
Sudah berhari-hari, ketiga wanita hamil ini tak saling bertegur sapa dengan para suaminya masing-masing. Hal itu membuat Jhonson, Pelix dan Billy sakit kepala di buatnya.
Bahkan ketika bercinta pun, Amora mengambil gaya membelakangi suaminya.
"Sampai kapan kamu akan marah terus sayang?" suara Pelix terdengar prustasi.
"Sampai kamu tinggalkan pekerjaan kamu yang berbahaya itu. Aku tidak menyangka kalau suamiku seorang penjahat kelas hiu" Amora tampak emosi.
"Ya maafkan aku sayang, karena ku tak jujur padamu dari awal" Pelix berkata lirih.
"Katakan dengan jujur, waktu kau melamar bekerja di rumahku dulu itu ada kaitannya dengan kegiatan mafiamu?" tanya Amora.
Pelix hanya mengangguk pasrah.
Cinta memang selalu membuat seorang singa menjadi kucing oren! Begitu pun dengan pelix sekarang yang tertunduk lemas bagai bocah yang di sidang Emaknya karena sebuah kenakalan.
"Ceritakan!" ucapnya.
"Aku di perintahkan oleh kakekku untuk membawa satu ton narkoba yang di simpan pemilik rumah sebelum kamu di ruang bawah tanah!" ucapnya.
Amora sangat syok!.
"Apa ruang bawah tanah? Aku tidak mengetahuinya" ucap Amora.
"Tak ada yang tau, Martin pun tidak tahu. Kau harus melihat bagaimana semua hal yang belum pernah kau tahu ada di ruang bawah tanah tepat di bawah kamarku" ucap Pelix menjelaskan dengan sejelas-jelasnya.
"Ada apa di dalam sana memangnya? Curang kamu ya, aku saja pemilik rumah itu tidak tahu ada ruangan bawah tanah. Kalau begitu kita secepatnya kembali ke Jakarta dan langsung ke rumahku saja" ucap Amora tak sabar.
Kemudian jari jelamari nya dengan lincah melepaskan baju dan celana yang Pelix kenakan.
"Sayang, kamu mau apa? Pelix heran dengan tingkah laku sang istri yang berubah jadi agresif.
" Kau tahu sayang, aku sudah menahannya sedari malam, jujur saja aku sudah tak tahan. Lubang rawa-rawaku ingin silaturahmi" ucap Amora malu-malu.
Tak banyak babibu, Pelix langsung gaskeun sang istri.
Jhonson tertunduk lesu, tak kala Kaisyah masih ngambek. Dia mengira Jhonson sudah meninggalkan dunia mafia turunan dari mertuanya tapi nyatanya masih bergelut.
"Kai, jangan diamkan aku seperti ini" Jhonson merajuk khas aki-aki.
Kaisyah menepiskan tautan tangan sang suami.
"Jangan sentuh aku mafia!" Kaisyah tampak marah.
"Kai, please jangan ngambek! Aku kan melanjutkan tahta ayah!“ rengek Jhonson.
" Tidak ya Jhoni! Aku sudah tidak ingin berhubungan lagi dengan semua bisnis papa mertua! Kau tahu, itu membuatku trauma karena pengusiran waktu itu. Kenapa di saat usia tuaku harus bertemu kagi dengan mantan yang masih berbisnis haram dan sialnya aku hamil anaknya" ucap Kaisyah tak terkontrol.
Jhonson terkejut dengan perkataan sang istri yang mencela anak dalam kandungannya.
__ADS_1
"Dengar ya Kai, kau boleh memakiku, tapi kau tak boleh memaki anak dalam kandunganmu! Aku kecewa" Jhonson langsung keluar dari kamar itu meninggalkan Kaisyah yang diam mematung.
Kaisyah merasa menyesal telah mengatakan itu pada janin yang dia kandung.
"Nak, maafin bunda sayang! Bunda tidak bermaksud mencelamu nak!" Kaisyah menyesal sembari mengelus-elus perutnya.
Dia pun mencari Jhonson untuk berbicara dari hati ke hati.
Jhonson sedang duduk di gajebo sendirian, wajahnya tampak murung karena masih sedih dengan celaan Kaisyah pada jabang bayinya. Kaisyah lalu mendekat dan menyentuh bahu sang suami.
"Jhoni, maafkan aku sayang" Kaisyah memeluk baju Jhonson sembari terisak.
Jhonson tak menggubrisnya.
"Jhoni jangan begini!" suara Kaisyah semakin tercekat.
"Jhoni sayang Kai kan? Jangan diam saja bicaralah" Kaisyah terus merajuk seperti seorang gadis ABG pada kekasihnya.
Jhonson berbalik dan langsung memeluk tubuh ringkih sang istri.
"Jangan mecela anak kita lagi! Aku yang salah bukan dia" lirih Jhonson.
"Iya sayang, maafkan aku" Kaisyah memeluk Jhonson dengan sayangnya.
"Aku janji padamu, aku akan meninggalkan pekerjaan itu demi kamu Kai" Jhonson bersungguh-sungguh
Jhonson memutar tubuhnya hingga menghadap Kaisyah. Dia mencium bibir sang istri dengan dalam bersama lu**tan panasnya.
Kaisyah hanya mengangguk pasrah.
Sementara Billy sedang membujuk Vivid karena wanita ini menangis dan minta di pulangkan ke kampung halamannya.
"Mas Billy, ceraikan aku mas! Biarkan aku pulang" Vivid masih takut karena kenyaatan Billy adalah seorang anggota Mafia.
"Honey kamu bicara apa cinta? Sampai kapanpun aku takan menceraikanmu" Billy menjawab dengan nada tegas.
"Aku hanya tak ingin mempunyai suami seorang penjahat mas!" Vivid menangis.
"Ya aku memang jahat" Billy ingin sekali mengerjai sang istri polosnya itu dia berjalan ke arah Vivid.
Vivid mundur beringsut ketakutan melihat Billy dengan kilatan sorot pandang seakan ingin menerkam.
"Jangan mas ampun! Mas aku ini istrimu mas jangan sakiti aku mas tolong!" Vivid menangis .
Dalam benaknya, mafia itu orang yang suka membunuh tanpa belas kasihan.
Badannya semakin gemetar kala tangan kokoh Billy menyentuh tubuhnya.
"Hap dapat mangsa!" ucap Billy sembari mengunci tubuh sintal sang istri.
__ADS_1
"Mas ampun mas!" Vivid semakin ketakutan.
"Aku akan melahapmu istriku" Billy semakin mengetatkan pelukannya.
"Mas aku sedang hamil, apa kamu tega nyakitin aku?" Vivid sesegukan menangis.
"Honey, hey siapa yang akan menyakitimu cinta? Aku ingin membuatmu mend*s*h dan melenguh pagi ini. Aku ingin olahraga pagi! Anaconda ku sudah menggeliat seperti ingin menantang dunia" Ucap Billy yang membuat Vivid tenang.
"Jadi mas tak akan menyakitiku?' tanya Vivid dengan polosnya.
" Siapa yang tega menyakiti wanita yang sangat aku cintai honey? Kau segalanya buatku apalagi dalam perutmu sedang tumbuh benihku" ucap Billy sembari mengelus wajah Vivid dengan lembut.
Vivid pun seketika melepaskan pakaiannya.
"Sayang, nikmatilah sarapan pagimu" ucap Vivid.
Billy langsung menerkam sang istri.
"Pelan-pelan ya nanti utunnya ngambek serasa di sundul-sundul" ucap Vivid mengingatkan.
"Siap honey" balas Billy.
Lain ketiga pasangan itu, lain pula dengan Camilla dan Henry yang setiap harinya lebih banyak diam di dalam kamar, tentunya bukan adu domba melainkan adu tata dan titi mereka. Maklum pengantin baru, dulu juga Author begitu🤣🤣
Henry merajuk kala meminta lagi dan lagi panjat pinang pada sang istri.
"Ishh, bang gak ada lelahnya kamu ya? Aku lelah loh bang" Camilla mencebik sebal.
"Abang tak ada lelahnya sayang! Maklum kita kan pengantin baru. Ayo!" Henry menuntun lagi sang istri untuk mengarungi sirkuit asmara yang menggila.
"Aku tak menyangka di balik diamnya sifat abang ternyata seorang pria yang hyper" Camilla merasa di prank oleh sifat diamnya sang suami.
"Sayang justru orang diam itu besar nafsunya, ya contohnya aku ini. Lagi pula kan hanya melakukan itu sama kamu saja istriku. Abang tidak menyangka jika akan senikmat ini, benar apa yang di katakan orang-orang bikin candu" ucap Henry.
"Akh, bang aku malu dengarnya" Camilla berkata sembari menutupi wajahnya.
"Kenapa harus malu, aku ini suamimu" ucap Henry yang dengan seketika mengungkung tubuh sang istri.
Mereka pun kembali mengobrak-abrik lembah rawa-rawa Camilla.
Waktunya makan siang, semua ART di vila itu sudah menyiapkan makanan untuk di makan sang tuan rumah.
Mereka pun keluar dari kamar masing masing. Kemudian mereka semua tertawa terbahak-bahak memandangi satu sama lain karena rambut keempat pria itu sama-sama basah dan rambut keempat wanita itu bergelung handuk.
"Kena kalian ya!" gelak Jhonson.
"Kau juga" Timpal Pelix sembari tertawa.
"Billy dan Henry kalian?" tanya Jhonson yang melihat keduanya pun berambut kelimis.
__ADS_1
Mereka berdua pun nyengir kuda.
"Hahaha~~Ternyata pagi ini vila kita kebanjiran" Ucap Jhonson tertawa.