
Pelix mengendarai mobilnya untuk menjemput Marini ke rumasakit. Dia mengambil benda pipih di dashboard mobil lalu menyalakannya. Terlihat poto sang adik Camilla yang di gunakan sebagai wallpaper ponselnya. Dengan senyum merekah yang lebih mirip wanita Latin, rambut nya yang berwarna sedikit merah marun tergerai sembari memegang setangkai bunga lili. Poto itu di ambil ketika sedang di Villa waktu pertama dia bertemu.
Bahkan wajahnya sangat cantik tapi sial lebih mirip kakek di banding sang ayah ataupun dirinya.
Sampai di parkiran rumasakit, Marini sudah menunggunya dengan sangat anggunly di dekat pilar parkiran.
"Silahkan naik tuan putri" ucap Pelix sembari membukakan pintu mobilnya.
"Terimakasih paduka, hamba akan naik" Marini tergelak.
Mereka pun meninggalkan area parkiran itu. Ketika Pelix sedang asyik menyetir, tiba-tiba ponselnya berbunyi menandakan sebuah notifikasi pesan dan layar ponsel nya menyala. Terlihat poto wanita cantik dan hal itu langsung di ketahui oleh Marini.
"Siapa wanita itu?"tanya Marini dengan nada yang kurang bersahabat.
" Hmmmmm,,itu adik ku Rin" jawab Pelix santai.
"Mana ponselmu" Marini langsung merebut dan membaca pesan dari Camilla.
(Siang kak! Sedang apa hari ini? Aku merindukanmu! Kapan kau kemari lagi?) pesan dari Camilla yang baru saja terkirim.
•
(Kakak aku dan bunda sedang olahraga pagi. Kenapa tidak mengabariku?) Camilla
(Kenapa, rindu ya sama kakak?) Pelix.
(Sangat rindu. Kakak jangan telat makan ya!) Camilla.
(Baiklah tuan putri ku tersayang. Jaga dirimu disana ya. Kakak akan segera menemuimu) Pelix.
"Pesan ini dari kekasih mu yang lain kan? Sudah cukup ya Pel kau menghianatiku dengan berselingkuh dengan Amora dan aku masih bisa memaafkan mu! Tapi kali ini aku takan memaafkanmu" tegas Marini sembari melempar ponsel Pelix ke bawah kolong kursi mobilnya.
"Rin kamu kenapa sih se-emosional itu padaku. Aku jadi bingung apa kamu benaran mencintaiku atau hanya sebuah obsesi saja hah?" Pelix sudah sedikit marah karen menurutnya Marini menjadi kasar.
"Buktinya kau selingkuh dengan wanita ini?" amarah Marini sudah di ubun-ubun.
"Kenapa kau tak bertanya terlebih dahulu padaku siapa wanita yang ada di gambar ponselku? Kenapa kau selalu marah dan marah terus? Aku rindu kamu yang dulu Rin, lembut dan penuh kasih" ucap Pelix.
"Lantas dia siapa?" tanya nya.
"Dia adiku Camilla" jawabnya spontan.
"Adikmu? Kau bilang belum bertemu?" tanya Marini
"Mereka sudah ku temukan" jawabnya Pelix
Marini merasa sangat bersalah sekaligus malu karena sudah menuduh Pelix berselingkuhdi tambah dia sudah marah-marah tidak jelas.
"Pel maafkan aku" lirihnya.
"Lain kali kau harus pandai bertanya terlebih dahulu. Ku ingin kau seperti dulu lagi Rin, tidak seperti sekarang gampang sekali emosi! Aku merasa bahwa aku sedang memacari seorang monster" Pelix berbicara dengan penuh penekanan.
"Gak jadi monster juga dong Pel. Apa aku semenyeramkan itu di matamu?" lirih Marini dengan mata yang sudah basah oleh air mata.
"Sikap mu yang seperti monster bukan dirimu. Ingat ya Rin, jangan sampai aku menjadi bosan dengan sikap mu. Aku bisa meninggalkanmu jika kau tetap kasar dan emosional seperti tadi" ancam Pelix.
"Jangan berkata seperti itu sayang. Aku tak sanggup kehilangan mu. Aku janji akan lebih lembut padamu" ucap Marini mengiba.
Marini memang bucin level dewa pada Pelix apapun akan dia lakukan agar Pelix tak menjauh lagi dari hidupnya. Pelix pun mendaratkan ciuman di pucuk kepala Marini.
"Pel aku ingin bertemu dengan keluargamu“ ucap Marini.
__ADS_1
Pelix hanya diam, dia tak mungkin membawanya pada keluarga nya apalagi ke keluarga ayahnya karena jika itu sampai terjadi, maka sama saja dia menghancurkan semuanya. Bisa di cincang oleh kakek dan paman Ken jika dia tahu Marini adalah keponakan dari Sin Tae Yong seorang CEO yang di bunuh oleh Leon.
Pelix hanya tersenyum dia tak mengindahkan Permintaan dari sang kekasih.
Sampai di depan rumah Marini, Pelix enggam untuk turun dan menemui Elizabeth. Pikirannya kacau! Dia saat ini hanya ingin beristirahat di apartemennya.
"Titip salam saja untuk tanteu Eli. Aku pilang dulu" ucapnya.
Brughhhh pintu mobil di tutup Pelix dengan kencang dan langsung beranjak dari halaman rumah mewah itu.
¥
Diana sedang membuatkan brownis kesukaan dari sang putri. Siang ini dia berencana akan mengunjungi Amora ke rumahnya. Sudah hampir tiga bulan dia tidak bertemu dengan sang putri.
"Aku akan mampir duku ke mall untuk membelikan Amora cemila kesukaanya" gumam Diana.
Di perjalanan menuju mall, Perasaan Diana tiba-tiba sedih dan gelisah. Pikirannya seketika teringat kepada sang putri.
"Kenapa hatiku menjadi gelisah seperti ini ya..Rasanya aku ingin cepat-cepat sampai ke mall itu" gumam nya dalam hati.
Diana pun menyuruh supir taksi untuk mempercepat lajunya.
Sesampainya di mall, Diana duduk sebentar karena kaki nya merasa pegal. Tak lama dia pun berjalan lagi tetapi dari arah berlawanan dia bertabrakan dengan seorang wanita.
Brughhhhhhhh!!!!.
"Awwwwwww!" ucap Diana mengaduh.
Terlihat barang-barang yang di bawanya berserakan di lantai termasuk brownis yang dia bawa dari rumah terlempar hingga toping keju nya bercecer. Wanita itu bangun dan menghampiri Diana.
"Maafkan saya tanteu. Saya sungguh tidak sengaja! Maaf" ucapnya.
Diana langsung menoleh melihat siapa yang menabraknya.
Ada hati tak suka hinggap di hatinya tak kala melihat wanita cantik yang menabraknya tetapi Diana wanita yang tak gampang tersulut emosi dia hanya senyum kecut.
"Apa yang sakit tanteu dan maaf kue nya jadi berantakan" ucap wanita itu dengan menangkupkan kedua tangannya🙏 sembari mengambil barang-barang Diana yang berserakan dan langsung menyerahkannya.
"Saya tidak apa-apa kok hanya sedikit berantakan saja. Kenapa kamu sepertinya sedang ketakutan begitu? Seperti sedang di kejar-kejar penjahat?" tanya Diana.
"Saya hanya sedang buru-buru saja. Sekali lagi saya minta maaf ya tanteu. Oh ya kenalkan nama saya Susan" ucap Susan ramah sembari menyalami Diana.
"Saya Diana" Diana menyambut uluran tangan Susan dengan ramah.
"Yasudah saya duluan ya" ucap Diana lagi.
Diana pun berbalik dan berjalan.
Ketika diana sudah melangkahkan kaki sekitar tujuh langkah, Suara bariton seorang pria berucap kepada Susan.
"Aku mencarimu" ucap Pria itu.
Diana pun spontan menoleh ke belakang tetapi Susan dan pria itu sudah melangkah dan membelakangi nya menjauh.
"Aku hapal suaranya. Seperti suara menantuku Martin. Tapi mana mungkin dia bersama wanita lain. Tapi badan dengan suaranya mirip sekali. Atau mungkin ini halusinasi ku saja karena sudah lama aku tidak bertemu dengan nya" gumam Diana.
Sementara Martin dan Susan berjalan-jalan di area mall itu karena Susan tiba-tiba ingin makan es krim gelato
"Tadi kamu ngobrol dengan siapa?" tanya Martin.
__ADS_1
"Bukan ngobrol sih, tadi aku menabrak seseorang tak sengaja, sampai brownis yang dia bawa terhempas. Aku sangat tak enak hati. tetapi tanteu itu baik kok" jawab Diana.
Martin semakin tercekat dengan jawaban Susan.
"Apa dia memperkenalkan namanya padamu?" tanya Martin.
"Ya tadi kita sempat memperkenalkan nama masing-masing. Nama tanteu itu Diana" jawab Susan seolah acuh dengan ekspersi suaminya yang sudah tegang. Wajahnya memerah deperti rebusan kepiting, tangannya bergetar hebat
"Bagaimana jika ibu mertuaku tahu" gumam Martin dalam hatinya
Martin dengan sengaja langsung mengajak Susan segera pulang dari mall itu.
Bagaimana jadinya jika sang mertua sampai tahu, bahwa wanita yang tak sengaja menabraknya adalah istri dari Martin sekaligus madunya Amora sang putri
maka dunia persilatan akan gonjang-ganjing atau bisa juga akan mengaktifkan sesar lembang.
Sesampainya di rumah Amora, Diana langsung bertemu dengan Billy. Seketika jiwa centilnya meronta maklum sudah menjadi janda kurang lebih tujuh tahunan, tak kala melihat Billy yang berbadan tinggi, bertangan kelar dengan garis urat-urat yang saling mencuat dari balik kulit putihnya, perut seksi dengan otot kotak-kotaknya, wajah yang di tumbuhi brewok tebal mirip sultan di timur tengah dan satu lagi jangan lupakan gundukan menonjol di selah kedua pahanya menambah aura Rrrrrrrrr di benak Diana.
"Amora ada?" tanya Diana.
"Anda dengan siapa ya tanteu?" tanya Billy dengan tangan masih memegang kanebo basah karena dia sedang mencuci mobil.
"Saya ibunda dari Amora. Kamu siapa ya?" tanya Diana dengan mata yang tak berkedip memandangi lelaki yang paling seksi.
"Silahkan masuk tanteu! Nona Amora nya ada sedang membuat sarapan bersama honey ekh maaf bersama mbak Vivid. Dan kenalkan saya Billy, supir pribadi nona Amora menggantikan Pelix" Billy memperkenalkan dirinya pada wanita paruh baya itu.
Diana pun masuk ke dalam rumah itu. Di dalam di dapati Amora sedang membuat pancake strawberry dengam toping selai dan sedikit sentuhan cokelat lumer.
"Selamat pagi sayang" ucap Diana mengagetkan Amora.
"Ibu! Ibuuuuuuuuuu aku kangen bu" ucap Amora sembari berlari memeluk sang ibunda.
Rasa haru pun menyelimuti dapur itu.
"Maafkan ibu ya Amor. Ibu sekarang ini sedang lumayan sibuk karena florist kita banyak sekali pesanan. Maklum kan ada anak pejabat menikah dan bunga nya pesan dari kita" ucap Diana.
"Iya bu aku mengerti. Aku mencium wangi kue brownis".
kekeh Amora.
"Ibu khusus bawakan kamu brownis dengan toping cokelat putih dan keju. Tapi sayang sekali sebelum sampai disini, ibu bertabrakan dengan seorang wanita dan brownis nya terlempar sampai hsncur topingnya" Rengut wajah Diana jadi sedikit sedih.
Di raihnya brownis itu dari tangan Diana oleh Amora lalu dia memotongnya.
"Apapun bentuknya brownis ini tetap enak bu" kekeh Amora sembari menyuapkan kue itu ke dalam mulutnya.
Tak lama, Martin pun datang dan tak menyangka jika sang mertua ada di rumahnya.
"Selamat siang semuanya!"seru Martin.
" Siang mas! Mas ini ada ibu kemari" ucap Amora sembari menyalami tangan sang suami dengan takjim.
Martin di buat gugup dengan delikan mata Diana, seolah menusuk lalu menguliti nya.
"Ibu bagaimana kabarnya?" ucap Martin sembari mencium tangan Diana dengan sopan.
"Puji syukur ibu baik nak. Ayo silahkan di makan ibu membawa brownis pasti kamu lapar ya nak. Tapi maaf kue nya agal sedikit berantakan karena waktu di mall, ibu di tabrak oleh seorang perempuan" ucap Diana dengsn menyebut kata perempuan dengan penuh penekanan.
Hal itu membuat Martin seakan tercekat dan terguncang. Tetapi dia seorang pria yang cukup tenang dan bisa mengendalikan situasi.
"Tak apa bu sedikit berantakan, yang penting isinya masih bisa di makan" jawab Martin sembari mengambil sepotong brownis lalu memasukan ke dalam mulutnya.
__ADS_1
Brownis yang manis mendadak pahit di mulutnya karena tatapan menyelidik yang di layangkan diana kepadanya.
"Apa mungkin dia bersama wanita itu? Dengan postur tubuh dan suara yang sama di tambah baju yang sama saat aku melihat lelaki itu dari belakang. Tapi aku tidak mau sembarang menuduh karena aku tak punya cukup bukti" gumam Diana dalam hati.