"Ke-ma-ri CEPAT!" sentak Ken.


Lisa pun dengan perasaan takut pelan-pelan melangkahkan kakinya mendekati Ken yang sudah terlihat seperti serigala yang lapar.


"Om tolong jangan apakan aku" ucap Lisa mengiba.


"Siapa yang perduli dengan rengekan mu! Cepat buka baju mu"ucap Ken.


Lisa semakin ketakutan dan tangannya semakin rapat menghalangi dada dan selah pahanya.


Dengan rasa marah dan tak sabar, Ken seketika merobek baju yang di kenakan Lisa dan mendorong nya hingga terlentang di atas ranjangnya dalam keadaan polos.


Ken melihat pemandangan bagus itu seketika air liurnya menetes seperti Anjing.


"Molek dan berlekuk bak gitar Spanyol" gumam Ken.


Lisa terus saja menangis dan mengiba agar Ken berbaik hati melepaskan nya. Tetapi Ken sekaan tidak peduli dengan tangisan gadis itu.


Ken segera menindih Lisa dan langsung mencumbunya dengan rakus.


"Lepaskan aku bajingan lepaskan aku" ucap Lisa.


"Diam kau" ucap Ken dengan menampar wajah mulus Lisa supaya dia diam.


"Lepaskan aku laki-laki tua. Mulutmu bau sampah" pekik Lisa.


mendengar hinaan dari Lisa membuat ken sangatlah Marah. Dia menampar wajah gadis itu kemudian mencekiknya.


Ken terus saja mencumbui bibir, telinga, mata dan leher gadis itu dan sesekali meninggalkan jejak kepemilikan disana.

__ADS_1


Ketika Ken ingin menyambar bibir ranum Lisa kembali, tak sengaja semua gigi palsunya copot dan terlihatlah gigi ken yang menghitam dan runcing-runcing. Usut punya usut, sewaktu kecil Ken sangat suka memakan gula, bahkan pernah memakan gula sehari sampai setengah kilo bahkan dia tidak bisa tidur jika tidak memakan gula terlebih dahulu. Itu sebabnya giginya rusak.


Gigi nya menggelinding dan mengenai wajah Lisa hal itu membuat Lisa menjerit dan Ken merasa malu akan hal itu hingga aksi panasnya harus di akhiri sementara waktu.


__ADS_2